• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU PEDULI LINGKUNGAN

4. Keefektifan Model STEcS

Keefektifan suatu model didasarkan pada mempertanyakan ketercapaian tujuan mengembangkan model tersebut, yang berkaitan dengan spesifikasi model yang disampaikan di kelas (Budiyono, 2017). Keefektifan model memerlukan pendekatan aspek-aspek pada model

sehingga siswa bisa secara mendalam siap pada proses pembelajaran (Biggs et al., 2011).

Keefektifan model STEcS didukung dengan memperhatikan keterlaksanaan komponen-komponen model sehingga tercapai tujuan pengembangan model. Beberapa tahapan uji coba dan revisi terhadap produk dilakukan untuk tercapainya tujuan pengembangan model.

Pada uji coba skala terbatas juga diberikan evaluasi untuk mengetahui keefektifan. Jumlah partisipan yang digunakan dalam uji coba skala terbatas terdiri dari 38 mahasiswa kelas eksperimen dengan menggunakan tes uraian jawaban terbuka. Hasil tes dianalis dengan menggunakan Rasch model dan N-Gain. Hasil analisis pada kelas uji terbatas untuk mengukur item fit dari instrumen serta abilitas person dari mahasiswa. Hasil instrument menunjukkan reliabilitas person 0.9 dan sebaran/separation 3.06 yang menunjukkan instrumen dapat mengukur dari kemampuan yang rendah hingga kemampuan tinggi. Hasil uji coba terbatas juga menganalis keefektifan model dengan mengukur N-Gain disajikan dengan membandingkan antara post test dikurangi dengan pre test yang dibagi dengan selisih antara nilai maksimal dikurangi pre test. Hasil N-Gain sebesar 0,43 menunjukkan bahwa keefektifan model tergolong sedang. Pada uji coba terbatas, secara kualitatif menunjukkan penerapan model belum optimal, beberapa sintak dan sistem sosial yang terbentuk serta komponen-komponen model yang lainnya belum dapat terlaksana dengan baik. Berbagai upaya perbaikan dilakukan dengan berkonsultasi pakar untuk memperoleh masukan. Pada tahapan uji coba terbatas, diskusi dengan dosen model senantiasa dilakukan untuk menyatukan visi mengenai pentingnya materi dan penerapan model STEcS. Pada saat dosen model sudah memiliki visi yang sama dalam penerapan model STEcS maka proses pembelajaran selanjutnya lebih mudah dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa emosi dan kondisi seorang guru mempengaruhi pencapaian belajar siswa (Braun et al., 2020). Setelah dilakukan revisi dan evaluasi terhadap uji coba skala terbatas maka produk diuji cobakan pada tingkatan yang lebih luas dengan dilanjutkan pada uji coba skala luas.

Uji coba skala luas dilakukan di tiga universitas yaitu UNESA, UNS dan UNIKA Ruteng-Flores, dengan jumlah sampel 110 mahasiswa pada eksperimen, hal ini sudah sesuai dengan standar pada Borg and Gall yaitu antara 40 sampai 200 partisipan pada tahapan operational field testing (Borg & Gall, 1983). Hasil analisis uji skala luas dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif, hasil observasi pada pelaksanaan uji skala luas menunjukkan bahwa mahasiswa sudah dapat mengikuti langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan model STEcS sehingga

keterlaksanaan model dapat diterapkan dalam seluruh proses pembelajaran. Sistem sosial yang dibentuk dalam pembelajaran menunjukkan mahasiswa bisa nyaman mengikuti proses pembelajaran. Suasana kelas yang terbentuk menjadi suasana kelas yang menyenangkan. Pada proses pembelajaran mahasiswa dapat melakukan diskusi kelompok dan mengerjakan tugas dengan nyaman.

Mahasiswa selain melakukan pembelajaran di dalam kelas dengan santai, mahasiswa melakukan pembelajaran outdoor melalui kegiatan tahapan organisasi dan investigasi, mahasiswa melakukan kajian literatur dengan cara daring maupun luring di perpustakaan, mahasiswa melakukan investigasi tentang kondisi lingkungan secara berkelompok maupun mandiri disekitar rumah masing-masing, serta mengaplikasikan pengetahuan mereka kepada anak-anak disekitar rumah mereka. Sistem sosial yang dibentuk pada proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS telah membuat mahasiswa belajar dengan wellbeing. Prinsip reaksi yang dibentuk dalam proses pembelajaran juga menunjukkan dosen model sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Faktor-faktor pendukung untuk proses pembelajaran dapat terpenuhi karena disediakan oleh mahasiswa maupun laboratorium. Sehingga ketersediaan alat dan bahan sebagai faktor pendukung proses pembelajaran dapat terpenuhi tanpa ada kendala untuk melakukan semua proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS. Hal ini sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan oleh ketiga observer yaitu Sujiani C, M.Pd; Roy Ardiansyah M.Pd dan Dr Idam Ragil WA, S.Pd., M.Si (lampiran 10)

Analisis pada uji skala luas juga dilakukan secara kuantitatif, dengan menggunakan tes.

