Dalam Hukum Perdata, penting untuk dilihat keadaan perdata seseorang yaitu kedudukan hukum seseorang terkait hubungannya dengan sesama anggota masyarakat. Kedudukan tersebut dapat ditentukan dari lima kejadian dalam hidup, yakni kelahiran, pengakuan (terhadap kelahiran), perkawinan, perceraian, dan kematian.3 Dari kelima hal tersebut perkawinan menjadi hal dasar yang paling berpengaruh dalam penentuan status hukum seseorang, sebab beranjak dari perkawinanlah tercipta suatu hubungan hukum antara suami isteri yang berlanjut pada
126 Ali Affandi, Op.Cit., hal 74
kelahiran dan tentunya menimbulkan akibat hukum terhadap hubungan suami isteri, anak serta harta benda. Disamping membawa akibat terhadap hubungan suami isteri, anak, dan harta benda, perkawinan juga mempengaruhi kedudukan seseorang dibidang hukum terutama dalam hal pewarisan, dimana pada prinsip pewarisan terjadi pengalihan hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan. Hukum memberikan kedudukan istimewa kepada ahli waris yang sah untuk menikmati harta peninggalan pewaris. Bahkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (2) KUHPerdata, seorang anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan pun harus dianggap telah dilahirkan bilamana kepentingan si anak menghendakinya, misalnya dalam penghitungan ahli waris yang sah. Hal demikian disebut sebagai fiktif hukum.
Kekhususan yang diberikan undang-undang tersebut merupakan perwujudan pengakuan hukum atas hak-hak manusia. Disamping itu, undang-undang juga melindungi hak mutlak ahli waris yang sah agar tidak dilanggar bagiannya, dikenal dengan istilah legitieme portie yang berlaku bagi ahli waris dalam garis lurus ke atas atau ke bawah.127
Hukum waris berlaku suatu asas, bahwa apabila seorang meninggal maka seketika itu juga segala hak dan kewajibannya beralih pada sekalian ahli warisnya.
Asas tersebut tercantum dalam suatu pepatah Prancis yang berbunyi : “le mort saitis
127 Effendi Perangin, Hukum Waris, Edisi 6-7, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), hal.
83
de vif”, sedangkan pengoperan segala hak dan kewajiban dari si meninggal oleh para ahli warisnya itu dinamakan “saisine”.128
Menurut Pasal 834 KUHPerdata, seorang ahli waris berhak untuk menuntut supaya segala apa saja yang termasuk harta peninggalan si meninggal diserahkan padanya berdasarkan haknya sebagai ahli waris. Hak penuntutan ini menyerupai hak penuntutan seorang pemilik suatu benda, dan menurut maksudnya penuntutan itu harus ditujukan kepada orang yang menguasai satu benda warisan miliknya dengan maksud untuk memilikinya.129
Secara yuridis formal, suatu perkawinan dapat putus disebabkan 3 (tiga) hal yaitu pertama, kematian; kedua, perceraian dan ketiga, keputusan pengadilan.
Kematian merupakan peristiwa hukum bukan saja untuk memutuskan perkawinan tetapi juga mengakhiri kehidupan seseorang sebagai subjek hukum yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi si ahli waris.130
Hak mutlak (legitieme portie) para waris yang sama sekali tidak dapat dilanggar dengan suatu penetapan yang dimuat dalam suatu testament. Adapun maksud dari peraturan ini ialah untuk melindungi para waris dari tindakan pewaris yang tidak bertanggung jawab. Bagian mutlak terdapat pada Pasal 913 KUHPerdata :131
128 R. Subekti, Op.Cit., hal 88
129 Ibid.
130 Tan kamello, Op.Cit, hal. 80
131 Ali Affandi, Op.Cit., hal 45
1. Bagian mutlak adalah bagian dari suatu warisan yang tidak dapat dikurangi dengan suatu pemberian semasa hidup atau pemberian dengan testament
2. Selanjutnya bagian mutlak harus diberikan kepada para waris dalam garis lurus.
(garis lurus ke atas dan garis lurus ke bawah)
Berhubung dengan ketentuan tersebut, istri/suami, saudara-saudara paman/bibi tidak berhak akan legitieme portie.
