BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Kondisi Demografi Desa
Secara demografis keadaan fisik/geografis Desa Lalang meliputi “ a) Batas Wilayah Desa
Letak geografi Desa Lalang, terletak diantara :
Sebelah Utara : berbatasan dengan Desa Tanjung Gusta Sebelah Selatan : berbatasan dengan Desa Payageli
Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Muliorejo
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kelurahan Lalang Kodya Medan
b) Luas Wilayah Desa : 150 ha.
Pemukiman : 140,2 ha Tadah Hujan/Pertanian : - ha Irigasi ½ tehnis : - ha Rawa-rawa : - ha
Pekarangan : 2 ha
Perkantoran : 1,5 ha
Pemakaman : 1 ha
Prasarana Umum Lainnya : 5 ha c) Iklim
Curah hujan : 2.510 mm/tahun
Jumlah bulan hujan : 6 bulan
Suhu udara rata-rata : 27-32o C
Tinggi tempat dari permukaan laut : + 20 s/d 25 meter 4.1.3. Visi dan Misi Desa
Visi
Mewujudkan Desa Lalang yang berkarya, maju berdaya saing, religus, bersatu, dan harmonis.
Misi
Meningkatkan sumber daya yang berkualitas terhadap perangkat desa dan membangun infrastruktur yang berwawasan lingkungan, serta membangun perekonomian yang kuat, berkualitas, meningkatkan peran aktif masyarakat dan swadaya masyarakat dalam kehidupan beragama serta meningkatkan peran sosial, menumbuhkan rasa kebersamaan dan semangat gotong royong.
Gambar 4.2. Struktur Organisasi Desa Lalang Sumber: Dokumentasi Penulis, 2019
4.1.4. Keadaan Sosial Ekonomi Desa Lalang 1) Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Desa Lalang tercatat sebanyak 2367 Kepala Keluarga dan jumlah jiwa 11.127 yang terdiri Laki-laki 4658 Jiwa, Perempuan 6469 Jiwa yang tersebar di 6 (enam) dusun.
KEPALA DESA LALANG
2) Kondisi Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi pada umumnya berkaitan dengan mata pencarian masyarakat dan merupakan jantung kehidupan manusia. Setiap manusia senantiasa berusaha melalui kemampuannya untuk mencari pekerjaan sesuai keahlia dan bidang masing – masing. Dari 11.127 jumlah penduduk Desa Lalang pada umumnya dapat dijelaskan bahwa Desa Lalang bermata pencarian Pedagang, Buruh, Karyawan Swasta, Pegawai Negeri Sipil, merupakan potensi yang cukup besar sedangkan Petani, Pertukangan dan Pesiunan jumlahnya relatif kecil.
3) Kondisi Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya pada umumnya adalah menciptakan keragaman dalam kehidupan sosial dan ekonomi yang terbentuk dari faktor interaksi manusia dan lingkungan. Dari jumlah penduduk 11.127 bermacam – macam agama yang dianut tetapi masyarakat Desa Lalang mempunyai kehidupan yang cukup baik, tentram, rukun, tenang, saling menghormati dan tolong menolong dalam mengahadapi masalah atau musibah dalam kehidupan bermasyarakat.
Tabel. 4.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
No Agama Jumlah
1. Islam 7793 jiwa
2. Katolik 205 jiwa
3. Protestan 1032 jiwa
4. Hindu 21 jiwa
5. Budha 176 jiwa
6. Jumlah 9.227 jiwa
Sikap dan pola kehidupan beragama adalah cerminan dan nilai – nilai kehidupan beragama. sebagai masyarakat beragama tentunya memerlukan sarana dan prasarana untuk beribadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianut masing – masing, antara lain seperti :
Masjid : 5 unit
Musholla : 7 unit
Gereja : 1 unit
Pura : - unit
Vihara : - unit
4.2. Program Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Amanah Mandiri Desa Lalang
Pemerintah Desa Lalang mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) ini sebagai wadah atau penggerakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dalam membuka usaha dan menambah pendapatan perekonomian keluarga dengan adanya bantuan permodalan dari pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) ini juga dibentuk dalam rangka potensi yang dimiliki Desa Lalang agar program – program yang di dirikan dapat berjalan terarah dan terorganisir tepat sasaran.
