• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN. A. Hasil Penelitian Pendahuluan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN. A. Hasil Penelitian Pendahuluan"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Hasil Penelitian Pendahuluan

Penelitian pendahuluan telah dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pengembangan model pembelajaran. Pengumpulan data pada tahap penelitian pendahuluan dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pada pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, kajian literatur serta dokumentasi. Pada pendekatan kuantitatif, pengumpulan data dilakukan dengan uji empirik, yaitu dengan metode tes dan penyebaran angket yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah. Penelitian pendahuluan dilakukan pada materi yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah, khususnya topik pengelolaan sampah yang dihasilkan dalam rumah tangga. Partisipan pada penelitian pendahuluan terdiri dari mahasiswa calon guru sekolah dasar, siswa sekolah dasar, guru sekolah dasar serta stakeholder dan tokoh masyarakat/pemuka adat.

1. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data tentang pola pembelajaran materi pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah, persepsi mahasiswa tentang kepedulian terhadap lingkungan hidup serta informasi tentang budaya yang telah dilakukan oleh para leluhur dalam rangka mengelola kelestarian lingkungan. Wawancara juga menggali informasi mengenai pandangan para guru sekolah dasar dan dinas terkait, terhadap kepedulian lingkungan serta mendapatkan gambaran penanaman sikap peduli lingkungan yang telah dilakukan pada siswa tingkat sekolah dasar.

Narasumber wawancara ini terdiri dari: tokoh adat, guru sekolah dasar, serta pada mahasiswa calon guru sekolah dasar.

Wawancara yang telah dilakukan dengan tokoh adat, memperoleh informasi mengenai kearifan lokal yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup yang sudah dijalankan oleh nenek moyang. Narasumber wawancara dengan tokoh adat adalah opa Donatus Tat, yang berusia 83 tahun, yang merupakan tokoh budaya yang cukup memahami tentang budaya, tradisi di Manggarai. Opa Donatus Tat adalah purnabakti dari dinas pendidikan dan kebudayaan. dan Rm

(2)

Isri serta Pater Marcel merupakan tokoh rohaniawan yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Berdasarkan hasil wawancara, disimpulkan bahwa di Flores sudah banyak petuah-petuah atau goet yang mengandung makna untuk menjaga kelestarian lingkungan (terlampir di lampiran 10) dan upaya menjaga kelestarian lingkungan juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Petuah (goet) itu antara lain pamali menebang pohon dan menangkap belut yang ada di mata air yang dipercaya adanya leluhur, masyarakat adat selalu mengadakan sesaji pada sumber mata air untuk acara adat. Hal ini jika dikaji dari sisi sains bahwa pamali menangkap belut di mata air karena perilaku belut yang tinggal di lumpur dan membuat lubang-lubang, perilaku belut membuka lubang lubang mata air membantu terbukanya saluran-saluran mata air, sedangkan pamali menebang pohon di mata air karena akar pohon dapat membantu menjaga ketersediaan air tanah.

Peran akar pohon sebagai penampung cadangan air di dalam tanah, dapat membantu ketersediaan air tanah pada musim kemarau serta menjaga kelestarian air tanah, Petuah yang berupa pamali tersebut merupakan salah satu kearifan lokal dalam menjaga kelestarian sumber air yang menjadi sumber utama dalam kehidupan masyarakat di sekitar sumber air.

Wawancara juga dilakukan pada guru sekolah dasar mengenai pentingnya materi pengelolaan sampah, langkah pembelajaran dan hambatan yang dialami dalam proses pembelajaran. Hasil wawancara menyatakan bahwa materi kepedulian lingkungan hidup khususnya topik pengelolaan sampah padat maupun cair dalam kehidupan sehari-hari merupakan materi yang penting. Metode penyampaian materi dilakukan secara sekilas sehingga tidak disampaikan secara mendalam. Penyampaian materi tidak sampai pada aplikasi yang menumbuhkan pengalaman belajar pada siswa (Lampiran 11).

Berdasarkan hasil wawancara dalam diskusi kelompok terarah yang dilakukan dengan mahasiswa, mahasiswa calon guru sekolah dasar menyatakan bahwa materi yang berkaitan dengan lingkungan hidup yaitu pencemaran diberikan secara sekilas dalam materi konsep dasar sains atau nama sejenisnya, sehingga aplikasi dan pemahaman lebih mendalam kurang dirasakan. Mahasiswa juga mengetahui bahwa materi ini merupakan materi yang penting dalam menjaga kelestarian bumi tetapi dalam aplikasi pada kehidupan sehari-hari masih sulit untuk diterapkan (lampiran foto dokumentasi)

2. Observasi

(3)

Hasil observasi yang dilakukan di lingkungan sekolah dasar maupun di tingkat perguruan tinggi baik di Jawa maupun di Flores, pengelolaan sampah belum dilakukan secara maksimal.

Beberapa sekolah dasar tidak menyediakan tempat sampah yang memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Beberapa sekolah dasar di Flores masih ditemukan penumpukan sampah di sekolah karena proses pengangkutan sampah yang tidak lancar (lampiran foto dokumentasi).

Beberapa perguruan tinggi sudah menyediakan tempat sampah organik dan anorganik, tetapi pada pelaksanaannya pembuangan sampah masih tercampur. Belum ditemukan adanya pengelolaan sampah dengan benar, minimal pemisahan antara organik dan anorganik baik di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi (Lampiran foto dokumentasi)

3. Kajian Literatur

Kajian literatur dilakukan melalui kajian jurnal internasional, jurnal nasional maupun teks book yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup. Jurnal yang dirujuk untuk referensi merupakan jurnal bereputasi dari tahun 2010 sampai 2020. Subjek jurnal yang di rujuk terdapat pada Tabel 4.1

(4)

Tabel 4. 1 Kajian Jurnal Internasional

No. Tahapan Subjek

Penelitian

Temuan Studi literatur

1 Kajian jurnal internasional terkait materi pendidikan lingkungan hidup

25 jurnal internasional

Pendidikan yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup perlu ditanamkan sejak anak usia dini karena merupakan materi yang penting.

Pentingnya menghubungkan kearifan lokal, budaya lokal dalam menjaga kelestarian alam.

2 Kajian jurnal international terkait ecological cultural, STM dan PBL

23 jurnal Problem based learning merupakan model pembelajan yang memberikan pengalaman belajar, siswa lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran.

Sains teknologi masyarakat (STM) merupakan model pembelajaran yang mengutaman kebermanfaatan pengetahuan bagi masyarakat.

3 Kajian jurnal international terkait critical thinking

27 jurnal internasional

Facione (2013) menyatakan bahwa berfikir kritis dapat ditingkatkan melalui berbagai kasus mulai dari yang sederhana hingga komplek untuk dapat mengambil keputusan

4 Kajian literatur terkait analisis instrumen

10 jurnal internasional

Analisis suatu instrumen bukan hanya sebatas valid tidaknya dalam bentuk angka, tetapi lebih didasarkan pada analisis butir dan person ability.

Masih diperlukan kajian yang mendalam tentang instrumen untuk mengukur kepedulian lingkungan.

Selain kajian literatur, juga dilakukan penelitian secara empirik. Penelitian empirik telah dilakukan untuk mengetahui pengetahuan awal keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan pada calon guru sekolah dasar, persepsi para guru sekolah dasar terhadap pentingnya pembelajaran pendidikan lingkungan hidup, model pembelajaran lingkungan hidup di tingkat sekolah dasar yang sudah dilakukan serta model pembelajaran lingkungan hidup khususnya materi pencemaran

(5)

Manggarai, NTT menyatakan bahwa untuk menanamkan kepedulian lingkungan pada siswa melalui bersih kelas dan kerja bakti. Akan tetapi hasil triangulasi berdasarkan hasil observasi, pelaksanaan kerja bakti tidak diimbangi dengan konsep-konsep yang memberikan pengertian tentang pentingnya kepedulian lingkungan untuk membangun karakter peduli lingkungan. Hasil kuisioner yang diberikan pada guru di sekolah dasar di wilayah Manggarai menunjukkan bahwa persepsi guru tentang pentingnya pendidikan lingkungan hidup menjadi mata pelajaran yang perlu diberikan di sekolah (Utama & Purnami, 2018)

Proses internalisasi kepedulian terhadap lingkungan hidup telah dilakukan pada mahasiswa calon guru sekolah dasar dan pada siswa sekolah dasar melalui penerapan model Sains Teknologi Masyarakat. Hasil proses internalisasi menunjukkan bahwa mahasiswa dan siswa sekolah dasar mempunyai respon positif dengan adanya proses pembelajaran yang aplikatif sesuai dengan permasalahan yang kontekstual. Pembelajaran yang aplikatif lebih memberikan motivasi pada mahasiswa karena lebih memahami manfaat pembelajaran bagi masyarakat. Upaya pengembangan model pembelajaran yang berbasis masalah dan aplikatif merupakan dasar dalam pengembangan model pembelajaran yang bertemakan pencemaran dan pengelolaan sampah.

Pengembangan model pembelajaran mempunyai dampak secara langsung untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan. Hal ini didasarkan dengan keterampilan pada pembelajaran abad ke-21 yang salah satunya menekankan pada keterampilan berpikir kritis dan salah satu tema yang disarankan pada pembelajaran abad ke-21 yaitu kesadaran lingkungan.