Hukum waris perdata atau yang sering disebut hukum waris barat berlaku untuk masyarakat selain pemeluk agama Islam, termasuk Warga Negara Indonesia keturunan, baik Tionghoa maupun Eropa, yang ketentuannya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Hukum waris perdata menganut sistem individual, yaitu setiap warisan menurut bagiannya masing-masing. Dalam hukum waris perdata, ada dua cara untuk mewariskan yaitu sebagai berikut :132
1. Mewariskan berdasarkan undang-undang atau mewariskan tanpa surat wasiat yang disebut Ab-Intestato. Sementara itu ahli warisnya disebut Ab-Instaat. Ada empat golongan ahli waris berdasarkan undang-undang, di antaranya :
a. Golongan I, terdiri atas suami dan anak-anak beserta keturunanya
b. Golongan II, terdiri atas orang tua dan satudara-saudara beserta keturunannya
c. Golongan III, terdiri atas kakek, nenek, dan seterusnya ke atas
d. Golongan IV, terdiri atas keluarga dalam garis menyamping yang lebih jauh, termasuk saudara-saudara ahli waris golongan III beserta keturunannya.
132 Aditya dan Intan Aditya, Op.Cit., hal 164
2. Mewariskan berdasarkan surat wasiat, yaitu berupa pernyataan tentang seseorang tentang apa yang dikehendakinya setelah dia meninggal dunia yang oleh si pembuatnya dapat diubah atau dicabut kembali selama dia masih hidup, sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 992. Cara pembatalannya harus dengan wasiat baru atau dilakukan dengan notaris.
Syarat ahli waris ab intestaat terdapat Pasal 832 KUHPerdata : “Menurut undang-undang yang berhak untuk menjadi ahli waris ialah, para keluarga sedarah, baik ayah maupun luar kawin, dan si suami atau istri yang hidup terlama.” semua menurut aturan tertera sebagai berikut : Asas hukum waris menurut Pasal 832 KUHPerdata adalah menurut undang-undang, untuk dapat mewaris orang harus mempunyai hubungan darah dengan si pewaris. Hubungan darah tersebut dapat sah atau luar kawin, baik melalui garis ibu maupun garis bapak. Hubungan darah yang sah adalah hubungan darah yang ditimbulkan sebagai akibat dari suatu perkawinan yang sah. Asas yang terkandung dalam Pasal 852 KUHPerdata adalah di samping keluarga sedarah, oleh undang-undang kelompok ahli waris ditambah dengan suami atau istri yang hidup terlama. Maksud dari kalimat tersebut adalah duda atau janda yang masih hidup.133
Selain syarat yang bersangkutan harus ada mempunyai hubungan darah dengan pewaris, atau suami/istri yang hidup lebih lama, maka masih ada syarat lain yang harus dipenuhi untuk menjadi ahli waris, yaitu orang tersebut dinyatakan tidak patut/tidak pantas. Orang-orang yang tidak pantas menerima warisan adalah
133 J. Satrio, Hukum Waris, Op.Cit., hal. 29-30
orang yang mempunyai pertalian darah dengan pewaris, tetapi karena perbuatannya dianggap tidak patut menjadi waris. Terdapat dalam Pasal 838 KUHPerdata yang tidak patut menjadi waris adalah:
1. Mereka yang telah dihukum (telah ada keputusan hakim) karena membunuh atau mencoba membunuh pewaris.
2. Mereka yang dengan keputusan Hakim dipersalahkan dengan fitnah mengajukan pengaduan terhadap pewaris tentang suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun lamanya.
3. Mereka yang dengan kekerasan telah mencegah pewaris membuat atas mencabut testament.
4. Mereka yang telah menggelapkan merusak atau memalsukan testament pewaris.
Mengenai orang-orang yang tidak dapat menerima warisan, disebut dalam Pasal 1046 KUHPerdata, orang-orang yang tidak dapat menerima adalah :
1. Seorang perempuan yang bersuami 2. Seorang yang belum dewasa
3. Seorang yang di bawah pengampuan
Mengenai orang-orang yang dapat menuntut pembagian adalah sebagai berikut : 1. Ahli waris (Pasal 1006 KUHPerdata)
2. Ahli waris dari ahli waris (di dalam soal pergantian)
3. Kreditur dari ahli waris (Pasal 494 Reglemen Acara Perdata)
Adapun kreditur dari pewaris dan legataris itu tidak berhak menuntut mengadakan pembagian waris, karena mereka dapat mengadakan tindakan langsung
terhadap seluruh peninggalan warisan dengan menyita atau mengadakan tuntutan kepada waris, sedang yang mengenai legataris ia dapat menuntut diserahkannya legaat itu.134
C. Perlindungan Hukum terhadap Ahli Waris atas Harta Peninggalan Salah