• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

1. Pengertian Ta’zir

Dasar diterapkannya ta’zir terdapat dalam firman Allah SWT diantaranya

























Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya)

untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka

(dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya

hamba-hambaNya (QS. Fushilat: 46).

Ayat diatas Allah memberi pelajaran kepada manusia bahwa setiap manusia akan mendapat balasan dari setiap perbuatannya. Baik atau buruk yang diterima sesuai pada perbuatan yang telah dilakukan.

Dalam kamus fiqih, Secara bahasa kata “ta`zir” merupakan bentuk masdar dari kata “`azzara” yang berarti menolak (Mujib,

1994:384). ta’zir secara etimologi yaitu dari kata “azzara” yang

berarti menolak dan mencegah sedangkan secara terminologi ta’zir

adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa yang hukumanya belum ditetapkan, jadi ta’zir atau hukuman yang dimaksud merupakan hukuman yang bersifat mendidik. Jadi istilah

ta’zir biasanya dipakai dalam lingkup pondok pesantren, akan

Menurut Purwanto (2000:186), hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (guru, orang tua, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, jadi hukuman adalah suatu perbuatan dimana kita secara sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, baik dari segi kejasmanian maupun segi kerohanian. Menurut Kartono (2001:261), hukuman adalah perbuatan yang secara intensional diberikan sehingga menyebabkan penderitaan lahir batin, diarahkan untuk menggugah hati nurani dan penyadaran si penderita akan kesalahannya. Jadi, hukuman adalah suatu tindakan yang diberikan secara sengaja oleh seseorang (guru, orang tua, ustadz dan lainnya) kepada (siswa, anak, santri, dan lainnya) dengan tujuan menyadarkan diri dari kesalahan, mendidik agar baik dari segi kejasmanian maupun segi kerohanian.

Sementara ta’zir menurut masyarakat dipahami sebagai

hukuman. Hukuman yang dimaksud merupakan hukuman yang bersifat mendidik, karena itu hukuman tersebut harus mengandung unsur-unsur pendidikan. Dalam hal ini tentu berbeda antara hukuman dari Allah kepada hambanya dan hukuman khusus yang dikeluarkan negara kepada rakyatnya dengan hukuman yang diterapkan orang tua dalam keluarga dan para pendidik dalam dunia pendidikan. (Ulwan, 2003: 311).

Sedangkan ta’zir dalam istilah psikologi adalah cara yang digunakan pada waktu keadaan yang merugikan atau pengalaman yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh seseorang yang dengan sengaja menjatuhkan orang lain. Secara umum disepakati bahwa hukuman adalah ketidaknyamanan (suasana tidak menyenangkan) dan perlakuan yang buruk atau jelek.

2. Jenis Ta’zir di Pondok Pesantren

Hukuman (ta’zir) secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 yaitu hukuman fisik dan non fisik. Namun demikian, hukuman dalam bentuk apapun tujuannya lebih mengarah kepada psikis atau agar santri menyadari kesalahan yang telah diperbuat bukan karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh hukuman. Menurut Mamiq (2012:46), pada dasarnya hukuman itu ada dua yaitu: hukuman langsung dan hukuman tidak langsung. Hukuman langsung ini merupakan tindakan yang langsung diberikan kepada santri setelah memunculkan perilaku negative, sedangkan hukuman tidak langsung merupakan hukuman yang tidak secara langsung diarahkan sebagai bentuk hukuman kepada santri, tetapi lebih bersifat sindiran, bahan renungan, dan sumber pelajaran bagi santri.

Menurut Purwanto (2000:189), Hukuman dibedakan menjadi dua macam

1) Hukuman preventif, yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud agar tidak atau jangan terjadi pelanggaran. Hukuman ini bermaksud agar mencegah jangan sampai terjadi pelanggaran sehingga hal itu dilakukannya sebelum pelanggaran itu dilakukan. 2) Hukuman represif, yaitu hukuman yang dilakukan oleh karena

adanya pelanggaran, oleh adanya dosa yang telah diperbuat. Jadi, hukuman ini dilakukan setelah terjadi pelanggran atau kesalahan.

