BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6. Model Implementasi Brian W. Hoogwood dan Lewis A
2.2. Kebijakan Publik
Kebijakan publik merupaka kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu di masyarakat di mana dalam penyusunannya melalui berbagai tahapan. jika
dalam Negara tidak memiliki kebijakan maka maka peraturan-peraturan dalam sebuah Negara yang ada tidak berjalan dengan baik.
Anderson (dalam Tahir, 2015:21), kebijakan adalah suatu tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan seseorang pelaku atau jumlah pelaku untuk memecahkan suatu masalah. Ini berarti, kebijakan publik adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah.
Menurut Wilson (dalam Wahab, 2008:13) Kebijakan publik merupakan tindakan-tindakan, tujuan-tujuan, dan pernyataan-pernyataan pemerintah mengenai masalah-masalah tertentu, langkah-langkah yang telah/sedang diambil (atau gagal diambil) untuk diimplementasikan, dan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh mereka mengenai apa yang terjadi. Sementara Woll (dalam Tangkilisan, 2003:2) mengungkapkan bahwa kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Wahab (dalam Setyawan, 2017:22) mengemukakan ciri-ciri dari kebijakan 23publik, yaitu:
1. Kebijakan publik merupakan aktivitas yang sengaja dilakukan dan mengarah kepada tujuan tertentu. Bukan hanya sekedar aktivitas atau perilaku menyimpang dan serba acak, (at random) asal-asalan dan serba kebetulan. Sehingga segala bentuk kebijakan baik dalam bidang pembangunan, sosial politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya merupakan aktivitas atau tindakan yang sudah direncanakan (by planed).
2. Kebijakan publik merupakan aktivitas yang memiliki pola dan saling berkaitan antara satu dengan lainnya yang memiliki arah dan tujuan yang jelas, dilakukan oleh pejabat-pejabat publik atau pemerintah.
Kebijakan publik bukan keputusan yang berdiri sendiri serta keputusan individu-individu saja.
3. Kebijakan publik adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam bidang tertentu, bukan hanya apa yang diinginkannya. Sehingga harus ada aksi nyata dalam menangani permasalahan yang terjadi. Kebijakan publik tidak cukup dengan kata-kata melainkan harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
4. Kebijakan publik dapat berbentuk positif dapat pula berbentuk negatif.
Dalam kebijakan yang berbentuk positif, pemerintah akan mengambil peran dalam tindakan-tindakan tertentu guna menyelesaikan suatu permsalahan yang ada. Sedangkan kebijakan publik yang berbentuk negatif, pemerintah tidak mengambil keputusan untuk mengambil
tindakan terhadap suatu masalah yang sebenarnya membutuhkan campur tangan pemerintah.
Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik sangat berperan penting dalam pemerintahan yang kemudian akan diimplementasikan dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kebijakan juga adalah suau keputusan yang diambil oleh pemerintah berwenang guna untuk kepentingan publik. Dan cirri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah secara terencaa untuk mencapai suatu tujuan.
2.3 Pengertian Badan Usaha Milik Desa ( BUMDES )
Dalam era pembangunan sekarang banyak pendekatan pembangunan yang telah diterapkan seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pertumbuhan hingga pemberdayaan masyarakat dengan menempatkan masyarakat sebagai sentral pembangunan. Pembangunan desa adalah partisipasi dan pemberdayaan masyarakat adanya berbagai program dan proyek pembangunan yang bertujuan menciptakan kemajuan desa, tetapi program dan proyek tidak hanya untuk menciptakan kemajuan desa tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Sasaran dalam pembangunan desa memperbaikin dan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa, pengarahan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
Dalam pendapat Rostow (1960) bahwa Negara - Negara berkembang yang ingin maju harus melalui tahap-tahap pembangunan yaitu:
1. The traditional society atau tahap masyarakat tradisional adalah suatu negara yang struktur masyarakatnya dibangun di dalam fungsi-fungsi produksi yang terbatas.