Analisis hasil tes menggunakan teori tes modern yaitu Rasch model. Hasil analisis Rasch model menunjukkan secara detail dari instrumen hingga kemampuan tiap-tiap person (Wright & Stone, 1979; Sumintono & Widhiarso, 2015). Hasil analisis pada uji skala luas menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan mempunyai sebaran yang luas, yaitu mampu mengukur kemampuan person yang rendah hingga tinggi pada keterampilan berpikir kritis, Nilai sebaran/separation pada uji skala luas mencapai 4.16 melebihi batas minimal standar sebaran yaitu 2 pada skala logit. Nilai unidimensi pada uji coba skala luas menunjukkan keterkaitan antar item. Pada unidimensi skala luas sebesar 38,6 % melebihi batas minimum 24% hal ini menunjukkan ada keterkaitan yang kuat antar item dan mampu mengukur yang seharusnya diukur. Pada instrumen uji skala luas juga menunjukkan nilai different item function (DIF) pada skala wilayah kota

metropolitan, kota besar dan kota kecil. Hal ini menunjukkan ketidakberpihakan soal pada golongan wilayah tertentu, karena probabilitasnya melebihi 0,05.

Pada uji skala luas menunjukkan kemampuan tiap-tiap person. Kemampuan tiap person atau Person Ability pada uji coba skala luas disajikan pada peta Wright. Pada peta Wright dapat menyajikan skala Person Ability dan Item difficulty pada rentangan skala yang sama. Hal ini dapat menjadi dasar untuk mengetahui kemampuan tiap-tiap person dalam mengerjakan soal dari yang mudah hingga yang tingkat kesulitan tinggi. Pada hasil pengukuran person menunjukkan 78% mahasiswa mempunyai kemampuan rata-rata, 15% mahasiswa mempunyai kemampuan tinggi dan 7% mahasiswa mempunyai kemampuan yang rendah dalam eco critical thinking skills.

Uji keefektifan model secara kuantitatif juga diberi istilah dengan uji keampuhan model, untuk membandingkan model yang dikembangkan dengan model yang sudah ada (Budiyono, 2017). Uji keefektifan juga merupakan uji skala operational Field Testing untuk memberikan bukti bahwa produk model sudah siap untuk digunakan tanpa kehadiran pengembang di lapangan (Borg & Gall, 2003), dengan memperhatikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelas yang diberikan perlakukan sesuai dengan model STEcS. Kelas kontrol merupakan kelas yang menerapkan proses pembelajaran tidak menggunakan model STEcS tetapi dengan model yang biasa dilakukan sebelumnya yaitu dengan ceramah dan penugasan. Pada pengujian model dilakukan dengan menggunakan analisis Rasch model dan Lisrel untuk mengetahui kemampuan person (person measure) dan fit model atau kesesuaian model.

Hasil analisis Lisrel untuk menguji kecocokan model disajikan pada Tabel 4.16.

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan kecocokan keseluruhan dari model tergolong good fit yang di dasarkan pada kecocokan komponen-komponen pengujian. Berdasarkan standar pengujian, nilai Chi Square dan probabilitas di atas 0,5 menunjukkan bahwa data empirik sesuai dengan model. Pada hasil luaran analisis menunjukkan nilai Chi Square sebesar 0.97, hal ini menerangkan bahwa data yang dianalisis merupakan data yang bagus karena data empirik identik sesuai dengan teori atau model. Goodness of Fit Indeks (GFI) merupakan suatu indeks yang memberikan gambaran tingkat kesesuaian model secara keseluruhan yang dihitung dari residual kuadrat dari model. Nilai GFI yang yang lebih dari 0,90 menunjukkan kesesuaian yang tinggi.

Hasil luaran dari analisis menunjukkan nilai GFI sebesar 0,96 hal ini menunjukkan bahwa kesesuaian dengan model sudah tinggi. Root Mean Square Error of Aproximation (RMSEA) merupakan ukuran yang mencoba memperbaiki statistik Chi Square yang menolak kesesuaian

model, RMSEA dibawah 0,08 merupakan ukuran kesesuaian yang baik dengan model. Hasil luaran pada analisis menunjukkan RMSEA sebesar 0,02, hal ini menunjukkan kesesuaian model yang tinggi. Comparative Fit Index (CFI) merupakan indeks kesesuaian incremental, besarnya indek ini dari 0 sampai 1, besar indeks yang mendekati 1 menunjukkan kesesuaian dengan model yang tinggi. Hasil luaran analisis menghasilkan CFI sebesar 0,99 Hal ini semakin mendukung kesesuai yang tinggi dengan model.

