TANGGUNG JAWAB CAMAT SEBAGAI PPAT SEMENTARA TERHADAP AKTA YANG DIBUATNYA
4.2 Kedudukan Akta PPAT dalam Pendaftaran Tanah
Setiap hak atas tanah termasuk perubahan dan juga peralihan serta pembebanannya harus didaftarkan pada Kantor Pertanahan. Pendaftaran tanah tidak hanya dilakukan terhadap tanah-tanah yang belum didaftar tetapi juga dilakukan terhadap tanah-tanah yang sudah didaftar yang telah terjadi perubahan data baik mengenai tanahnya maupun mengenai pemiliknya, dimana perubahan tersebut dapat disebabkan karena adanya peralihan hak, dibebani suatu hak maupun tanah tersebut musnah atau hilang. Dasar hukum dari pendaftaran tanah yang merupakan tugas dari pemerintah ditentukan dalam Pasal 19 ayat (1) dan (2) UUPA, bahwa :
(1) Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
(2) Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi : a. Pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah;
b. Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;
c. Pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat.
Kewajiban pendaftaran tanah tidak hanya ditujukan kepada pemerintah sebagai pelaksana tetapi berdasarkan UUPA setiap pemegang tanah juga wajib untuk mendaftarkan tanahnya, maka sebagai tindak lanjut dari perintah Pasal 19 UUPA diatas, dikeluarkanlah PP Nomor 10 Tahun 1961 yang telah diganti dengan PP Nomor 24 Tahun 1997 dan sebagai peraturan pelaksanannya dikeluarkanlah Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pelaksanaan PP Nomor 24 Tahun 1997.
Pendaftaran tanah merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi
113
pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.103 Tujuan dari dilaksanakannya pendaftaran tanah berdasarkan pada PP nomor 24 Tahun 1997 dalam Pasal 3 antara lain :
a. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun, dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;
b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;
c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
Pendaftaran tanah yang diharapkan sebagaimana yang dikatakan oleh Douglass J. Willem adalah merupakan pekerjaan yang berkesinambungan dan konsisten atas hak-hak seseorang atas tanah sehingga nantinya akan memberikan informasi dan data administrasi atas bagian-bagian tanah yang didaftarkan, lengkapnya disebutkan :104
The register consists of individual grant, sertificates of folios contained whitin it at anygiven time added to these are documents that may bedeemed to be embodied in the register upon registration. Together these indicated the parcel of land in particular title, the personen entitle to interst there in and the nature and extent of these interests. There are also ancillary register wich assist in the orderly administration of the system such as a parcel index, a
103
Penjelasan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah
104
Douglass J. Whillan, 1982, The Torren System in Australia, Sydney, hal.18
114
nominal index losting registered proprietors an a day book in wich documents are entered pending final registration.
Apabila diterjemahkan maka maksud dari Douglass J. Whillan mengenai pendaftaran tanah adalah :
Daftar (register) terdiri dari hibah individu, sertifikat folio yang terkandung di dalamnya pada waktu tertentu ditambahkan ke register ini adalah dokumen yang dapat dianggap dapat dimasukkan ke dalam register setelah pendaftaran. Bersama dengan ini menunjukkan sebidang tanah dalam bentuk tertentu, orang tersebut berhak atas hak di dalamnya sesuai dengan sifat dan tingkat kepentingan tersebut. Ada juga daftar tambahan yang membantu dalam sistem tertib administrasi seperti indeks bidang, indeks nominal yang mencatat daftar pemilik yang terdaftar dalam buku harian di mana dokumen yang dimasukkan menunggu pendaftaran akhir.
