• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Operasional Pelabuhan Perikanan

Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom dalam pengelolaan perikanan tangkap yang baik dijelaskan pada peraturan pemerintah pasal 2 ayat (3) No. 25 tahun 2000. Pemerintah pusat memiliki beberapa kewenangan, meliputi: (1) penetapan kebijakan dan pengaturan eksplorasi, konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam perairan di wilayah laut di luar perairan 12 mil, termasuk perairan nusantara dan dasar lautnya serta ZEE dan landas kontinen; (2) penetapan kebijakan dan pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan benda berharga dari kapal tenggelam di luar perairan laut 12 mil; (3) penetapan kebijakan dan pengaturan batas-batas maritim yang meliputi batas-batas daerah otonom di laut dan batas-batas ketentuan kebijakan laut internasional; (4) penetapan standar pengelolaan pesisir pantai dan pulau-pulau kecil; dan (5) penegakan kebijakan di wilayah laut diluar perairan 12 mil dan di dalam perairan 12 mil yang menyangkut hal spesifik serta berhubungan dengan internasional.

Pelabuhan perikanan yang merupakan salah satu komponen perikanan tangkap diperlukan suatu kebijakan untuk pengelolaannya, menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Permen. 16/MEN/2006 pasal 12 ayat 1 dikatakan, pengelola pelabuhan perikanan bertanggung jawab atas pemeliharaan fasilitas yang berada di pelabuhan perikanan. Selanjutnya pasal 13 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa pengelolaan pelabuhan perikanan yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dipimpin oleh seorang Kepala Pelabuhan dan pengelolaan pelabuhan perikanan yang dimiliki oleh BUMN maupun perusahaan swasta dipimpin oleh seorang Kepala Pelabuhan yang mendapat penetapan dari Direktur Jenderal.

2.5 Operasional Pelabuhan Perikanan

Panduan yang disusun sebagai pedoman operasional Pelabuhan Perikanan atau Pangkalan Pendaratan Ikan dengan menyelenggarakan pelayanan prima akan terbatas pada hal-hal yang menyangkut pelaksanaan pelayanan berbagai fasilitas pokok dan fasilitas fungsional yang ada. Sebagai suatu sistem kegiatan yang berlangsung dari waktu secara berkesinambungan maka terselenggaranya pelayanan prima ini sangat dipengaruhi oleh adanya tugas-tugas perawatan dan pemeliharaan terhadap fasilitas yang digunakan dalam operasional fungsi fasilitas

tersebut. Operasional adalah implementasi dari segala kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan di PP/PPI dalam melayani kebutuhan masyarakat pengguna yang memerlukannya. Kegiatan operasional PP/PPI yang dilakukan hendaknya berorientasi pada kepentingan masyarakat pengguna PP/PPI (Murdiyanto, 2002). 2.5.1 Kegiatan operasional di pelabuhan perikanan

Kegiatan operasional yang berlangsung di pelabuhan perikanan adalah (Direktorat Jenderal Perikanan, 1994 diacu dalam Lubis, 2007):

1) Pendaratan ikan

Pendaratan ikan di pelabuhan perikanan sebagian besar berasal dari kapal penangkapan ikan yang mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan itu, hanya sebagian kecil berasal dari PP/PPI yang dibawa ke pelabuhan itu dengan menggunakan sarana transportasi darat.

2) Penanganan, pengolahan, dan pemasaran ikan

Sesuai dengan salah satu fungsinya sebagai tempat pembinaan dan pengawasan mutu hasil perikanan, penanganan ikan segar di pelabuhan perikanan dilakukan dengan metode pendinginan yang dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu pendinginan dengan es, pendinginan dengan udara dingin, dan pendinginan dengan air dingin.

Pengolahan ikan dimaksudkan untuk mempertahankan mutu sehingga waktu pemasaran menjadi lebih lama serta meninggikan nilai jual ikan. Kegiatan pemasaran di pelabuhan perikanan bersifat lokal, nasional, dan ekspor. Sistem rantai pemasaran yang terdapat di beberapa pelabuhan perikanan di Indonesia, antara lain :

(1) TPI Pedagang besar Pengecer Pedagang Konsumen

(2) TPI Pedagang besar Pedagang lokal Konsumen

(3) TPI Pengecer Konsumen

3) Penyaluran Perbekalan

4) Pengisian perbekalan. Aktivitas pelabuhan perikanan terkait adalah penyaluran

BBM, penjualan air bersih, penjualan es dan suku cadang. Pelayanan perbekalan ini umumnya diadakan oleh pihak UPT Pelabuhan, KUD, Koperasi pegawai pelabuhan, BUMN, dan pihak swasta.

