BAB III : PERAN POLRI DALAM PEMBERANTASAN TINDAK
B. Solusi Terhadap Hambatan-Hambatan
2. Solusi Eksternal
Persepsi publik sebagaimana disebutkan dalam poin a, b, c, d, dan e pada hambatan eksternal di atas, maka perlu dilakukan tinjauan dari berbagai aspek atas pentingnya memberantas tindak pidana terorisme di Indonesia. Dikaji dari aspek politik bahwa aksi teroris tidak mengenal diskriminatif target, membuat keharusan membangun sistem keamanan terhadap manusia dan obyek vital baik militer maupun non militer di banyak negara. Dampak terorisme di bidang politik, misalnya: Gangguan terhadap kehidupan demokrasi; Roda pemerintahan tidak berjalan lancar; dan Pemerintah yang lemah bisa jatuh.
Berbagai kerja sama internasional dikembangkan untuk mendesak langkah kooperatif dalam melawan terorisme. Perang melawan terorisme, upaya membangun sistem keamanan dengan pembatasan kebebasan di satu sisi dan antara sistem keamanan nasional dengan multi nasional di sisi lainnya. Terlepas dari pertarungan politik dalam dan luar negeri, sentimen baru melawan terorisme membuka babak baru perkembangan arah politik dunia. Indonesia perlu mewaspadai dan harus ada upaya
pencegahan adalah ketika para teroris internasional memanfaatkan kondisi politik atau sosial budaya, masih rentan terhadap SARA, keniscayaan kebhinekaan NKRI terancam. Perdebatan tentang adanya bahaya terorisme berlangsung diwarnai nuansa politis dari Polri. Hal demikian masih dalam kewajaran, karena masyarakat Indonesia sedang dalam transisi perubahan menuju masyarakat yang demokratis, bebas menyatakan pendapatnya. Wacana politik apapun yang terjadi yang penting adalah politik kontrol tidak membiarkan peredaran bahan peledak, pengawasan keimigrasian dan kepabeanan merupakan langkah politik praktis yang tepat pada saat ini dan di masa datang.
Tinjauan dari aspek ekonomi, bahwa jaringan teroris sangat memerlukan sumber dana maupun sumber daya manusia untuk melakukan aksinya. Dana merupakan satu hal penting, bukan hanya untuk pembelian senjata, alat-alat penghancur bahan peledak untuk bom, tetapi juga untuk mempertahankan hidup sel-sel pengikutnya. Dana didapatkan dari kegiatan ilegal perdagangan, prostitusi, judi dan sebagainya. Melalui pencucian uang hasil kejahatan komersial, penyelundupan dan korupsi, dana menjadi bersih asal usulnya, sah dan sulit ditelusuri. Mengingat sangat kompleksnya masalah pencucian uang karena terkait dengan pendeteksian dini dan harus dilakukan secara tertutup, maka peran Densus 88 Anti Teror Polri sangat diperlukan dalam perumusan pencegahan terhadap kejahatan terorganisir.
Tinjauan dari aspek sosial budaya dan agama, bahwa aksi terorisme belum dapat dihentikan, artinya sekalipun perang melawan terorisme sedang dilaksanakan dan agenda hubungan internasional untuk komitmen bersama melawannya, serangan
terorisme terus berlangsung. Terorisme tegas dinyatakan tidak bisa dikaitkan dengan agama tertentu, karena semua agama mengutuk terorisme, itulah sebabnya untuk menghadapi terorisme dilakukan kebijakan non penal (di luar undang-undang) menggunakan metoda lain yaitu antara lain mengikut sertakan tokoh-tokoh agama dalam upaya menetralisir pembibitan dan peneyebaran ajaran radikalisme. Keberhasilan Indonesia dalam membongkar sejumlah aksi teror selama ini, tidak berarti pada kesimpulan akhir bahwa penganut agama Islam memiliki pemikiran sama terhadap pemahaman terorisme yang berkembang di Indonesia. Perang melawan terorisme harus dilihat sebagai perang gagasan yang mengarah pada memenangkan pikiran dan hati masyarakat untuk tidak simpati dan tidak mendukung gagasan para teroris. Solusi terhadap hal demikian dilaksanakan Polri secara serempak dengan memusatkan faktor-faktor terkait seperti kemiskinan, pendidikan dan masalah sosial lainnya.
Tinjauan dari aspek kebijakan bahwa untuk melawan terorisme membutuhkan sebuah kebijakan penanggulangan terorisme yang bersifat komprehensif bersifat umum dan menyeluruh, maka diperlukan kebijakan di luar ketentuan (undang-undang) yakni mencari akar permasalahan dan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap pelaku. Kebijakan utama yang merupakan pencegahan untuk menghilangkan peluang bagi tumbuh suburnya terorisme di dalam sendi kehidupan masyarakat pada aspek keadilan, demokrasi, kesenjangan, pengangguran, kemiskinan, budaya KKN, kekerasan dan sebagainya. Kebijakan yang melahirkan aturan-aturan untuk mempersempit peluang terjadinya aksi teror dalam artian mempersempit ruang
maupun sumber daya teroris. Kebijakan dititikberatkan pada aspek penindakan diwujudkan dalam deteksi dini dan respon cepat terhadap indikasi aksi-aksi teror.