Bentuk hukuman dibagi menjadi 4 yaitu : 1) Hukuman Isyarat

Hukuman ini cukup dilakukan dengan cara pandangan mata,gerakan anggota badan dan sebagainya. Setiap santri memiliki pembawaan dan latar belakang yang berbeda, maka dari itu sebaiknya jika memberikan hukuman disesuaikan dengan karakter masing-masing anak.Sebagian anak ada yang cukup dengan diberi isyarat sebagai tanda kalau dia salah, misalnya dengan kedipan mata.

2) Hukuman Perkataan

Hukuman ini diberikan dengan cara memberikan teguran, perhatian dan ancaman.Hukuman dapat diberikan dengan nasehat yang jelas dan tegas kepada santri yang melanggar peraturan pondok pesantren.

Hukuman ini diberikan dengan cara memberikan tugas kepada santri yang melakukan pelanggaran, misalnya bersih-bersih lingkungan pondok, hafalan dan lainnya.

4) Hukuman Badan

Hukuman ini diberikan dengan cara menyakiti badan santri, baik dengan alat maupun tidak. Hukuman ini terpaksa dilakukan karena jika menghukum dengan cara yang lembut tidak mampu menyadarkan anak yang melakukan kesalahan.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

bentuk ta’zir di pondok pesantren adalah yang pertama hukuman

berupa isyarat yaitu hukuman yang diberikan kepada santri dengan menggunakan isyarat anggota tubuh, hukuman ini termasuk dalam tingkat hukuman paling ringan dan hukuman langsung. Yang kedua yaitu hukuman melalui perkataan yaitu hukuman yang diberika kepada santri dalam bentuk ucapan baik itu nasehat, teguran, ancaman dan termasuk hukuman langsung. Yang ketiga hukuman perbuatan yaitu hukuman yang diberikan kepada santri dalam bentuk tugas seperti tugas menghafal surat pendek, membersihkan halaman pondok pesantren. Yang keempat hukuman badan yaitu hukuman yang diberikan kepada santri dengan cara menyakiti badan atau anggota tubuh santri, hukuman ini termasuk hukuman yang paling berat dan terpaksa

dilakukan karena dangan cara hukuman yang lain tidak dapat menghentikan pelanggaran yang dilakukan santri

Beberapa uraian tentang pengertian ta’zir di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ta’zir merupakan hukuman yang

bersifat memberikan pengajaran terhadap perbuatan seseorang.

Pelaksanaan hukuman ta’zir ini diserahkan kepada orang yang

mempunyai kekuasaan yang akan menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini, orang yang mempunyai kekuasaan (guru, ustadz, orang tua, kyai) memiliki kebebasan untuk menetapkan hukuman ta’zir kepada pelanggar aturanpondok pesantren. Pemberian ta’zir ini

adalah untuk mengatur kehidupan secara tertib dan mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan.

3. Tujuan Ta’zir di Pondok Pesantren

Praktik ta’zir atau hukuman sebenarnya sudah lama dikenal, dan hukuman akan terus mengalami perubahan karena adanya pergantian zaman dan peralihan dari satu generasi ke generasi lain, ditambah dengan kegiatan dan kebutuhan manusia yang semakin kompleks. Tujuan kita menghukum adalah hendak mencegah dan menjerakan agar tidak mengulangi kesalahan. Hukuman itu ada tingkatannya, mulai dengan cara yang halus dan ringan, sampai dengan cara yang keras dan berat. Menurut Abdullah Nashih Ulwan

bahwa: “Sanksi ini bertahap mulai dari peringatan keras, dipukul, dipenjarakan dan seterusnya. Sanksi ini bertahap sesuai dengan

perbedaan usia, budaya dan kedudukan seseorang”. Diantaranya ada

yang cukup dengan nasehat, ada yang jera dengan dipukul dan sebagainya sesuai individu masing-masing.

Menurut Mamiq (2012:48), hukuman akan positif sifatnya, apabila pelaksanaannya berlangsung bijak dan mengandung tujuan sebagai berikut :

1) Untuk memperbaiki individu santri yang bersangkutan agar menyadari kekeliruannya, dan tidak akan mengulanginya lagi. 2) Melindungi santri agar dia tidak melanjutkan pola tingkah laku

yang menyimpang, buruk, dan tercela.

3) Sekaligus juga melindungi santri lain dari perbuatan salah (nakal, jahat, asusila, kriminal, abnormal, dan lain-lain).