Maka dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Lalang dengan mengali potensi yang ada, dan telah dilakukan musyawarah desa dan menetapkan peraturan desa Nomor 02 Tahun 2017 Tentang Pembentukan
Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Desa Lalang, terbentuklah Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) pada Tanggal 26 Januari 2017.
4.2.1. dan Misi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Visi
Terwujudnya Desa Lalang sebagai sentra pedagangan Visi dan jasa yang di dukung pertanian dan industri kerakyatan yang kuat menuju masyarakat cerdas, sehat dan terampil serta dapat meningkatkan kesejahtera dan berbudaya berdasarkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Misi
1. Meningkatkan partisipasi masyarakat Desa dalam pemberdayaan sehinga dapat menumbuh kembangkan kesadaran dan kemandirian dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.
2. Meningkatkan permodalan melalui pengembangan ekonomi produktif di desa.
3. Membangkitkan ekonomi kecil dan menengah melalui unit usaha.
4. Meningkatkan kerjasama di bidang jasa, usaha dan keterampilan dengan steak holder.
5. Pengembangan usaha ekonomi melalui simpan pinjam.
6. Mengembangkan jaringan ekonomi dengan berbagai pihak.
Gambar 4.3. Struktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Amanah Desa Lalang.
4.2.2. Program – Program Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) a) Program Simpan Pinjam
Program simpan pinjam berdiri sejak adanya Badan Usaha Milik Desa
Rp. 30.000.000. yang berasal dari Pendapatan Asli Desa, Dana Desa, Alokasi Dana Desa, BHP, Silfa Tahun 2017.
Perkembangan simpan pinjam berjalan dengan baik dari 20 nasabah menjadi 87 nasabah pada akhir periode dalam jangka pinjaman selama 10 bulan jumlah pinjaman sebesar Rp. 1.500.000 dengan besar anggsuran perbulan untuk peminjam Rp.150.000 + Rp. 22.500 untuk biaya administrasi.
Gambar 4.5.
Gambar 4.4. Daftar Anggota Program Simpan Pinjam
b) Program Sewa Lapak Kuliner
Program lapak jualan ditinjau dari segi pemasaran lokasi yang prospeknya cukup baik karena berada di depan Jalan utama (Jalan Binjai Km.9) yang cukup ramai lalu lintasnya selain itu daerah tersebut sangat strategis untuk masyarakat berdagang menambah perkonomian dengan harga sewa perhari sebesar Rp.
25.000.
Gambar 4.5. Kuliner Pada Sewa Lapak Sumber : Dokumentasi Penulis,2019
c) Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah diadakan dalam rangka penanggulangan sampah rumah tangga agar lingkungan di sekitar rumah menjadi bersih, menghindari pencemaran lingkungan.
Sebagian besar sampah rumah tangga adalah sampah organik atau basah, sampah tersebut dapat diuraikan menjadi kompos dan berguna, Tetapi program pengelola sampah ini belum aktif.
d) Perencanaan Penyewaan Gedung
Perencanaan penyewaan gedung di jadikan program agar masyarakat yang tidak memiliki halaman rumah yang luas atau memiliki keungan yang menengah kebawah merasa terbantu jika adanya kebutuhan untuk menyelenggarakan acara.
c) Perencanaan Toko Desa/ Sembako
Toko Desa/sembako saat ini masih dalam tahap pengembangan dalam rangka membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari – hari dengan harga yang lebih efesien dari toko biasanya yang dapat mengantisipasi kebutuhan masyarakat.
