BAB III : PERAN POLRI DALAM PEMBERANTASAN TINDAK
3. Kebijakan Penanggulangan dan Pemberantasan Tindak
Kebijakan penanggulangan kejahatan merupakan istilah yang tepat digunakan untuk menyebutkan langkah-langkah menanggulangi suatu kejahatan. Sebab, menurut Mahmud Mulyadi, kebijakan penanggulangan kejahatan dalam bahasa Hoefnagels disebut Criminal Policy kurang tepat digunakan dalam kosa kata bahasa Indonesia yang artinya ”kebijakan kriminal” karena seolah-olah mencari suatu kebijakan untuk membuat kejahatan (kriminal).164
Penanggulangan berbeda dengan pemberantasan. Penanggulangan tindak pidana dititikberatkan pada kebijakan-kebijakan mencegah, mengantisipasi terjadinya tindak pidana. Pemeberantasan tindak pidana dititikberatkan pada kebijakan-kebijakan dalam penerapan dan pelaksanaan hukum terhadap suatu tindak pidana yang telah terjadi. Penanggulangan dan pemeberantasan tindak pidana dilakukan setidaknya dapat mengurangi dan menghambat perkembangan tindak pidana. Upaya pemberantasan tindak pidana diperlukan: penerapan peraturan-peraturan hukum pidana dan sanksinya; penerapan prosedur hukum pidana; dan suatu mekanisme pelaksanaan hukum pidana.
165
Upaya pemberantasan tindak pidana melalui penerapan peraturan-peraturan hukum dan sanksi, penerapan prosedur hukum pidana, dan suatu mekanisme pelaksanaan hukum pidana di atas merupakan upaya dalam kebijakan penal. Upaya
164
Mahmud Mulyadi., Criminal Policy, Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal
Policy Dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 50.
165
penanggulangan, di samping menciptakan produk hukum pidana juga dilakukan langkah-langkah di laur dari hukum pidana (non penal). Kebijakan demikian diperlukan dalam penanggulangan dan pemberantasan tindak pidana terorisme di Indonesia.166
Integrasi pendekatan penal dan non penal disyaratkan dan diusulkan dalam
United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders
yang dilatar belakangi bahwa kejahatan adalah masalah sosial dan masalah kemanusiaan. Upaya penanggulangan kejahatan tidak hanya dapat dengan mengandalkan hukum pidana semata, tetapi juga melihat akar lahirnya persoalan kejahatan dari sudur sosial, sehingga kebijakan sosial juga sangat penting dilakukan.167
a. Kebijakan Penal
Kebijakan penanggulangan kejahatan dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan penal (penerapan hukum pidana) dan pendekatan non penal (pendekatan di luar hukum pidana).
Kebijakan penal dilakukan dalam dua tahap pertama tahap legislatif yakni
pada tahap pembuatan undang-undang, dan kedua, tahap aplikatif yakni penerapan
undang-undang. Tahap yang pertama (tahap legislatif) mencakup pembenaran atau melegalisasi asas-asas, norma-norma, sanksi, dan ketentuan-ketentuan di dalam undang-undang yang akan dibuat, sedangkan pada tahap aplikatif yaitu meliputi
166
Ali Masyhar., Baya Indonesia Menghadang Terorisme, Op. cit., hal. 28-29.
167
Daniel Murdiyarso., Protokol Kyoto: Implikasinya Pada Negara-Negara Berkembang,
penerapan asas-asas, norma-norma, dan ketentuan-ketentuan, sanksi-sanksi di dalam undang-undang terhadap perkara-perkara terkait dengan tindak pidana.168
Kebijakan pemberantasan tindak pidana terorisme melalui sarana penal dimaksud dengan mengoptimalkan hukum pidana. Mengoptimalkan hukum pidana mencakup hukum formil maupun materil dengan tujuan untuk melakukan pemberantasan tindak pidana karena tindak pidana itu telah terjadi. Konteks pemberantasan lebih tepat digunakan dalam pendekatan sarana penal (undang-undang) yang bersifat represif (menekan, mengekang, menahan, atau menindas) dan bersifat preventif (mencegah).
