• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan KPPU sebagai Lembaga State Auxiliary

KEDUDUKAN KPPU DALAM LEMBAGA EXTRA AUXILIARY

3.1 Kedudukan KPPU sebagai Lembaga State Auxiliary

--

-3.1 Kedudukan KPPU sebagai Lembaga State Auxiliary

Persaingan usaha yang sehat kini semakin berkembang di masyarakat. Hal ini tidak hanya berlaku bagi para pelaku usaha, akademisi maupun para pakar hukum, melainkan juga sudah menjadi hal yang dikenal secara luas oleh masyarakat. Masyarakat sudah semakin sadar bahwa persaingan yang sehat dan anti praktek monopoli merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kesadaran berusaha yang baik dan meningkatkan perekonomian mayarakat pada umumnya.

Latar belakang lahirnya Undang-undang No. 5 Tahun 1999 (selanjutnya disebut ”UU No. 5/1999”) tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah sebagai berikut:

1. Masyarakat belum mampu berpartisipasi dalam peluang usaha yang ada; 2. Perkembangan usaha swasta sangat diwarnai oleh berbagai bentuk

kebijakan pemerintah yang kurang tepat;

3. Adanya hubungan antara pengambil keputusan dengan para pelaku usaha;

7 Soehino, Ilmu Negara, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1998.

8 Ngesti D.P., model harmonisasi kedudukan dan harmonisasi komisi-komisi negara dalam sistem ketatanegaraan, Malang, 2010.

4. Para pengusaha yang dekat dengan elit kekuasaan mendapatkan kemudahan yang berlebihan;

5. Kurang mempunyai pelaku usaha yang mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Situasi dan kondisi tersebut di ataslah yang melatarbelakangi lahirnya UU No. 5/1999 dan sekaligus adanya perintah untuk dibentuk lembaga pengawas. Adapun urgensi atau pentingnya memiliki undang-undang yang mengatur tentang persaingan usaha yang sehat dan juga lembaga pengawasnya adalah sebagai berikut:

1. Untuk menciptakan persaingan sehat guna mencapai ekonomi pasar yang efisien;

2. Sumber daya alam teralokasikan secara efisien;

3. Konsumen memiliki banyak pilihan atas produk barang dan atau jasa yang tersedia di pasar;

4. Memungkinkan munculnya inovasi jika terjadi persaingan yang sehat; 5. Harga barang dan atau jasa ideal baik dari kualitas maupun biaya produksi. Jika dilihat dari sisi urgensi pentingnya memiliki undang-undang yang mengatur persaingan usaha yang sehat, menjadi beban yang ditanggung oleh KPPU sebagai lembaga pengawas untuk mengawal pelaksanaan UU No. 5/1999. Maka sebagai lembaga state auxiliary tidak berada baik di bawah eksekutif, legislatif maupun yudikatif, KPPU merupakan lembaga yang independen menjalankan tugas, mengawal dan mengawasi adanya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Bidang tersebut tidak berada di bawah lembaga di tingkat eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Dasar pertimbangan dibentuknya KPPU adalah untuk mengawal perkembangan demokrasi di bidang ekonomi yang menghendaki adanya kesempatan yang sama bagi semua warga negara dalam proses produksi dan pemasaran barang dan jasa, dalam iklim usaha yang sehat, kondusif, efisien sehingga dapat menumbuhkan peningkatan ekonomi dalam pasar yang wajar9. Hal ini untuk menjamin setiap hak warga negara dalam melakukan persaingan usaha yang sehat dan menghindari pemusatan kegiatan ekonomi tertentu pada suatu kelompok tertentu dengan tidak lepas dari Hukum dan Perjanjian Internasional yang diratifikasi oleh Negara Republik Indonesia. Seperti yang telah diamanatkan oleh UU No. 5/1999, KPPU mempunyai tugas untuk mengawasi dunia usaha di Indonesia guna menciptakan suatu iklim usaha yang sehat dimana KPPU mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai tombak perencanaan dan pelaksanaan penegakan hukum persaingan di Indonesia10.

9 Jimmly Asshidiqqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK, 2006.

Dr. Sukarmi, S.H., M.H.

KPPU merupakan suatu organ khusus yang mempunyai tugas ganda selain menciptakan ketertiban dalam persaingan usaha juga berperan untuk menciptakan dan memelihara iklim persaingan usaha yang kondusif. Meskipun KPPU mempunyai fungsi penegakan hukum khususnya Hukum Persaingan Usaha, namun KPPU bukanlah lembaga peradilan khusus persaingan usaha. Dengan demikian KPPU tidak berwenang menjatuhkan sanksi baik pidana maupun perdata. Kedudukan KPPU lebih merupakan lembaga administratif, sehingga sanksi yang dijatuhkan merupakan sanksi administratif11.

Dalam Pasal 30 (1) UU No. 5/1999 disebutkan bahwa dalam mengawal pelaksanaan undang-undang ini, maka dibentuklah Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Komisi ini merupakan Komisi yang bebas dan independen. Bebas dari pengaruh kekuasaan manapun dan bertangung jawab kepada Presiden.

Tugas dan fungsi komisi pengawas persaingan usaha adalah12:

1. Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 4 sampai Pasal 16.

2. Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai Pasal 24. 3. Melakukan penilaian terhadap ada atau tidaknya penyalahgunaan

Posisi Dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai Pasal 28.

4. Mengambil tindakan sesuai dengan kewenangan Komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36.

5. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan praktek-praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

6. Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan undang-undang ini.

7. Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja Komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Sedangkan wewenang komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36 yaitu: 1. Menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang

dugaan terjadinya terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

11 Andi Fahmi Lubis, dkk, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, deutch gesellschaft fur technische zusammenarbeit (GTZ), 2009.

2. Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

3. Melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap kasus dugaan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat dan atau pelaku usaha atau menghadirkan pelaku usaha, saksi, ahli, atau setiap orang.

4. Meminta keterangan dari instansi pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini.

5. Mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, alat bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan.

6. Memutus dan menetapkan ada atau tidaknya kerugian di pihak pelaku usaha lain dan masyarakat.

7. Memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. 8. Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administatif kepada pelaku usaha

yang melanggar ketentuan dalam undang-undang ini.

Sebagai salah satu komisi negara, maka anggaran pelaksanaan Komisi ini dibebankan kepada APBN (berdasarkan Pasal 37 UU No.5/1999) atau sumber-sumber lain yang diperbolehkan berdasarkan peraturan yang berlaku.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, KPPU lebih masuk ke dalam Lembaga Negara sebagaimana yang dimaksudkan oleh Jimly Assidiqie. Lembaga ini bersifat independen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) UU No. 5/1999 bahwa : “Komisi adalah suatu lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan Pemerintah serta pihak lain”.