4.3. Pembahasan Hasil Penlitian
Hasil penelitian yaitu merupakan data dan fakta yang di dapatkan peneliti langsung dari lapangan atau tempat penelitian mengenai Implementasi Kebijakan Badan Usaha Milik Dalam meningkatkan Partisipasi Masayarakat Desa yang disesuaikan dengan teori yang peneliti gunakan yaitu menggunakan teori Van Meter dan Van Horn yang memberikan gambaran yang mempengaruji kinerja implementasi, yakini :
1. Tujuan dan sasaran kebijakan 2. Sumber daya
3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan – kegiatan pelaksana 4. Karakteristik agen pelaksana
5. Kondisi sosial, ekonomi dan politik 6. Disposisi (sikap para pelaksana)
Bawah penelitian ini adalah penelitian pendekatan kualitatif maka data yang diperoleh berbentuk kalimat dan kata seperti wawancara, observasi dan dalam bentuk dokumentasi. Dalam penelitian ini kata – kata dan tindakan yang diwawancarai yang berupa para informan merupakan sumber utama dalam penelitian ini. Berdasarkan teknik data kualitatif data – data yang ditemukan dianalisa selama penelitian berlangsung.
Program Badan Usaha Milik Desa berawal dari perihatinnya Kepala Desa terhadap ekonomi masyarakat. Selain itu salah satu bentuk untuk pengembangan desa nadalah terbentunya Bumdes sebagai wadah pemberdayaan masyarakat desa yang ada di desanya sendiri. Dalam pembahasan ini peneliti akan membahas tentang fokus penelitian, dimana berdasarkan model pendekatan Top Down yang dirumuskan oleh Van Meter dan Varn Horn disebut dengan A model of The Policy Implementation. Ada enam variable, menurut Van Meter dan Van Horn, yang mempengaruhi kinerja kebijakan publik tersebut (Agustino,2006:141-144)), yaitu mengenai ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, karakteristik agen pelaksana, sikap para pelaksana, komunikasi antar organisasi dan agen pelaksana dan yang terakhir
yaitu lingkungan ekonomi, sosial dan politik. Berikut peneliti akan membahas lebih lanjut terkait hasil penelitian.
4.3.1. Sasaran Kebijakan (Ukuran dasar dan tujuan kebijakan)
Setiap para pelaksana kebijakan tidak terlepas dari sebuah peraturan sebagai landasan pelaksanaan kebijakan. Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur dari tingkat keberhasilannya dari ukuran dan tujuan kebijakan yang realistis. Ketika ukuran dan sasaran kebijakan terlalu ideal maka susah di realisasikan.
Dalam implementasi program Bumdes ini sendiri tidaklah mudah seperti wacana para Pemerintah Desa membentuk Program Bumdes di suatu desa tentulah tidak mudah. Nyatanya program Bumdes ini belum bisa terealisasi dengan baik di masyarakat desa masih banyak masyarakat yang tidak peduli dan berpartisipasi dengan adanya program Bumdes ini dan tidak mengerti betapa baiknya manfaat dari tujuan dan sasaran dalam program Bumdes.
Adapun wawancara yang telah dilakukan dengan informan, yakni:
“ Saya kurang mengetahui apa tujuan dan sasaran pada Bumdes”
( Wawancara 6 Mei 2019. Transkip halaman 29).
Pernyataan yang berbeda yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Tujuan dan sasaran dari implementasi Bumdes yang saya ketahui adalah untuk membantu masyarakat yang kekurangan dan untuk membuka usaha” (Wawancara 7 Mei 2019. Transkip Halaman 32).
Pernyataan yang berbeda yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Sasaran dan tujuan dari Implementasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dalam membuka usaha dan menambah pendapatan keluarga dengan adanya bantuan permodalan dari pihak Bumdes.
- Memperkecil pergerakan rentenir yang selalu di pergunakan oleh masyarakat.