Sistem pendaftaran tanah yang digunakan dalam PP Nomor 24 Tahun 1997 adalah sistem pendaftaran hak (registration of titles), yang dapat dilihat dengan adanya buku tanah sebagai dokumen yang memuat data yuridis dan data fisik yang dihimpun dan disajikan serta diterbitkannya sertipikat sebagai surat tanda bukti hak yang didaftar, dimana akta yang dibuat oleh PPAT tentang adanya suatu peralihan hak merupakan sumber data dari pendaftaran tanah yang dimaksud.105 Mengenai pelaksanaan pendaftaran tanah berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 1997, disebutkan bahwa terdapat 2 (dua) pelaksanaan pendaftaran tanah yaitu :
a. Pendaftaran tanah untuk pertama kali
Pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah pendaftaran tanah yang dilakukan terhadap tanah-tanah yang belum pernah di daftar menurut ketentuan peraturan pendaftaran tanah, dalam masyarakat sering disebut dengan pensertipikatan tanah atau pendaftaran tanah karena konversi,
105
115
karena pendaftaran tanah ini hak yang akan diberikan kepada pemiliknya berasal dari konversi hak atas tanah yang ada sebelum UUPA.106
b. Pemeliharaan data pendaftaran tanah
Pemeliharaan pendaftaran data pendaftaran tanah adalah kegiatan pendaftaran tanah yang ditujukan bagi tanah yang pernah didaftar akan tetapi kemudian terjadi perubahan-perubahan yang berkaitan dengan tanah tersebut, baik mengenai tanahnya maupun mengenai pemengang haknya. Pemeliharaan data pendaftaran tanah ini meliputi pendaftaran peralihan dan pembebanan hak, serta pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah lainnya,107 dalam pemeliharaan data pendaftaran tanah inilah peran PPAT diperlukan, yaitu apabila terjadi perubahan data pendaftaran tanah yang disebabkan terjadinya perbuatan hukum yang berupa peralihan hak atas tanah dan pembebanan hak atas tanah.
Peralihan hak harus diikuti pendaftarannya pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat yang dimaksudkan untuk memberikan alat bukti yang lebih kuat dan lebih luas daya pembuktiannya dari akta PPAT yang telah dibuat disamping bahwa akta tersebut memang membuktikan telah terjadi peralihan hak atas tanah yang dilakukan serta sahnya peralihan hak tersebut. Tata usaha PPAT sifatnya tertutup untuk umum, sehingga pembuktian peralihan hak atas tanah berlakunya hanya sebatas antara para pihak yang melakukan perbuatan hukum yang bersangkutan, untuk itu agar orang lain juga mengetahui bahwa terjadi peralihan hak perlu untuk didaftarkan yang nantinya akan akan memperoleh alat
106
Ibid, hal.180 107
116
bukti yang kuat berupa sertipikat atas nama penerima hak yang mempunyai kekuatan hukum terhadap pihak ketiga, ini dikarenakan tata usaha pendaftaran tanah di Kantor Pertanahan mempunyai sifat terbuka untuk umum.
Salah satu bentuk peralihan hak atas tanah yang akan penulis gunakan dalam membahas kedudukan akta yang dibuat PPAT dalam pendaftaran tanah adalah melalui jual-beli. Dengan dilakukannya jual-beli di hadapan PPAT maka akan dipenuhi syarat terang yaitu melakukan suatu perbuatan hukum tidak secara sembunyi-sembunyi. Akta jual-beli antara para pihak akan membuktikan bahwa telah terjadi peralihan hak antara penjual kepada pembeli disertai dengan pembayaran harga (dipenuhi syarat tunai) yang membuktikan secara nyata perbuatan hukum jual-beli para pihak telah dilaksanakan. Selain itu pentingnya perbuatan hukum dicatatkan dalam suatu perjanjian juga dikemukakan oleh Judith Law yang mengatakan essentials for the contract for sale :108
1. The Contract for sale of land must be in writing; 2. It must contain all the terms of the agreement; 3. It must be sign by both the parties.
Apabila diterjemahkan, maksud dari Judith Law mengenai hal yang penting untuk perjanjian jual-beli adalah :
1. Perjanjian jual-beli tanah harus tertulis; 2. Harus berisikan semua ketentuan perjanjian; 3. Harus ditandatangani oleh kedua belah pihak.
108
Judith Bray, 2010, Unlocking Land Law, Hodder Education, British, hal.89
117
Terdapat dua syarat jual beli tanah yaitu syarat materiil dan syarat formil, yaitu :109
1. Syarat materiil
Syarat materiil sangat menentukan akan sahnya jual-beli tanah tersebut, antara lain sebagai berikut :
a. Pembeli berhak membeli tanah yang bersangkutan
Maksudnya adalah pembeli sebagai penerima hak harus memenuhi syarat untuk memiliki tanah yang akan dibelinya. Untuk menentukan berhak tidaknya si pembeli memperoleh hak atas tanah yang dibelinya tergantung pada hak apa yang ada pada tanah tersebut, apakah hak milik, hak guna bangunan, atau hak pakai.
b. Penjual berhak menjual tanah yang bersangkutan
yang berhak menjual suatu bidang tanah adalah pemegang yang sah dari hak atas tanah tersebut yang disebut sebagai pemilik., apabila pemilik dari sebidang tanah tersebut hanya seorang maka ia berhak untuk menjual sendiri tanah itu, tetapi apabila pemilik sebidang tanah adalah dua orang maka yang berhak menjual adalah kedua orang itu secara bersama-sama.110
c. Tanah yang bersangkutan boleh diperjualbelikan dan tidak dalam sengketa
109
Adrian Sutedi, Op.cit, hal.77-78 110
Effendi Perangin, 1994, Praktik Jual Beli Tanah, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.2
118
Mengenai tanah-tanah hak apa saja yang boleh diperjualbelikan telah ditentukan dalam UUPA yaitu hak milik (Pasal 20 UUPA), Hak Guna Usaha (Pasal 28 UUPA), Hak Guna Bangunan (Pasal 35), Hak Pakai (Pasal 41).