Penelitian awal terhadap keterampilan berpikir kritis terhadap lingkungan (Eco Critical Thinking Skills) dilakukan pada mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai calon guru di sekolah dasar, dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel (Purnami et al., 2019). Beberapa instrumen dilakukan pengujian validitas secara empirik. Pada instrumen kepedulian terhadap lingkungan pada mahasiswa PGSD telah diujikan pada 36 responden dengan hasil seluruh item mempunyai kriteria Mean Square yang layak digunakan karena berada pada rentangan 0,5 < MNSQ < 1,5, serta kriteria lain yang terdiri dari Z-standart dan Point Measure Corr. Hasil analisis dengan menggunakan Rasch Model menunjukkan person ability terhadap

keterampilan berpikir kritis masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.2 Tabel 4. 2 Kemampuan Perorangan pada Penelitian Awal

Total Model Infit Outfit

Score Count Measure S.E MNSQ ZSTD MNSQ ZSTD

(6)

Mean 22.2 7.9 -.47 .58 .99 -.15 .99 -.15

Real RMSE Separation 3.06 Person Reliability .90 Model RMSE Separation 3.46 Person Reliability .92

Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa mean measure yang diperoleh –0,47 hal ini dapat diartikan bahwa nilai di bawah 0,00 maka person ability terhadap suatu variabel yang di ukur tergolong rendah (Sumintono & Widhiarso, 2015). Masih rendahnya kemampuan seseorang (person ability) pada keterampilan berpikir kritis terhadap lingkungan, perlu ada upaya untuk meningkatkannya. Keterampilan berpikir kritis penting bagi individu untuk mengambil keputusan dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Penelitian awal juga dilakukan terhadap pembelajaran dengan menggunakan model STM dan PBL. Pada penerapan model STM dan PBL yang dilakukan pada mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar di UNIKA dan di UNS menunjukkan bahwa penerapan kedua model ini mempunyai kelebihan dan kekurangan pada tahapan belajar, prinsip reaksi, sistem sosial. Kelebihan pada STM adalah adanya tahapan aplikasi pada masyarakat, hal ini memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki untuk kebermanfaatan bagi masyarakat yang ada di sekitar. Sedangkan kelemahan pada STM untuk penerapan materi pencemaran khususnya pada pengelolaan sampah adalah kurang kuatnya siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya melalui pengalaman belajar, berdasarkan pada konteks budaya yang ada di masyarakat sekitar.

Pada tahapan pembentukan konsep dari sintak STM kurang memberikan kesempatan bagi mahasiswa dalam mengkonstruk pengetahuannya berdasarkan permasalahan sampah yang ada disekitarnya serta kondisi sampah yang terjadi di skala nasional maupun global.

Model PBL memiliki kelebihan dan kekurangan pada penerapan materi pencemaran dan pengelolaan sampah. Kelebihan dari PBL pada tahapan orientasi, organisasi dan investigasi merupakan tahapan yang memberi kesempatan mahasiswa untuk menggali pengetahuannya sendiri, hal ini tampak pada hasil pengamatan, para mahasiswa lebih mempunyai rasa ingin tahu dalam menyelesaikan masalah. Pada tahapan ini, berdasarkan hasil observasi menunjukkan mahasiswa lebih tertarik karena memiliki pengalaman belajar secara langsung. Kelemahan model PBL pada penerapan materi pencemaran dan pengelolaan sampah terdapat pada sintak model, khususnya tidak ada tahapan aplikasi pada masyarakat. Sesuai dengan karakteristik materi pencemaran dan pengelolaan sampah yang merupakan masalah keseharian dalam masyarakat maka tahapan aplikasi untuk menyelesaikan masalah masyarakat merupakan tahapan yang

(7)

penting, karena merupakan tahapan secara nyata dapat mengaplikasikan pengetahuannya pada pemecahan masalah pengelolaan sampah.

B. Hasil Tahapan Pengembangan Model

1. Perencanaan

Perencanaan pengembangan produk dilakukan dengan menentukan 1) tujuan pengembangan model. Tujuan pengembangan model untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis terhadap lingkungan (eco critical thinking skills) sehingga dapat mempersiapkan generasi yang peduli kelestarian lingkungan, yang dimulai dengan mempersiapkan calon guru sekolah dasar, 2) menentukan pengguna model. Pengguna model adalah dosen dan mahasiswa calon guru sekolah dasar, 3) menentukan spesifikasi model. Spesifikasi model merupakan karakteristik model yang dikembangkan, yang memiliki spesifikasi yang terdiri dari sintak model yaitu orientasi, organisasi dan investigasi, aplikasi, pemantapan konsep, dan evaluasi. Sistem sosial yang dikembangkan berupa situasi pembelajaran yang menyenangkan serta kolaboratif dengan sistem pembelajaran indoor dan outdoor, prinsip reaksi yang dikembangkan berupa hubungan antara dosen dengan mahasiswa serta hubungan antar mahasiswa yang saling berbagi pengetahuan dan dosen sebagai fasilitator yang mendorong mahasiswa dalam melakukan proses pembelajaran, 4) merencanakan waktu pelaksanaan dan lokasi penelitian. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Maret 2019 hingga Agustus 2020. Lokasi penelitian di tentukan Kota Surabaya, kota Surakarta dan kota Ruteng-Flores sesuai dengan klasifikasi berdasarkan jumlah penduduk yang ditentukan oleh kementerian PUPR, serta didasarkan pada predikat yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada kota-kota yang menurut tingkat kebersihannya yaitu kota terbersih dengan anugerah adipura kencana, kota yang mendapat anugerah adipura dan kota 3T yang belum pernah mendapat adipura. Populasi terdiri dari 9 universitas dari masing- masing kota sebagai populasi, kemudian dipilih sampel secara acak dari populasi yang ada untuk mendapatkan 3 universitas sebagai sampel, 5) merencanakan para pakar yang berkontribusi dalam pengembangan model, yaitu pakar pada bidang Bahasa Indonesia, pakar materi pencemaran dan pengelolaan sampah, pakar evaluasi, pakar pengembangan model serta pakar desain grafis. Selain para pakar juga melibatkan dosen pengguna sebagai pemberi masukan dan saran pada model.

(8)

2. Menyusun Prototype Produk Berdasarkan Spesifikasi

Penyusunan prototype model STEcS didasarkan pada kajian lapangan, yang didasarkan pada need assessment. Hasil kajian need assessment menunjukkan bahwa pengembangan model untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis terhadap lingkungan merupakan hal yang penting. Hal ini juga didukung dari literatur mengenai pentingnya model yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan. Atas dasar pentingnya materi dalam kehidupan masyarakat, maka dilanjutkan pada tahapan penyusunan prototype model, bahan ajar dan instrumen yang sesuai dengan materi pencemaran dan pengelolaan sampah. Prototipe yang disusun dan didiskusikan dengan teman pada program doktor pendidikan IPA serta para pakar, dalam kajian mandiri mahasiswa program doktor pendidikan IPA. Prototipe yang disusun divalidasi secara konten oleh ahli. Validasi dengan ahli juga dilakukan pada validasi materi, validasi model, validasi bahasa maupun validasi desain & grafis. Validasi isi dilakukan oleh 5 validator pakar dan 4 dosen pengguna yang terdiri dari validasi bahasa yang divalidasi oleh ahli bahasa dari pakar Bahasa Indonesia program Doktor Bahasa Indonesia, validasi instrumen dari pakar instrumen dan evaluasi, validasi materi oleh pakar pencemaran lingkungan dan pendidikan IPA dari program doktor IPA, validasi panduan model oleh pakar pembelajaran dan model pembelajaran dari program doktor IPA dan validasi desain grafis oleh pakar dari pakar Desain Komunikasi Visual fakultas Seni Rupa dan Desain, serta Praktisi dosen rumpun IPA. Hasil Validasi ahli pada materi dilakukan beberapa kali setelah adanya masukan dan direvisi dengan berbagai masukan antara lain: masukan mengenai konten materi, perbaikan dalam hal penulisan, perbaikan dalam dukungan materi dan penomoran dan perbaikan konsistensi satuan dalam alat dan bahan yang digunakan dalam bahan ajar.

Ringkasan data masukan pada revisi penyusunan prototype disajikan pada Tabel 4.3 Tabel 4. 3 Masukan dan Perbaikan Prototype

No Pemberi Saran

Masukan dan Saran Keterangan

1 Ahli Bahasa Memperbaiki tata penulisan angka seperti abad 21 ditulis sesuai PUEBI

Sudah direvisi Memperbaiki cara penulisan alenia. Pada alenia

pertama tidak menjorok, sedangkan alenia kedua dan selanjutnya menjorok ke dalam.

