terdapat keuntungan, maka keuntungan tersebut merupakan sisa hasil usaha yang akan dibagikan kembali kepada para anggota.
11. Usaha Keripik Gadung
Latar Belakang
Di Kabupaten Sikka, ubi gadung tumbuh liar di kebon-kebon penduduk. Masyarakat menganggap tanaman gadung sebagai gulma (tanaman pengganggu). Oleh karenanya, mereka berusaha memberantasnya. Permasalahannya adalah bahwa semakin dibabat, ternyata tanaman gadung justru tumbuh lebih lebat. Masyarakat selama ini belum memanfaatkan tanaman gadung untuk konsumsi karena belum mengerti
Modal Investasi Modal Kerja
Bambu Benih
Jangkar Tali
Peralatan lainnya Biaya Pemanenan
Upah kerja
Ilustrasi : IIRR, 1998.
Organisasi Pelaksanaan
Usaha ini dapat dikelola secara individu atau secara kelompok. Bila dikelola secara individu, sebaiknya pemasaran tetap dikelola secara kelompok agar diperoleh daya tawar yang
baik. Cara yang paling efektif dalam pemasaran adalah dengan pembentukan lembaga pemasaran misalnya dalam bentuk koperasi. Seluruh anggota menjual kepada lembaga pemasaran dengan harga yang disepakati, kemudian lembaga menjualnya ke pasar atau kepada pihak tertentu dengan harga yang lebih tinggi. Bila
cara memasaknya, terutama untuk menghilangkan pengaruh racun yang ada di dalam umbi gadung.
Prospek Pasar
Keripik gadung memiliki rasa yang khas dan banyak disukai orang. Dibeberapa kota besar, keripik gadung juga dijual di super market. Oleh karena itu, sebenarnya produk ini memiliki pangsa pasar yang luas yaitu baik untuk konsumsi lokal maupun dijual ke luar daerah terutama kota-kota besar.
Bahan Baku
Bahan baku utama untuk pembuatan keripik gadung adalah umbi gadung/ magar, sedangkan bahan penolongnya adalah air dan garam.
Teknologi Produksi
Proses produksi keripik gadung dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana serta dengan peralatan yang ada di desa. Peralatan yang diperlukan terdiri dari : bak perendam, parang, ember, pisau, baskom besar, dan alat perajang.
Proses Produksi :
1. Kupas kulit ubi gadung dan cuci hingga bersih.
2. Belah ubi yang telah dicuci tersebut menjadi dua atau lebih sesuai dengan ukuran alat perajang.
3. Rajang atau iris-iris ubi sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. 4. Cuci irisan-irisan ubi tersebut di dalam baskom besar, secara
berulang-ulang hingga air limbah kelihatan bening.
6. Masukkan garam dapur sesuai dengan berat irisan ubi yang akan direndam dan aduk hingga seluruh garam larut dalam air.
5. Siapkan air di dalam bak perendaman sesuai dengan banyaknya irisan ubi yang akan direndam.
7. Masukkan irisan ubi gadung ke dalam larutan garam hingga seluruhnya terendam dan biarkan hingga satu malam.
8. Ulangi perendaman tersebut hingga 4 kali (4 malam).
9. Setelah proses perendaman yang ke 4, cuci irisan ubi hingga bersih dan jemur dengan panas matahari selama 4 hari.
10. Irisan ubi siap digoreng.
Kebutuhan Modal
Organisasi Pelaksanaan
Usaha pembuatan keripik gadung dapat dikelola secara individu atau secara kelompok. Walaupun pengelolaan dilakukan secara individu, namun pemasaran hasil sebaiknya dilakukan secara bersama-sama, misalnya dalam bentuk koperasi. Pemasaran secara bersama yang terorganisasi secara baik, akan sangat membantu untuk memperoleh harga jual yang baik.
Untuk mendapatkan hasil yang bagus, pencucian irisan ubi harus diulang paling sedikit hingga 15 kali
Setiap 10 kg irisan ubi diperlukan 2 kg garam dapur
Modal Investasi Modal Kerja
Bak perendaman Ubi gadung
Baskom besar Garam dapur, soda kue
Ember & amonia
Alat perajang Minyak goreng
Alat penggorengan Kayu bakar
7. Campurkan ragi roti dengan 1 gelas air panas.
8. Tuangkan campuran ragi roti tersebut ke dalam santan.
9. Tambahkan setengah gelas inokulum starter (Acetobacter) ke dalam campuran santan.
10. Biarkan hingga 24 jam.
11. Setelah terjadi pemisahan antara minyak dengan airnya, keluarkan airnya, sehingga yang tinggal adalah minyak kelapa mentah. 12. Panaskan minyak kelapa mentah tersebut selama 20 – 25 menit
dan tambahkan bahan pengawet. 13. Setelah 25 menit angkat dan dinginkan.
14. Setelah dingin, saring dengan menggunakan saringan halus dari bahan kapas.
15. Minyak hasil saringan tersebut merupakan minyak murni yang siap digunakan dan dapat tahan lama hingga 7 – 10 bulan.
12. Fermentasi Minyak Kelapa
Latar Belakang
Buah kelapa banyak dihasilkan di daerah-daerah pantai/pesisir. Buah kelapa yang dihasilkan pada umumnya dijual secara langsung atau dikupas untuk diambil dagingnya dan dikeringkan. Pemrosesan daging kelapa menjadi minyak goreng merupakan salah satu cara untuk memberikan nilai tambah, sehingga nilai hasil panen menjadi lebih tinggi.