- Mempermudah masyarakat untuk mengembangkan usaha mikro yang di fasilitasi oleh pihak Bumdes.
- Mengajarkan masyarakat dengan adanya Bumdes untuk dapat menyisihkan penghasilan dalam rangka menabung melalui program Bumdes yang disediakan.” (Wawancara 26 April 2019.
Transkip Halaman 16).
Dari hasil wawancara di atas dapat dinyatakan bahwa ada masyarakat yang tidak paham akan tujuan dan sasaran pada program Bumdes yang telah di Bentuk oleh para Pemerintah Desa dan pengelolah Bumdes. Maka banyak masyarakat yang tidak ikut berpartisipasi dalam Implementasi Kebijakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang ada di Desa Lalang. Padahal tujuan dan sasaran implemtasi kebijakan Bumdes ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan membantu masyarakat meningkatkan taraf ekonomi mereka dan membantu masyarakat dalam permodalan usaha yang biasanya masyarakat terjerat dengan kredit yang suku bunganya sangat tinggi dan terjerat dengan para rentenir – rentenir.
Padahal sudah adanya dilakukan sosialisasi oleh pihak Pemerintah Desa dan pihak pengelolah atau pengurus Bumdes tentang Bumdes, tetapi masih ada juga masyarakat yang tidak peduli dan tidak mau mendengarkan manfaatdan tujuan dari Bumdes yang sangat berguna bagi kepentingan perekonomi
masyarakat. Program Bumdes Amanah di Desa Lalang terbentuk berdasarkan Peraturan Desa Lalang Nomor 02 Tahun 2017 berdasarkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Lalang dengan menggali potensi yang ada.
Berawal dari ukuran suatu kebijakan, suatu kebijakan dapat diukur dari keberhasilan atau tidaknya kebijakan tersebut. Kebijakan program Bumdes di Desa Lalang dapat diukur keberhasilannya dari seberapa banyak masyarakat ikut berpartisipasi dalam program Bumdes ini.
4.3.2. Sumber Daya
Sumberdaya sangatlah penting dalam melakukan kebijakan salah satunya sumberdaya manusia karena setiap tahap implementasi menuntut adanya sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai dengan pekerjaannya.
Manusia adalah salah satu sumberdaya yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu proses implementasi. Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya. Selain sumber daya manusia sangat penting menentukan keberhasilan proses implementasi sumber daya lainnya juga perlu seperti sumberdaya keuangan.
Dalam proses menjalankan program Bumdes di Desa Lalang unsur sumber daya manusia yang sangat berperan, selain sumberdaya manusia yang sangat berperan, sumberdaya keuangan juga sangat berperan dalam melaksanakan Implementasi Kebijakan Bumdes dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di Desa Lalang.
Adapun wawancara yang telah dilakukan dengan informan yakni :
“Sumberdaya manusia yang saya ketahui semua sudah berdasarkan aturan pengurusnya dan sudah diseleksi memang bener – bener harus menjalankan Bumdes dengan baik.” (Wawancara 11 Mei 2019.
Transkip Halaman 45).
Pernyataan yang berbeda yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Sumberdaya manusia dalam segi pengelola Bumdes kurang memadai.”(Wawancara 7 Mei 2019 Transkirp Halaman 32).
Pernyataan dalam sumber daya keuangan yang diungkapkan informan yakni :
“Sumberdaya keuangan yaitu berasal dari bantuan Dana Desa, iuran anggota, hasil dari sewa lapak, hasil dari keuntungan simpan pinjam dan permodalan masyarakat.” (Wawancara 25 April 2019 Transkip Halaman 17).
Pernyataan yang berbeda dalam sumber daya Keuangan yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Sumberdana yang saya ketahui dari APBDes Lalang.”(Wawancara 24 April 2019 Transkip Halaman 26).
