PERILAKU PEDULI LINGKUNGAN
6. Temuan Penelitian
Beberapa temuan penelitian dari pengembangan model Science Technology Ecocultural Society (STEcS) adalah:
a. Temuan pertama: Karakteristik Model STEcS
Pengembangan model STEcS merupakan pengembangan model untuk mempersiapkan pembelajaran abad ke-21. Mahasiswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif dan kreatif melalui penerapan model STEcS. Pengembangan model STEcS juga mempersiapkan siswa dalam menghadapi Revolusi Industri 5.0 yang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup untuk memperoleh kenyamanan hidup bagi manusia. Karakteristik model STEcS memberi dasar pembentukan pengetahuan melalui pembelajaran berbasis masalah dan mengaplikasikan pengetahuan untuk menyelesaian masalah dalam masyarakat dengan
20
mempertimbangkan budaya yang telah ada. Oleh karena itu sintak dalam model STEcS adalah: 1) orientasi, 2) Organisasi & Investigasi, 3) Aplikasi, 4) Pemantapan Konsep, 5) Evaluasi.
Sistem sosial yang dibentuk pada pembelajaran model STEcS yaitu suasana pembelajaran yang menyenangkan, dengan pembelajaran di dalam kelas yang nyaman tanpa keterbatasan kursi dan bangku serta pembelajaran di luar kelas untuk menumbuhkan pengalaman belajar melalui investigasi secara langsung terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. Suasana yang dibentuk di dalam proses pembelajaran merupakan suasana pembelajaran yang wellbeing yaitu suasana pembelajaran yang nyaman dan berorientasi panjang untuk keberlanjutan masa depan, dengan berorientasi global tetapi berbasis pada hal-hal yang bersifat pada lokal, yang lebih dikenal dengan glokal.
Prinsip reaksi yang dibentuk pada pembelajaran dengan model STEcS yaitu interaksi antara dosen dengan mahasiswa lebih dekat dan dosen berfungsi sebagai fasilitator dalam mengarahkan dan membimbing mahasiswa dengan memandang mahasiswa sebagai pembelajaran orang dewasa (andragogi). Dosen membimbing mahasiswa untuk melakukan curah pendapat/
bainstorming. Peserta didik/mahasiswa diberi kesempatan dengan leluasa untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi serta bertanya.
Sistem pendukung model STEcS terdiri dari beberapa sarana yang mudah untuk disiapkan oleh mahasiswa maupun yang tersedia di ruang kelas atau laboratorium. Beberapa sarana yang diperlukan antara lain proyektor LCD, laptop lengkat dengan jaringan untuk mengumpulkan sumber literature secara online, alat dan bahan untuk percobaan, bahan ajar dan panduan penerapan model serta perangkat pembelajaran lainnya.
Dampak instruksional dalam pembelajaran adalah hasil belajar dan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan (eco critical thinking skill), sedangkan dampak pengiring pada peserta didik/mahasiswa adalah kedisiplinan, kerja sama, komunikatif, dan kepedulian terhadap lingkungan.
b. Temuan kedua: kepraktisan model dan keefektifan model
Model STEcS merupakan model yang praktis untuk digunakan berdasarkan dari keterlaksanaannya, kemenarikan dan kenyamanan selama proses pembelajaran. Keterlaksanaan, kemenarikan dan kenyaman model STEcS didasarkan pada hasil observasi selama proses pembelajaran maupun hasil penilaian diri yang dilakukan oleh mahasiswa sendiri.
Model STEcS juga merupakan model yang efektif untuk dilaksanakan pada proses pembelajaran. Hal ini didasarkan dari hasil pengukuran effect size yang tergolong tinggi, berdasarkan analisis instrumen dan person measure dari analisis teori modern lisrel maupun Rasch model serta berdasarkan uji signifikansi dari analisis teori klasik yang membuktikan bahwa model STEcS efektif dan berpengaruh pada kelas kontrol dan eksperimen, khususnya di wilayah kota besar dan kota kecil. Nilai effect size pada pengujian model menurut cohen’s d secara keseluruhan di atas 0,80 yaitu sebesar 1,39 menunjukkan effect size pada kategori yang tinggi. Sedangkan nilai signifikan pada uji beda dengan taraf sig 0.000 (<0,05) menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
D. Pembahasan
Pembelajaran IPA mempersiapkan siswa pada pembelajaran abad ke-21 serta memasuki Revolusi Industri 5.0 sebagai akibat Revolusi Industri 4.0 yang berdampak pada ekonomi, teknologi maupun ekosistem (Fukuda, 2020). Revolusi industry 5.0 yang mengutamakan kenyamanan hidup manusia tentunya diimbangi dengan pemikiran ecosentris yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup. Pembelajara IPA sangat erat dengan kelestarian lingkungan hidup, karena pembelajaran IPA berkaitan dengan fenomena alam yang ada di sekitar kehidupan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor keluarga, masyarakat, dan sekolah sebagai tempat proses pembelajaran (Jayawardena et al., 2020). Pembelajaran IPA mempunyai karakteristik sebagai proses, produk, sikap ilmiah, dan aplikasi, berperan mempersiapkan siswa dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan alam.
Salah satu peran pendidikan dalam menjaga kelestarian lingkungan alam, dengan menyampaikan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses dan produk yang menumbuhkan sikap ilmiah serta aplikasi pada kelestarian lingkungan. Model pembelajaran yang melibatkan siswa, sesuai dengan sifat pembelajaran IPA yang efektif dan efisien, yang merupakan pembelajaran learning by doing (Wang et al., 2017). Model pembelajaran merupakan pemandu keseluruhan proses pembelajaran, yang dapat menggambarkan situasi serta interaksi yang terjadi selama proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Joyce et al., 2016).
Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini merupakan model pembelajaran yang memberikan pembelajaran berbasis masalah dan dapat diaplikasikan kepada masyarakat sesuai budaya yang ada. Model pembelajaran Science Technology Ecocultural Society (STEcS) merupakan model hasil kombinasi dari model Problem based Learnig (PBL) dan model Sains Teknologi Masyarakat (STM) dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan model PBL dan STM untuk diterapkan pada materi pencemaran dan pengelolaan sampah pada penyelesaian masalah.
Permasalahan pada penelitian ini merupakan Ill Sturcture Problem (ISP) yang mempunyai karakteristik berupa permasalahan yang ada di sekitar, pemecahan masalah dilakukan secara mendalam berdasarkan kemampuan yang dimiliki dengan mencoba berbagai kajian dalam upaya pemecahan masalah. Pemecahan masalah pola ISP merupakan desain yang direkomendasikan dalam upaya pemecahan masalah terhadap topik-topik masalah yang ada di sekitar (Simon, 1973) Topik yang disajikan pada penerapan model STEcS khususnya pada topik pengelolaan sampah, pengelolaan minyak jelantah sebagai penyebab pencemaran air di rumah tangga, pengelolaan sampah organik dan peningkatan resapan air tanah melalui pembuatan biopori serta pembuatan desain tempat sampah dan poster peduli lingkungan. Karakteristik model STEcS yang dikembangkan terdiri atas komponen: sintak, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional serta pengiring.