• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan PTPIN dalam Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Baru

Dalam dokumen Master-Plan-NCICD-Final.pdf (Halaman 56-63)

Sanitasi dan Pengelolaan Air Limbah

3.3 Kedudukan PTPIN dalam Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Baru

Dipandang dari sudut tata ruang terkait arahan pembangunan perkotaan (urban develo-ment) pesisir ibukota negara, maka berikut ini adalah pertimbangan utama mengapa pro-gram seperti PTPIN cukup dibutuhkan:

• Diperlukan upaya mengintegrasikan solusi tata air dengan reklamasi lahan, pengem-bangan transportasi dan kebutuhan pengempengem-bangan ruang kota dalam kerangka pengembangan kawasan pesisir, untuk menghasilkan pendapatan dalam membiayai tindakan perlindungan banjir.

• Diperlukan adanya arahan pengembangan kota baru pada lahan reklamasi dan mem-posisikannya kedalam pengembangan kawasan strategis Jabodetabekpunjur dan ren-cana tata ruang daerah

Gambar 3.12 Roadmap Penge-lolaan Air Limban Domestik di DKI Jakarta

Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabek-punjur telah ditetapkan pada 12 Agustus 2008. Perpres ini merupakan payung hukum bagi penataan ruang kawasan Jabodetabekpunjur sebagai suatu kesatuan ekologis. Penataan Ruang kawasan Jabodetabekpunjur memiliki peran sebagai acuan bagi penyelenggaraan pembangunan yang berkaitan dengan upaya konservasi air tanah, upaya menjamin terse-dianya air tanah dan air

Perpres No. 54 Tahun 2008 juga menetapkan arahan pemanfaatan ruang kawasan pesisir utara DKI Jakarta sebagai Zona Penyangga:

• Zona P1 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang berfungsi untuk mencegah abrasi, intrusi air laut, pencemaran dan kerusakan dari laut. Pemanfaatan diarahkan un-tuk menjaga fungsi zona N1.

• Zona P2 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang berfungsi untuk referensi banjir mencegah abrasi, intrusi air laut, pencemaran dan kerusakan dari laut. Peman-faatan diarahkan untuk menjaga fungsi zona N1 dan zona P5.

• Zona P3 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mendukung zona dengan intensitas pemanfaatan yang tinggi dan tingkat aksesibilitas yang tinggi. Pemanfaatan diarahkan untuk menjaga fungsi zona B1.

• Zona P4 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mempunyai daya dukung rendah. Pemanfaatan diarahkan untuk menjaga fungsi zona B2 dan zona B4.

• Zona P5 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang berfungsi untuk

mence-Arahan urban development PTPIN

Perpres

Jabodetabekpunjur RTRW DKI Jakarta RDTR Kawasan Reklamasi

Kebijakan PTPIN akan merubah perpres jabodetabekpunjur

Kebijakan PTPIN akan merubah ‘sebagian’ RTRW DKI Jakarta • Sebagian sdh terakomodir • Ada yg belum terakomodir Kebijakan reklamasi Struktur dan pola ruang

Arahan dalam menyusun RDTR kawasan Rreklamasi • Arahan pengembangan kaw. • Arahan pola ruang • Arahan sarana dan prasarana • arahan umum Peraturan zonasi

• Insentif disinsentif • Perijinan • kelembagaan • Peran kawasan dalam konstelasi regional • Peran kawasan sebagai penyangga Ibukota Nagara • berpengaruh thd kab / kota bekasi dan kab Tangerang bagian utara

Gambar 3.13 Bagan Arahan Pem-bangunan Perkotaan PTPIN dalam Kerangka Kebijakan Tata Ruangh

gah abrasi, retensi air, intrusi air laut, dan konservasi hutan bakau dengan daya dukung lingkungan rendah. Pemanfaatan diarahkan sebagai penyangga zona N1 dan zona B1. Berdasarkan Perda No.1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030, kawasan Pantura Jakarta di kembangkan sebagai pusat kegiatan primer yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala nasional atau beberapa provinsi dan internasional.

Dalam skala regional struktur ruang kawasan pantai utara ibukota negara berfungsi : • Bagian dari sistem pusat kegiatan dalam Propinsi DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang

dan Kabupaten Bekasi.