2. The preconditions for take off atau tahap prakondisi menuju tinggal landas (take off) yaitu meliputi masyarakat yang sedang dalam proses peralihan atau merupakan suatu periode yang menunjukkan adanya syarat-syarat menuju take off
3. Take off atau tahap tinggal landas adalah tahapan perkembangan ekonomi memasuki masa antara, ketika hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan terhadap pertumbuhan sudah mulai dapat diatasi.
4. The drive to maturity atau tahap gerak menuju kematangan adalah tahap ketika kegiatan ekonomi tumbuh secara terus-menerus dengan teratur dan penggunaan teknologi modern meluas ke seluruh aspek kegiatan perekonomian.
5. The age of high mass cosumption atau tahap konsumsi massa tinggi adalah tahap ketika perkembangan industri lebih ditujukan untuk menghasilkan barang-barang konsumsi tahan lama dalam bidang jasa. Rostow (1971) menyatakan, bahwa pengertian pembangunan tidak hanya pada lebih banyak output yang dihasilkan tetapi juga lebih banyak output daripada yang diproduksi sebelumnya.
Dalam Peraturan Perundang-undang No 43 Tahun 2014 Badan Usaha Milik Desa yang selanjutnya disebut BUMDES adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa.
Bumdes pada dasarnya adalah bentuk konsolidasi atau penguatan terhadap lembaga-lembaga ekonomi desa. Beberapa agenda yang bisa dilakukan seperti pengembangan kemampuan sumber daya manusia sehingga mampu memberikan nilai tambah dalam pengelolahan aset ekonomi desa. Bumdes juga
merupakan instrumen penyandang ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi-potensinya terutama pada tujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa melalui sebuah pengembangan usaha pada ekonomi masyarakat desa.
Selain itu adanya Bumdes ini juga dapat memberikan sumbangan bagi peningkatan pendapatan asli desa yang dapat memungkinkan desa bisa melaksanakan atau mampu menjalankan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara optimal. Dengan adanya Bumdes yang didirikan, diharapkan mampu memanfaatkan potensi dan aset desa untuk membangun kesejahteraan masyarakat desa karena ini bukan suatu program yang „topdown‟ atau bisa dikatakan paket program dari pemerintah daerah atau pusat tetapi melainkan pembangunan desa yang digerakkan oleh kekuatan masyarakat desa itu sendiri.
Menurut Peraturan Pemerintah dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2010 bahwa usaha desa dibentuk/didirikan oleh pemerintah desa yang kepemilikan modal dan pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat. Usaha desa adalah jenis usaha yang berupa pelayanan ekonomi desa seperti, usaha jasa, penyaluran sembilan bahan pokok, perdagangan hasil pertanian, serta industri dan kerajinan rakyat.
Menurut (Alkadafi, 2014). Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) merupakan institusi yang dibentuk oleh pemerintah desa serta masyarakat mengelola institusi tersebut berdasarkan kebutuhan dan ekonomi desa.
BUMDes dibentuk berlandaskan atas peraturan perundang-undang yang berlaku atas kesepakatan antar masyarakat desa. Tujuan BUMDes adalah
meningkatkan dan memperkuat perekonomian desa. Bumdes memiliki fungsi sebagai lembaga komersial melalui penawaran sumberdaya lokal yang bertujuan untuk mencari keuntungan dan lembaga sosial melalui kontribusi penyediaan pelayanaan sosial yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Bumdes telah memberikan kontribusi positif bagi penguatan ekonomi di pedesaan dalam mengembangkan perekonomian masyarakat.
Dapat disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa Bumdes dibentuk dan dikelola oleh pemerintah desa sesuai kebutuhan desa tersebut dan tidak bisa disamakan antara satu desa dengan desa yang lain. Tujuan Bumdes dibentuk agar meningkatkan kesejahteraan dari sektor ekonomi agar produk-produk lokal desa yang dihasilkan bisa dijual lebih baik.
