BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Pembahasan penelitian
4.3.6. Disposisi (Sikap para pelaksana)
Keberhasilan atau tidaknya sebuah implementasi kebijakan ditentukan para sikap dan kemampuan agen pelaksana. Sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul permasalahan dan persoalan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan publik biasanya bersifat top down yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak mengetahui bahkan tak mampu menyentuh kebutuhan, keinginan atau permasalahan yang harus diselesaikan.
Selain dari kemampuan para agen pelaksana untuk keberhasilan sebuah implementasi kebijakan, tenggapan dan partisipasi masyarakat juga sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan atau tidaknya sebuah implementasi yang dibentuk. Adapun wawancara yang telah dilakukan kepada informan, yakni :
“Kemampuan para pengelola sangat masih minim karena program Bumdes masih terlalu dini yang dilakukan para pengelola dan maih perlu perbaikan dalam mengelola program Bumdes.” (Wawancara 12 Mei 2019 Transkip Halaman 49).
Adapun tanggapan lainnya dari informan, yakni :
“Kemampuan para pengelola kurang baik dan professional dan kurang bertanggung jawab.” (Wawancara 6 Mei 2019 Transkip Halaman 31).
Adapun tangapan lainnya dari informan, yakni :
“: Kemampuan pengelola dalam melaksanakan cukup bagus dan baik tetapi ada beberapa yang kurang baik dalam melaksanakannya.”
(Wawancara 7 Mei 2019 Transkip Halaman 37).
Adapun tanggapan lainnya tentang tanggapan masyarakat dalam implementasi Bumdes ini dalam meningkatkan partisipasi dari informan, yakni :
“Sebenarnya tanggapan masyarakat positif tetapi ada kendalanya karena dana yang diberikan masih terbatas maka masih ada masyarakat yang tidak berpartisipasi dan sebagian masyarakat menanggapain kurang baik dengan Bumdes ini” (Wawancara 11 Mei 2019 Transkip Halaman 46).
Jadi dapat disimpulkan dari wawancara di atas disposisi sikap pelaksana atau kemampuan para pengelolah sebenarnya sudah baik, profesional dan bagus sebagian hanya saja ada beberapa pengelola yang kurang baik dan professional dalam melaksanakan kegiatan dan perlu lagi belajar dan diberikan bimbingan. Karena keberhasilan suatu implementasi kebijakan berunsur dari para pelaksana atau pengelolanya.
Ada sedikit tanggapan masyarakat, tanggapan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam program Bumdes ini sudah positif tapi ada beberapa masyarakat yang tidak berpartisipasi dan ada masyarakat yang tidak bisa ikut berpartisipasi dalam program Bumdes yaitu simpan pinjam yang yang menanggapi kurang baik karena program simpan pinjam masih mempunyai dana yang sangat minim.
4.4. Hambatan yang ada di Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Desa Lalang
Hambatan yang didapat selama pelaksanaan atau selama masyarakat ikut menjadi keangggotan Bumdes di Desa Lalang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang adalah sebagai berikut :
1. Minimnya permodalan keuangan Bumdes dalam program simpan pinjam, akan lebih membantu jalannya program Bumdes ini jika modal yang dialokasikan oleh pihak desa lebih besar sehingga lebih banyak masyarakat yang berminat untuk ikut berpartisipasi. Disamping itu akan jadi nilai promosi tambahan kepada masyarakat sendiri jika dana yang dikeluarkan besar.
2. Susahnya pengutipan iuran masyarakat yang meminjam kepada program Bumdes, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kewajiban untuk membayar iuran wajib menjadi kendala tersendiri sebab jika hal ini tidak terlaksana akan berdampak kepada kondisi keuangan Bumdes sendiri. Akan semakin sehat keuangan Bumdes jika perputana keuangan juga berjalan dengan baik.
3. Kurangnya sebagian pengelola Bumdes dalam keprofesionalan dalam melaksanakan program Bumdes, akan bermasalah jika yang mengelola Bumdes tidak paham dan mengerti pekerjaan ini. Semakin baik kualitas pekerja Bumdes maka semakin baik pengelolaannya. Sebab jika
organisasi ini dikelola dengan baik akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya organisasi.
4. Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui manfaat dari ikut program Bumdes. Informasi yang kurang menjadi kendala tersendiri dalam melaksanakan kegiatan Bumdes. Komunikasi yang kurang baik serta kurang pedulinya masyarakat akan program Bumdes ini menjadi faktor utama ketidaktahuan manfaat dan kegunaannya.
5. Masih banyaknya masyarakat yang sudah terjerat dalam oknum rentenir.
Karena program bumdes ini baru dijalankan membuat masyarakat terlebih dahulu terjerat rentenir, kurangnya informasi tentang manfaat Bumdes kepada masyarakat dan sistem rentenir yang mengikat membuat masih banyak masyarakat yang lebih percaya dengan rentenir sebagai salah satu solusi keuangan keluarga. Perlunya penyuluhan yang lebih giat agar masyarakat lebih percaya dan mau untuk ikut dalam kegiatan Bumdes.