Prospek Pasar
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Hasil minyak kelapa akan menjadi salah satu alternatif substitusi minyak goreng bikinan pabrik yang harganya cenderung terus meningkat. Karena itu, selain dimanfaatkan sendiri, produksi minyak kelapa juga dapat dijual di pasar lokal atau dikirim ke luar daerah.
Bahan Baku
Bahan baku pembuatan minyak kelapa adalah buah kelapa, sedangkan bahan penolongnya adalah air panas, ragi roti dan starter.
Teknologi Produksi
Pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana serta dengan peralatan yang ada di desa.
Proses Produksi :
1. Siapkan bahan baku berupa buah kelapa yang sudah tua. 2. Kupas buah kelapa dan ambil dagingnya.
3. Parut daging kelapa.
4. Masukkan daging kelapa yang telah diparut tersebut ke dalam air panas dan remas-remas untuk mendapatkan santannya. 5. Jemur selama 1-2 jam.
6. Setelah dijemur pisahkan santan dari ampasnya dengan menggunakan saringan santan.
Kebutuhan Modal
Organisasi Pelaksanaan
Usaha pembuatan minyak kelapa dapat dikelola secara individu atau secara kelompok. Walaupun pengelolaan dilakukan secara individu, namun pemasaran hasil sebaiknya dilakukan secara bersama-sama, misalnya dalam bentuk koperasi. Pemasaran secara bersama yang terorganisasi secara baik, akan sangat membantu untuk memperoleh harga jual yang baik.
Modal Investasi Modal Kerja
Panci Biji kelapa
Parutan kelapa Garam dapur, ragi roti
Ember Kayu bakar
Bak plastik Upah kerja
Alat perebusan
5. Setelah diendapkan selama satu malam, pindahkan airnya ke dalam tempat perebusan. Tempat perebusan dapat dibikin dari drum yang telah dibelah.
6. Rebus lebih kurang selama 12 jam atau hingga airnya habis dan terbentuk endapan garam halus.
7. Setelah dingin, saring agar sisa air yang masih ada lolos ke bawah sedangkan garamnya tertahan di dalam saringan. 8. Garam halus siap dibungkus dan dijual.
Organisasi Pelaksanaan
Usaha pembuatan garam halus dapat dikelola secara individu atau secara kelompok. Walaupun pengelolaan dilakukan secara individu, namun pemasaran hasil sebaiknya dilakukan secara bersama-sama, misalnya dalam bentuk koperasi. Pemasaran secara bersama yang terorganisasi secara baik, akan sangat membantu untuk memperoleh harga jual yang baik.
Kebutuhan Modal
Modal Investasi Modal Kerja
Panci Biji kelapa
Parutan kelapa Garam dapur, ragi roti
Ember Kayu bakar
Bak plastik Upah kerja
Alat perebusan
Saringan santan
Catatan :
Air bekas saringan jangan dibuang karena dapat diproses lagi menjadi garam halus pada produksi berikutnya.
13. Pembuatan Garam Halus
Latar Belakang
Pembuatan garam halus dapat dilakukan oleh siapa saja, laki perempuan, tua atau muda. Selain itu, usaha ini tidak memerlukan pelatihan secara khusus, karena prosesnya memang betul-betul sangat mudah. Usaha ini sangat cocok dilakukan terutama bila musim ombak datang dan nelayan tidak dapat melaut.
Prospek Pasar
Garam merupakan salah satu jenis barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan manusia. Kita tidak bisa memasak tanpa ada garam. Oleh karena itu, usaha pembuatan garam memiliki prospek pasar yang sangat bagus. Selain dapat dijual di pasar lokal, garam halus dapat dikirim ke luar daerah atau ke kota-kota besar.
Bahan Baku
Bahan baku untuk pembuatan garam halus adalah garam kasar. Bila di lokasi tidak ada produksi garam kasar, maka dapat didatangkan dari tempat-tempat produksi garam seperti Bima (Sumbawa), Madura.
Teknologi Produksi
Pembuatan garam halus dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana serta dengan peralatan yang ada di desa.
Proses Produksi :
1. Siapkan bahan baku berupa garam kasar. 2. Siapkan ember plastik ukuran besar.
3. Larutkan garam kasar dalam ember berisi air dengan cara mengaduk-aduk secara terus menerus hingga seluruh garam kasar larut.
14. Pembuatan Air Siap Minum Dengan
Energi Surya (Solar Water Disinfection/
Sodis)
Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat pesisir adalah ketersediaan air minum yang sehat. Penulisan cara pengolahan air minum ini tidak dimaksudkan untuk dikembangkan sebagai salah satu usaha alternatif, namun lebih ditujukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat pesisir tentang cara pengolahan air minum yang sehat dan praktis dengan biaya sangat murah. Cara ini juga cocok untuk diterapkan bila sedang melaut agar tidak perlu merebus air minum di atas kapal.
3. Setelah cat mengering, cuci botol hingga betul-betul bersih.
4. Isi botol dengan air bersih hingga penuh dan tutup rapat-rapat.
5. Jemur di bawah terik mata hari dengan posisi tidur yaitu bagian botol berwarna hitam berada di posisi bawah.
6. Lama penjemuran adalah 4-5 jam pada cuaca cerah, 6-7 jam pada cuaca mendung, dan 2 hari berturut-turut bila kondisi hujan.