2.3.1. Pembentukan dan pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Bumdes adalah badan usaha yang seluruh modalnya dari desa untuk bentuk partisipasi masyarakat secara keseluruhan yang didirikan berdasarkan Peraturan Desa tentang pendirian Bumdes, Tetapi Bumdes merupakan lembaga usaha masyarakat yang kedudukannya berada diluar sturuktur organisasi pemerintah desa. Pendirian Bumdes merupakan salah satu pilihan desa dalam gerakan usaha ekonomi desa. Pembentukan Bumdes agar potensi sumberdaya manusia, ekonomi, pasar, sosial, budaya, dan alam mampu di kelola sebesar-besarnya oleh desa khusus untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa pada umumnya dan masyarakat miskin di wiliyah dusun pada khususnya.
Pembentukan Bumdes berdasarkan pasal 132 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang peraturan pelaksanaan Undang – undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, pendirian badan usaha milik desa (BUMDES) dilakukan melalui musyawarah desa dan di tetapkan dengan peraturan desa.
Pendirian Bumdes didasarkan atas prakarsa desa yang mempertimbangkan : 1. Inisiatif pemerintah desa atau masyarakat desa
2. Potensi usaha ekonomi desa 3. Sumber daya alam di desa
4. Sumber daya manusia yang mampu mengelola Bumdes
5. Penyertaan modal dari pemerintah desa dalam bentuk pembiayaan dan kekayaan desa yang di serahkan untuk dikelola sebagai bagian usaha Bumdes.
(Sumber:Tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMdesa) AMANAH)
2.3.2. Tujuan Bumdes
Tujuan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) pada dasaranya adalah sebagaimana disebut dalam Permendesa PDTT No. 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa, memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan perekonomian Desa.
2. Mengoptimalkan aset Desa agar bermanfaat untuk kesejahteraan Desa.
3. Meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomiDesa.
4. Mengembangkan rencana kerja sama usaha antar desa dan/atau dengan pihak ketiga.
5. Menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga.
6. Membuka lapangan kerja.
7. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Desa; dan 8. Meningkatkan pendapatan masyarakat Desa dan Pendapatan Asli
Desa.
(Sumber: Tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Desa(BUMdesa) AMANAH)
2.4. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan atau keterlibatan masyarakat baik secara fisik maupun non fisik untuk mencapai suatu tujuan dan ikut bertanggung jawab didalam suatu kegiatan atau program yang berjalan didalam lingkungan masyarakat tersebut. Partisipasi masyarakat juga menuju suatu kepedulian dengan berbagai bentuk keikutsertaan masyarakat dalam pembuatan kebijaksanaan dan pengambilan keputusan.
Menurut Santosa (1998:13) bahwa partisipasi didefinisikan sebagai karakteristik mental/pikiran dan emosi/perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab
terhadap usaha yang bersangkutan. Definisi tersebut menekankan bahwa partisipasi merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki pemikiran dan perasaan yang khusus kepada suatu kelompok yang diberikan untuk kepentingan kelompok tersebut serta bertanggungjawab atas usaha kelompok tersebut agar menjadi lebih baik.
Menurut Wazir (1999:29) bahwa partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.
Berdasarkan uraian di atas partisipasi adalah seseorang yang terlibat secara sadar dan tidak dipaksa untuk berkegiatan dalam suatu situasi dimana dia bisa ikut ambil bagian untuk dirinya atau orang lain yang di dalam kelompok tersebut dengan ketentuan – ketentuan yang sudah disepakati bersama.
Mikkelsen (1999: 64) membagi partisipasi menjadi 6 (enam) pengertian, yaitu:
1. Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan;
2. Partisipasi adalah “pemekaan” (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan;
3. Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri;
4. Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu;
5. Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosial;
6. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka.