Berdasarkan kesimpulan wawancara yang tertera di atas dapat disimpulkan program Bumdes memerlukan pengelola yang bener-bener mengerti dan memadai dalam melaksanakan program Bumdes ini memang tidak semua pengelola yang tidak memadai ada beberapa saja, tetapi itu bisa menjadi salah satu hambatan program Bumdes di Desa Lalang. sumberdaya manusia di Badan Usaha Milik Desa sangat membutuhkan sumberdaya manusia yang cukup memadai dan mengerti akan melaksanakan program-program Bumdes.
Terkait sumberdaya keuangan tidak terlepas dari bantuan Dana Desa sekira sebesar Rp 6.00.000.000,- yang dikeluarkan untuk permodalan bantuan modal simpan pinjam sebesar Rp 50.000.000,- dan sumberdaya keuangan berasal dari iuran anggota, hasil dari sewa lapak yang perhari dikutip sebesar Rp 15.000,- sampai Rp 30.000,- perhari dan hasil dari keuntungan simpan pinjam permodalan masyarakat. Dari situlah sumberdaya keuangan Bumdes Desa Lalang, tetapi ada beberapa masyarakat yang kurang mengetahui dari mana asal usul keuangan program Bumdes ini didapat dan besar harapan para pengelolah agar dana permodalan untuk program simpan pinjam ditambah oleh para steakholder terkait supaya bisa lebih banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam program Bumdes yang ada.
4.3.3. Komunikasi Antar Organisasi dan Kegiatan – Kegiatan Pelaksana
Komunikasi sangat dibutuhkan dalam menjalankan implementasi kebijakan agar kebijakan bisa berjalan dengan baik dan efektif. Untuk pencapaian standrat dan tujuan harus berkomunikasi kepada para pelaksana-pelaksana yang menjalankan.semakin baik komunikasi dan koordinasi kepada pihak -pihak yang terlibat dalam proses implementasi maka berjalan baiklah implementasi kebijakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Dalam melaksanakan Implementasi kebijakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dalam meningkatkan partisipasi masyarakat desa diperlukan komunikasi yang baik dan terbuka kepada masyarakat dan para steakholder
yang terkait. Jika dilihat dari hal – hal tersebut jelas sangat dibutuhkan informasi, kejelasan serta keterbukaan agar para pelaksana atau pengelolah Bumdes menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Adapaun wawancara yang telah dilakukan dengan informan yakni :
“Semua cukup transparan seperti tentang kegiatan dan program Bumdes .” (Wawancara 24 April 2019 Transkip Halaman 27).
Pernyataan berbeda yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Semua kegiatan Transparan dan tanggung jawab depan pengurus setahun sekali di adakan rapat umum. Tetapi setiap 3 bulan sekali semua kegiatan di periksa badan pengawas Bumdes.”(Wawancara 26 April 2019 Transkip Halaman 24).
Pernyataan berbeda yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Melalui sosialisai pada masyarakat dan selebaran informasi.”
(Wawancara 24 April 2019 Transkip Halaman 27).
Berdasarkan informasi wawancara di atas dapat ditarik kesimpulan tentang informasi, kejelasan serta keterbukaan pengelolah atau pengurus Bumdes sangat terbuka dan transparan serta informasi – informasi disampaikan dengan melakukan sosialiasi dan selebaran informasi tentang program Bumdes di Desa Lalang, dan adanya rapat per 3 bulan sekali untuk memberitahukan segala jenis kegiatan dan anggaran di program Bumdes dengan para Pemerintah Desa, Steakholder, Pengelola dan Masyarakat tetapi masih ada juga kurangnya partisipasi masyarakat padahal informasi sudah sangat jelas.
4.3.4. Karakteristik Agen Pelaksana (Badan – badan Pelaksana) Agen pelaksana adalah pusat perhatian yang terlibat dalam sebuah implementasi. Pusat perhatian pada teori Van Meter dan Van Horn meliputi organisasi formal dan informal yang terlibat dalam mengimplementasian kebijakan karena akan sangat dipengarahui dengan cirri yang tepat serta cocok dengan para agen pelaksana.