14   

2.5.2 Aktivitas-aktivitas dalam operasional pelabuhan perikanan

Operasional pelabuhan perikanan menyangkut aktivitas yang ada di pelabuhan perikanan, jumlahnya sangat banyak dan untuk memudahkan maka keselurahan aktivitas yang ada, dikelompokkan menjadi 7 kelompok aktivitas (Pane, 2002 diacu dalam Hadiyanto 2004) seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Kelompok aktivitas-aktivitas operasional pelabuhan perikanan

No Kelompok Aktivitas Aktivitas

1 Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan pendaratan dan pemasaran hasil tangkapan

1. Pendaratan hasil tangkapan (pembongkaran dan pengangkutan hasil tangkapan ke tempat

pelelangan)

2. Pemasaran/pelelangan hasil tangkapan

3. Pendistribusian hasil tangkapan 4. Penanganan ikan

2 Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan pengolahan ikan

1. Pembekuan ikan 2. Pengolahan ikan

3. Pemasaran/distribusi hasil olahan 3 Kelompok aktivitas yang berhubungan

dengan unit penangkapan

1. Tambat labuh

2. Perbaikan kapal dan mesin 3. Pembuatan kapal

4. Pembuatan alat tangkap 5. Perbaiki alat tangkap 4 Kelompok aktivitas yang berhubungan

dengan penyediaan kebutuhan melaut

1. Penyediaan air 2. Penyedian es 3. Penyediaan BBM 4. Penyediaan garam

5. Penyedian kebutuhan konsumsi 6. Penyedian sparepart mesin kapal 5 Kelompok aktivitas yang berhubungan

dengan kelembagaan pelaku aktif (nelayan, pengolah, pedagang, pembeli)

1. Koperasi pelaku aktif

2. Asosiasi/himpunan/paguyuban pelaku aktif

6 Kelompok aktivitas yang berhubungan dengan kelembagaan penunjang pelabuhan perikanan

1. Aktivitas syahbandar 2. Aktivitas perbankan 3. Aktivitas keamanan 7 Kelompok aktivitas yang berhubungan

dengan pengelolaan pelabuhan perikanan

1. Pengelolaan fasilitas komersial 2. Pengelolaan fasilitas non-komersial 3. Pengelolaan TPI

2.5.3 Prinsip pengoperasian pelabuhan perikanan

Beberapa prinsip penting bilamana pengoperasian suatu pelabuhan perikanan dikatakan berhasil (Lubis, 2007) adalah:

1) Sangat baik dipandang dari sudut ekonomi, yang berarti hasil pengoperasian

pelabuhan itu dapat menguntungkan baik bagi pengelola pelabuhan itu sendiri maupun bagi pemiliknya. Disamping itu hasil dari pengoperasian pelabuhan tersebut mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangan kota khususnya dan nasional umumnya;

2) Sistem penanganan ikan yang efektif dan efisien. Dengan kata lain

pembongkaran ikan dapat dilakukan secara disertai penseleksian yang cermat, pengangkutan dan penanganan yang cepat;

3) Fleksibel dalam perkembangan teknologi. Dalam hal ini pengembangan suatu

pelabuhan perikanan misalnya seringkali diperlukan mekanisasi dari

fasilitas-fasilitas pelabuhan tersebut. Misalnya perlunya vessel lift pada fasilitas dock,

tangga berjalan (tapis roulant) untuk pembongkaran dan penseleksian ikan.

Disamping itu diperlukan perluasan pelabuhan karena semakin meningkatnya produksi perikanan pelabuhan, misalnya perluasan gedung pelelangan, perluasan dermaga, dsb;

4) Pelabuhan dapat berkembang tanpa merusak lingkungan sekitarnya

(lingkungan alam dan lingkungan sosial);

5) Organisasi serta pelaku-pelaku didalam pelabuhan bekerja secara aktif dan

terorganisasi baik dalam kegiatannya.

2.5.4 Lingkup permasalahan operasional pelabuhan perikanan

Dalam lingkup operasionalisasi PP/PPI, permasalahannya terfokus kepada faktor sumberdaya manusianya yaitu personal atau siapa yang mengerjakan tugas dan melaksanakan rencana yang telah ditetapkan untuk menjalankan fasilitas yang tersedia dan melaksanakan fungsinya, bagaimana ia melaksanakan pekerjaannya dengan cara prosedur yang benar sehingga mencapai tujuan yang direncanakan dengan memperhatikan untuk kepentingan siapa pekerjaan itu dilaksanakan (Murdiyanto, 2002).

16   

Dokumen terkait