5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Kebijakan Terkait PPI Meulaboh
5.2.2 Kebijakan usaha perikanan
Perda Kabupaten Aceh Barat No 2 tahun 2002 tentang Pajak Hasil Usaha Perikanan. Pada bab III dasar pengenaan dan tarif pajak pada pasal 4 disebutkan bahwa harga pasar atau harga standar nilai jual yang berlaku di tempat transaksi. Besarnya tarif pajak yang dikenakan diatur dalam pasal 5 yang menyebutkan tarif pajak ditetapkan 5% dari nilai jual. Pemungutan pajak dilakukan terhadap objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) jika objeknya itu mencapai jumlah paling kurang 25 kg ikan. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa retribusi pajak hasil usaha perikanan tidak berjalan, karena PPI Meulaboh tidak aktif perkantorannya (DKP) dan tidak ada petugas DKP di PPI, melainkan hanya ada buruh kebersihan yang digaji oleh DKP, sebagaimana disebutkan dalam keputusan Bupati Aceh Barat No 205 tahun 2005 tentang pengelolaan PPI Meulaboh diselenggarakan oleh DKP untuk melayani semua aktivitas nelayan.
Pemerintahan Aceh merupakan salah satu daerah yang mempunyai lembaga adat laut yang kuat dan diakui oleh dunia internasional sebagai lembaga adat yang mengurusi setiap permasalahan nelayan, oleh karena itu dalam kegiatan pengelolaan PPI Meulaboh perlu pengkajian ulang terhadap peraturan yang ada dan perlu musyawarah antara pihak pemerintah daerah (dinas kelautan dan perikanan) dan lembaga adat (panglima laot) untuk sama-sama memikirkan dan menyusun peraturan yang sesuai untuk pengelolaan PPI.
Sejarah mencerminkan bahwa aktivitas lembaga panglima laot yang telah dibentuk secara turun temurun sejak abad ke-14 di masa Sultan Iskandar Muda tahun 1972, di kalangan masyarakat nelayan terdapat lembaga adat istiadat dengan ketentuan hukum negara yang jelas selama dalam pelaksanaannya sehingga tidak melanggar hukum-hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pihak manapun tidak dapat mengganggu gugat keberadaan hukum adat khususnya hukum adat laot. Lembaga Adat ada berdasarkan pada Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945
72
juncto Pasal 18 UUD 1945 berkaitan dengan adat. Pasal 131 ayat 2 sub b Indische regeling (IS) tentang golongan bumi putra dan timur asing berlaku hukum adat. Pasal 104 ayat 1 UUDS 1950 menyebutkan,”segala keputusan pengadilan harus berisi alasan- alasannya, dan aturan hukum adat yang dijadikan dasar hukum itu. Keputusan Perdana Menteri Nomor 1 /Missi tanggal 26 Mei 1959 tentang Aceh diberikan hak untuk menentukan bentuk dan isi pelaksanaan kehidupan adat, namun keistimewaan Aceh tidak boleh keluar dari kerangka politik dan sistem hukum dalam Negara. UU Nomor 1 Tahun 1973 dan Nomor 20 Tahun 1961 tentang kedudukan dan peranan hukum adat, UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang keistimewaan Aceh, dan UU Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus untuk Aceh. UU Nomor 18 tahun 2001 tentang kehidupan adat di Indonesia. PERDA Nomor 2 Tahun 1990 tentang pembinaan dan pengembangan Adat Istiadat dan UUPA (Undang-Undang Pemerintahan Aceh) Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Berdasarkan Qanun Pemerintahan Aceh No 16 Pasal 8 Tahun 2002 tentang pengelolaan sumberdaya kelautan dikatakan, setiap orang atau badan hukum yang melakukan usahanya dengan memanfaatkan sumberdaya dan jasa kelautan diwilayah Pemerintahan Aceh dikenakan retribusi dan/atau pungutan, oleh karena itu dalam pengelolaan PPI Meulaboh, Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Barat mengeluarkan Perda/Qanun No 4 tahun 2010 tentang Retribusi Kepelabuhanan di Lingkungan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Adanya Qanun tentang PPI ini diharapkan selain dapat tercipta dan meningkatkan usaha masyarakat di bidang perikanan dan kelautan serta dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