Penindakan dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi regulasi mengenai code of
conduct atau rule of engagement, sehingga apapun tindakan yang dilakukan melawan
terorisme akan terbebas dari persoalan pro dan kontra dalam opini masyarakat.
Kebijakan, strategi, metoda, teknik, taktik dan pendekatan untuk mengatasi terorisme yang diterapkan tentunya akan berbeda dari satu negara dibanding negara lainya, sebab kelompok teroris disebabkan oleh adanya motif-motif seperti separatis, anarkhis, dissidents, nasionalis, marxist revolusioner, dan religius. Perbedaan penanganan juga disebabkan oleh perbedaan kondisi daerah, budaya, adat istiadat, hukum, sumber daya serta kemampuan satuan anti teror yang tersedia. Polri dalam memerangi terorisme tetap mempertimbangkan kondisi yang berlaku terutama bidang hukum, sosial dan budaya bangsa, bila tidak justru akan menciptakan kondisi yang kontra produktif.
Impelementasi memerangi aksi terorisme dilakukan melalui upaya-upaya reprsif, preventiv, preemtif, resosialisasi dan rehabilitasi serta pengembangan infrastruktur pendukung. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa hambatan-hambatan
dalam pemberantasan terorisme bahwa pertama, langkah-langkah operasional
penindakan terhadap aksi teror di Indonesia dianggap oleh sebagian kalangan masyarakat merupakan skenario yang dipaksakan oleh negara-negara maju kepada negara lemah dalam bidang politik, ekonomi, militer dan teknologi. Kedua, adanya trauma masa lalu berdasarkan pengalaman bahwa aparat keamanan dan sistem hukum
untuk menangani terorisme untuk kepentingan kelompok penguasa dalam rangka mengembalikan kekuasaan otoriter seperti sebelumnya.
Kedua hal tersebut menimbulkan keengganan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses politik memerangi terorisme, maka Polri melakukan resosialisasi,
reintegrasi dan sekaligus keteladanan bahwa pertama, langkah-langkah yang
dilakukan Polri dan Pemerintah adalah tidak diskriminatif, kedua, perang melawan terorisme adalah kebutuhan mendesak untuk melindungi warga negara Indonesia
sesuai tujuan nasional yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 dan ketiga,
kerja sama dengan pihak asing dalam memberantas terorisme adalah keharusan agar tidak timbul korban yang tidak berdosa dan mengingat bahwa kemampuan Polri dalam bidang teknik dan perlatan canggih masih kurang. Melengkapi kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh Pemerintah dan Polri khususnya Densus 88 Anti Teror dalam perang melawan terorisme perlu dilakukan secara terkoordinasi lintas instansi, lintas nasional, lintas internasional dan secara simultan bersifat represif, preventif, preemtif maupun rehabilitasi.
Terhadap persepsi yang bernuansa kecemburuan dalam hal penempatan Densus 88 Anti Teror Polri sebagai garda terdepan dalam memerangi terorisme di Indonesia dengan pertimbangan bahwa TNI pada masa pembentukan pasukan anti teror di Indonesia yang dibiayai oleh negara-negara barat, masih dalam keadaan diembargo dari segi peralatan persenjataan pada tahun 2005 sementara tuntutan untuk
memberantas terorisme di Indonesia pada tahun 2001 hingga saat ini merupakan keadaan yang sangat mendesak.207
BIN melakukan penangkapan terhadap salah satu pelaku kunci jaringan Jamaah Islamiah di Indonesia, langsung mengirimkannya ke Amerika Serikat tanpa berkoordinasi dengan Polri sebagai institusi yang berwenang melakukan penangkapan. Hal ini bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara Indonesia. Oleh karena itu, institusi Polri dianggap sebagai lembaga yang mampu mengembangkan institusi anti terror mengingat bahwa selain melakukan pelayanan, pengayoman, dan melindungi masyarakat, Polri berwenang dalam hal sistim peradilan pidana dalam penegakan hukum. Oleh karena itu, Densus 88 Anti Teror Polri dibentuk sebagai garda terdepan merupakan tuntutan yang mendesak dan langkah tepat namun tetap mengikutsertakan unsur TNI dan BIN melalui koordinasi antara institusi.
Terhadap persepsi publik yang beranggapan bahwa matinya teroris merupakan suatu pelanggaran HAM. Polri bersikap tegas dan nyata bahwa apapun yang dilakukan demi untuk menciptakan keamanan rakyat banyak yakni keamanan dan kenyamanan bagi seluruh rakyat Indonesia. Densus 88 Anti Teror Polri bukan tidak memberikan seruan kepada pelaku terorisme ketika dilakukan pengepungan, namun seruan itu tidak dihiraukan teroris bahkan melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata dan bahan peledak. Pertimbangan ini mewajibkan Densus 88
207
http://www.sejarahtni.mil.id/index.php?show=script&cmd=loadnews&newsid=2133, diakses tanggal 28 Maret 2011.
Anti Teror Polri memaksa teroris untuk menyerah bahkan menembak mati pelaku yang berusaha menembak dan meledakkan bom.