• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian (research) pada hakikatnya adalah suatu kegiatan pencarian kebenaran dari ilmu pengetahuan yang diawali karena adanya keraguan atau keingintahuan dari seorang peneliti terhadap suatu masalah hukum yang ada atau dialaminya. Pada umumnya permasalahan adalah kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya, antara cita-cita hukum dengan senyatanya, dan antara teori dengan pelaksanaannya.34 Dari segi etimologi, metode berarti jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan, sehingga metode penelitian merupakan jalan atau cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan penelitian. Pengertian di atas menunjukkan bahwa metode sangat berperan penting dalam

34

Amiruddin dan Zaenal Asikin, 2003, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.34

33

kegiatan penelitian.35 Menurut Romy Hanintijo Sumitro tentang penelitian hukum, bahwa penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian hukum normatif dan penelitian hukum sosiologis.36

1.6.1 Jenis penelitian.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah jenis penelitian hukum normatif yang berangkat dari adanya kekaburan norma pada Pasal 5 ayat (3) PP No 37 Tahun 1998 yang menyatakan bahwa : “untuk melayani masyarakat dalam pembuatan akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT atau untuk melayani masyarakat tertentu dalam pembuatan akta PPAT tertentu, Menteri dapat menunjuk pejabat-pejabat dibawah ini sebagai PPAT Sementara atau PPAT Khusus...”. Dalam Pasal tersebut dipahami bahwa camat diangkat oleh Menteri dalam penunjukannya sebagai PPAT Sementara tetapi dalam PKBPN Nomor 1 Tahun 2006, camat diangkat oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi yang menerima kewenangan secara delegasi dari Menteri Agraria/Kepala BPN RI.

Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal, pada penelitian jenis ini, acap kali hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis di dalam Peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum yang dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku

35

Astiti rahayu, diakses tanggal 24 Maret 2013, Metode dan Desain Penelitian, http://astitirahayui.wordpress.com/2012/05/15/metodologi-penelitian

36

Romy Hanintijo Soemitro, 1988, Metode Penelitian Hukum dan Jurumetri, Ghalis, Jakarta, hal.11

34

manusia yang dianggap pantas37. Penelitian hukum normatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :38

- Beranjak dari adanya kesenjangan dalam norma/asas hukum dengan praktek;

- Tidak menggunakan hipotesis; - Menggunakan landasan teoritis;

- Menggunakan bahan hukum yang terdiri atas bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

Penulisan penelitian ini menggunakan penelitian yang bersifat eksploratif, dimana penelitian eksploratif bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai suatu gejala tertentu atau untuk mendapatkan ide-ide baru mengenai suatu gejala tersebut.

1.6.2 Jenis Pendekatan.

Didalam penelitian hukum terdapat beberapa macam pendekatan, dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya. Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum adalah :

1. Pendekatan kasus (the case approach);

2. Pendekatan peraturan perundang-undangan (the statute approach) ; 3. Pendekatan fakta (the fact approach);

4. Pendekatan analisis konsep hukum (analytical and conceptual approach);

37

Amiruddin dan Zaenal Asikin, op.cit, hal.118 38

Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana, 2011, Pedoman Pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Denpasar, hal.48

35

5. Pendekatan frasa (words and phrase approach); 6. Pendekatan sejarah (historical approach);

7. Pendekatan perbandingan (comparative approach);

Penulisan penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (the

statute approach), pendekatan analisis konsep hukum (the analytical and conceptual approach) dan pendekatan sejarah (historical approach). Pendekatan

perundang-undangan adalah pendekatan dengan menggunakan legilasi dan regulasi.39 Pendekatan peraturan perundang-undangan dilakukan dengan menelaah, mengkaji dan menganalisis semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan PPAT, pendaftaran tanah dan peralihan hak atas tanah. Pendekatan analisis konsep hukum adalah dengan memakai konsep-konsep hukum yang terdapat didalam norma-norma suatu peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Pendekatan sejarah dilakukan dengan meneliti sejarah pendaftaran tanah di Indonesia dan sejarah peralihan hak atas tanah melalui jual-beli menurut hukum adat maupun menurut UUPA.