Sudah direvisi

(9)

No Pemberi Saran

Masukan dan Saran Keterangan

Memperbaiki cara penulisan huruf besar pada awal kalimat

Sudah direvisi Penggunaan kata baku, seperti antara lain, yaitu Sudah direvisi Memperbaiki penulisan Bahasa asing dan

serapan dengan huruf italic/ huruf miring

Sudah diperbaiki 2 Ahli Desain

Grafis

Gambar diperjelas agar dapat memberikan informasi

Konsistensi dalam gambar

Sudah direvisi

Cover dibuat lebih menarik Sudah direvisi Tiap-tiap halaman didesain lebih menarik Sudah diperbaiki 3 Ahli Model Perhatikan filosofi pengembangan pengetahuan

atau model

Sudah diperbaiki Perhatikan dampak apa dari model yang

dikembangkan

Sudah dijabarkan dampak pengembangan model

4 Ahli Materi Perhatikan satuan dalam lembar kerja mahasiswa Sudah diperbaiki Diganti istilah buku ajar menjadi bahan ajar Sudah direvisi Ditambahkan halaman francis Sudah diperbaiki Dicantumkan rujukan gambar Sudah diperbaiki Diperjelas definisi dari tiap tahapan model Sudah diperbaiki 5 Ahli

instrumen

Diganti narasi pada pertanyaan dengan kejadian yang terbaru

Sudah diperbaiki Kalimat pertanyaan lebih diperjelas Sudah diperbaiki Pertanyaan no 1. Issue bacaan wacana diganti

dengan issue yang terbaru

Pertanyaan no 2. Kata tanya bagaimana diganti yang sesuai dengan kata tanya berikutnya. Setiap gambar dituliskan rujukannya.

Pertanyaan 3. Kata berdasarkan, tersebut diganti dengan kata yang lebih tepat dengan pertanyaan.

Perhatikan Capaian Pembelajaran Lulusan pada RPS sesuai dengan CPL di PGSD

Sudah direvisi

Sudah direvisi

Sudah direvisi

Sudah direvisi

(10)

Beberapa gambar masukan pada prototype pengembangan model disajikan pada Gambar 4.1

Gambar 4. 1 Perbaikan Prototype Model STEcS

Pada gambar 4.1 disajikan beberapa masukan yang terkait dalam bidang bahasa, mengenai tata penulisan yang benar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Semua masukan sudah diperbaiki dan dikonsultasikan kembali dan sudah mendapatkan hasil penilaian akhir dari pakar.

Perbaikan prototipe juga dilakukan pada desain cover maupun kajian filosofi pengembangan model. Diantara masukan dari validator tentang filosofi dan desain cover disajikan pada Gambar 4.2

Gambar 4. 2 Perbaikan Cover dan Tata Tulis Kalimat

Penyusunan prototype model STEcS juga mempertimbangkan filosofi dari model yang mendasari yaitu model PBL dan STM dengan mengkaji pada budaya kontekstual tentang lingkungan hidup. Bagian materi dikaitkan dengan tradisi budaya yang sudah dilakukan oleh nenek moyang dalam menjaga kelestarian lingkungan, untuk mendukung pembelajaran yang kontekstual sesuai dengan tradisi budaya yang ada, sesuai dengan kharakteristik dari model STEcS.

(11)

Karakteristik model STEcS terdiri dari 5 tahapan yaitu orientasi, organisasi & investigasi, aplikasi, pemantapan konsep, dan evaluasi. Tahapan orientasi merupakan tahapan untuk membentuk pemikiran positif pada mahasiswa terhadap materi. Berbagai kegiatan yang dilakukan pada tahapan orientasi antara lain dengan melakukan curah pendapat tentang materi yang didukung dengan menggunakan media visual berupa video kontekstual yang berkaitan dengan materi.

Tahapan organisasi & investigasi merupakan tahapan untuk membentuk mahasiswa mampu berkolaborasi dan melakukan investigasi permasalahan untuk membentuk konsep berdasarkan hasil temuannya. Tahapan aplikasi merupakan tahapan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah ada pada kehidupan nyata yang ada di masyarakat. Tahapan pemantapan konsep merupakan tahapan untuk melakukan sharing pendapat berdasarkan hasil temuan dan aplikasi untuk memantapkan konsep yang ada sekaligus melakukan pengecekan apabila masih ditemukan kesalahan konsep. Tahapan evaluasi merupakan tahapan untuk mengevaluasi seluruh proses pembelajaran. Tahapan-tahapan pada model STEcS berkontribusi dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan hidup (Eco Critical Thinking Skills), keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu tuntutan pada pembelajaran abad ke-21.

Kebaharuan dari model STEcS merupakan model yang dipersiapkan untuk pembelajaran abad ke-21 untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis terhadap lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan keterampilan 4C pada pembelajaran abad ke-21 dan sesuai dengan tema yang disarankan pada pembelajaran abad ke-21 tentang kesadaran lingkungan hidup. Keterampilan 4C pada pembelajaran abad ke-21 menuntut siswa untuk Creative, Colaborative, Critical Thinking dan Communicative. Pembelajaran dengan model STEcS juga mempersiapkan siswa untuk memiliki keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi serta kreatif melalui tahapan-tahapan sintak model STEcS. Pembelajaran dengan model STEcS juga mempersiapkan siswa pada Revolusi Industri 5.0 dalam mengatasi Revolusi Industri 4.0 yang juga berkontribusi menimbulkan dampak kerusakan lingkungan alam. Kebaharuan dari model STEcS merupakan model pembelajaran yang dipersiapkan untuk pembelajaran abad 21 serta mempersiapkan siswa pada revolusi industry 5.0, dengan karakteristik model STEcS serta komponen model yang sesuai dengan materi pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah.

Penyusunan prototype model STEcS didasarkan pada kajian lapangan maupun literatur mengenai pentingnya model yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan. Penyusunan prototipe model STEcS dirancang untuk meningkatkan keterampilan

(12)

berpikir kritis, yang merupakan keterampilan untuk pembelajaran abad ke-21 serta mempersiapkan siswa pada revolusi industry 5.0. Penyusunan prototype model STEcS dipersiapkan dengan baik melalui kajian-kajian dan validasi dari berbagai pihak yang berkompeten.

Validasi prototype STEcS didasarkan dari hasil masukan validator ahli dan hasil diskusi terarah dengan dosen pengampu mata kuliah, sebagai dosen pengguna baik di UNS, UNESA maupun UNIKA. Pelaksanaan diskusi dilakukan secara terpisah di masing-masing universitas untuk mendapatkan gambaran saran mengenai draf/prototype yang sudah dikembangkan. Hasil diskusi mengenai materi menunjukkan bahwa:

a. Substansi materi yang diuraikan sesuai dengan permasalahan masyarakat tetapi sebaiknya dikemas menjadi hal yang lebih menarik dan kekinian dengan menayangkan melalui media atau materi yang menumbuhkan kreatifitas mahasiswa.

b. Uraian materi dimulai dari hal sederhana dan fluktual dengan fakta kehidupan, sehingga topik materi lebih dipersempit pada materi yang paling dekat dengan kehidupan mahasiswa, dengan melihat latar belakang demografi mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar.

c. Fakta yang diuraikan dalam materi sangat rasional dan kontekstual sesuai dengan permasalahan yang terjadi pada saat ini.

d. Konsep materi yang diuraikan sesuai dengan bidang ilmu IPA

Hasil penilaian akhir dari validator materi dan praktisi pengguna bidang ilmu IPA, setelah dilakukan semua perbaikan terhadap komponen materi yang terdiri dari keluasan, kedalaman, akurasi, dan kemutakhiran materi, disajikan pada Tabel 4.4

Tabel 4. 4 Hasil Validasi Materi dari Pakar Materi dan Dosen Pengguna

No Komponen Vaiken Keterangan

1 Keluasan materi 0,90 valid

2 Kedalamann materi 0,81 valid

3 Akurasi konsep 1,00 valid

4 Akurasi Fakta/logis 0,81 valid

5 Akurasi prosedur/runtut 0,90 valid

6 Kemutakhiran 0,90 valid

7 Akurasi teori/kevalidan 0,90 valid

8 Keselarasan/hubungan fakta dan konsep 0,81 valid

(13)

Makna nilai indeks kesepakatan (V) yang dihitung berdasarkan V aiken pada materi merupakan hasil gabungan penilaian dari pakar dan masukan dari praktisi pengguna model. Hasil kesepakatan V aiken menunjukkan validitas isi yang tinggi karena secara keseluruhan di atas 0,8. Hal ini juga menunjukkan bahwa seluruh komponen materi yang terdiri dari keluasan, kedalaman materi, dan keakuratan materi sangat layak digunakan. Kelayakan isi materi juga didasarkan dari hasil rekapitulasi pada kolom saran dan masukan yang diberikan oleh validator, yang menyatakan bahwa materi sangat layak digunakan untuk dilanjutkan pada tahapan selanjutnya. Selain validasi materi, juga dilakukan validasi terhadap rancangan panduan penerapan model STEcS. Validasi model divalidasi oleh pakar pendidikan dari program studi doktor pendidikan IPA dan 4 dosen pengguna. Hasil validasi disajikan pada Tabel 4.5

Tabel 4. 5 Hasil Validasi Model dari Pakar Model Pembelajaran

No Komponen Sub komponen Vaiken ket

1 Cakupan Model Implentasi sintak 0.95 valid

Pengembangan suasana sistem sosial 0,80 valid Pengembangan prinsip reaksi dalam

pembelajarn

0,95 valid Sistem pendukung dalam proses

pembelajaran

0,95 valid Pengembangan dampak instruksional dan

pengiring

0,90 valid

2 Landasan Teori Dukungan landasan teori 0,95 valid

Filosofi Pengembangan model 0,90 valid Menumbuhkan karakter peduli lingkungan 0,90 valid

(14)

Hasil validasi pedoman penerapan model STEcS menunjukkan bahwa komponen model yang terdiri dari sintak, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung serta dampak instruksional dan pengiring pada model STEcS sudah layak digunakan.

