BAB II. AWAL NASIONALITAS REPUBLIK INDONESIA:
2.2 Kebon Dalem, Lahan Subur Pastoral untuk Keturunan Tionghoa
2.2.1 Kebon Dalem: Riwayatnya
Sesuai dengan namanya, Kebon Dalem itu berupa sebidang tanah berwujud taman dengan luas sekitar 17.000m2 yang terletak di tengah-tengah kompleks Pecinan di kota Semarang7. “Kebon Dalem”, apabila diucapkan menurut Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) sebenarnya
6 Joachim van der Linden FIC, Donum Desursum (Anugerah dari Atas) Kongregasi FIC di Indonesia 1920-1980, 85.
7 Pastor Simon Beekman SJ: “Missiewerk Onder de Chinezeen” dalam Claverbond, 1937, 145;
“Zilveren Jubilaris” dalam Missienieuws Der Nederlandse Jezuiten, 1958, 282; dan Kebon Dalem – Semarang, 1961, 6.
berbunyi “Kebun Dalam.” Akan tetapi, warga sekitarnya (Tionghoa) dan warga Semarang pada umumnya (Belanda dan Pribumi) telah melafalkannya secara khas menjadi Kebon (cara Pribumi membaca “kebun”) Dalem (cara Tionghoa atau Belanda membaca “dalam”).
Kompleks Kebon Dalem ini dibelah oleh sungai, yang kini dikenal dengan nama Kali Semarang. Meskipun tidak terlalu lebar, sungai ini bertahun-tahun menjadi jalur pelayaran perahu-perahu dari Tiongkok yang mengangkut barang dagangan masuk-keluar kota Semarang yang berlangsung sejak sebelum abad ke-19. Di atas sungai ini, ada sebuah jembatan yang menjadi penghubung, dan persis di pinggir jembatan itu ada pos pengawas perahu-perahu yang keluar dan masuk daerah Pecinan.
Kebon Dalem didirikan oleh Tuan Be Ing Tjioe (ejaan lain menuliskan Tjoe) pada tahun 1838, sesudah ia meletakkan jabatan Kapiten (Kapten) dari Brehekelan, lalu naik pangkat menjadi Mayor Tituler di kota Semarang. Be Ing Tjioe adalah seorang yang kaya dan tersohor karena kemampuan berdagangnya yang luar biasa. Tanah di kompleks Kebon Dalem itu (tanah yang terletak di sebelah kiri Gang Pinggir) sebelumnya dipenuhi dengan rumah-rumah warga Tionghoa dan Pribumi. Rumah dan tanah itu dibeli oleh Tuan Be Ing Tjioe, kemudian didirikan gedung yang indah di situ. Corak gedung ini mirip dengan sebuah Gedung Gula yang dibangun oleh Mayor Tan Tiong Tjhing yang sudah ada terlebih dahulu (tidak disebutkan tahunnya). Kedua gedung itu menjadi gedung paling bagus di kota Semarang yang dimiliki oleh orang Tionghoa. Tuan Be Ing Tjioe menggunakan gedung itu tiga tahun lamanya. Tanah di sebelah
selatan sungai, yang waktu itu masih berupa taman (kelak didirikan Sekolah Tionghoa Hwee Kwan; kini menjadi gedung Gereja dan SD Kebon Dalem), dikenal dengan nama Tong Wan atau Kebon Selatan; sedangkan tepat di pinggir jalan Gang Pinggir, ada sebuah taman lagi yang disebut See Wan (Kebon Baru), yang dibangun oleh “Mayor Gedung Gula” pada zaman itu, Tuan Tan Hong Yan.
Gedung Kebon Dalem itu kemudian dikenal sebagai Rumah Abu, rumah yang dipergunakan untuk menyimpan abu jenazah leluhur orang-orang Tionghoa.
Rumah Abu yang terletak di utara sungai ini dibangun dengan ukuran besar, bertingkat, dan memiliki 60 kamar di dalamnya. Karena banyaknya biaya yang dikeluarkan, tidak pernah ada bangunan lain yang biaya pembangunannya melebihi Rumah Abu itu. Bangunan itu dihiasi dengan batu granit dan batu-batu marmer berwarna kehitam-hitaman yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Cat biasa dan cat emas serta kayu-kayu ukiran dan kursi-kursi berhiaskan batu manikam dan batu marmer pun didatangkan dari Tiongkok. Dari Tiongkok itu pula, didatangkan tukang-tukang pembangun-nya.
Sayap kanan dan kiri bangunan itu dilengkapi dengan kamar dan pintu yang simetris. Bagian tengah bangunan itu merupakan ruangan terbuka, dan di situ dibangun air mancur, serta dihiasi bunga-bungaan dan patung-patung. Di latar belakangnya, ditempatkan Kong Po, sebuah altar yang disediakan untuk berdoa kepada arwah leluhur. Di atas altar tersebut, dipasang hioswa, hiolo dan sien-tjies yang sangat artistik dan berharga. Dibangun pula kolam berisikan ikan-ikan di depan bangunan itu. Banyak orang senang mendatangi Kebon Dalem untuk menghirup udara segar karena di situ ada banyak tempat terbuka dan penuh
cahaya. Dan lagi, dari atas jembatan terlihat pemandangan yang indah.