2. Syarat formil
Setelah semua syarat materiil dipenuhi maka PPAT akan membuatkan akta jual-beli terhadap bidang tanah yang dijadikan objek perjanjian. Maka dari itu untuk mewujudkan suatu kepastian hukum dalam setiap peralihan hak atas tanah, PP Nomor 24 Tahun 1997 telah menentukan bahwa setiap perjanjian yang bermaksud memindahkan hak atas tanah harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh dan di hadapan PPAT,111 jadi yang dimaksud syarat formil disini adalah meliputi akta yang menjadi bukti perjanjian jual-beli serta pejabat yang berwenang membuat akta tersebut. Menurut Boedi Harsono, akta PPAT berfungsi sebagai alat pembuktian mengenai benar sudah dilakukannya jual-beli. Jual-beli tersebut masih bisa dibuktikan dengan alat pembuktian lainnya, tetapi dalam sistem pendaftaran tanah berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 1997 pendaftaran peralihan hak atas tanah hanya dapat dilakukan apabila dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT. Orang yang melakukan jual-beli tanpa dibuktikan dengan akta PPAT tidak akan dapat memperoleh sertipikat hak atas tanah walaupun jual-beli yang dilakukan sah menurut hukum.112
111
Bachtiar Effendi, 1993, Kumpulan Tulisan Hukum tentang Hukum Tanah, Alumni, Bandung, hal.23
112
119
Sertipikat merupakan alat pembuktian yang kuat yang artinya keterangan-keterangan yang tercantum di dalamnya mempunyai kekuatan hukum dan harus dianggap sebagai keterangan yang benar, selama tidak terdapat alat pembuktian lainnya yang membuktikan sebaliknya sesuai dengan apa yang ditentukan dalam Pasal 32 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997. PPAT bertugas untuk membuat, mencatat dan melaporkan setiap akta yang dibuatnya supaya terjadi koordinasi dan pengawasan terhadap setiap bidang tanah yang akan beralih haknya kepada orang lain, dengan adanya pencatatan dan pengawasan yang dilakukan Kantor Pertanahan dengan dibantu oleh PPAT maka setiap perbuatan hukum mengenai hak atas tanah tersebut dapat dikontrol dan diawasi.
Pendaftaran tanah bukan merupakan syarat terjadinya peralihan hak karena pada dasarnya peralihan hak atas suatu tanah sudah terjadi setelah dilakukan jual-neli di hadapan PPAT, dengan demikian jual beli tanah telah sah dan selesai dengan pembuatan akta PPAT dan akta PPAT tersebut merupakan bukti bahwa telah terjadi jual-beli yakni bahwa pembeli telah menjadi pemiliknya dan pendaftaran peralihan hak di Kantor Agraria bukanlah merupakan syarat bagi sahnya transaksi jual-beli tanah dan pendaftaran hanya berfungsi untuk memperkuat pembuktiannya terhadap pihak ketiga atau umum.113 Memperkuat pembuktian maksudnya adalah memperkuat pembuktian mengenai telah terjadinya jual-beli dengan dicatatkan pada buku tanah dan sertipikat hak atas tanah, sedangkan memperluas pembuktian adalah untuk memenuhi asas publisitas, dimana asas publisitas pendaftaran tanah yaitu setiap orang dapat
113
120
mengetahui data fisik berupa letak, ukuran, batas-batas tanah, dan data yuridis berupa subyek hak, status hak, dan peralihan hak atas tanah yang bersangkutan ke Kantor Pertanahan. Terdapat beberapa tahapan dalam peralihan hak atas tanah melalui jual beli agar akta yang dibuat dapat dijadikan dasar pendaftaran tanah yaitu persiapan jual-beli, pembuatan akta dan pendaftaran akta ke Kantor Pertanahan:
- Pertama, persiapan pembuatan akta;
Sebelum melaksanakan pembuatan akta jual-beli hak atas tanah, PPAT wajib melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ke Kantor Pertanahan setempat untuk mengetahui kesesuaian sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan dengan daftar-daftar yang ada di Kantor Pertanahan dengan memperlihatkan sertipikat aslinya. Alasan pemeriksaan ini wajib dilakukan agar tidak terjadi transaksi jual-beli dengan menggunakan sertipikat palsu atau sertipikat ganda atau sertiikat asli tapi palsu yang dilakukan untuk menghindari terjadinya penipuan dalam transaksi tanah dimana pihak penjual bukan merupakan pihak yang mempunyai kewenangan untuk perbuatan hukum yang dimaksud (hal ini berkaitan dengan kecakapan para pihak dalam membuat suatu perjanjian). Sebelum dibuatkan akta, calon penerima hak harus membuat pernyataan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan :114