Menurut para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat adalah sebuah keterlibatan para masyarakat aktif dari seseorang atau kelompok secara sadar ikut berkontribusi dalam suatu kegiatan. Tetapi partisipasi masyarakat itu baik terjadi karena di dasarkan atas kesadaran atau kemauan individunya supaya dalam mengikuti kegiatan itu dalam sukarela. Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi. partisipasi adalah meningkatnya kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam sebuah program pembangunan dengan cara melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan selanjutnya dan untuk jangka yang lebih panjang.
Menurut Sumampouw (2004: 106-107). Adapun prinsip-prinsip partisipasi tersebut, sebagaimana tertuang dalam Panduan Pelaksanaan Pendekatan Partisipatif yang disusun oleh Department for International Development (DFID) adalah:
a) Cakupan. Semua orang atau wakil-wakil dari semua kelompok yang terkena dampak dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses proyek pembangunan.
b) Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership). Pada dasarnya setiap orang mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakarsa serta mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalam setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan struktur masing-masing pihak.
c) Transparansi. Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga menimbulkan dialog.
d) Kesetaraan kewenangan (Sharing Power/Equal Powership). Berbagai pihak yang terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi kewenangan dan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi.
e) Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility). Berbagai pihak mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena adanya kesetaraan kewenangan (sharing power) dan keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah selanjutnya.
f) Pemberdayaan (Empowerment). Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas dari segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehingga melalui keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain.
g) Kerjasama. Diperlukan adanya kerja sama berbagai pihak yang terlibat untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia.
Kesimpulan di atas partisipasi menurut Sumampouw adalah harus punya dampak kepada setiap anggota dari hasil yang diperoleh, tidak ada yang dibeda-bedakan antara anggota, harus tranpasaran dalam transaksi apapun, kesetaraan hak dan kewajiban, anggota yang diberdayakan dan adanya kerjsama antara anggota.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program, sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan program namun ada juga yang sifatnya dapat menghambat keberhasilan program. Misalnya saja faktor usia, terbatasnya harta benda, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan.
Angell (dalam Ross, 1967: 130) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu:
1. Usia
Faktor usia merupakan faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai
dan norma masyarakat yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yang berpartisipasi daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya.
2. Jenis kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur”
yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
3. Pendidikan
Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi.
Pendidikan dianggap dapat mempengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat.
4. Pekerjaan dan penghasilan
Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan, harus didukung oleh suasana yang mapan perekonomian.
5. Lamanya tinggal
Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang. Semakin lama ia tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut.
Dari kesimpulan di atas faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan dalam berpartisipasi menurut Angell adalah usia yang sudah matang, tidak memandang jenis kelamin, pendidikan yang biak, memiliki pekerjaan yang jelas dengan penghasilan yang baik, serta lamanya tinggal seorang tersebut tinggal di daerah tersebut, semakin lama dia tinggal di daerah tersebut maka akan semakin tinggi rasa partisipasinya akan semakin besar karena memiliki ikatan emosioanl yang dalam dan kuat.
Sedangkan menurut Holil (1980: 9-10), unsur-unsur dasar partisipasi sosial yang juga dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat adalah:
1. Kepercayaan diri masyarakat
2. Solidaritas dan integritas sosial masyarakat 3. Tanggungjawab sosial dan komitmen masyarakat
4. Kemauan dan kemampuan untuk mengubah atau memperbaiki keadaan dan membangun atas kekuatan sendiri
5. Prakarsa masyarakat atau prakarsa perseorangan yang diterima dan diakui sebagai/menjadi milik masyarakat
6. Kepentingan umum murni, setidak-tidaknya umum dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan, dalam pengertian bukan kepentingan umum yang semu karena penunggangan oleh kepentingan perseorangan atau sebagian kecil dari masyarakat
7. Organisasi, keputusan rasional dan efisiensi usaha
8. Musyawarah untuk mufakat dalam pengambilan keputusan
9. Kepekaan dan ketanggapan masyarakat terhadap masalah, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan umum masyarakat.
Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program juga dapat berasal dari unsur luar/lingkungan. Menurut Holil (1980: 10) ada 4 poin yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat yang berasal dari luar/lingkungan, yaitu:
1. Komunikasi yang intensif antara sesama warga masyarakat, antara warga masyarakat dengan pimpinannya serta antara sistem sosial di dalam masyarakat dengan sistem di luarnya;
2. Iklim sosial, ekonomi, politik dan budaya, baik dalam kehidupan keluarga, pergaulan, permainan, sekolah maupun masyarakat dan bangsa yang menguntungkan bagi serta mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat;
3. Kesempatan untuk berpartisipasi. Keadaan lingkungan serta proses dan struktur sosial, sistem nilai dan norma-norma yang memungkinkan dan mendorong terjadinya partisipasi sosial;
4. Kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi. Lingkungan di dalam keluarga masyarakat atau lingkungan politik, sosial, budaya yang memungkinkan dan mendorong timbul dan berkembangnya prakarsa, gagasan, perseorangan atau kelompok.
Kesimpulan dari 4 poin yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarat menurut Holil adalah komunikasi yang baik di iklim sosial yang baik dengan adanya kesempatan untuk berpartisipasi serta kebebasan dalam berprasangka dan berkreasi.
2.5. Definisi Konsep
Menurut Singarimbun dan Effendi(2005)Konsep adalah suatu hasil pemaknaan dalam intelektual manusia yang memang merajuk ke gejala nyata kearah empirik. Konsep adalah sarana merujuk kedua empiris dan bukan merupakan refleksi sempurna (mutlak) dunia empiris bahkan konsep bukanlah dunia empiris itu sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, maka penulis mengemukakan definisi dari beberapa konsep yang digunakan :
1. Implementasi kebijakan adalah sebagai suatu tindakan atau tujuan yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan atau swasta yang untuk tercapainya tujuan – tujuan kegiatan dengan harapan dapat diterima oleh banyak orang. seperti yang telah di perbuat oleh desa kampung lalang kec.sunggal kab.deli serdang dalam mengimplementasikan kebijakan badan usaha milik desa.
2. Bumdes adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimodali oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa.
3. Partisipasi masyarakat adalah sebuah keterlibatan para masyarakat aktif dari seseorang atau kelompok secara sadar ikut berkontribusi dalam suatu kegiatan dan ikut bertanggung jawab, masyarakat itu baik berpartisipasi karena didasarin atas kesadaran atau kemauan individunya sendiri supaya dalam mengikuti kegiatan itu dalam sukarela.
2.6. Hipotesis Kerja
Menurut Sugiyono (2005:70) hipotesis merupakan jawaban sementara suatu penelitian yanag mana kebenerannya perlu untuk diuji dan dibuktikan melalui penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empiris..
Berdasarkan peneparan di atas penulis dapat merumuskan hipotesis kerja dalam penelitian ini yaitu : Implementasi Kebijakan Publik Badan Usaha Milik Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat di Desa Lalang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang. Meliputi sasaran dan standart kebijakan dalam sumberdaya, komunikasi antar organisasi dalam kegiatan pelaksanaan, karakteristik agen pelaksana, kondisi sosial dan ekonomi serta disposisi atau sikap para pelaksana dalam mendukung keberhasilan program Bumdes dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Bentuk penelitian
Metode yang digunakan merupakan prosedur atau cara dalam mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Effendi (2012:5) penelitian deskriptif bermaksud membuat penggambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu.
Sesuai dengan judul penelitian ini maka jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang bersifat menggambarkan atau mengungkapkan suatu keadaan sehingga dapat diketahui indikator dari variabel yang diteliti, guna mendapatkan manfaat yang lebih luas dalam penelitian ini dan tujuan untuk mengetahui Implementasi Kebijakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Dalam Meningkatkan Partisipasi masyarakat Desa di Desa Lalang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.
3.2. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di kantor Kepala Desa Lalang. Jalan Stasiun No.
71 Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20127.
71 Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20127.