B. KECANDUAN BERMAIN PC GAME ON LINE
3. Kecanduan Bermain PC Game On Line
Amarildo (dalam Fiutami, 2007) menyatakan bahwa kecanduan terhadap internet terlihat dari intensi waktu yang digunakan seseorang untuk terpaku di depan komputer atau segala macam alat elektronik yang memiliki koneksi internet, dimana akibat banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk online membuat mereka tidak peduli dengan kehidupan mereka yang terancam diluar sana, seperti nilai yang buruk disekolah atau mungkin kehilangan pekerjaan dan bahkan meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi.
Beberapa bentuk gejala kecanduan ditunjukkan dengan kurang tidur, kelelahan, nilai yang buruk, performa kerja yang menurun, lesu dan kurangnya fokus. Penderita juga cenderung kurang terlibat dalam aktivitas dan hubungan sosial. penderita akan berbohong tentang berapa lama waktu yang mereka gunakan untuk online dan juga tentang
permasalahan-permasalahan yang mereka tunda karenanya. Dalam keadaan offline
mereka menjadi pribadi yang lekas marah saat ada yang menanyakan berapa lama waktu yang mereka gunakan untuk berinternet.
Elijati (www.pdfchaser.com/pdf/kecanduangame.html) mendiskripsikan kecanduan internet sebagai gangguan kontrol pada hasrat
atau keinginan untuk mengakses internet tanpa melibatkan penggunaan obat atau zat aditif. Secara patologi kecanduan internet sangat mirip dengan kecanduan terhadap judi. Pada awal seseorang mencoba permainan permainan online, seseorang hanya iseng sekedar mengisi waktu yang kosong ketika sedang tidak ada kuliah. Namun, ketika seseorang menjadi penasaran, lalu mencoba terus, dan terus lalu menjadi ketagihan. Penggunaan internet dalam hal ini bermain permainan online yang patologis (Pathological Internet Use/ PIU) merujuk pada ketergantungan psikologis terhadap permainan online. Hal ini ditandai dengan meningkatnya waktu yang digunakan, uang, usaha dan lain-lain untuk kegiatan yang berkaitan dengan internet, merasa cemas/sedih/gelisah jika tidak bisa mengakses internet, dan menyangkal akan adanya masalah perilaku.
Amarildo (dalam Fiutami, 2007) menyatakan bahwa ketidakmampuan seseorang dalam mengontol diri untuk terkoneksi dengan internet dan melakukan kegiatan bersamanya adalah cikal bakal dari lahirnya bentuk kecanduan ini, bahkan di Amerika Serikat sendiri telah berdiri panti rehabilitasi untuk menyembuhkan bentuk kecanduan khusus
internet. Kebiasaan yang tidak terkendali memang terkadang dapat menimbulkan petaka tersendiri bagi diri individu, dengan tidak bisa mengatur lamanya durasi berinternet, menghabiskan waktu dan menghancurkan semua tanggung jawab dalam kehidupannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, kecanduan bermain PC Game on-line dapat disebut sebagai ketergantungan untuk bermain permainan komputer yang terhubung dengan dunia internet yang berpengaruh negatif terhadap sisi psikologis dan fisiologis seseorang.
Menurut Baker (dalam Kusumadewi, 2009) seorang pemain permainan game on line dapat dikatakan kecanduan jika :
a) Bermain lebih dari 5 jam dan itu dilakukan setiap hari b) Mulai mengabaikan kehidupan sehari-harinya
c) Melarikan diri dari masalah-masalah pribadinya d) Melupakan kesehatan pribadinya
e) Lupa makan dan minum untuk bermain permainan
Yee (2003) menyebutkan indikator dari individu yang mengalami gangguan kecanduan games, adalah sebagai berikut :
a) Cemas, frustasi dan marah ketika tidak melakukan permainan.
b) Perasaan bersalah pada saat bermain.
c) Terus bermain meskipun sudah tidak menikmati lagi.
d) Teman atau keluarga mulai berpendapat ada sesuatu tidak beres dengan individu karena permainan.
e) Masalah dalam kehidupan sosial.
f) Masalah dalam kehidupan finansial atau hubungan dengan orang lain.
Kecanduan PC game on line seperti halnya Internet Addiction Disorder, Goldberg (1996) menyebutkan bahwa penggunaan internet yang maladaptif mengarah pada perusakan atau distress yang signifikan secara klinis dan terwujud melalui tiga atau lebih dari hal-hal berikut:
a) Toleransi, didefinisikan sebagai berikut :
1) Demi mencapai kepuasan, menggunaan internet meningkat secara mencolok.
2) Kepuasan yang diperoleh dalam penggunaan internet secara terus-menerus pada waktu yang sama, akan menurun secara mencolok.
b) Penarikan diri (withdrawal) terwujud melalui salah satu hal berikut :
1) Sindrom penarikan diri yang khas
2) Penghentian atau pengurangan penggunaan internet terasa berat dan lama.
3) Dua atau lebih dari hal-hal berikut (berkembang dalam beberapa hari sampai satu bulan setelah kriteria a). Yaitu agitasi psikomotor, kecemasan, pemikiran yang obsesif mengenai apa yang terjadi di internet, khayalan atau
mimpi tentang internet, dan gerakan jari seperti mengetik baik sadar maupun tidak sadar)
4) Penggunaan atas jasa online yang mirip, dilakukan untuk menghilangkan atau menghindarkan simtom-simtom penarikan diri.
5) Internet sering atau atau lebih sering dari yang direncanakan.
6) Usaha yang gagal dalam pengendalian penggunaan internet.
7) Menghabiskan banyak waktu dalam kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan internet.
8) Kegiatan-kegiatan yang penting seperti bidang sosial, pekerjaan, atau rekreasional dihentikan atau dikurangi karena penggunaan internet.
9) Penggunaan internet tetap dilakukan walaupun mengetahui adanya masalah-masalah fisik, sosial, pekerjaan, atau psikologis yang kerap timbul dan kemungkinan besar disebabkan penggunaan internet. Untuk mengatakan seseorang adalah pecandu bukan hal yang mudah. Namun ada dua hal yang bisa dijadikan tolok ukur seperti halnya kecanduan terhadap substansi. Terdapat dua simtom yang menjadi tolok ukur kecanduan yaitu dependence dan withdrawal
tertentu maka dia akan selalu memerlukan hal tersebut untuk membuat hidupnya terus berjalan, tanpa hal tersebut maka dia tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Jika penggunaan suatu hal tersebut dihentikan maka dia akan mengalami withdrawal (penarikan diri) yang ditandai dengan marah, cemas, mudah tersinggung, dan frustrasi.
Cromie ( dalam Kem, 2005) menyebutkan ancaman paling umum saat seseorang kecanduan adalah ketidakmampuannya dalam mengatur emosi. Individu lebih sering merasakan perasaan sedih, kesepian, marah, malu, takut untuk keluar, berada dalam situasi konflik keluarga yang tinggi, dan memiliki self- esteem yang rendah. Hal ini mempengaruhi hubungan dengan teman sekamar, siswa lainnya, orangtua, teman, sekolah, dan pembimbing. Pecandu juga kesulitan membedakan antara permainan atau fantasi dan realita. Pecandu cenderung menutupi masalah psikologis tersebut.