Qanun pasal 5 dijelaskan bahwa Retribusi Kepelabuhanan di Lingkungan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha, dan pada pasal 6 dijelaskan cara mengukur tingkat penggunaan jasa, diukur berdasarkan volume, luas bangunan dan luas lahan yang dimanfaatkan di kawasan PPI. Besarnya tarif Retribusi Jasa Usaha Pelayanan di kawasan PPI dapat dilihat sebagai berikut:
1) Jasa Usaha Pemakaian Fasilitas Kekayaan Daerah:
Kios nelayan Rp 4.000.000,00/Unit/Tahun
Gudang PPI Rp 3.000.000,00/Unit/Tahun
Kios Pemasaran Rp 5.000.000,00/Unit/Tahun
2) Jasa Usaha Pelayanan Perparkiran
Kendaraan Roda 2 Rp 1.000,00/unit
Kendaraan Roda 3 (becak) Rp 2.000,00/unit
Kendaraan Roda 4 Rp 2.000,00/unit
Kendaraan Roda 6 Rp 3.000,00/unit
Sandar/Bongkar muat nelayan > 5GT Rp 3.500,00/unit/Max 4 jam
Sandar/Bongkar muat nelayan < 5GT Rp 2.500,00/unit/Max 4 jam 3) Jasa Usaha Pelayanan Sarana Tempat mandi, Cuci dan Kakus
Pemanfaatan MCK Rp 1.000,00/karcis
4) Jasa Usaha Pelayanan Air Bersih
Sumber air di kompleks PPI Rp 1000,00/jirigen (35 liter).
Pemasukan daerah dari retribusi pajak hasil usaha perikanan yang dijelaskan dalam Qanun No 4 tahun 2010 di PPI Meulaboh tidak berjalan, disebabkan oleh DKP Aceh Barat kurang peduli terhadap kondisi aktivitas di PPI. Hal tersebut diidentifikasikan dengan tidak adanya petugas DKP dan aktivitas pelayanan nelayan di kantor PPI Meulaboh. Oleh sebab itu diperlukan peran pemerintah daerah untuk mengaktifkan semua pelayanan nelayan dalam pendukung pengelolaan PPI. Pemerintah daerah memperoleh retribusi ini hanya berdasarkan tender-tender dari sebagian fasilitas yang ada di PPI Meulaboh kepada personal atau lembaga. Hasil tender menjadi pemasukan daerah. Pelaksanaan tender dimulai dari pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan peraturan atau ketentuan bagi lembaga atau perusahaan atau personal yang akan mengikuti tender, baik berupa dana awal, batas waktu pendaftaran dan lain-lain. Pelaksanaan tender dilakukan sesuai dengan pengumuman yang telah dikeluarkan oleh pemda. Lembaga atau perusahaan atau personal yang telah melakukan pengajuan ke pihak panitia, wajib membayar 50% di awal pada saat penawaran. Uang sebanyak 50% ini dijadikan jaminan sebagai salah satu bentuk keikutsertaan dalam tender ini. Jika telah membayar 50% dan tidak menang dalam tender maka uang tersebut akan dikembalikan lagi. Bagi pihak yang melakukan penawaran paling tinggi maka pihak tersebut yang akan
74
menjadi pemilik tender dan sisa 50% akan dibayar setelah diketahui pemenang dari tender tersebut. Peraturan pemerintah provinsi atau kabupaten yang terkait dengan kebijakan pengelolaan PPI dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Kebijakan terkait dengan pengelolaan PPI
No Peraturan Pemerintah/qanun daerah Program Kegiatan
1 Peraturan Menteri No 16/MEN/2006 Pengelola pelabuhan perikanan
bertanggung jawab atas
pemeliharaan fasilitas yang berada di pelabuhan perikanan dan dipimpin oleh seorang kepala pelabuhan
2 Qanun Pemerintahan Aceh No 16 Pasal