1.6.3 Sumber bahan hukum.

Didalam suatu penelitian normatif, sumber data yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier,40 yang dimaksud dengan bahan hukum primer adalah seluruh hukum perundang-undangan yang berlaku dan/atau yang pernah berlaku, sementara itu yang dimaksud dengan bahan hukum sekunder ialah seluruh karya akademik (mulai

39

Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, hal.97

40

36

dari yang deskriptif sampai yang berupa komentar-komentar penuh kritik) yang akan dapat memperkaya pengetahuan orang tentang hukum positif yang tengah berlaku (ius constitutum)41. Bahan-bahan hukum yang digunakan sebagai sumber data oleh penulis yaitu :

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat berdasarkan Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 8 UU Nomor 12 Tahun 2011, di dalam penulisan penelitian ini peraturan perundang-undangan yang dipergunakan sebagai bahan hukum primer adalah :

a. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata);

c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;

d. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara juncto undang Nomor 9 Tahun 2004 juncto Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009;

e. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah;

f. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;

g. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 Tentang Pendaftaran tanah;

41

Sulistyowati Irianto dan Shidarta, 2011, Metode Penelitian Hukum : Konstelasi dan Refleksi, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, hal.90

37

h. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan PPAT;

i. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Kecamatan j. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006

Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah; k. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia

Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang bersifat membantu atau menunjang bahan hukum primer dalam penelitian yang akan memperkuat penjelasan didalamnya. Jenis bahan-bahan hukum sekunder dalam penelitian adalah buku-buku, tesis, jurnal, dan dokumen-dokumen. Bahan hukum sekunder yang digunakan didalam penulisan penelitian ini adalah dengan menggunakan bahan kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam penulisan penelitian ini serta memakai pendapat-pendapat para ahli hukum.

3. Bahan hukum tertier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus hukum dan ensiklopedia.

38

1.6.4 Teknik pengumpulan bahan hukum.

Alat pengumpul data (instrument) menentukan kualitas data, kualitas data akan menentukan kualitas dari sebuah penelitian. Agar data penelitian mempunyai kualitas yang cukup tinggi, maka suatu alat pengumpul data harus memenuhi syarat-syarat :

- Akurasi dari instrument yang pada hakikatnya berkaitan dengan validitas

instrument yang dapat dikategorikan dengan validitas kualitatif dan

validitas kuantitatif;

- Presisi instrument berkaitan erat dengan kemampuan memberikan kesesuaian hasil pada pengulangan pengukuran.

Menurut Soerjono Soekanto, dalam penelitian lazimnya dikenal tiga jenis pengumpul data, yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, pengamatan, dan observasi.42 Teknik pengumpulan bahan hukum yang penulis gunakan didalam penulisan penelitian ini adalah dengan melakukan studi dokumen/bahan pustaka. Studi dokumen merupakan langkah awal dari setiap penelitian hukum (baik hukum normatif maupun sosiologis), karena penelitian hukum selalu bertitik tolak dari premis normatif.

1.6.5 Teknik analisis bahan hukum.

Bahan-bahan hukum yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik deskripsi-analisis dan teknik interpretasi. Teknik deskripsi-analisis merupakan teknik dasar analisis yang tidak dapat dihindari penggunaannya. Deskripsi berarti uraian apa adanya terhadap suatu kondisi atau posisi dari

42

39

proposisi-proposisi hukum atau non hukum. Analisis merupakan memberikan suatu simpulan berdasarkan uraian-uraian ataupun suatu kondisi norma hukum yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat, jadi deskripsi analisis merupakan menguraikan suatu kondisi permasalahan yang ada yang kemudian disimpulkan agar mendapatkan jawaban-jawaban dari permasalahan yang diangkat dalam penulisan tesis ini.

Teknik interpretasi merupakan penggunaan jenis-jenis penafsiran dalam ilmu hukum. Penafsiran hukum adalah aktivitas yang mutlak terbuka untuk dilakukan sejak hukum berbentuk tertulis. Penafsiran atau interpretasi hukum menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk menjadikan hukum bersifat dinamis, bisa mengikuti zaman.43 Teknik interpretasi yang akan digunakan dalam menjawab adanya kekaburan norma dalam Pasal 5 ayat (3) PP No 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan PPAT yang tidak menjelaskan secara lebih lanjut didalam peraturan pemerintah tersebut mengenai apa yang dimaksud sementara dalam jabatan camat sebagai PPAT sementara adalah interpretasi tata bahasa/gramatikal dan interpretasi sistematis. Penafsiran tata bahasa/gramatikal merupakan cara penafsiran yang paling sederhana untuk mengetahui makna ketentuan Undang-undang dengan menguraikannya menurut bahasa, susunan kata atau bunyinya, dan interpretasi sistemasis dilakukan dengan menghubungkan pasal yang satu dengan pasal yang lain dalam suatu perundang-undangan yang bersangkutan, atau pada perundang-undangan hukum yang lainnya atau dengan

43

Moh. Nashirudin, diakses tanggal 11 Agustus 2013, Interpretasi Hukum (Menuju Penafsiran Hukum Yang Berkeadilan), http://sofianasma.wordpress.com /2010/12/6/interpretasi-hukum-menuju-penafsiran-hukum-yang-berkeadilan/

40

membaca penjelasan suatu perundang-undangan sehingga didapatlah sebuah kejelasan tentang sesuatu. Dengan menggunakan metode interpretasi tersebut diharapkan mampu menjawab adanya kekaburan norma yang terjadi.

41

BAB II