Salah satu penal yang dimaksud di sini adalah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 yang pada awalnya hanya sebagai Peraturan Pemerintah Pengganti (Perppu) Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang kemudian ditetapkan menjadi undang-undang yakni Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UUPTPT). Berdasarkan hal ini dapat dipahami telah ada suatu langkah atau kebijakan penal dari pemerintah dalam memberantas tindak pidana terorisme di Indonesia dengan menetapkan Perppu Nomor 1 tahun 2002 menjadi undang-undang dengan demikian tindak pidana terorisme diperlukan pengaturannya dikarenakan tergolong suatu tindak pidana yang sangat membahayakan dan mengancam seluruh aspek.
168
Ewit Soetriadi., Kebijakan Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme Dengan Hukum
Kebijakan penal yang bersifat represif dalam arti hukum materiil, sebagaimana Pasal 1 angka 1 UUPTPT memberikan batasan pengertian tindak pidana terorisme adalah suatu perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam undang-undang. Simons menyebutkan adanya unsur objektif dan unsur subyektif dalam strafbaar feit, yaitu:169
1) Unsur Objektif dari strafbaar feit, adalah: a. Perbuatan orang;
b. Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu; dan c. Keadaan tertentu yang menyertai perbuatan itu. 2) Unsur Subyektif dari Strafbaar feit adalah:
Orang yang mampu bertanggung jawab; dan Adanya kesalahan (dolus atau culpa).
Unsur-unsur tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam UUPTPT mulai dari Pasal 6 sampai dengan Pasal 19, dan unsur-unsur tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme diatur mulai dari Pasal 20 sampai dengan Pasal 24. Ketentuan pasal-pasal dalam UUPTPT dapat dipahami unsur-unsur tindak pidana terorisme menurut Pasal 6 UUPTPT disebutkan:
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atua mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 UUPTPT di atas, unsur-unsur tindak pidana terorisme dalam Pasal 6 adalah sebagai berikut:
169
1) Dengan sengaja;
2) Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan;
3) Menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain; atau
4) Mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang
strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.
Rumusan Pasal 6 yang berbunyi: ”... dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal...dst”, menunjukkan bahwa pasal tersebut dirumuskan secara ”materil”, yang dilarang adalah ”akibat” yaitu timbulnya suasana teror atau rasa takut atau timbulnya korban yang bersifat massal. Perumusan sebagai delik materiil, perlu dibuktikan”akibat” yaitu:
1) Suasan teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, atau
2) Korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau
hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau
3) Kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau
lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.
Pasal 5 dari UUPTPT mengatur hal yang menarik dan bersifat khusus, yaitu tindak pidana terorisme dikecualikan dari tindak pidana politik, tindak pidana yang
berkaitan dengan tindak pidana politik, tindak pidana dengan motif politik, dan tindak pidana dengan tujuan politik, yang menghambat proses ekstradisi. Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 5 tersebut dimaksudkan agar tindak pidana terorisme tidak dapat berlindung di balik latar belakang, motivasi, dan tujuan politik untuk menghindarkan diri dari penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan dan penghukuman terhadap pelakunya. Kebijakan penal dalam ketentuan UUPTPT juga untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas perjanjian ekstradisi dan bantuan
hukum timbal balik (Mutual Legal Assistance-MLA) dalam masalah pidana antara
Pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah negara lain.
Menurut UUPTPT perbuatan-perbuatan yang melanggar dan berhubungan dengan tindak pidana terorisme dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu: Tindak pidana terorisme, diatur dalam Bab III, dari Pasal 6 sampai dengan Pasal 19, dan Tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme, diatur dalam Bab III, dari Pasal 20 sampai dengan Pasal 24.
Kelompok pertama memuat 35 (tiga puluh lima) perumusan tindak pidana terorisme dari Pasal 6 (termasuk juga percobaan, pembantuan dan permufakatan jahat). Kelompok kedua mengatur tindak pidana yang berkaitan dengan proses penyidikan penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh orang-orang yang mencegah, merintangi atau menggagalkan proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme.
Tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme, misalnya ketentuan yang diatur dalam Pasal 20 UUPTPT berbunyi sebagai berikut:
Setiap orang yang dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan atau dengan mengintimidasi penyelidik, penyidik, penuntut umum, penasihat hukum, dan/atau hakim yang menangani tindak pidana terorisme sehingga proses peradilan menjadi terganggu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.
Unsur-unsur tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme menurut Pasal 20 UUPTPT di atas mencakup:
1) Menggunakan kekerasan; atau
2) Ancaman kekerasan; atau
3) Dengan mengintimidasi;
4) Penyelidik; penyidik; penuntut umum; penasihat hukum; dan/atau hakim yang
menangani tindak pidana terorisme;
5) Sehingga proses peradilan menjadi terganggu.