6. Adanya perlambatan pencairan dana ketika meminjam. Sistem peminjaman yang sulit sangat mempengaruhi minat masyarakat dalam berpartisipasi. Kebutuhan usaha yang tidak menentu membuat kebutuhan dana juga harus fleksibel, jika hal ini tidak dicermati dan ditindaklanjuti maka akan semakin jarang masyarakat untuk bergabung dengan Bumdes.
7. Inti hambatan yang dihadapi adalah kurangnya partisipasi masyarakat yang mau terjun atau mengikuti program Bumdes mendengarkan dan peduli dengan sosialisasi-sosialisasi dan penjelasan yang diberikan para pengelola Bumdes. Ketidakperdulian masyarakat akan manfaat dari Bumdes membuat program ini menjadi terhambat dan sulit untuk masuk dikalangan masyarakat. Sebagus apapun sistem yang dibuat, profesionalitas pegawai yang baik serta dana yang besar akan tidak berpengaruh jika masyarakat dalam hal ini sebagai objek dari program Bumdes tidak mau peduli akan sangat sulit untuk dilaksanakan.
Padahal jika masyarakat tahu akan manfaat baik dari program - program yang ada di Desa Lalang ini akan menjadi solusi keuangan mereka, mereka tidak perlu lagi berurusan dengan rentenir yang akan sangat membuat mereka menjadi susah, adanya informasi dan pelatihan untuk mengembangakn usaha yang mereka jalani tanpa harus mencari mentor tanpa biaya, pelatihan yang memudahkan mereka dalam menjalankan usaha, serta sebagai alat media tambahana yang baik bagi usaha mereka karena sudah difasilitasi oleh program Bumdes ini. Hal ini sangat baik jika para masyarakat memahami tujuan dan sasaran dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Lalang. Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi kedepannya agar kebijakan ini bisa berjalan sesuai harapan pemerintah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian dilapangan, maka dapat disimpulkan tentang Implementasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Lalang bersadarkan indikator yang diambil dari teori Van Meter dan Van horn yaitu : a. Sasaran Kebijakan (Ukuran Dasar dan Tujuan Kebijakan)
Program Bumdes di Desa Lalang belum dapat terealisasi sepenuhnya dimasyarakat desa masih banyak masyarakat yang tidak paham dan peduli untuk ikut berpartisipasi dalam program Bumdes dan tidak mengerti betapa bagusnya manfaat dari tujuan dan sasaran dalam program Bumdes.
b. Sumber Daya (Sumber – Sumber Kebijakan)
Manusia dalam pengelola atau pengurus Bumdes belum mempunyai pengelola yang bener – bener mengerti dan memadai dalam melaksanakan program Bumdes walaupun sudah didukung sumber daya keuangan yang berasal dari Dana Desa, meskipun begitu masyarakat masih banyak yang belum mengetahui asal usul dana Bumdes.
c. Komunikasi Antar Organisasi dan Kegiatan Pelaksana
Ketebukaan serta kejelasan pengelola atau pengurus Bumdes sudah sangat terbuka dan transparan serta dalam informasi – informasi disampaikan dengan sosialisasi dan selebaran tentang program Bumdes di desa Lalang.
d. Karakteristik Agen Pelaksana (Badan – Badan Pelaksana)
Dukungan yang diberikan para agen pelaksana sudah sangat baik secara moral dan materi, dukungan yang diberikan dalam skala dana yang belum begitu besar walaupun tiap tahun tetap melakukan rapat anggaran dengan pihak - pihak yang terlibat di Bumdes.
e. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politi
Dalam kondisi sosial, ekonomi dan politik di Desa Lalang masih banyak masyarakat kurang kesadarannya dengan manfaat dari program Bumdes untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat, seperti halnya program simpan pinjam dengan suku bunga yang rendah guna untuk menjalankan usaha. Namun tak hanya itu sebenarnya banyak masyarakat yang ingin bergabung tetapi karena keterbatasan dana Bumdes yang masih juga kurang memadai.
f. Disposisi (Sikap Para Pelaksana)
Sikap pelaksana atau kemampuan para pengelola cukup baik dan professional namun hanya kurang bimbingan untuk menjalankan implementasi dengan baik.
5.2. Saran - Saran
Berdasarkan uraian diatas peneliti dapat mengajukan saran terkait Implementasi Kebijakan Badan Usaha Milik Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Di Desa Lalang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, yaitu :
a. Sasaran Kebijakan (Ukuran Dasar dan Tujuan Kebijakan)
Meningkatkan pemahaman kepada masyarakat terhadap pentingnya dan baiknya manfaat Bumdes pada perekonomian masyarakat untuk memajukan ekonomi masyarakat.
b. Sumber Daya (Sumber – Sumber Kebijakan)
Peningkatan sumber daya manusia maupun kinerja untuk meningkatkan program Bumdes, seperti pemberdayaan dan edukasi terhadap sumber daya manusia untuk mempunyai pengelola yang mengerti dan memadai dalam melaksanakan program Bumdes.
c. Komunikasi antar Organisasi dan Kegiatan Pelaksana
Ketransparan informasi dan kejelasan harus ditingkatkan dan disampaikan kepada masyarakat agar meningkatnya partisipasi masyarakat terhadap program Bumdes.