“Kesukaan” orang-orang Tionghoa untuk datang ke tempat ini tentu juga dipengaruhi oleh aturan tidak tertulis pada zaman itu bahwa orang-orang Tionghoa dilarang bermukim di luar “permukimannya” (Pecinan), sehingga mereka pun akhirnya enggan keluar dari kompleks Pecinan8.
Itulah ciri khas gedung Tionghoa pada zaman dahulu, selain memperhitungkan keindahan juga memperhitungkan keteguhan dan kebesaran. Ini serupa dengan tembok Cina yang dibangun oleh Tjien Shi Hong9 yang juga memperhitungkan hal-hal tersebut di atas. Sudah menjadi kebiasaan pula bahwa satu rumah didiami oleh keluarga besar, bahkan hingga empat turunan, sehingga menunjukkan bahwa bangunan tempat tinggal itu sangatlah kokoh. Atas dasar itu pula lah, Kebon Dalem dibangun dengan segala kelebihannya itu.
Kebon Dalem menjadi populer semenjak Rumah Abu itu mulai didiami orang, yakni sekitar tahun 1840. Bahkan, Rumah Abu semakin terkenal seiring dengan harta kekayaan keluarga Be (Be Ing Tjoe) yang semakin bertambah dan mencapai puncaknya pada zaman pemerintahan anak tunggalnya, Mayor Be Biauw Tjwan (ejaan lain menuliskan Tjoan)10. Pada masa itu, perayaan Imlek dirayakan secara istimewa selama 14 hari; setiap warga boleh mengadakan pesta dan memperingati arwah leluhurnya; dan kepada kaum miskin diberikan derma.
Akan tetapi, sesudah Mayor Be Biauw Tjwan ini meninggal dan dimakamkan di
8 Pastor Simon Beekman SJ, Kebon Dalem – Semarang, 1961, 1-3.
9 Tjien Shi Hong ialah Raja Cina pertama. Ejaan lain menuliskan Qin Shi Huang.
10 Kelak nama Be Biauw Tjwan ini diambil untuk menamai jalan di kawasan Kampung Kali.
Setelah itu, nama jalan itu diganti dengan Wijayakusuma. Sesudah insiden politik 30 September 1965, nama jalan itu diganti lagi, yaitu dengan nama salah seorang Pahlawan Revolusi bernama Mayjen Soetoyo, hingga sekarang.
makam keluarga di Jl. Peterongan, semakin lama harta kekayaannya semakin berkurang.
Tanpa diketahui secara pasti penyebabnya, harta kekayaan keluarga Be ini digadaikan kepada De Javaasche Bank. Menurut pendapat Pastor Simon Beekman SJ, penggadaian ini berhubungan dengan penerus keluarga Be yang bukanlah anak kandung dari Be Biauw Tjwan sendiri (mengingat bahwa Be Biauw Tjwan tidak memiliki anak kandung), melainkan diteruskan oleh keempat anak angkatnya11. Perlu diketahui pula bahwa keluarga Be ini memiliki sebuah bank bernama Be Biauw Tjwan Bank yang dikelola oleh yayasan yang juga mereka dirikan, yaitu Yayasan Soei Bie (Soei Bie Stichting). Yayasan inilah yang mengelola kompleks Kebon Dalem yang telah digadaikan kepada Tuan Joh. Lebert dan terkena hypotheek (hipotik, tebusan gadai) seharga f 31.00012. Pada tanggal 18 Juni 1927, Be Biauw Tjwan Bank dinyatakan tutup. Ditutupnya Be Biauw Tjwan Bank itu membawa dampak yang amat besar terhadap pergerakan orang-orang Tionghoa di Jawa pada umumnya. Bagaimana tidak, Bank ini sudah mendapat kepercayaan yang baik dari “bangsanya” karena dikelola oleh keluarga Tionghoa sendiri (bukan oleh Pemerintah Belanda), sehingga penutupan Bank ini bagi “pendoedoek Tionghoa di ini kota sebagi mendenger boenjinja soeara gledek di waktoe siang hari13.” Yang pasti ialah bahwa hipotik Kebon Dalem itu tidak terbayar hingga
11 Pastor Simon Beekman SJ, Kebon Dalem – Semarang, 1961, 1.
Keempat anak angkat Mayor Be Biauw Tjwan itu adalah Be Kwat Kong, Be Kwat King, Be Kwat Joe, dan Be Kwat Koen.
12 Versi lain yang sepertinya lebih akurat menyebutkan hypotheek sejumlah f 30.000.
Pastor Simon Beekman SJ, Kebon Dalem – Semarang, 1961, 5; dan “Missiewerk Onder de Chinezen” dalam Claverbond, 1937, 146.
13 Artikel berjudul Stichting Soei Bie Pindah Laen Tangan dalam kolom “Semarang dan Sekiternya” (koran berangka tahun 1936). Tulisan itu dimuat sehubungan dengan pelelangan Kebon Dalem, dan dibelinya Kebon Dalem oleh Pastor Simon Beekman SJ; seolah-olah hendak
mendekati jatuh temponya. Itulah Kebon Dalem, semenjak berdirinya hingga
“nasib”-nya menjelang tahun 1930-an. Dengan kata lain, itulah Kebon Dalem sebelum jatuh ke tangan misi Gereja.
2.2.2 Proyek Agung Pastor Simon Beekman SJ bagi Warga Tionghoa