Validitas Desain dan Grafis divalidasi oleh pakar dari pendidikan sains dan pakar dari program studi desain komunikasi visual. Hasil validasi disajikan pada Tabel 4.6

Tabel 4. 6 Hasil Validasi Desain dan Grafis

No Komponen Kesepakatan

rater

Keterangan

1 Contoh dan ilustrasi mencukupi 1,0 valid

2 Format konsisten 1,0 valid

3 Narasi tidak selalu padat 1,0 valid

4 Ada bagian kosong untuk mahasiswa mengemukakan pendapat

1,0 valid

valid

Hasil validasi desain dan grafis pada Tabel 4.6 merupakah hasil nilai kesepakatan (V) dari pakar Desain Komunikasi Visual (DKV) dari fakultas Seni Rupa dan Desain dengan pakar dari IPA. Hal ini akan saling melengkapi untuk memberikan penilaian desain dan grafis dinilai dari sisi pakar DKV dan pakar IPA. Hasil kesepakatan menunjukkan bahwa desain telah layak untuk digunakan mengenai ilustrasi, format serta narasi yang tidak terlalu padat sehingga mudah untuk digunakan.

Selain komponen yang divalidasi oleh kedua pakar, terdapat komponen yang divalidasi khusus oleh pakar dari desain komunikasi visual karena sesuai dengan keahliannya. Hasil validasi desain grafis disajikan pada Tabel 4.7

Tabel 4. 7 Hasil Validasi dari Pakar Desain Komunikasi Visual

No Komponen Sub komponen Skor

1 Utility/Kesatuan Keserasian warna 4

Bidang/bentuk Proporsional 4 Kesesuaian tema dengan tampilan cover

4

2 Penggunaan gambar Ragam gambar komunikatif 4

Gambar jelas dan menarik 3 Pesan gambar tersampaikan 4

Berdasarkan hasil validasi dari pakar desain komunikasi visual menunjukkan bahwa produk bahan

(15)

Validasi juga dilakukan pada penggunaan Bahasa Indonesia. Validasi mengenai penggunaan bahasa dilakukan oleh validator dari pakar pendidikan sains dan validator dari pakar prodi Bahasa Indonesia. Hasil validasi dari kedua pakar, disajikan pada Tabel 4.8

Tabel 4. 8 Hasil Validasi Penggunaan Bahasa

No. Komponen V Keterangan

1 Ragam Bahasa Komunikatif 1,0 valid

2 Kalimat efektif 1,0 valid

3 Kata-kata singkat dan lugas 1,0 valid

Validasi penggunaan bahasa selain kedua pakar tersebut, terdapat beberapa komponen bahasa yang hanya divalidasi oleh pakar bahasa dari prodi Bahasa Indonesia. Hasil validasi pakar Bahasa Indonesia, disajikan pada Tabel 4.9

Tabel 4. 9 Validasi Komponen khusus dari pakar Bahasa Indonesia

No Komponen Deskripsi Skor

1 Ketepatan struktur kalimat

Tata kalimat sesuai Bahasa Indonesia yang

baik dan benar 5

2 Kebakuan istilah Istilah yang digunakan sesuai dengan Kamus

Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 5

3 Ketepatan tata bahasa

Kalimat yang digunakan konsisten mengikuti tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar 5 4 Ketepatan ejaan Ejaan yang digunakan mengacu pada

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

5 5 Keterkaitan antar

kalimat satu alenia

Kalimat satu dengan yang lain dalam alenia mencerminkan keruntutan dan keterkaitan yang erat

5

Berdasarkan validasi isi tentang penggunaan bahasa maka produk bahan ajar dan panduan model yang dikembangkan, memiliki indeks validasi yang tinggi karena nilai V lebih dari 0,8. Hal ini menunjukkan dari sisi bahasa maka produk bahan ajar dan pedoman penerapan model sangat layak digunakan untuk tahapan selanjutnya. Kelayakan dari segi bahasa pada produk penelitian ini

(16)

juga didasarkan pada pernyataan saran dan kesimpulan dari expert judgment yang menyatakan bahawa produk layak digunakan.

Validasi juga dilakukan pada alat evaluasi, yang meliputi 5 variabel yaitu isi soal, rubrik penilaian, keterangan pengerjaan soal, penggunaan bahasa dan manajemen waktu. Beberapa saran dalam alat evaluasi antara lain konsistensi pada tata tulis dan ejaan dalam pertanyaan serta diujicobakan untuk mengetahui ketercukupan waktu mengerjakan soal. Soal diujicobakan pada kelas yang telah menempuh mata kuliah konsep dasar sains atau nama sejenisnya di kelas UNS, UNIKA dan UNESA masing-masing satu kelas. Beberapa masukan sudah diperbaiki, dan hasil validasi disajikan pada Tabel 4.10

Tabel 4. 10 Hasil Validasi alat Evaluasi

No. Variabel skore Keterangan

1 Isi Soal 4 valid

2 Rubrik Penilaian 4 valid

3 Keterangan petunjuk pengerjaan 4 valid

4 Penggunaan Bahasa 3 valid

5 Manajemen waktu 4 valid

Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa alat evaluasi atau instrumen yang digunakan sudah layak untuk diterapkan pada proses pengambilan data penelitian. Hasil penilaian validator secara terperinci disajikan pada Lampiran 3.

3. Uji coba perorangan

Uji coba perorangan dilakukan sebagai uji coba awal sebelum dilakukan uji coba terbatas (preliminary field testing). Uji coba perorangan dilakukan pada mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Sebelas Maret. Uji coba perorangan lebih ditekankan pada uji keterbacaan dari produk bahan ajar, yang meliputi ketercernaan, penggunaan bahasa dan tampilan dari bahan ajar. Hasil uji coba perorangan telah dilakukan revisi dalam hal gambar,

(17)

kejelasan gambar dan beberapa kalimat yang tidak dipahami. Beberapa perbaikan pada uji perorangan antara lain disajikan pada Gambar 4.3

Gambar 4. 3 Perbaikan Gambar pada Uji Perorangan

Pada Gambar 4.3 menunjukkan gambar pada prototype kurang jelas karena antara gambar satu dengan yang lainnya tidak ada pembatas figura, hal ini menyebabkan mahasiswa kurang memahami makna gambar. Pada gambar 4.3 menunjukkan kontras warna yang tidak bagus sehingga gambar tidak jelas dan kabur. Rangkuman saran dan masukan disajikan pada Tabel 4.11 Tabel 4. 11 Rangkuman Perbaikan pada Uji Coba Perorangan

No Komponen Saran dan masukan Keterangan

1 Kejelasan gambat

Diperjelas warna pada gambar Sudah diperbaiki Dipisahkan antara gambar satu

dengan yang lainnya

Sudah direvisi 2 Makna kalimat Diperjelas beberapa makna kalimat

yang menimbulkan penafsiran ganda

Sudah diperbaiki

Beberapa masukan pada uji coba perorangan sudah diperbaiki dan sudah mendapatkan penilaian dari 3 mahasiswa pengguna yaitu mahasiswa calon guru sekolah dasar. Hasil akhir uji perorangan disajikan pada Tabel 4.12

Tabel 4. 12 Hasil Penilaian Uji Coba Perorangan

No Komponen Sub komponen Vaiken Keterangan

1 Ketercernaan Logis 1,0 baik

Runtut 1,0 baik Ada penjelasan manfaat 1,0 baik

(18)

Contoh dan ilustrasi jelas

0,9 baik

2 Penggunaan Bahasa kata-kata singkat lugas 0,9 baik Kalimat efektif 1,0 baik Hubungan kalimat

terpadu

0,8 baik

3 Tampilan Gambar tidak padat 1,0 baik Gambar sesuai konsep 0,9 baik

Hasil uji perorangan yang dilakukan dan direvisi pada mahasiswa calon guru sekolah dasar menunjukkan bahwa mahasiswa sudah memahami bacaan dan draf bahan ajar. Hasil rerata dari penilaian mahasiswa menunjukkan bahan ajar mempunyai indeks yang tinggi dan tergolong sangat baik karena rata-rata lebih dari 0,8

4. Uji Coba Skala Terbatas (Preliminary Field Testing)

Uji coba skala terbatas dilakukan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sampel yang digunakan sebanyak 38 peserta. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh dosen model dan mahasiswa PGSD. Uji coba skala terbatas dilakukan dengan memperhatikan evaluasi secara kualitatif keterlaksanaan proses pembelajaran, kepraktisan. Hasil wawancara dan observasi memberikan rekomendasi beberapa revisi yang terjadi pada proses pelaksanaan uji coba skala terbatas adalah:

1. Mahasiswa belum memahami tahapan-tahapan dalam model, sehingga dalam mengerjakan tahapan masih kurang terkoordinasi

2. Situasi pembelajaran masih monoton, posisi tempat duduk dan situasi pembelajaran diubah supaya lebih menyenangkan

3. Prinsip reaksi: Interaksi dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mahasiswa masih terlihat masih kaku, dosen lebih dominan dalam proses pembelajaran.