• Arahan pembentuk keterpaduan sistem pusat kegiatan antar wilayah Propinsi DKI Ja-karta , Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.

Gambar 3.14 Pola Ruang Jabode-tabekpunjur (Perpres No.54 Tahun 2008)

Zona P5 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang berfungsi untuk mencegah abrasi, retensi air, intrusi air laut, dan konservasi hutan bakau dengan daya dukung lingkungan rendah. Pemanfaatan diarahkan sebagai penyangga zona N1 dan zona B1

Zona P3 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang mendukung zona dengan intensitas pemanfaatan yang tinggi dan tingkat aksesibilitas yang tinggi. Pemanfaatan diarahkan untuk menjaga fungsi zona B1.

Zona P2 : Zona dengan karakteristik sebagai kawasan yang berfungsi untuk referensi banjir mencegah abrasi,

intrusi air laut, pencemaran dan kerusakan dari laut. Pemanfaatan diarahkan untuk menjaga fungsi zona N1

dan zona P5. Dikaitkan dengan

Manajemen sistem tata air di kawasan pantai utara ibukota negara P3 P5 P2 P4 P1 Gambar 3.15 Arahan Pembangunan Perkotaan Berdasarkan Perpres No.54/2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur

Gambar 3.16

Arahan Urban Develop-ment Berdasarkan Perda No.1/2012 tentang RTRW Jakarta 2030

3.4 Transportasi

Menurut RTRW DKI Jakarta 2011-2030, tujuan utama dari pengembangan sistem trans-portasi umum perkotaan adalah untuk menciptakan sistem transtrans-portasi yang efisien yang dapat mendukung pertumbuhan sosial-ekonomi yang positif, menciptakan kesetaraan

ke-sempatan untuk perjalanan nyaman dan aman bagi seluruh masyarakat, dan penekanan pada peningkatan transportasi umum massal. Pada saat ini, dua moda transportasi publik yang diadakan di Jakarta yaitu Bus Rapid Transit system (Trans-Jakarta Busway) dan Kereta Mass Rapid Transit (MRT). Di masa depan, jenis lain dari moda transportasi juga akan dikem-bangkan. Sungai dan kanal di Jakarta mempunya kemungkinan untuk pengembangan transportasi sungai. Untuk ini diperlukan kedalaman air sungai yang lebih stabil.

Gambar 3.17 Rencana Jaringan Angkutan Umum Tahun 2030

Selain pembangunan prasarana transportasi, langkah-langkah untuk mengurangi peng-gunaan kendaraan pribadi juga direncanakan. Kebijakan yang diusulkan mencakup 3-in-1, Electronic Road Pricing (ERP) dan car-pooling.

Untuk mengatasi permasalahan transportasi ketika “Garuda Megah” dibangun dan menga-komodasi pergeseran ke arah penggunaan transportasi publik yang lebih banyak, jaringan transportasi publik yang baik telah dirancang . Jaringan ini terdiri atas:

• Tanggul laut akan menyediakan satu rute untuk kereta api cepat, sebagai bagian dari kereta api cepat di sepanjang pantai utara Jawa (Cilegon -Banyuwangi).

• Kereta api barang di timur wilayah pesisir untuk menghubungkan Tanjung Priok den-gan daerah pusat kota.

• Mass Rapid Transit (MRT) untuk menghubungkan Central Business District (CBD) dengan pusat kota. Koneksi ini merupakan perpanjangan koridor selatan-utara di kota Jakarta. • Koneksi MRT opsional melalui reklamasi lahan yang telah direncanakan di sepanjang

pesisir untuk menghubungkan secara langsung CBD Garuda Megah dengan bandara.

Gambar 3.18 Rencana Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok

Gambar 3.19 Konsep Pengemban-gan JarinPengemban-gan Trans-portasi Darat

Sumber: Master Plan NCICD

Lintasan transportasi laut nelayan,

penumpang dan barang skala kecil dan sedang Lintasan transportasi laut pariwisata

Lintasan transportasi laut untuk barang dan penumpang skala besar

Dermaga dan pelabuhan yang sudah ada di daratan

Rencana pengembangan dermaga wisata di lahan reklamasi

Gambar 3.20 Konsep Pengemban-gan JarinPengemban-gan Trans-portasi Laut

Dalam dokumen Master-Plan-NCICD-Final.pdf (Halaman 56-63)