Perbuatan yang dilarang dalam Pasal 20 dikategorikan ke dalam unsur-unsur tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme adalah menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan atau dengan mengintimidasi penyelidik, penyidik, penuntut umum, penasihat hukum, dan/atau hakim yang menangani tindak pidana terorisme sehingga proses peradilan menjadi terganggu. Berkaitan dengan kebijakan penal dalam menghadapi terorisme di Idonesia, Barda Nawawi Arief, mengatakan:170
Kebijakan strategis dalam penanggulangan kejahatan terletak pada kebijakan penanggulangan yang sensitif. Inilah yang tidak dipenuhi oleh kebijakan penal
170
Barda Nawawi Arief., Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum
dalam menanggulangi kejahatan, karena kebijakan penal merupakan kebijakan parsial, represif dan simptomik. Walaupun kebijakan penal bersifat represif, namun sebenarnya juga mengandung unsur preventif, karena dengan adanya ancaman dan penjatuhan pidana terhadap delik atau kejahatan
diharapkan ada efek pencegahan atau penangkalnya (deterent effect). Di
samping itu kejahatan penal tetap diperlukan dalam penanggulangan kejahatan karena hukum pidana merupakan salah satu sarana kebijakan sosial
untuk menyalurkan ”ketidaksukaan masyarakat (social dislike) atau
”pencelaan atau kebencian sosial” (social disaproval/social abhorence) yang sekaligus juga diharapkan menjadi sarana ”perlindungan dengan sosial”
(social defence), oleh karena itulah sering dikatakan bahwa kebijakan penal
merupakan bagian integral dari social defence policy.
Pemberantasan tindak pidana terorisme di Indoensia, Polri melakukan strategi yang merupakan kebijakan penal melalui upaya yang bersifat represif (yakni: menekan, mengekang, menahan, atau menindas) dan bersifat preventif (mencegah) sebagai berikut:
1. Upaya refresif dilakukan Polri sebagai berikut:
a. Mengoptimalkan peradilan dan perundang-undangan.
1) Mengoptimalkan UUPTPT yang ditujukan untuk pengenaan sanksi
terhadap pelaku terorisme;
2) Penelusuran aliran dana jaringan terorisme dengan mengenyampingkan
rahasia bank;
3) Pelaksanaan undang-undang pencucian uang secara konsisten;
4) Pembekuan aset organisasi terorisme dan kelompok yang berkaitan
dengan terorisme;
5) Pertukaran informasi dengan negara-negara lain melalui Mutual Legal
6) Mengefektifkan konvensi-konvensi internasional dan melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB yang telah diratifikasi Pemerintah berkaitan dengan upaya melawan terorisme;
7) Memperluas perjanjian ekstradisi dengan negara lain; 8) Pemberian perlindungan saksi;
9) Mempercepat proses peradilan khususnya peran Polri pada saat menyusun
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersangka terorisme, karena perkara terorisme termasuk perkara yang harus dipercepat dalam proses peradilan; b. Investigasi.
1) Polri melakukan pengolahan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara
profesional;
2) Melakukan upaya paksa seperti penangkapan, penahanan, pemeriksanaan
sesuai ketentuan hukum dengan menghindari terjadinya pelanggaran HAM;
3) Melakukan kerja sama internasional dalam penyelidikan dan penyidikan
termasuk kerja sama penggunaan teknologi mutakhir dalam penyidikan; 4) Melakukan kerja sama internasional di bidang teknis seperti laboratorium,
cyber forensic, communication forensic, surveillance, Informasi dan
Teknologi, identifikasi dan dukungan teknis lainnya;
5) Memperbanyak dan mengintensifkan informan;
c. Mengupayakan kekuatan bersenjata yakni dengan melakukan serangan ke markas teroris atau ke tempat-tempat persembunyian teroris untuk dilakukan penangkapan melalui pengoptimalan peran Densus 88 Anti Teror Polri yang didukung oleh CRT di tingkat Polda di seluruh Indonesia;
2. Upaya preventif (pencegahan) oleh Polri dengan melakukan hal-hal berikut ini:
a. Melakukan peningkatan pengamanan dan pengawasan melalui operasi-operasi
khusus misalnya Patra Brimob siang dan malam hari terhadap penggunaan senjata api; terhadap sistim transprotasi; terhadap sarana publik; sistim komunikasi; terhadap sarana VIP; terhadap fasilitas diplomatik dan kepentingan asing; terhadap fasilitas internasional; dan siaga menghadapi serangan teroris secara tiba-tiba;
b. Pengawasan terhadap bahan peledak dan bahan kimia yang dapat dirakit
menjadi bom; pengawasan perbatasan dan pintu-pintu keluar dan masuk; pengawasan dalam pemberian dokumen perjalanan (paspor, visa, dan sebagainya); pengawasan kegiatan masyarakat yang mengarah pada aksi teror; pengawasan pengeluaran Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan administrasi kependudukan.