24 tahun 2002
Setiap orang, kelompok dan pemilik badan hukum yang kelalaiannya melanggar ketentuan qanun ini diacam dengan pidana kurungan sesuai dengan ketentuan Undang-undang
3 Keputusan Bupati Aceh Barat No 205
tahun 2005
Pengelolaan PPI Meulaboh diselenggarakan oleh DKP Aceh Barat untuk melayani semua aktivitas nelayan
4 Qanun Kabupaten Aceh No 2 tahun 2004 Pengelolaan PPI Meulaboh
dikoordinir oleh bidang kelautan di bawah seksi Produksi dan Sarana
5 Qanun Pemerintahan Aceh No 16 Pasal 8
tahun 2002
Setiap orang atau badan hukum yang melakukan usahanya dengan memanfaatkan sumberdaya dan jasa kelautan diwilayah Pemerintahan Aceh dikenakan retribusi dan/atau pungutan
6 Qanun Kabupaten Aceh Barat No 4 Pasal
5 tahun 2010
Retribusi Kepelabuhanan di lingkungan PPI digolongkan sebagai retribusi jasa usaha
7 Qanun Kabupaten Aceh Barat No 4 Pasal
6 tahun 2010
Mengukur tingkat penggunaan jasa berdasarkan volume, luas bangunan dan lahan yang dimanfaatkan di kawasan PPI
Sumber: hasil olahan data
Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2008 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota telah dijelaskan pembagian tugas dan wewenang antara Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam bidang perikanan. Tugas dan Kewenangan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dibedakan menjadi 6 subbidang yaitu subbidang kelautan, umum, perikanan tangkap, pengawasan dan
pengendalian, pengelolaan dan pemasaran, serta penyuluhan pendidikan. Secara umum butir-butir kewenangan ini telah dibuat peraturan norma dan kebijakannya oleh pemerintah pusat dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, namun pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota belum secara terinci diatur pelaksananya.
Hasil analisis dengan menggunakan pendekatan kerangka hukum terhadap kebijakan atau peraturan perundang-undangan untuk mengatur kegiatan di PPI, belum menunjukkan hal yang positif (Tabel 13). Kebijakan ataupun peraturan perundang-undangan dan qanun yang dibuat oleh pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten, belum dapat mengakomodir semuanya wewenang yang dibuat pemerintah pusat kepada daerah di bidang perikanan. Kebijakan peraturan daerah atau qanun yang dibuat oleh kabupaten/kota, lebih terkait dengan pemasukan daerah yaitu seperti qanun retribusi jasa usaha perikanan di PPI.
Tabel 13 Pendekatan kerangka hukum (legal framework) pada PPI Meulaboh
No Kriteria Penilaian
1 Sruktur hukum Peraturan kebijakan yang ada di Perda/qanun, belum
semuanya bisa diterjemahkan atau diaplikasikan di lapangan. Berbagai macam faktor kendala penghambat untuk penerapan kebijakan yaitu kebijakan yang ada masih bersifat umum, tenaga kerja tidak sesuai keahliannya, keterbatasan sumberdaya manusia
2 Mandat hukum Mandat hukum sangat jelas diberikan kepada lembaga
pemerintah (DKP) dan lembaga adat (Panglima Laot), namun dalam implementasi di lapangan sering tidak jalan, dua lembaga ini ada kepentingan pribadi masing-masing dan mengklaim semua tugasnya, sehingga kepentingan pribadi lebih tinggi dalam melaksanakan kebijakan yang ada.
3 Penegakan hukum Penegakan hukum di Indonesia, khususnya di
Pemerintahan Aceh dalam penerapan-penerapan peraturan yang ada masih sangat rendah, peraturan atau kebijakan yang ada belum ditegakkan oleh PEMDA kepada seluruh kegiatan dan aktivitas di PPI, karena ada berbagai kepentingan sehingga penegakan hukum tidak pernah aktif.