Jadi salah satunya kedisiplinan yang dipandang berperan dalam kesuksesan individu. Melalui pendidikan itulah diharapkan dapat tercapai peningkatan kehidupan manusia kearah yang sempurna. (Ermia 2016:5).

4. Prosedure Memberikan Ta’zir di Pondok Pesantren

Menurut Mamiq (2012:48), prosedur standar memberikan ta’zir

antara lain:

1) Jenis hukuman yang diberikan harus disepakai diawal antara pengurus dengan santri.

2) Jenis hukuman yang diberikan harus jelas sehingga santri dapat memahami dengan baik konsekuensi kesalahan yang ia lakukan. 3) Hukuman harus dapat diukur sejauh mana efektivitasnya dan

keberhasilannya dalam mengubah perilaku anak.

4) Hukuman harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tidak disampaikan dengan cara menakutkan, apalagi memunculkan trauma berkepanjangan.

5) Hukuman tidak berlaku jika ada stimulus diluar control. Misalnya santri melakukan kesalahan yang ia tidak diketahui karena sebelumnya belum disepakati sebelumnya.

6) Hukuman segera diberikan jika perilaku yang tidak diinginkan muncul. Sedangkan Menurut Arief (2002:131), mengaplikasikan

ta’zir antara lain:

1) Pemberian hukuman harus tetap dalam jalinan cinta, kasih, dan sayang.

2) Harus didasarkan kepada alasan “keharusan”.

3) Harus menimbulkan kesan di hati anak.

4) Harus menimbulkan keinsyafan dan penyesalan kepada santri. 5) Diikuti dengan pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur pemberian hukuman adalah hukuman harus disepakati oleh pegurus dan santri, pemberian hukuman harus jelas agar santri memahami hukuman yang akan diterima jika melanggar peraturan, hukuman

disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan, hukuman harus segera diberikan jika ada santri yang melanggar peraturan, hukuman tetap harus bermakna edukasi dan dalam jalinan cinta kasih, hukuman harus menimbulkan keinsyafan di hati santri agar tidak mengulangi pelanggaran peraturan pondok pesantren.

5. Dampak Pemberian Ta’zir di Pondok Pesantren

Menurut Mamiq (2012:41) dampak dari menghukum anak ada 4 yaitu:

1) Reaksi emosi negatif bagi santri yang dihukum, ia akan memiliki rasa benci pada orang yang memberikan hukuman kepadanya, apalagi jika hukuman itu diberikan dengan kekerasan, kebencian santri pada pengurus bisa berlangsung lama.

2) Menyelesaikan masalah dengan tidak tepat karena hukuman dengan kekerasan justru akan menambah masalah.

3) Kecanduan menghukum (negatif). Jika pengurus terlanjur manggunakan cara-cara menghukum seperti itu, akan ada kecenderungan untuk mengulang kembali cara tersebut, apalagi jika mendapat penguatan dari lingkungan.

4) Dampak peniruan perilaku pada santri sehingga apa yang didapatkan santri pada usia remaja akan cenderung terbawa ketika menjadi dewasa kelak. Menurut Arief (2002:133), dampak dari menghukum anak antara lain:

1) Akan membangkitkan suasana rusuh, takut, dan kurang percaya diri.

2) Santri akan selalu merasa sempit hati, bersifat pemalas, serta akan menyebabkan ia suka berdusta (karena takut dihukum).

3) Mengurangi keberanian anak untuk bertindak.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dampak

pemberian ta’zir adalah menimbulkan rasa benci, malas dan takut santri terhadap pengurus pondok pesantren jika hukuman tidak sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan, menyebabkan santri berdusta atau beralasan karena takut dihukum, kecanduan dihukum karena hukuman yang sudah biasa.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan diterapkannya ta’zir di pondok pesantren adalah untuk mewujudkan dan membiasakan santri bertanggung jawab atas perilaku yang telah dilakukan, untuk memperbaiki diri santri agar menyadari perilaku salah tersebut dan tidak akan mengulangi kesalahan tersebut, untuk memberi pelajaran santri agar santri tidak melanggar peraturan pondok pesantren dan untuk membimbing serta meningkatkan kedisiplinan santri agar taat dan patuh mengikuti tata tertib pondok pesantren serta melindungi santri dari perbuatan yang salah.

B. Kedisiplinan Santri