• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Dan Dasar Hukum Camat Sebagai PPAT Sementara

CAMAT SEBAGAI PPAT SEMENTARA

3.1. Pengertian Dan Dasar Hukum Camat Sebagai PPAT Sementara

Camat adalah pegawai pamong praja yang mengepalai suatu wilayah kecamatan. Kedudukannya seperti tersebut bersumber pada UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang otonomi daerah, dalam ketentuan Pasal 1 angka 5 menegaskan bahwa otonomi daerah adalah “hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”, sedangkan daerah otonom berdasarkan angka 6-nya merupakan “kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud di atas pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri melimpahkan sebagian wewenangnya kepada pejabat-pejabat dalam daerah/wilayah kerjanya, salah satunya adalah kepala wilayah yang merupakan penguasa di wilayah kerjanya adalah camat.

Hal demikian juga ditentukan dalam PP Nomor 19 Tahun 2008 Pasal 1 angka 9 bahwa camat atau sebutan lain adalah pemimpin atau koordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kerja kecamatan yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan kewenangan pemerintahan dari

83

Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, dan menyelenggarakan tugas umum pemerintahan, sehingga camat bertugas dan mempunyai wewenang sebagai koordinator dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan setingkat dibawah kabupaten/kota.

Salah satu tugas dan tanggung jawab camat selaku pelaksana tugas-tugas pemerintahan di tingkat kecamatan dalam rangka mewujudkan kepastian hukum hak-hak atas tanah bagi masyarakat di wilayah kerjanya, maka camat wajib mengkoordinasikan perangkat pemerintahannya dalam pelaksanaan PP Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah untuk mengedukasi masyarakat pemilik tanah yang belum mempunyai bukti hak atas tanahnya, yaitu sertipikat sehingga tumbuh kesadarannya untuk mendaftarkan hak-hak atas tanahnya pada yang berwenang yakni kantor Pertanahan Nasional Kabupaten/Kota setempat letak tanah tersebut berada. Selain itu, di dalam praktek camat juga dapat berperan selaku PPAT sementara yang diberi wewenang membuat akta PPAT tentang peralihan hak atas tanah, sehingga kedua jenis pelaksanaan tugas dan wewenang camat seperti tersebut mampu mewujudkan tujuan untuk memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun, dan hak-hak lain yang terdaftar.

Kedudukan camat selaku PPAT Sementara pada dasarnya diperoleh dari keberadaan akta PPAT yang dibuatnya sebagai alat pendaftaran peralihan hak berdasarkan Pasal 37 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997 yang menentukan :

peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual-beli, tukar-menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT

84

yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari ketentuan tersebut PPAT merupakan pejabat yang diberi wewenang untuk membuat akta otentik yang digunakan sebagai alat pendaftaran hak pada kantor Pertanahan sebagaimana dimasudkan Pasal 1 angka 1 PP Nomor 37 Tahun 1998, bahwa PPAT adalah “pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun”.

Selain berdasar pada ketentuan di atas, kedudukan camat selaku PPAT Sementara secara lebih spesifik diperoleh berdasar pada ketentuan Pasal 1 angka 2 PP Nomor 37 Tahun 1998 yang memberi batasan atau pengertiannya bahwa : “PPAT Sementara adalah pejabat pemerintahan yang ditunjuk karena jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT”. Dengan adanya ketentuan-ketentuan tersebut maka camat selaku pejabat Tata Usaha Negara/pejabat pemerintahan yang mempunyai tugas pokok sebagai kepala wilayah kecamatan, yang menjalankan tugas jabatannya berdasar pada undang-undang kepegawaian juga berkedudukan selaku PPAT Sementara yang diberi wewenang membuat akta otentik sebagai bukti telah dilakukannya suatu perbuatan hukum peralihan hak atas tanah dan sebagai alat pendaftaran peralihan hak atas tanah tersebut.

Apabila ditelaah lebih lanjut tentang pengertian PPAT Sementara yang sebagaimana ketentuan Pasal 1 angka 2 PP Nomor 37 Tahun 1998, maka kedudukan selaku PPAT Sementara mengandung unsur-unsur yaitu : (1) pejabat pemerintahan yang ditunjuk karena jabatannya dan (2) di daerah yang belum

85

cukup terdapat PPAT. Dalam hal itu berdasar pada ketentuan Pasal 7 ayat (2) PP Nomor 24 Tahun 1997 yang menentukan bahwa : “untuk desa-desa dalam wilayah yang terpencil Menteri dapat menunjuk PPAT Sementara, maka camat diangkat serta diberi wewenang selaku PPAT Sementara”.

Selain ketentuan di atas dalam Pasal 5 ayat (3) huruf a PP Nomor 37 Tahun 1998 juga menentukan :

untuk melayani masyarakat dalam pembuatan akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT atau untuk melayani golongan masyararakat tertentu dalam pembuatan akta PPAT tertentu, Menteri dapat menunjuk pejabat-pejabat di bawah ini sebagai PPAT sementara atau PPAT Khusus : a. Camat atau kepala desa untuk melayani pembuatan akta di daerah yang

belum cukup terdapat PPAT, sebagai PPAT Sementara;

b. Kepala Kantor Pertanahan untuk melayani pembuatan akta PPAT yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan program-program pelayanan masyarakat atau untuk melayani pembuatan akta PPAT tertentu bagi negara sahabat berdasarkan asas resiprositas sesuai pertimbangan dari Departemen Luar Negeri, sebagai PPAT Khusus.

Merupakan salah satu peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum penunjukan camat sebagai PPAT Sementara, dimana camat yang pada dasarnya adalah seorang pejabat Tata Usaha Negara/pejabat pemerintahan diberi wewenang berdasarkan jabatannya untuk dapat bertindak secara hukum membuat akta otentik/akta PPAT mengenai perbuatan-perbuatan hukum, khususnya tentang peralihan hak atas tanah.