d. Karakteristik Agen Pelaksana (Badan – Badan Pelaksana)
Meningkatkan kerjasama dan dukungan para agen pelaksana demi mewujudkan Implementasi Kebijakan Bumdes dalam meningkatkan partisipasi masyarakat.
e. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik
Memberikan informasi yang lebih jelas lagi terhadap manfaat – manfaat program Bumdes kepada masyarakat demi meningkatkan taraf perekonomian masyarakat dan membantu memajukan usaha – usaha mikro masyarakat maupun para anggota Bumdes.
f. Disposisi (Sikap Para Pelaksana)
Meningkatkan kinerja dan mengembangkan pelatihan supaya bisa mengelolah program Bumdes dan melaksanakan tugas – tugas program Bumdes lebih baik lagi, dan peningkatan partisipasi masyarakat terhalang dana yang minim supaya bisa ditingkatkan lagi untuk mendukung seluruh program Bumdes.
DAFTAR PUSTAKA Buku :
Ach. Wazir Ws. (1999). Panduan Penguatan Manajemen Lembaga Swadaya Masyarakat. Jakarta: Sekretariat Bina Desa dengan dukunganAusAID Melalui Indonesia HIV/AIDS and STD Prevention and Care Project.
Bungin, Burhan. (2011). Penelitian Kualitatif Edisi Kedua (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial lainnya). Jakarta: Kencana Prenanda Media Group.
Conyers, Diana. (1991). Perencanaan Sosial di Dunia ketiga. Yogyakarta:
UGM Press.
Effendi, Sofian. 2012. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3S.
Grindle, Merille S. 1980. Politics and Policy Implementation In The Third World. New Jersey : Princeton University Press
Moleong, Lexy. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Prasetyo, P.Eko. (2001). Fundamental Makro Ekonomi. Yogyakarta: Beta Offset Rachmini Sapitra, Savitri Dyah, Akmadi Abbas, Elok W.
Hidayat. Membangun.
Rostow,W.W.(1960).“Politicsand The Stages of Growth”.CambridgeUniversity Press: NewYork.
Ross, Murray G., and B.W. Lappin. (1967). Community Organization: theory, principles and practice.Second Edition. NewYork: Harper & Row Publishers.
Sandjojo putro eko. 2016. Modul Pelatihan Pratugas Pendamping Lokal Desa.
JakartaSelatan:Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrsi Republik Indonesia,2016.
Sastropoetro, Santoso R.A. 1986. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Displin Dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Alumn
Samuelson, Nordhus. (2004). Ilmu Makroekonomi, Edisi 17. Jakarta: PT. Media Global Edukasi.
Singarimbun. Masri dan Sofian Effendi.2005.“Metode Penelitian Survei.Jakara :LP3ES.
Sumber Saparin.1972.“Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa”. Jakarta: Ghalia Indonesia
Subarsono, A. (2005). Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2005. “Metode Penelitian Administrasi”.Bandung : Alfabeta.
Suyanto, Bagong.( 2005). Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Kencana Prenada Tahir, Arifin. (2015). Kebijakan Publik dan Transparansi Penyelenggaraan
Pemerintahan Desa. Bandung : Alfabeta.
______.(2015).”Kebijakan Publik & Transparansi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah”. Bandung, Alfabeta.
Wahab,Solichin Abdul.2008. “Pengantar Analisis Kebijakan Publik”. Malang:
UPT Universitas Muhammadiyah Malang.
______. (2008). Analisis Kebijakan : Dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara Edisi Kedua. JAKARTA: Bumi Aksara.
Skiripsi dan Jurnal :
Delia, Galih.(2018). “Implementasi Kebijakan Pengembangan UED-SP Menjadi Bumdes Di Kabupaten Brokan Bulu (Studi Kasus Bumdes Mekar Sari Desa Rambah Baru Kecamatan Bambah Samo)”.Pekanbaru.
Universitas Riau. Jurnal JOM FISIP Vol. 5.
Fajarwati, Yeni.(2016). “Implementasi Program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Di Desa Pagendangan Kecamatan Pagendangan Kabupaten Tanggerang”.Serang. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Nur Rahmawati Sulistiyorini, Rudi Saprudin Darwis, & Arie Surya Gutama.
(2017).”Pasrtisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Lingkungan Margaluyu Kelurahan Cicurug” .Vol.5.Hal.1.No.1
Taringan, Bastanta Rico.(2018). “Implementasi Dana Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur DiDesa Munte Kecamatan Munte
Kabupaten Karo”.Medan. Jurusan Ilmu Administrasi Publik.
Universitas Sumatera Utara.
Sumber lain :
ttps://www.academia.edu/34013504/SK.BUMDES_LALANG/ di askes 12 Oktober 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Desa/ askes 13 Oktober 2018 Dokumen :
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005.
Peraturan Pemerintah No 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Peraturan Desa Lalang Nomor 02 Tahun 2017 Tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Amanah Desa Lalang Kecamatan Sunggal Kabuapten Deli Serdang.
Dokumen Profil Desa Lalang Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.