Pada uji coba skala terbatas juga diberikan evaluasi untuk mengetahui keefektifan dari model.

Pengambilan data dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Jumlah partisipan yang digunakan dalam uji coba skala terbatas terdiri dari 38 mahasiswa pada kelas eksperimen dengan menggunakan tes uraian jawaban terbuka. Hasil tes dianalis dengan menggunakan rasch model.

Hasil analisis pada kelas uji terbatas dengan menggunakan teori modern Rasch model untuk mengukur item fit dari instrumen serta abilitas person dari mahasiswa. Hasil instrumen menunjukkan reliabilitas person 0,90 dan sebaran/separation 3,06 yang menunjukkan instrumen dapat mengukur dari kemampuan yang rendah hingga kemampuan tinggi. Hasil uji coba terbatas

(19)

Gain Score = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑜𝑠𝑡 𝑇𝑒𝑠𝑡−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑟𝑒 𝑇𝑒𝑠 100−𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑟𝑒 𝑇𝑒𝑠𝑡

N- Gain = 68,6 − 44,9 100 − 44,9

N-Gain = 23,7

55,1

= 0,43

Berdasarkan nilai N-Gain, menunjukkan bahwa peningkatan hasil sebagai indikator keefektifan model tergolong sedang dalam keefektifannya. Oleh karena itu perlu ada beberapa revisi yang harus dilakukan, antara lain dari penyampaikan sintak kepada mahasiswa maupun dosen model, sistem sosial yang lebih nyaman untuk dapat tercapai tujuan pembelajaran, prinsip reaksi yang menyatakan hubungan antara mahasiswa dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosen masih perlu diperbaiki kembali supaya lebih membangun. Setelah dilakukan revisi dan koordinasi dengan dosen model serta konsultasi dengan beberapa pakar, maka dilakukan uji coba kembali dan berdasarkan hasil pengamatan sudah menunjukkan adanya perubahan dalam pelaksanaan sintak pembelajaran, sistem sosial yang terbentuk sudah menunjukkan pembelajaran yang menyenangkan serta prinsip reaksi antara dosen dan mahasiswa sudah terjalin baik, maka dilanjutkan dengan tahap berikutnya.

5. Uji Coba Skala Luas (Main Field Testing)

Uji skala luas dilakukan di 3 universitas yaitu UNS Surakarta, UNESA Surabaya dan UNIKA Ruteng-Flores. Jumlah sampel yang digunakan pada uji skala luas sebanyak 110 mahasiswa di kelas eksperimen. Hal ini sudah memenuhi syarat jumlah sampel yang ditetapkan oleh Borg and Gall pada tahapan main field testing, yang mensyaratkan jumlah sampel antara 40 sampai 200 subyek. Pada tahapan uji coba skala luas dilakukan pengumpulan data dari paradigma kualitatif

(20)

maupun kuantitatif. Beberapa metode yang dilakukan adalah metode wawancara, observasi, kuesioner dan tes essai. Hasil pengumpulan data secara kualitatif meliputi sistem sosial yang terjadi selama proses pembelajaran, pengamatan kondisi mahasiswa dalam hal ketertarikan dalam mengikuti proses pembelajaran untuk menunjukkan wellbeing dalam proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum kampus merdeka. Hasil uji coba skala luas secara kualitatif menunjukkan:

a. Deskripsi Penerapan Model STEcS

Topik: pengelolaan minyak jelantah untuk mengurangi pencemaran air di rumah tangga Penerapan model STEcS dilakukan pada materi pencemaran dan pengelolaan sampah, khususnya pada topik pengelolaan minyak jelantah untuk mengurangi pencemaran air di rumah tangga, pengelolaan sampah organik dengan pembuatan kompos pada lubang biopori serta pembuatan poster.

1) Sintak Pembelajaran

Mahasiswa sudah dapat mengikuti langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan model STEcS sehingga keterlaksanaan model dapat diterapkan dalam seluruh proses pembelajaran.

(a) Tahap ke-1 Orientasi

Tahap orientasi merupakan tahapan untuk menumbuhkan sikap positif mahasiswa terhadap materi pembelajaran. Sikap positif pada mahasiswa ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu menayangkan video tentang pencemaran air, melakukan curah pendapat, melakukan orientasi kondisi pengelolaan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS).

Penayangan video pada tahapan orientasi, tentang kondisi alam baik mengenai indahnya alam maupun kondisi kerusakan alam yang terjadi akibat pencemaran air dan pengelolaan sampah yang tidak tepat. Melalui penayangan video dari sisi keindahan alam maupun kerusakan alam akibat pencemaran, maka mahasiswa secara visual dapat memberikan perhatian terhadap kondisi alam yang ada di sekitar.

Curah pendapat pada tahapan orientasi bertujuan untuk melatih mahasiswa berkomunikasi serta menumbuhkan keterampilan berpikir kritis tentang kondisi yang ada di sekitar. Kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi difasilitasi oleh dosen model

(21)

dengan memberikan stimulan untuk menyampaikan ide, pendapat sesuai dengan topik yang dibahas pada pembelajaran.

Tahapan orientasi memberi kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan sikap positif, kemampuan berkomunikasi serta mampu mengidentitikasi masalah yang ada di sekitar. Pada tahapan orientasi, mahasiswa diberi kesempatan untuk membangun respon positif dan menumbuhkan perhatian terhadap pentingnya materi pencemaran dan pengelolaan sampah, khususnya pada topik yang berkaitan dengan pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan rumah tangga maupun di lingkungan kampus.

(b) Tahap ke-2 Organisasi & Investigasi

Tujuan tahapan organisasi & investigasi untuk membentuk pengetahuan mahasiswa secara mandiri berdasarkan pengalaman belajar. Kegiatan yang dilakukan untuk membentuk pengetahuan atau mengkonstruk pengetahuan dilakukan melalui indoor maupun outdoor.

Kegiatan indoor yang dilakukan adalah mahasiswa mempunyai pengalaman untuk mencari literatur baik secara online maupun offline di perpustakaan mengenai materi yang dipelajari, mahasiswa melakukan diskusi dengan kelompok yang sudah dibentuk untuk dapat saling tukar pendapat, membentuk sikap kerjasama dan menghargai pendapat orang lain. Kegiatan outdoor pada tahapan ini yaitu mahasiswa melakukan investigasi untuk mengecek kebenaran permasalahan di lapangan, yaitu kondisi pencemaran yang ada di lingkungan kampus maupun di lingkungan masing-masing. Mahasiswa merancang suatu laporan secara visual dan mengkomunikasikan hasil temuannya. Pada tahapan ini mahasiswa terlatih untuk menginterpretasikan suatu masalah, menganalisis, menginferensi/menyimpulkan dan mengeksplanasi atau menjelaskan hasil temuannya.

(c) Tahap ke-3 Aplikasi

Tahapan aplikasi bertujuan untuk mengkaitkan antara pengetahuan yang telah ada dengan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Kegiatan nyata untuk mengaplikasikan pengetahuan dengan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan nyata dalam menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Beberapa kegiatan aplikasi pada penelitian ini yaitu memanfaatkan limbah minyak jelantah, sebagai bahan sampah yang

(22)

dihasilkan oleh setiap rumah tangga. Permasalahan minyak jelantah digali dari hasil curah pendapat mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari dengan membuang minyak jelantah pada saluran air. Permasalahan tersebut kemudian dipraktekkan dalam praktikum mengenai cara pemisahan minyak goreng dari air dengan menggunakan bahan-bahan penyerap cairan.

Mahasiswa mengalami kesulitan dalam pemisahan minyak dengan air, oleh karena itu mahasiswa mencari solusi untuk memanfaatkan minyak jelantah menjadi barang yang lebih mempunyai nilai ekonomi dan estetika dengan membuat lilin berbahan minyak jelantah.

Hal ini juga dikaji dari kebiasaan nenek moyang membuat pelita berbahan minyak kelapa.

Budaya kebiasaan nenek moyang tersebut dimodifikasi supaya sesuai dengan kekinian, sehingga pembuatan lilin minyak jelantah dibuat dengan warna dan bentuk yang lebih menarik. Kegiatan aplikasi yang lainnya adalah mendesain poster tentang pengelolaan sampah, mendesain tempat sampah sesuai dengan jenisnya, dan memanfaatkan sampah organik rumah tangga dengan membuat biopori.

Pembuaatan biopori merupakan teknologi sederhana yang dapat dilakukan oleh semua siswa dari tingkat sekolah dasar hingga perguruam tinggi. Pembuatan biopori berfungsi untuk memperbanyak peresapan air ke dalam tanah dan mengelola sampah organik untuk menjadi kompos. Sisa makanan yang dimasukkan ke dalam lubang biopori, menjadi sumber makanan bagi cacing dan mikro organisme yang ada di dalam tanah. Adanya cacing dan mikro organisme di dalam tanah membuat pori-pori dalam tanah sehingga membantu jumlah resapan air ke dalam tanah dan membantu proses pengomposan.

(d) Tahap ke-4 Pemantapan Konsep

Tahapan pemantapan konsep bertujuan untuk melakukan pemantapkan kembali konsep- konsep dasar yang sudah dikonstruk oleh mahasiswa. Pemantapan konsep dilakukan dengan melakukan presentasi hasil temuan dan saling melakukan pengecekan apabila ada konsep yang salah.