a. bahwa yang bersangkutan dengan peralihan hak tersebut tidak menjadi pemegang hak atas tanah yang melebihi ketentuan peraturan perundnag-undangan yang berlaku;
114
121
b. bahwa yang bersangkutan dengan peralihan hak atas tanah tersebut tidak menjadi pemegang hak atas tanah absentee menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. bahwa yang bersangkutan menyadari bahwa apabila pernyataan a dan b tersebut tidak benar maka tanah kelebihan atau tanah absentee tersebut menjadi objek landreform;
d. bahwa yang bersangkutan bersedia menanggung semua akibat hukumnya apabila pernyataan a dan b tidak benar.
Tidak semua transaksi mengenai jual-beli dibuatkan aktanya oleh PPAT, dalam keadaan dan dalam hal tertentu PPAT harus menolak pembuatan akta jual-beli hak atas tanah berdasarkan alasan-alasan yang telah ditentukan dalam pasal 39 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997, yaitu antara lain :
a. penjual tidak menyerahkan sertipikat hak atas tanah tersebut atau jika sertipikat yang diserahkan tidak sesuai dengan daftar yang ada di kantor pertanahan atau dengan perkataan lain sertipikat hak atas tanah diragukan keasliannya atau patut diduga sebagai sertipikat palsu;
b. salah satu atau kedua belah pihak tidak berwenang melakukan jual-beli tanah tersebut, misalnya hak atas tanah yang hendak dijual bukan milik penjual, atau saksi yang akan menandatangani akta tidak berhak dan tidak memenuhi syarat untuk bertindak dalam jual-beli;
c. salah satu atau kedua belah pihak, terutama pihak penjual, bertindak atas dasar surat kuasa mutlak yang pada hakikatnya berisikan perbuatan hukum peralihan hak. Dimana surat kuasa mutlak telah dilarang berdasarkan PP ini untuk digunakan sebagai dasar dilakukannya jual-beli;
d. syarat adanya ijin untuk melakukan jual-beli tidak dipenuhi padahal terdapat keharusan adanya ijin dari pejabat yang berwenang untuk mengalihkan hak atas tanah bersangkutan;
e. pembuatan akta jual-beli tidak boleh dilakukan jika objek jual-beli yang bersangkutan sedang dalam sengketa mengenai data fisik dan/atau data yuridis, terutama jika sengketa tersebut telah masuk ke pengadilan sebagai akibat adanya gugatan dari pihak lain;
f. pembuatan akta jual-beli tanah tidak boleh dilakukan jika tidak dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan atau dilanggar larangan yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
122
Menurut penulis, tahapan dalam persiapan pembuatan akta peralihan hak ini berkaitan dengan sahnya suatu perjanjian yang telah ditentukan dalam pasal 1320 KUHPerdata karena PPAT dalam tahap ini lebih memastikan apakah suatu akta dapat dibuat atau tidak.
- Kedua, pembuatan dan penandatanganan akta;
Setelah semua persyaratan dan ketentuan dalam persiapan pembuatan akta dipenuhi, maka kemudian dilanjutkan dengan tahap pembuatan dan penandatangan akta jual-beli oleh PPAT. Pembuatan akta jual-beli harus dihadiri oleh para pihak yang melakukan perbuatan hukum tersebut atau orang yang dikuasakan olehnya dengan surat kuasa tertulis sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, dimana surat kuasa bagi penjual harus dengan akta notaris sedangkan surat kuasa pembeli boleh dibuat dengan akta di bawah tangan.115
Pada saat penandatanganan akta jual-beli di hadapan PPAT, di samping ditandatangani oleh PPAT dan kedua belah pihak juga harus disaksikan oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi yang memenuhi syarat untuk bertindak sebagai saksi dalam perbuatan hukum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Saksi-saksi tersebut memberi kesaksian mengenai kehadiran para pihak ataupun kuasanya, adanya dokumen-dokumen yang ditunjukkan dalam pembuatan akta dan telah dilaksanakannya perbuatan hukum oleh para pihak yang bersangkutan, sebelum akta ditandatangani, PPAT wajib
115
Andy Hartanto, 2009, Problematika Hukum Jual-beli Tanah belum Bersertifikat, laksbang Mediatama, Yogyakarta, hal.62
123
membacakan isi akta kepada para pihak dan memberikan penjelasan mengenai maksud dan isi pembuatan akta, dan prosedur dalam melakukan pendaftaran tanah.