c. Intensifikasi pengamanan pemberian visa dengan negara tetangga; d. Intensifikasi kegiatan pengamanan swakarsa;
e. Kampanye anti terorisme melalui media meliputi:
1) Peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap aksi terorisme;
3) Penggunaan public figur terkenal untuk mengutuk aksi terorisme;
4) Pemanfaatan eks pelaku terorisme yang telah sadar dengan
mengikutkannya berkampanye anti terorisme; 5) Penggunaan wanted poster dan publikasi;
6) Pemanfaatan mantan korban aksi terorisme untuk menggugah empati dan
solidaritas masyarakat agar bangkit melawan terorisme;
f. Penyelenggaraan pelatihan pers yang meliputi berita tentang terorisme;
g. Melakukan latihan-latihan simulasi dari satuan-satuan anti teror TNI dan Polri dalam penanganan terorisme;
h. Pembentukan Kepolisian Khusus (Polmas) yang berada di setiap kelurahan
(kota) dan di desa-desa untuk melakukan pendataan terhadap warga masyarakat berkaitan dengan penduduk yang menetap dan pendatang. Polmas
tidak efektif dikarenakan Pertama, setiap desa atau kelurahan hanya
ditempatkan 1 (satu) orang Polisi, Kedua, tidak ada pengawasan riil
(lapangan) oleh atasan terhadap petugas Polmas sehingga Polmas yang bertugas tersebut tidak menjalankan tugasya sesuai dengan aturan, Ketiga, Polmas-Polmas umumnya hanya bersifat meminta data dari Kepala Desa atau Kepala Keluharan tanpa secara langsung turun ke lapangan melakukan pendataan terhadap warga.
i. Pelarangan penyiaran langsung wawancara dengan teroris karena dapat
berpengaruh negatif terhadap orang yang melihat dan/atau mendengarnya melalui media;
j. Pelarangan publikasi naskah-naskah dan pernyataan-pernyataan para teroris; k. Melakukan intelijen atau pengintaian, yang meliputi:
1) Melakukan pemantauan (surveilance) melalui penggunaan teknologi
mutakhir;
2) Melakukan penyusupan ke dalam organisasi teroris;
3) Melakukan pengembangan sistim deteksi dini; misalnya deteksi dini
terhadap provokasi permusuhan bernuansa SARA dan kebencian terhadap kelompok agama atau negara tertentu; dan
4) Melakukan pertukaran informasi intelijen dengan negara lain;
l. Penetapan secara tegas organisasi teroris dan organisasi terkait sebagai
organisasi terlarang dan membubarkannya.
b. Kebijakan Non Penal
Mahmud Mulyadi mengatakan bahwa kebijakan penanggulangan kejahatan
melalui jalur non penal lebih bersifat tindakan (matregel) pencegahan sebelum
terjadinya kejahatan.171
171
Mahmud Mulyadi., Criminal Policy, Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal
Policy Dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, Op. cit., hal. 55.