Pada tahapan pemantapan konsep, mahasiswa terlatih untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi melalui kegiatan presentasi dan tanya jawab. Mahasiswa menjadi terlatih dalam berkomunikasi, berkolaborasi hingga berpikir kritis. Hal-hal tersebut sesuai dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21.

(23)

(e) Tahap ke-5 Evaluasi

Tahapan evaluasi bertujuan untuk mengevaluasi seluruh proses pembelajaran. Untuk mengevaluasi proses pembelajaran dilakukan dengan observasi terhadap proses pembelajaran, kuisioner untuk penilaian sendiri oleh mahasiswa dan tes essay untuk menilai ketercapaian pembelajaran.

Topik: Pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui pembuatan lubang biopori (a) Tahap ke-1 Orientasi

Mahasiswa ditumbuhkan sikap positif terhadap materi melalui penayangan video tentang kondisi pengelolaan sampah yang benar (pemilahan sampah, pembuatan keranjang Takakura, kompos) dan pengelolaan sampah yang tidak benar (penumpukan sampah di tempat penampungan sementara maupun akhir). Dosen melakukan curah pendapat dengan mahasiswa mengenai dampak yang ditimbulkan dari sampah yang tidak dikelola dengan baik dan sampah yang dikelola dengan baik. Hal yang ditekankan oleh dosen dalam curah pendapat adalah sampah diolah mulai dari sumber produksi sampah. Dosen menyampaikan pola kebiasaan nenek moyang dalam mengelola sampah antara lain dengan ditimbun, diberikan pada ternak, serta adanya pamali-pamali yang melarang membuang sisa makanan, seperti di jawa ada kebiasaan nenek moyang yang melarang membuang sisa makanan supaya dewi sri tidak menangis, sedangkan di Flores mempunyai kebiasaan memelihara babi sebagai binatang acara adat untuk menampung semua sisa makanan.

Mahasiswa melakukan orientasi dengan mengamati kondisi pengelolaan sampah yang ada di sekitar kampus. Hal ini untuk menumbuhkan perhatian tentang masalah sampah yang ada di sekitar kampus, yang sering kali tidak mendapat perhatian. Beberapa hal yang diamati tentang pola pemisahan sampah, pola penanganan/pengelolaan sampah organik maupun anorganik yang ada di sekitar kampus.

(b) Tahap ke-2 Organisasi dan Investigasi

Pada tahapan organisasi dan investigasi, mahasiswa secara berkelompok yang beranggotakan rata-rata lima orang melakukan diskusi, mengkaji literatur mengenai jenis sampah serta manajemen sampah yang dilakukan di wilayah masing-masing maupun secara nasional. Mahasiswa secara pribadi melakukan investigasi terhadap kondisi

(24)

pengelolaan sampah yang ada di lingkungan rumah masing-masing, mengkaji pola kebiasaan masyarakat di sekitar dalam melakukan pengelolaan sampah di lingkungan rumah tangga baik sampah organik maupun anorganik. Mahasiswa melakukan wawancara dengan tokoh atau orang tua tentang pola kebiasaan nenek moyang dalam pengelolaan sampah organik serta kebiasaan maupun pamali yang ada di masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sampah.

(c) Tahap ke-3 Aplikasi

Pada tahapan aplikasi, mahasiswa menerapkan pengetahuannya pada penyelesaian masalah yang ada di masyarakat tentang pengelolaan sampah maupun masalah pencemaran tanah akibat sampah. Mahasiswa melakukan pengelolaan sampah organik dengan mengadopsi pola kebiasaan masyarakat dalam menimbun sampah. Pengelolaan sampah organik yang dilakukan oleh mahasiswa dengan membuat lubang biopori kemudian memasukkan sisa makanan ke dalam lubang biopori. Sisa makanan yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan membantu tumbuhnya mikroorganisme dan organisme di dalam tanah.

Adanya organisme di dalam tanah seperti cacing, rayap akan membuat semakin banyak pori-pori di dalam tanah yang membantu peresapan air ke tanah. Sedangkan sisa makanan yang ada di dalam lubang biopori akan menjadi pupuk yang dapat dipanen setiap 4 hingga 6 bulan.

(d) Tahap ke- 4 Pemantapan Konsep

Mahasiswa mempresentasikan hasil temuannya tentang masalah pengelolaan sampah yang ada di lingkungan masyarakat serta pengelolaan sampah organik dengan cara ditimbun seperti pola kebiasaan nenek moyang, melalui pembuatan biopori. Mahasisswa melakukan tanya jawab terkait dengan hasil temuan masing-masing kelompok. Masing- masing kelompok mengungkapkan komitment pribadi terkait dengan pengelolaan sampah.

(e) Tahap ke-5 Evaluasi

Evaluasi dilakukan secara mandiri maupun bersama. Evaluasi mandiri mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran melalui angket. Sedangkan evaluasi secara

(25)

kelompok dengan mengerjakan soal pada lembar kerja mahasiswa. Mahasiswa membuat laporan secara digital dalam video maupun laporan secara tertulis.

2) Sistem Sosial

Sistem sosial yang dibentuk dalam pembelajaran menunjukkan mahasiswa bisa menikmati pembelajaran dengan nyaman dan menarik sehingga terbentuk situasi kelas yang menyenangkan. Mahasiswa melakukan diskusi kelompok dan mengerjakan tugas dengan penuh kenyamanan karena mereka boleh berdiskusi dan berkerja sama sambil duduk di lantai, tanpa harus ada keterbatasan oleh kursi-kursi yang selama ini biasa dilakukan.

Mahasiswa selain melakukan pembelajaran di dalam kelas dengan santai, mahasiswa melakukan pembelajaran outdoor melalui kegiatan tahapan organisasi dan investigasi, mahasiswa melakukan kajian literatur dengan cara daring maupun luring di perpustakaan, mahasiswa melakukan investigasi tentang kondisi lingkungan secara berkelompok maupun mandiri disekitar rumah masing-masing, serta mengaplikasikan pengetahuan mereka kepada anak-anak sekolah dasar disekitar rumah mereka. Sistem sosial yang dibentuk pada proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS telah membuat mahasiswa belajar dengan wellbeing. Keterlaksanaan dan kemenarikan dalam proses pembelajaran dengan model STEcS menunjukkan kepraktisan dari model STEcS

3) Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi antara dosen dan mahasiswa terjalin lebih dekat, terutama pada saat tahapan investigasi bersama di lingkungan sekitar kampus, maka dosen dan mahasiswa bisa berdiskusi dengan bebas tentang materi pembelajaran tanpa ada keterbatasan seperti di dalam kelas. Peran dosen sebagai fasilitator memberikan arahan, menfasilitasi pada proses pembelajaran.

4) Sistem Pendukung

Faktor-faktor pendukung untuk proses pembelajaran dapat terpenuhi karena disediakan oleh mahasiswa maupun laboratorium. Sehingga ketersediaan alat dan bahan sebagai faktor pendukung proses pembelajaran dapat terpenuhi tanpa ada kendala untuk melakukan semua proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS.

(26)

b. Deskripsi Budaya yang Berkaitan dengan Kepedulian Lingkungan

Budaya merupakan tradisi, pola kebiasaan yang ada di masyarakat yang dilakukan secara turun temurun serta mempunyai nilai. Pola-pola kebiasaan pada masyarakat tersebut mempunyai kearifan-kearifan yang membentuk sistem. Sistem budaya pada masyarakat erat hubungannya antara kehidupan manusia dengan kelestarian lingkungan alam.

Hubungan antara manusia dengan lingkungan alam merupakan ilmu yang menjadi bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam. Lingkungan yang ada terdiri dari abiotik, biotik, dan budaya. IPA sangat erat dengan budaya-budaya yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan. Upaya menjaga kelestarian lingkungan yang telah dilakukan oleh para nenek moyang, merupakan tradisi yang baik untuk dikembangkan pada generasi penerus yang disesuaikan dengan konteks kekinian serta dapat dijelaskan secara scientific. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan dan sharing dari mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar menunjukkan bahwa beberapa adat kebiasaan yang telah dilakukan oleh nenek moyang dalam rangka melestarikan lingkungan hidup, antara lain:

a) Kelestarian Sumber Mata Air

Mata air di wilayah Flores, khususnya di Manggarai yang disebut dengan wae teku sebagai tempat yang dilindungi oleh nenek moyang, karena sudah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia di sekitarnya. Nenek moyang percaya bahwa sumber mata air sebagai tempat tinggal para leluhur, sehingga harus di jaga kelestariannya. Sumber air atau wae teku merupakan salah satu komponen yang selalu ada pada perkampungan masyarakat adat di Manggarai. Gambaran pola pemukiman masyarakat Manggarai Flores dapat digambarkan dengan pola pada Gambar 4.4

(27)

Gambar 4. 4 Pola Pemukiman Masyarakat Manggarai Flores

Beberapa kebiasaan yang dilakukan antara lain dengan memberikan sesaji pada waktu acara adat dengan istilah borang wae dan mboas wae woang. Masyarakat Manggarai hingga saat ini masih melakukan kegiatan penti untuk mengundang para arwah leluhur yang tinggal di mata air sebagai rasa penghormatan terhadap sumber mata air. Pola kebiasaan budaya yang dilakukan secara turun temurun dalam penghormatan terhadap mata air merupakan pesan yang diberikan bahwa mata air merupakan sumber kehidupan masyarakat sekitar sehingga perlu dijaga kelestariaannya.