Dalam mewujudkan terbentuknya program Bumdes di Desa Lalang ini bukan hal yang mudah karena masyarakat cenderung kurang ingin ikut berpartisipasi dalam program Bumdes maka dibutuhkan dukungan dan bentuk kerjsama para agen pelaksana untuk mewujudkan Implementasi Kebijakan Badan Usaha Milik Desa dalam menmingkatkan partispasi masyarakat. Adapun wawancara yang telah dilakukan dengan informan yakni :
“Dukungannya dengan skala pemberian dana, tetapi belum begitu besar masih bertahap. Pengeloa Bumdes setiap tahunnya mengusulkan anggaran – anggaran kepada Pemerintah Desa.” (Wawancara 11 Mei 2019 Transkip Halaman 45).
Pernyataan yang berbeda diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Dukungan yang saya ketahui yaitu dukungan secara moral dan materi.” (Wawancara 7 Mei 2019 Transkip Halaman 33)
Pernyataan yang berbeda tentang kerjsama yang diungkapkan informan, yakni :
“Bentuk kerjasama yang dilakukan dari pihak Pemerintah Desa adalah memfasilitasi fisik dan barang – barang yang dapat di kelola dalam bidang Bumdes agar dapat di jadikan pendapata Bumdes.”
(Wawancara 26 April 2019 Transkip Halaman 18).
Berdasarkan informasi dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan para agen pelaksana sudah cukup bagus secara moral dan materi yang diberikan para agen – agen pelaksana, dukungan juga diberi dalam bentuk skala dana tetapi sebenarnya belum begitu besar karena masih bertahap, setiap tahun para pengelola Bumdes mengusulkan anggaran-anggaran kepada para agen pelaksana yang terlibat dalam program Bumdes. Dalam bentuk kerjasama sudah cukup bagus karena para agen pelaksana dalam pemerintah desa selalu memfasilitasi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam program Bumdes.
4.3.5. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik
Kondisi sosial dan ekonomi yang sangat berperan atau berpengaruh besar kepada keberhasilan kebijakan publik, jika kondisi sosial dan ekonomi tidak kondusif dapat menjadi sumber masalah dan kegagalan dalam kinerja implementasi kebijakan. Kondisi sosial dan ekonomi juga berperan penting dalam masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dan dala segi taanggapan masyarakat terkait dalam implementasi Bumdes. Dalam kondisi sosial adalah salah satunya partisipasi masyarakat dan dalam kondisi ekonomi bagaimana taraf kenaikan atau perubahan masyarakat dalam meningkatkan ekonomi mereka. Adapun wawancara yang telah dilakukan dengan informan, yakni :
“Bentuk partisipasinya dengan ikut menjadi keanggotaan dalam program Bumdes”. (Wawancara 12 Mei 2019 Transkip Halaman 49).
Pernyataan yang berbeda yang diungkapkan informan lainnya, yakni :
“Bentuk partisipasinya kurang, masyarakat masih sedikit yang ikut berperan dalam Bumdes Desa Lalang”.(Wawancara 11 Mei 2019 Transkip Halaman 46).
Jadi kesimpulan dalam wawancara di atas dapat kita ambil, kondisi sosial atau partisipasi masyarakat di Desa Lalang dalam program bumdes ini kurang berpartisipasi artinya kurangnya kesadaran mereka tentang manfaat program bumdes seperti dalam program simpan pinjam masyarakat yang kekurangan modal bisa meminjam modal dari program bumdes simpan pinjam dengan suku bunga yang sangat rendah dengan hasil permodalan yng dipinjam dari program bumdes masyarakat bisa melanjutkan usaha mereka dan bisa memulai menaikkan taraf ekonomi mereka.
