• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

B. Kedisiplinan Santri a.Kedisiplinan

Disiplin berasal dari kata yang sama dengan “disciple”

(artinya: murid) yakni seorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seorang pemimpin. Dalam hal ini, orang tua dan guru merupakan pemimpin dan anak merupakan murid yang belajar dari mereka cara hidup sehingga mampu mencapai kebahagiaan yang diharapkan, bahkan para ahli mengatakan bahwa dengan disiplin berbagai kebutuhan dengan sendirinya dapat dipenuhi jika seseorang telah membiasakan diri melakukan kegiatan dengan terencana, maka ia akan mulai disiplin atau sudah mulai teratur dengan sendirinya ia tinggal berlatih mematuhi rencana itu sendiri, seperti ketaatan atau kepatuhan pada peraturan, tata tertib, dan disiplin juga berarti rentetan peraturan atau latihan yang terencana dianggap perlu dan penting untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Suharsimi Arikunto, disiplin mengandung pengertian kepatuhan manusia dalam mengikuti peraturan atau tata tertib, karena didorong oleh kesadaran yang ada pada kata hatinya, Secara teoritis, kedisiplinan dibagi menjadi dua macam, pertama; kedisiplinan yang ditegakkan berdasarkan kesadaran sendiri.Kedua; kedisiplinan yang ditegakkan berdasarkan perintah atau ketentuan yang ditentukan dari luar diri (Ma’arif, 2003: 129), untuk itu suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian

perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban, jadi konsep kedisiplinan yang pertama pada dasarnya berhubungan erat dengan motivasi tindakan etis berdasarkan kesadaran yang timbul dari nurani sendiri.Sedangkan konsep kedua mempunyai korelasi dengan motivasi tindakan etis berdasarkan tuntutan (yang mengandung imbalan dan atau sanksi) yang datang dari luar diri.

a. Bentuk-bentuk disiplin 1. Disiplin dalam belajar

Proses pembelajaran di pesantren pada umumnya terjadi sepanjang waktu setiap harinya, dari pagi dini hari hingga tengah malam, tergantung materi yang diajarkan. Aktifitas keseharian di pesantren biasanya dimulai menjelang subuh dengan persiapan untuk berjamaah shalat subuh bersama-sama. Kemudian dilanjutkan mengaji selesai shalat subuh sampai malam sesuai dengan kelas atau tingkatannya masing-masing. Pendidikan semacam ini berpengaruh besar dalam kehidupan para santri (Bawani, 2004 : 99). Para santri biasanya mengadakan muthalaah terhadap materi yang diajarkan ustadz atau kyai, baik sebelum atau sesudah proses pembelajaran atau pengajian. Cara belajar semacam ini membantu pencapaian pemahaman para santri. Sementara ada pendapat yang mengatakan bahwa cara belajar yang efisien

dan mendukung kedisiplinan belajar adalah dengan cara belajar sungguh-sungguh selama-lamanya empat jam sehari dengan teratur.

2. Disiplin dalam mentaati peraturan

Di lembaga pendidikan pesantren, disiplin sangat ditekankan. Kemudian untuk menjamin kelancaran dan ketertiban proses pendidikan, lembaga pondok pesantren biasanya menyusun tata tertib yang berisi peraturan yang harus ditaati oleh seluruh santri. Di samping mentaati peraturan pondok pesantren, santri juga harus memahami dan mentaati pola-pola kebudayaan pondok pesantren yang berlaku.

Untuk memahami budaya atau peraturan yang tidak tertulis, para santri bisa melihat dari keteladanan yang diberikan oleh para ustadz dan kyai, untuk kemudian teladan yang baik itu akan selalu dilaksanakan dan selalu berusaha untuk tidak melanggarnya. Adapun pada pondok pesantren yang menjalankan disiplin secara permissive dan lebih banyak memberikan kebebasan pun terdapat norma-norma yang harus dipahami dan ditaati oleh semua pihak, misalnya seorang santri tidak boleh bercakap-cakap atau mondar-mandir di dalam kelas karena dapat mengganggu jalannya pelajaran (Nasution, 2007 : 68)

3. Disiplin dalam beribadah

Pada dasarnya beribadah kepada Alllas SWT merupakan kewajiban mutlak bagi manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah:



































Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. (QS. Adz Dzariyat : 56-57)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa yang paling utama harus dilakukan jin dan manusia adalah menyembah Allah, menghamba kepada-Nya. Beribadah itu, menurut pemikiran Muhammad Quthb sebagaimana dikutip oleh Mahfud Junaedi, tidak terbatas hanya pada berbagai cara peribadatan yang telah ditentukan, melainkan mempunyai makna yang lebih menyeluruh dan luas sekali, meliputi seluruh aktifitas dan bidang kehidupan, dan mencakup seluruh perbuatan, rasa, dan karsa (Junaedi, 2010 : 100).

Meskipun setiap aktifitas manusia bisa maksudkan untuk beribadah, namun dalam tulisan ini hanya akan dibahas tentang ibadah shalat, Karena disamping shalat merupakan pokok pangkal ibadah, juga amalan pertama yang akan diperhitungkan di hari kiamat. Shalat merupakan perbuatan seseorang yang beriman dalam situasi menghadapkan wajahnya kepada sang Khaliq. Maka manakala shalat itu dilakukan secara tekun dan terus menerus akan menjadi alat pendidikan rohani manusia yang efektif, memperbaharui dan memelihara jiwa, serta memupuk pertumbuhan kesadaran. Demikian juga, dengan melaksanakan shalat dengan penuh rasa kekhusukan akan menjaga dari berbagai hal yang keji dan mungkar. Kalau ditinjau dari segi disiplin, ibadah shalat merupakan pendidikan positif yang menjadikan manusia dan masyarakat hidup secara teratur. Sehubungan dengan hal ini lah beribadah shalat sangat ditekankan di pesantren, disamping ibadah-ibadah yang lain. Karena itu, wajar jika santri di pondok pesantren diwajibkan untuk selalu mengikuti shalat berjamaah dan tepat waktu.

b. Prinsip disiplin.

Dalam konteks ini, ada dua prinsip yang menjadi dasar pendorong kedisiplinan, yaitu: 1) Sikap taqwa, yakni menjaga

diri dari perbuatan-perbuatan yang mempunyai konsekuensi yang membahayakan atau memburuk. 2)Sikap istiqomah, yakni sikap lurus, jujur serta konsisten dalam membela dan melaksanakan suatu pendirian yang dipandang.

c. Tujuan disiplinan

Setiap manusia mempunyai tujuan tertentu dalam melaksanakan sikap dan perbuatannya. Sedangkan tujuan dari disiplin menurut adalah:

1) Pemerintahan atas diri. 2) Menaklukkan kuasa kemauan. 3) Perbaiki kebiasaana-kebiasaan. 4) Hancurkan benteng syetan.

5) Ajar menghormati orang tua dan ilahi.

6) Penurutan atas dasar prinsip, bukan paksaan.

Disiplin mempunyai tujuan yaitu mengembangkan suatu keteraturan dalam tindak tanduk manusia dan memberinya suatu sasaran tertentu yang sekaligus membatasi cakrawalanya.

C. Santri

Pengertian santri adalah peserta atau murid yang tinggal dalam pesantren untuk mempelajari kitab klasik. Menurut Wahid (2000: 130), santri adalah orang yang sedang dan pernah mengenyam pendidikan agama di pondok pesantren, menggali informasi ilmu-ilmu agama dari

Kyai-ulama (guru, teladan, uswah) selama dia berada di asrama atau pondok pesantren.

Beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa santri adalah sekelompok orang atau peserta didik yang sedang mengenyam pendidikan di pondok pesantren untuk menggali informasi ilmu-ilmu agama dari kyai selama tinggal di pondok pesantren.

Pendapat mengenai pengertian kedisiplinan dan pengertian santri dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan santri adalah kemampuan untuk membiasakan perilaku serta kegiatan santri atau orang yang tinggal di asrama (pondok pesantren) mengenai segala yang ada di pondok pesantren misalnya tata tertib pondok pesantren, peraturan pondok pesantren, kegiatan yang berlangsung di pondok pesantren, dan cara mengajar ustadz dan ustadzah dengan ketentuan yang telah ditetapkan dari awal.