Kecocokan model juga dijelaskan dengan besarnya support dari masing-masing dimensi terhadap faktor laten. Besarnya support tiap dimensi digambarkan pada diagram standardized support yang disajikan pada Gambar 4.9. Berdasarkan Gambar 4.9 menunjukkan masing-masing dimensi mempunyai support yang tergolong bagus karena secara keseluruhan dimensi mempunyai nilai support di atas 0,5. Pada dimensi Identifikasi memiliki nilai support sebesar 1,07; dimensi Interpretasi memiliki nilai support 1,57; dimensi eksplanasi memiliki nilai support 1,11; dimensi inferensi memiliki nilai support 1,05; dimensi analisis memiliki nilai support 0,93 dan dimensi evaluasi memiliki nilai support 0,99 pada latent Eco Critical Thinking Skills. Hal ini menunjukkan semua dimensi memberikan support yang fit untuk mengukur Eco Critical Thinking Skills (ECTS), dengan urutan dimensi yang paling tinggi mensupport adalah interpretasi, eksplanasi, identifikasi, inferensi dan analisis. Secara keseluruhan nilai support tidak jauh berbeda yaitu dalam rentangan 0,93 hingga 1,57. Interpretasi merupakan dimensi yang mempunyai nilai support tertinggi pada peningkatan ECTS, hal ini menunjukkan sintak orientasi yang membentuk keterampilan siswa dalam menginterpretasikan masalah merupakah tahapan yang sangat penting untuk diperhatikan, hal ini juga menjadi tahapan awal untuk memberikan respon positif mahasiswa terhadap materi.

Hasil analisis statistik tersebut sesuai dengan hasil pengamatan di lapangan, bahwa tahapan orientasi pada STEcS melatih kemampuan siswa untuk interpretasi merupakan bagian yang mempunyai support yang tinggi untuk

Pada uji keampuhan model juga dilakukan analisis item fit dan person ability dari masing-masing person secara detail. Untuk memperoleh informasi person ability dapat dilakukan pengukuran dengan scalogram, yang memberikan gambaran pola hasil kerja tiap-tiap mahasiswa.

Hasil person measure pada peta wright menunjukkan bahwa kemampuan rata–rata siswa dalam eco critical thinking skill sudah tinggi, hal ini ditunjukkan dari mean person lebih tinggi logid nya dari pada mean tingkat kesulitan soal.

Effect size merupakan ukuran besarnya efek, hubungan dan perbedaan antara variable satu dengan variable yang lainnya. Effect size perlu untuk dilaporkan karena menyampaikan besarnya effect size dari kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan membandingkan selisih mean kedua kelompok dengan standar deviasi (Sullivan & Feinn, 2012). Hasil analisis pada penelitian ini di kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan besar effect size di atas nilai 0,8 yaitu secara keseluruhan pada masing-masing kelompok perbandingan mempunyai effect size lebih dari 1,0. Hasil analisis effect size berdasarkan koefisien Cohen’s d yaitu 1,391, hal ini menunjukkan ukuran efek pada kategori tinggi berdasar perbedaan mean yang distadardisasi. Pada kategori Cohen’s d, effect size dapat memberikan gambaran perbedaan yang lebih detail dari pada uji rerata karena pada effect size Cohen’s d merupakan selisih mean dari kedua kelompok dan dibagi dengan standar deviasi dari kelompok tersebut. Effect size dapat menjadi pelengkap pada statistic signifikan (Fan & Konold, 2010)

Level signifikan merupakan salah satu diterminan pada analisis statistik inferensial (Borg

& Gall, 2003). Level signifikan yang diuji pada penelitian ini terdiri dari efektifitas model dan pengaruh model. Pada uji signifikan, efektifitas model didasarkan pada p-value dari hasil hipotesis yang sudah ditetapkan, Hasil pengukuran p-value menunjukkan nilai 0.000 sesuai dengan hipotesis yang sudah ditetapkan bahwa nilai P-value < 0,05 yang menunjukkan tanda ada perbedaan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Uji pengaruh model dilakukan berdasarkan pada uji perbedaan rerata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Keputusan perbedaan kontrol dan eksperimen didasarkan pada P-value, nilai P-value yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan ada perbedaan antara kontrol dan eksperimen. Hasil pengukuran menunjukkan nilai P-value sebesar 0.000 hal ini menunjukkan ada perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen yang terjadi di kota kecil dan kota besar.

Berdasarkan hasil analisis signifikansi dan analisis Rasch model, menunjukkan bahwa model STEcS mempunyai pengaruh antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Meskipun keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan pada mahasiswa di kota kecil lebih rendah dari kota besar, tetapi penerapan model STEcS mempunyai pengaruh yang signifikan. Hal ini juga dapat dilihat dari person measure, bahwa rata-rata kemampuan person measure sudah di atas rata-rata. Hal ini juga didukung dengan sikap afektif dan keterampilan dalam proses pembelajaran. Mahasiswa mempunyai kedisiplinan, bekerja sama, komunikasi serta keterampilan proses pembelajaran yang tinggi yaitu rata-rata di atas mean pada setiap indikator afektif maupun keterampilan. Berdasarkan

pada Wright map analisis Rasch modern menunjukkan bahwa secara keseluruhan proses pembelajaran, person ability mahasiswa berapa pada tahapan di atas rata-rata.

Dokumen terkait