Sumber: hasil olahan data
Tabel 13 memperlihatkan bahwa hasil analisis pendekatan kerangka hukum (legal framework) terhadap kebijakan atau peraturan perundangan-undangan untuk mengatur kegiatan pengelolaan PPI Meulaboh, belum menunjukkan hal
76
yang positif. Berdasarkan penilaian melalui struktur hukum, ada berbagai macam kendala penghambat penerapan kebijakan yaitu: 1) kebijakan yang ada masih bersifat umum, belum ada kebijakan peraturan yang spesifik, seperti peraturan tentang surat izin penangkapan ikan (SIPI) yang harus dibuat oleh setiap pemilik kapal, penanganan antrian kapal untuk bongkar muat di dermaga dan aturan sistem pelelangan ikan. 2) Persyaratan tenaga kerja yang sesuai dengan keahliannya. Semua karyawan/staf yang mengelola PPI Meulaboh bukan dari kedisiplinan ilmu, sehingga tidak berjalannya pengelolaan yang baik. 3) Ketersediaan sumberdaya manusia. Sumberdaya yang ada di PPI Meulaboh masih terbatas dari sisi jumlah, tetapi lima tahun pasca tsunami 2004 sudah ada sumberdaya manusia yang handal dan mempunyai kualitas terutama bidang perikanan. Pada umumnya masih ada unsur politik di pemerintah daerah dalam perekrutan tenaga kerja sehingga masih belum menerapkan ilmu sesuai keahliannya dalam pengelolaan PPI.
Selanjutnya penilaian berdasarkan mandat hukum, peraturan pemerintah daerah sangat jelas memberikan mandat kepada DKP Kabupaten dan lembaga adat (Panglima Laot) sebagai pengontrol DKP untuk mengelola PPI. Namun dalam operasionalnya ada kepentingan pribadi dan mengklaim semua kegiatan di PPI tugas DKP. Seperti DKP, mengklaim punya hak penuh untuk menentukan harga sewaan lahan ke setiap pedagang ikan dan pihak swasta/kelompok tanpa musyawarah dengan Panglima Laot dan menyuruh Panglima Laot untuk mengontrol kegiatan aktivitas nelayan di PPI. Sebaliknya Panglima Laot yang dipilih dari “pawang laot” hasil musyawarah nelayan mengklaim semua aktivitas di PPI adalah tugas panglima laot. Hal ini menunjukkan masih kurangnya komunikasi dan kepedulian pemda dalam mengsosialisasikan tugas DKP dan Panglima Laot. Oleh sebab itu dibutuhkan keberlanjutan komunikasi antara kedua pihak. Penilaian dari penegakan hukum masih sangat rendah. Peraturan Pemerintah Provinsi (Qanun) No 16 tahun 2002 tentang pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan menjelaskan, setiap orang/kelompok dan pemilik badan hukum yang kelalaiannya melanggar ketentuan akan diancam dengan pidana kurungan sesuai dengan ketentuan Undang-undang, tetapi pemerintah kabupaten
belum melaksanakan peraturan ini, karena ada kepentingan pribadi sehingga nelayan selalu dirugikan.
Berdasarkan peraturan Bupati Aceh Barat No 205 Tahun 2005 dan Qanun No 2 Tahun 2004 bahwa pengelolaan PPI dikoordinir oleh Seksi Teknik Produksi dan Sarana yang salah satu tugasnya adalah menyiapkan sarana dan prasarana perikanan untuk menunjang pengelolaan tempat pendaratan ikan dan pusat pendaratan ikan. Hal tersebut menjadi dasar hukum bagi DKP Aceh Barat untuk membuat qanun tentang peraturan pengelolaan aktivitas yang spesifik di PPI Meulaboh, seperti qanun tentang surat izin penangkapan ikan bagi setiap kapal, antrian kapal di dermaga dan sistem lelang di tempat pelelangan ikan (TPI). Peraturan sangat diperlukan di PPI Meulaboh, supaya semua aktivitas berjalan sesuai dengan peraturan dan memberikan dampak positif berupa keuntungan untuk pendapatan asli daerah (PAD) dan kesejahteraan nelayan menjadi lebih baik.