Analisis penulis mengenai tahapan ini adalah berkaitan dengan kewajiban-kewajiban PPAT dalam membuat akta peralihan hak atas tanah yang berkaitan dengan kode etik, selain itu dalam pembuatan akta yang tujuan dibuatnya adalah digunakan sebagai alat bukti untuk memastikan suatu peristiwa hukum PPAT harus menuangkan/mengkonstatuir perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pihak sedemikian rupa sehingga tidak memuat rumusan-rumusan yang dapat menimbulkan sengketa karena tidak lengkap ataupun tidak jelas dan apa yang ingin dibuktikan itu diketahui dengan mudah dari akta yang dibuat.
- Ketiga, pendaftaran akta peralihan hak atas tanah.
Setelah akta tersebut ditandatangani, tahap selanjutnya adalah pendaftaran akta jual-beli tersebut. Telah ditentukan dalam Pasal 40 ayat (1), PPAT dalam menyampaikan akta jual-beli dan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk keperluan pendaftaran peralihan hak atas tanah yang bersangkutan kepada Kantor Pertanahan dalam jangka waktu paling lambat 7(tujuh) hari kerja sejak penandatanganan akta dilakukan. Dalam pengajuan pendaftaran akta jual-beli untuk keperluan dilakukan balik nama dari penjual ke pembeli, terdapat dokumen yang harus dilampirkan yaitu :
a. Surat permohonan pendaftaran pemindahan hak yang ditandatangani oleh penerima hak (pembeli) atau kuasanya;
b. Surat kuasa tertulis penerima hak (pembeli) apabila yang mengajukan permohonan pendaftaran pemindahan hak bukan penerima hak (pembeli),
124
demikian pula jika yang mengajukan permohonan pendaftaran adalah PPAT atau pegawai PPAT maka harus disertai dengan surat kuasa;
c. Akta jual-beli yang dibuat oleh PPAT yang pada waktu pembuatan akta tersebut PPAT bersangkutan masih menjabat dan yang daerah kerjanya meliputi letak tanah yang bersangkutan;
d. Fotocopy identitas dari pihak yang mengalihkan hak (penjual); e. Forocopy identitas dari pihak yang menerima hak (pembeli); f. Sertipikat hak atas tanah asli yang dialihkan (dijualbelikan);
g. Izin pemindahan hak dari pejabat yang berwenang apabila diharuskan adanya ijin untuk mengalihkan hak atas tanah tersebut;
i. Bukti pelunasan pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dalam hal bea tersebut terutang;
j. Bukti pelunasan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.
Setelah permohonan pendaftaran diperiksa oleh kantor Pertanahan dan dokumen-dokumen yang diperlukan dinilai sudah lengkap, kemudian kantor Pertanahan akan memberikan tanda penerimaan. PPAT memberitahukan kepada penerima hak (pembeli) bahwa permohonan dan dokumen yang diperlukan sudah diserahkan pada Kantor Pertanahan setempat, dalam hal peralihan hak atas tanah yang belum terdaftar, maka akta PPAT yang bersangkutan dijadikan alat bukti dalam pendaftaran pertama hak tersebut atas nama pemegang hak terakhir. 116
Berdasarkan penjelasan di atas, kedudukan akta PPAT dalam pendaftaran tanah khususnya dalam pemeliharaan data pendaftaran tanah adalah sebagai bukti yang sah bahwa benar telah terjadi peralihan hak maupun pembebanan suatu hak terhadap objek. Perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pihak mempunyai kekuatan hukum dan jaminan kepastian hukum.
116
Yamin Lubis dan Rahim Lubis, 2010, Hukum Pendaftaran Tanah Edisi Revisi, Mandar Maju, Bandung, hal.491
125
4.3 Tanggung Jawab Camat Sebagai PPAT Sementara Terhadap Akta Yang