Beberapa kegiatan praktis yang dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian sumber mata air adalah larangan menebang pohon besar yang ada di mata air serta adanya pamali menangkap belut yang ada di sumber mata air.

Tradisi dalam menjaga kelestarian mata air juga dilakukan di wilayah Jawa dengan istilah Sadranan Mata Air. Sadranan mata air biasanya dilakukan di sendang sumber mata air, yang merupakan acara tahunan yang dilakukan turun temurun oleh masyarakat sekitar sumber mata air (sendang) pada saat menjelang bulan suci Ramadan. Ritual membersihkan mata air juga dilakukan dengan membawa/kirab gunungan yang berisi bermacam-macam makanan yang dimakan secara bersama setelah melakukan pembersihan mata air. Beberapa larangan menebang pohon besar juga diterapkan di Jawa. Pamali atau pantangan menebang

1) rumah Gendang (adat) dan rumah

warga 4) Boa; “pekuburan”

5)Lingko

“Kebun/sawah”

3) Wae Teku; “sumber air minum”

Natas;“halaman terbuka”

2) Compang;

“Mezbah”

Akses masuk ke perkampungan/beo

(28)

candi atau tempat-tempat yang dikeramatkan. Hal ini merupakan bentuk kearifan lokal yang berorientasi dalam menjaga kelestarian alam.

Penjelasan secara sains dalam pola kebiasaan nenek moyang pada pengelolaan sumber mata air tersebut adalah pohon yang berada di mata air mempunyai akar-akar yang mampu menahan ketersediaan air yang masuk di tanah, sehingga pada musim kemarau ketersediaan air tanah masih tetap terjaga. Peran akar-akar pohon selain untuk menyerap sari makanan untuk proses fotosintesis, juga membantu ketersediaan air tanah yang ada di mata air, sehingga larangan menebang pohon di mata air karena fungsi akar-akar pohon yang menjaga ketersediaan air tanah.

Pamali untuk menangkap belut di mata air secara sains dijelaskan bahwa belut merupakan Familli cibrachidea tergolong jenis ikan (pisces) yang mempunyai morfologi dan perilaku yang unik yaitu secara morfologi tidak mempunyai sirip, kulit mengeluarkan lendir dan dapat bernafas melalui kulit serta hidup di dalam lumpur-lumpur. Perilaku belut yang dapat hidup di dalam lumpur juga membantu pembukaan saluran-saluran mata air serta menjadi indikator adanya pencemaran mata air.

b) Membuat Lampu Pelita

Kebiasaan membuat lampu pelita dengan menggunakan minyak telah dilakukan oleh nenek moyang. Beberapa minyak yang digunakan secara tradisional dengan menggunakan minyak kelapa, minyak jarak, dan minyak kemiri. Masyarakat Manggarai yang tinggal di pesisir pantai menggunakan minyak kelapa sebagai sumber energi pada lampu, sedangkan masyarakat Manggarai yang tinggal di daerah tengah atau pegunungan menggunakan minyak jarak (Bahasa Manggarai: Pandu) dan minyak kemiri (Welu) sebagai sumber energi pada lampu pelita. Kebiasaan nenek moyang dalam membuat lampu pelita dari minyak kelapa juga dilakukan di wilayah Jawa. Gambar lampu minyak tradisional disajikan pada Gambar 4.5

(29)

(a) (b)

( c ) ( d )

Dokumen Peneliti

Gambar 4. 5 Lampu Berbahan Bakar Minyak

Minyak jarak dan minyak kelapa (a), (b); Lilin hias bahan bakar minyak goreng di Restoran (c); Lilin apung bahan bakar minyak jelantah (d)

Pola kebiasaan nenek moyang menggunakan lampu pelita dengan bahan bakar minyak jarak dan minyak kelapa, telah diadopsi menjadi lampu seperti lilin apung dengan inovasi yang bersifat kekinian, dengan kombinasi warna dan memanfaatkan limbah minyak jelantah (minyak bekas penggorengan) menjadi sumber energinya.

Penjelasan secara sains pada pada materi pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah, bahwa minyak kelapa (Cocus Nucifera) merupakan tumbuhan yang mengandung gliserin dan sejumlah asam lemak yang berpotensi untuk menjadi Coco Methyl ester. Tumbuhan yang berpotensi menjadi Coco Methyl ester menjadi bahan baku dalam pembuatan bio

(30)

diesel. Pada penggunaan minyak kelapa atau minyak sawit yang sudah beberapa kali dilakukan pemanasan menyebabkan teroksidasi asam lemak yang membentuk gugus peroksida dan asam siklik yang menyebabkan dampak negatif bagi yang mengkonsumsi, Pemanasan yang berulang-ulang pada minyak kelapa menyebabkan terurainya Trigliserid, pemecahan asam lemak pada minyak kelapa menimbulkan terbentuknya Free Fatty Acid (FFA) yang menjadi bahan dasar dalam bio diesel. Minyak jelantah yang berbahaya jika dikonsumsi dan menjadi sampah yang dapat merusak lingkungan, dapat dimanfaatkan sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi. Nilai ekonomi dan estetika pada pemanfaatan minyak jelantah didukung dengan kreatifitas dan inovasi pada mahasiswa sehingga menjadi lilin apung yang lebih menarik. Pembuatan lilin apung juga mengikuti prinsip lampu minyak yang dibuat oleh nenek moyang dengan menggunakan sumbu sebagai media untuk merambatnya minyak ke permukaan sumbu karena proses kapilaritas.

Cairan minyak akan merambat melalui pori-pori kecil pada pipa sumbu yang diameternya lebih kecil dari diameter wadahnya, sehingga bagian ujung sumbu yang terbakar akan membentuk karbon yang berikatan dengan oksigen sehingga api akan menyala sampai bahan bakar habis untuk merambat melalui pori-pori sumbu.

Budaya membuat lampu pelita dengan minyak juga mulai diterapkan pada saat ini di tempat wisata, tempat makan maupun refresing dengan lebih memperhatikan nilai estetika dan kenyamanan. Pencahayaan dari lampu pelita memberikan kenyamanan visual pada lingkungan sekitar sesuai dengan fungsinya. Kenyamanan visual pada lampu pelita inilah yang menjadi inspirasi bagi beberapa rumah makan, restoran yang menggunakan lampu pelita untuk mendapatkan suasana yang lebih tenang. Penggunaan pelita minyak selain bertujuan kenyamanan juga bermanfaat untuk menjaga kelestarian lingkungan apabila menggunakan bahan bekas pakai untuk reuse sehingga menggurangi produksi sampah serta meningkatkan nilai ekonomi dan estetika dari sampah.

c) Membuat Lubang Jogangan (lubang galian sampah organik)

Membuat lubang galian sampah organik telah menjadi budaya nenek moyang dalam mengelola sampah rumah tangga. Pola kebiasaan membuat lubang galian sampah dan menanami pisang maupun tanaman lainnya sering dilakukan di setiap rumah di Jawa. Pola kebiasaan membuat lubang sampah hampir dilakukan di setiap rumah tangga. Pola

(31)

mengelola sampah dan bertanggung jawab dengan produksi sampah telah dilakukan sejak nenek moyang, hal ini memberi inspirasi bahwa pengeloaan sampah, khususnya sampah organik dikelola sejak dari produsen sampah. Pola pengelolaan sampah dengan cara membuat lubang galian sampah dapat dilakukan sesuai dengan kondisi saat ini, dengan membuat lubang biopori maupun membuat pengelolaan sampah organik menjadi kompos dengan menggunakan keranjang Takakura maupun ember bekas pada rumah tangga yang memiliki keterbatasan lahan. Pembuatan lubang biopori selain membantu peresapan air juga dapat untuk mengelola sampah organik. Beberapa pengelolaan sampah organik yang dilakukan pada masing-masing produsen dengan menampung sampah organik untuk dibuat kompos rumah tangga dengan menggunakan metode keranjang Takakura maupun pola menimbun dalam ember yang menyerupai timbunan dalam tanah. Pola penimbunan sampah organik pada ember yang dilapisi dengan karpet maupun karung goni serta dengan lubang biopori merupakan adopsi dari kebiasaan nenek moyang dalam mengelola sampah organik untuk menjadi pupuk organik atau kompos. Gambar Jogangan (lubang galian penampung sampah) dan salah satu contoh pengelolaan sampah organik di rumah tangga disajikan pada Gambar 4.6

( a ) ( b )

Dokumen Peneliti

Gambar 4. 6 Pengelolaan Sampah Organik.

(32)

Jogangan (lubang sampah organik) tradisional (a); Ember pengolah sampah organik kekinian (b)

Proses penguraian bahan organik dilakukan oleh mikroorganisme tanah yang terdiri dari bakteri (Bacillus sp, Pseudomonas sp, dan Flavobacterium sp), fungi (Mucor sp, Aspergillus sp, dan Humicolla sp) serta makroorganisme seperti cacing dan rayap.

Mikroorganisme tanah mengeluarkan enzim yang membantu perombakan bahan organik dengan cara mendepolimerisasi bahan organik. Mikroorganisme pada pembuatan kompos di rumah tangga dibantu dengan menambahkan Effective Microorganism (EM).