Oleh karena itu sasaran utamanaya adalah membuat kebijakan-kebijakan menangani faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan yang berpusat pada masalah-masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan kejahatan itu. Barda Nawawi Arief, mengatakan bahwa jika dilihat dari kebijakan penanggulangan kejahatan, maka
usaha-usaha non penal mempunyai kedudukan yang strategis dan memegang peranan kunci yang harus diintensifkan dan diefektifkan.172
Peran Polri dalam memberantas tindak pidana terorisme dilakukan melalui kebijakan non penal yaitu hal-hal yang bersifat preemptif, resosialisasi, dan rehabilitasi serta pengembangan infrastruktur pendukung, diuraikan sebagai berikut:
1. Upaya preemtif Polri melakukan:
a. Pencerahan ajaran agama oleh tokoh-tokoh kharismatik dan kredibilitas tinggi di bidang keagamaan untuk mengeliminir ekstrimisme dan radikalisme dalam hal pemahaman ajaran agama oleh kelompok-kelompok fundamentalis garis keras;
b. Melakukan politik pemerintah sebagai berikut:
1) Merespon tuntutan politik teroris dengan kebijakan politik yang dapat
mengakomodir aspirasi kelompok radikal;
2) Pelibatan kelompok-kelompok radikal yang potensial mengarah pada
tindakan teror dalam penyelesaian konflik secara damai melalui dialog, negosiasi, dan sebagainya;
3) Penawaran konsesi politik bagi kelompok-kelompok non formal terlarang
menjadi gerakan formal secara konstitusional;
4) Pelibatan partai politik dan organisasi kemasyarakatan atau lembaga
swadaya masyarakat yang memiliki kemiripan visi dan ideologi dalam dialog dengan kelompok-kelompok radikal;
172
2. Upaya resosialisasi dan rehabilitasi dilakukan oleh Polri yaitu:
a. Redukasi terhadap para pelaku teroris yang telah mengalami “cuci otak”
dengan ideologi ekstrim/radikal sehingga eks pelaku dapat diresosialisasikan dan direintegrasikan ke dalam cara-cara berfikir normal dalam kehidupan masyarakat;
b. Perbaikan sarana dan prasarana serta fasilitas publik yang telah rusak; c. Normalisasi pelayanan publik dan kegiatan masyarakat;
3. Pengembangan infrastruktur pendukung dilakukan oleh Polri meliputi:
a. Menerima dukungan melalui bantuan internasional untuk pengadaan peralatan
dan teknologi canggih untuk melawan terorisme khususnya bagi Densus 88 Anti Teror Polri;
b. Peningkatan kualitas SDM satuan-satuan pelaksana lapangan Polri misalnya
SDM intelijen, SDM anggota Densus 88, penyelidik dan penyidik Polri;
c. Bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Politik Hukum dan
Keamanan (Menkopolhukam) dalam pembangunan kapasitas organisasi
lembaga koordinasi agar efektif, tujuanya untuk mengantisipasi
perkembangan ancaman terorisme agar tidak terus beranjut misalnya
pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).173
Berdasarkan uraian di atas, keberhasilan penanggulangan dan pemberantasan kejahatan khususnya tindak pidana terorisme disyaratkan pada integritas berbagai pendekatan yang secara garis besarnya dapat dibagi menjadi dua kebijakan yaitu
173
kebijakan penal dan kebijakan non penal. Kebijakan penal lebih bersifat penerapan peraturan yang berlaku baik materil maupun formil dengan demikian kebijakan penal lebih dekat dengan makna ”pemberantasan” sebab pemberantasan mengandung arti bahwa kejahatan atau tindak pidana itu sudah terjadi sehingga diperlukan pemberantasannya. Kebijakan penal dalam memberantas tindak pidana terorisme dilakukan melalui pendekatan represif dan preventif.174
Berbeda halnya dengan kebijakan non penal lebih bersifat antisipatif terhadap
kejahatan melalui upaya mengoptimalkan kebijakan-kebijakan dengan
memperhatikan faktor-faktor kondusif yang berkemungkinan menimbulkan embrio terorisme. Kebijakan non penal menitikberatkan kepada pengkondisian terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan kriminogen dengan melakukan pendekatan sosial. Kebijakan non penal ini dapat meliputi preemptif, resosialisasi, dan rehabilitasi serta pengembangan infrastruktur pendukung.175
C. Pembentukan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri
Sebelum Densus 88 Anti Teror Polri dibentuk, sudah ada 3 satuan anti teror yang dimiliki oleh TNI (AD, AL, AU) ditambah dengan BIN. Satuan khusus Polri awalnya diperankan oleh Detasemen Gegana Brimob yang dalam perkembangannya tugas peran Detasemen Gegana Brimob dipandang masih memiliki kelemahan. Hal
174
Pendekatan melalui preventif digolongkan kepada kebijakan penal dengan merujuk kepada referensi yang dikatakan oleh Barda Nawawi Arief bahwa pendekatan preventif terkadang dilakukan sebagai langkah dalam kebijakan penal dan sebahagiannya adalah kebijakan non penal. Barda Nawawi
Arief., Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Loc. cit.
175
ini terutama karena tugasnya masih bersifat upaya refresif belum mengembangkan upaya preventif sehingga Detasemen Gegana Brimob kurang memiliki kriteria sebagai unit anti teror karena hanya berfungsi sebagai satuan penindak (striking force).176