Adapun pendapat lain dari informan yang mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya banyak yang ingin ikut berpartisipasi dalam program bumdes ini tetapi dalam program simpan pinjam atau meminjam modal saja tetapi keuangan atau sumber daya keuangan pada program bumdes ini juga masih sangat terbatas dan para pengelola juga takut asal saja meminjam modal pada masyarakat karena sudah terjadi susahnya menangih iuran pinjaman pada masyarakat karena masyarakat mempunyai fikiran ini kan uang negara gak di pulangin kan gak kenapa kenapa.
Kondisi sosial ekonomi dalam program sewa lapak kuliner masyarakat masih enggan ikut berpartisipasi pada program tersebut padahal untuk menaikkan taraf ekonomi mereka dengan sewa lapak yang sangat minim
harganya untuk memajukan usaha – usaha mikro mereka atau membuka usaha dengan lapak yang disediakan oleh program Bumdes.
4.3.6. Disposisi (Sikap Para Pelaksana)
Keberhasilan atau tidaknya sebuah implementasi kebijakan ditentukan para sikap dan kemampuan agen pelaksana. Sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul permasalahan dan persoalan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan publik biasanya bersifat top down yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak mengetahui bahkan tak mampu menyentuh kebutuhan, keinginan atau permasalahan yang harus diselesaikan.
Selain dari kemampuan para agen pelaksana untuk keberhasilan sebuah implementasi kebijakan, tenggapan dan partisipasi masyarakat juga sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan atau tidaknya sebuah implementasi yang dibentuk. Adapun wawancara yang telah dilakukan kepada informan, yakni :
“Kemampuan para pengelola sangat masih minim karena program Bumdes masih terlalu dini yang dilakukan para pengelola dan maih perlu perbaikan dalam mengelola program Bumdes.” (Wawancara 12 Mei 2019 Transkip Halaman 49).
Adapun tanggapan lainnya dari informan, yakni :
“Kemampuan para pengelola kurang baik dan professional dan kurang bertanggung jawab.” (Wawancara 6 Mei 2019 Transkip Halaman 31).
Adapun tangapan lainnya dari informan, yakni :
“: Kemampuan pengelola dalam melaksanakan cukup bagus dan baik tetapi ada beberapa yang kurang baik dalam melaksanakannya.”
(Wawancara 7 Mei 2019 Transkip Halaman 37).
Adapun tanggapan lainnya tentang tanggapan masyarakat dalam implementasi Bumdes ini dalam meningkatkan partisipasi dari informan, yakni :
“Sebenarnya tanggapan masyarakat positif tetapi ada kendalanya karena dana yang diberikan masih terbatas maka masih ada masyarakat yang tidak berpartisipasi dan sebagian masyarakat menanggapain kurang baik dengan Bumdes ini” (Wawancara 11 Mei 2019 Transkip Halaman 46).
Jadi dapat disimpulkan dari wawancara di atas disposisi sikap pelaksana atau kemampuan para pengelolah sebenarnya sudah baik, profesional dan bagus sebagian hanya saja ada beberapa pengelola yang kurang baik dan professional dalam melaksanakan kegiatan dan perlu lagi belajar dan diberikan bimbingan. Karena keberhasilan suatu implementasi kebijakan berunsur dari para pelaksana atau pengelolanya.
Ada sedikit tanggapan masyarakat, tanggapan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam program Bumdes ini sudah positif tapi ada beberapa masyarakat yang tidak berpartisipasi dan ada masyarakat yang tidak bisa ikut berpartisipasi dalam program Bumdes yaitu simpan pinjam yang yang
Ada sedikit tanggapan masyarakat, tanggapan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam program Bumdes ini sudah positif tapi ada beberapa masyarakat yang tidak berpartisipasi dan ada masyarakat yang tidak bisa ikut berpartisipasi dalam program Bumdes yaitu simpan pinjam yang yang