Contoh-contoh budaya yang telah dilakukan oleh nenek moyang dalam menjaga kelestarian lingkungan tentu masih sangat banyak yang bisa dijadikan bahan untuk pembelajaran bagi siswa di sekolah. Kajian penelitian lebih lanjut tentang budaya nenek moyang dalam menjaga kelestarian lingkungan baik di Jawa maupun di Flores akan dikaji pada penelitian selanjutnya.

Hasil uji coba pada skala luas juga memperhatikan faktor kepraktisan model STEcS. Kepraktisan model STEcS menunjukkan mudah tidaknya model digunakan pada proses pembelajaran materi pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah.

c. Kepraktisan Model

Kepraktisan model STEcS pada proses pembelajaran didasarkan pada keterlaksanaan model STEcS, ketertarikan, dan kenyamanan mahasiswa terhadap proses pelaksanan pembelajaran dengan menggunakan model STEcS. Berdasarkan hasil angket dan observasi yang diberikan kepada mahasiswa, hasil ringkasan respon terhadap ketertarikan pembelajaran dengan menggunakan model STEcS disajikan pada Gambar 4.5

(33)

Gambar 4. 7 Grafik Kepraktisan Model

Mahasiswa aktif dan tertarik pada proses pembelajaran dalam pengelolaan sampah yang berbasis pada budaya nenek moyang yang diaplikasikan pada masyarakat karena mahasiswa menemukan sendiri masalah yang ada di sekitar sehingga mempunyai respon positif terhadap materi. Berdasarkan hasil kuesioner menunjukkan bahwa 78% menyatakan aktif dan tertarik pada proses pembelajaran karena mahasiswa juga merasakan kenyaman dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan Gambar 4.4 menunjukkan bahwa 85% mahasiswa menyatakan nyaman dengan situasi pembelajaran, hal ini karena sistem sosial pada pembelajaran STEcS mempunyai karakteristik situasi pembelajaran yang nyaman sehingga mahasiswa merasakan wellbeing dalam proses pembelajarannya sesuai dengan kurikulum pada kampus merdeka belajar.

Keterlaksanaan model pembelajaran STEcS pada tahapan pengembangan model didasarkan pada hasil observasi yang dilakukan oleh observer dan berdasarkan hasil pengisian angket yang dilakukan oleh mahasiswa calon guru sekolah dasar. Keterlaksanaan model STEcS berdasarkan pada komponen-komponen model yaitu keterlaksanaan sintak model, kondisi sistem sosial yang terjadi selama proses pembelajaran, prinsip reaksi yang terjalin antara dosen dengan mahasiswa maupun antara mahasiswa dengan mahasiswa, terpenuhinya sarana dan prasarana yang mendukung ketelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model STEcS serta dampak instruksional dan pengiring dari proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS.

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Sangat setuju setuju netral

ketertarikan kenyamanan Keterlaksanaan

(34)

Keterlakasanaan sintak model ditinjau dari masing-masing sintak yang terdapat pada model STEcS. Sintak yang pertama adalah orientasi. Pada tahapan atau sintak orientasi deskripsi yang dilakukan oleh observer terhadap kegiatan mahasiswa maupun dosen menunjukkan kesimpulan yang menyatakan tahapan orientasi dapat terlaksana. Hal ini juga didukung oleh angket yang diberikan oleh mahasiswa menunjukkan bahwa tahapan orientasi pada proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS dapat terlaksana. Hasil ringkasan angket keterlaksanaan sintak orientasi disajikan pada Gambar 4.6

Gambar 4. 8 Grafik Keterlaksanaan Sintak

Keterlaksanaan tahapan orientasi pada Gambar 4.5 menunjukkan 92 % menyatakan tertarik dan dapat melaksanakan tahapan orientasi dan tidak ada mahasiswa yang menyatakan tidak tertarik atau tidak menyetujui, hal ini sesuai dengan pengamatan yang dilakukan oleh ketiga observer yang menyatakan semua tahapan orientasi dapat terlaksana pada proses pembelajaran.

Deskripsi kegiatan mahasiswa dan dosen pada tahapan orientasi dijabarkan sebagai berikut:

mahasiswa melakukan orientasi terhadap permasalahan yang ada di sekitar, mahasiswa merespon dengan aktif pertanyaan dari dosen terhadap permasalahan pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah yang terjadi, mahasiswa mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan yang ditemukan serta mahasiswa mengambil dugaan sementara dalam penyelesaian masalah.

Sedangkan kegiatan yang dilakukan oleh dosen pada tahapan orientasi antara lain, dosen melakukan apersepsi, menyampaikan topik permasalahan, kajian kontekstual budaya berkaitan

22

70

7 19

64

18 11

66

3 0

10 20 30 40 50 60 70 80

Sangat Setuju Setuju Netral

Orientasi Organisasi&Investigasi Aplikasi

(35)

dengan masalah pencemaran dan pengelolaan sampah, dosen memotivasi mahasiswa untuk memiliki pemikiran positif terhadap permasalahan yang ada serta dosen mendampingi mahasiswa untuk merumuskan masalah.

Pada tahapan organisasi dan investigasi, mahasiswa dapat aktif melaksanakan dalam bentuk bekerja sama mengumpulkan data dari literatur baik secara luring maupun daring.

Berdasarkan dari Gambar 4.5 menunjukkan bahwa 82% mahasiswa aktif dalam melakukan tahapan organisasi dan investigasi sedangkan 18 % mahasiswa bersikap netral. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh mahasiswa dapat melaksanakan tahapan organisasi dan investigasi, karena tidak ada mahasiswa yang menyatakan tidak aktif dalam tahapan organisasi dan investigasi.

Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan dari ketiga observer yang seluruhnya menyatakan bahwa tahapan organisasi dan investigasi pada pembelajaran model STEcS dapat terlaksana dengan diskripsi kegiatan mahasiswa yaitu membentuk kelompok dan bekerja sama dalam kelompok, mengorganisasi data-data dari sumber sekunder maupun primer, melakukan investigasi terhadap permasalahan untuk mendapatkan data serta mencoba melakukan percobaan penyelesaian masalah.

Model pembelajaran STEcS mempunyai karakteristik pada sintak organisasi dan investigasi, yaitu mahasiswa diberikan ruang yang lebih leluasa untuk mengorganisasi data dan bekerja sama, mahasiswa mengumpulkan literatur secara langsung diperpustakaan maupun secara digital melalui jaringan online berupa artikel, jurnal dan teks book. Dalam melakukan investigasi terhadap permasalahan pencemaran dan pengelolaan sampah, mahasiswa melakukan investigasi secara berkelompok maupun secara mandiri. Mahasiswa melakukan investigasi di lingkungan sekitar tempat tinggal masing-masing mengenai kondisi pencemaran air di sekitar rumah maupun pengelolaan sampah yang ada di sekitar tempat tinggal. Mahasiswa bersama dengan kelompok membuat laporan hasil investigasi dalam bentuk video digital. Dengan melakukan investigasi secara langsung, menunjukkan mahasiswa tertarik dengan pembelajaran dan menjadi pengalaman belajar secara kontekstual serta menggunakan teknologi dalam pembuatan laporan kegiatan.

Kegiatan organisasi dan investigasi juga dilakukan dengan menggali informasi mengenai hal-hal tradisi yang pernah dilakukan oleh nenek moyang yang dapat diaplikasikan dalam menyelesaikan masalah pencemaran dan pengelolaan sampah. Penyelesaian masalah pencemaran yang dilakukan oleh mahasiswa berupa kegiatan sederhana yang dikaitkan dengan tradisi budaya yang ada di lingkungan mereka. Kegiatan menemukan permasalahan hingga upaya mencari literatur dan

Gambar

Tabel 4. 1 Kajian Jurnal Internasional
Gambar  diperjelas  agar  dapat  memberikan  informasi
Gambar 4. 1 Perbaikan Prototype  Model STEcS
Tabel 4. 4 Hasil Validasi Materi dari Pakar Materi dan Dosen Pengguna
+7

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu agar dapat menjembatani kebutuhan publikasi internasional bagi para mahasiswa peserta PMDSU pada Pascasarjana penyelenggara PMDSU, Ditjen Dikti

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan kompetensi strategis matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa uang saku mahasiswa dari orang tua, status anggota keluarga lain yang merokok konvensional, lama penggunaan rokok konvensional, banyak

Anyaman merupakan satu daripada pelbagai teknik yang digunakan dalam penghasilan kraftangan masyarakat Melayu. Anyaman turut dikenali dengan anyaman angkat yang mana

Puji syukur kepada Allah SWT atas berkat rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Suhu dan Lama

Pemberian Ekstrak Air Buah Kesemek Junggo (Diospyros kaki L.f.) diperoleh perbedaan yang signifikan terhadap tikus artritis terapi ekstrak air buah kesemek junggo dengan

Rumusan masalah anu peneliti ajukan nyaeta, 1) Kumaha lalakon sepuh ka adanyya perkawis penyyimpangan laku-lampah di golongan rumaja?, 2) Kumaha daweung kulawargi dina

Perawat harus lebih menikmati dunia kerja dan berusaha menciptakan lingkungan kerja kondusif dengan menganggap bahwa profesi perawat bukan hanya labelisasi duniawi