BAB I PENDAHULUAN
E. Kerangka Teori
2. Kebijakan Publik
2.2. Kegagalan Kebijakan Publik
Dalam proses pembutan kebijakan tidak jarang mengandung resiko dan kegagalan. Kegagalan dalam dalam proses kebijakan mengindikasikan bahwa tujuan akhir dari kebijakan tidak mampu mengakomodir semua pihak-pihak yang mempunyai kepentingan, kebijakan terkesan berpihak pada subjek kebijakan (pemerintah), mengesampingkan objek kebijakan (masyarakat), sehingga masyarakat sebagai objek kebijakan melakukan resistensi terhadap kebijakan yang dikelurkan oleh subjek kebijakan.
Hoogwood dan Gunn membagi pengertian kegagalan kebijakan (Policy Failure) dalam dua kategori, yaitu tidak terimplementasi (non implementastion) dan implementasi yang tidak berhasil (unsuscceful implementation). Kegagalan implementasi kebijakan dikarenakan oleh pelaksanaan buruk (bad execution), kebijakan sendiri dinilai sangat jelek (bad Polcy) atau kebijakan itu bernasib jelek. Untuk bisa memastikan sebuah kebijakan itu bisa diimplementasikan, kebijakan harus dirancang supaya menghasilkan efek sosial yang dikehendaki.
Dan untuk itu lah dibutuhkan desain sebuah implementasi sebagai kerangka kerja operasioanal yang berisi rumusan yang jelas dan komprehenship (dalam Solihin Abdul Wahab 1991,h.
61).
Proses implementasi dapat diartikan sebagai suatu sistem pengendalian untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan
26
sumberdaya dan penyimpangan dari tujuan kebijakan.
Implemetasi bisa diartikan sebagai apa yang terjadi setelah peraturan perundang-undang ditetapkan. Tugas implementasi adalah sebagai penghubungan yang memungkinkan tujuan kebijakan publik menjadi hasil (output).
Dalam implementasi, penting untuk mengaitkan content dengan contexts. Isi kebijakan mengandung beban implemetasi dengan sendirinya. Dengan demikian dalam isi kebijakan tersebut harus disertai dengan kerangka pengelolaan konflik, harus dikelola secara seksama dan secara akademis harus ada kerangka konseptual yang kokoh. Hal itu penting mengingat sebab kemampuan terapan sebuah kebijakan sangat dipengaruh oleh besar kecilnya dukungan stake holder, ketetapan perumusan masalah, kekokohan kerangka penanggunlan masalah dan kejelasan, ketersediaan dan pendayagunaan istrumen yang dipakai.
Kegagalan dan keberhasilan sebuah kebijakan adalah muara dari proses kebijakan sampai implementasi kebijakan, tergantung dari sisi kebijakan dan proses implementasinya.
Dalam memahami implementasinya, terdapat beberapa cara, yakni pendekatan istrumentalis, kontekstualis, dan kombinasi.
Pendekatan istrumentalis dalam implemetasinya menggunakan alur pemikiran top-dow, yang dikenal dalam diskursus kebijakan publik. Penganut kebijakan ini fokusnya adalah untuk memastikan istrumen bekerja secara efektif. Proses utamanya melakukan rancangan atau desain yang tetapkan dengan harapan dapat mencapai kebijakan menyeluruh. Titik awal dari top down ini adalah aktifitas dan keputusan yang dibuat oleh pemerintah.
Kemudian Pendekatan kontekstualitas dengan strategi implementasi botton up, merupakan produk interaksi antara
27
aktor yang ada pada satu lokasi dengan satu masalah khusus yang ditentukan. Jadi dengan alur bottom up ini memastikan kebijakan dapat mengatasi masalah dilapangan. Proses utama dari alur ini adalah menggalang kesepakatan, dimana dilakukan indetifikasi jaringan kerjasama antar sektor yang terlibat dalam perumusan kebijakan.
Memahami implemetasi dengan cara kombinasi merupakan sintesa dari dua pendekatan diatas hal ini berdasarkan asumsi bahwa sebuah kebijakan tidak tepat apabilah dirumuskan secara kaku unutk menggunkan satu metode saja.
Menurut Sabatier sintesis terhadap kedua cara diatas harus dilakukan agar dalam pencapaian tujuan sebenarnya dari kebijakan publik dapat tercapai. Dengan cara kombinasi ini maka alurnya menjadi timbal balik, dengan fokusnya titik temu antara pemerintah dan rakyat. Dalam prosesnya dilakukan dengan negosiasi dan dengan proses learning, sedangkan harapan pencapaian lebih realistis sesuai dengan kondisi dan situasi.
Selanjutnya keberhasilan dari implementasi kebijakan juga ditentukan oleh kualitas implementornya. Dalam kaitan ini perlu untuk dipahami keterkaitan dan peran dari birokrasi, sebagai implementor dari kebijakan pemerintah. Pergeseran paradigma birokarsi mutlak diperlakukan dalam rangka merubah asumsi dari birokrasi selama ini, jendela pandang birokrasi akan dapat mempengaruhi kualitas dan persepsi dari para birokrasi sebagi implementing agency. Jendela penopang yang mengangap bahwa kebijakan publik hanya merupakan rangkaian prosedur kerja yang runtun guna mengatasi masalah, mengakibatkan cara implementasinya yang cendrung top down dan sifat memaksa sering kali mengakibatkan terjadinya deviasi antara tujuan
28
dengan pelaksanaanya, terhadap pemaksaan tersebut sehingga tidak jarang sebagai penerima kebijakan melakukan resistensi.
Menurut Soenarko Implemetasi kebijakan itu gagal atau tidak berhasil dikarena beberapa hal.( Soenarko 1998,h. 185-186) .
a) Teori yang menjadi dasar kebijaksanaan itu tidak tepat.
b) Saranan yang dipilih untuk pelaksanaan tidak efektif dan kurang dipergunakan sebagaiman mestinya.
c) Isi dari kebijakan tersebut bersifat samar-samar.
d) Ketidak pastian faktor eksternal dan internal.
e) Kebijaksanaan yang ditetapkan mengandung banyak lubang.
f) Dalam pelaksanaan kurang memperhatikan hal teknis.
g) Adanya kekurangan akan tersedianya sumber-sumber pembantu (waktu, uang dan sumber daya manusia) Dengan demikian berdasarkan teori-teori diatas dalam konteks implementasi kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas yang secara langsung mengatur kehidupan Orang Rimba di dalamnya, maka dapat di kaitkan sebagaimanan berikut:
a. Implemetasi kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas yang secara langsung mengatur kehidupan Orang Rimba di dalamnya sesunguhnya tidak hanya menyangkut prilaku badan administratif saja dimana kebijakan tersebut bukan hanya merubah kehidupan Orang Rimba dari satu suasana ke suasanan yang lain (atas nama memanusiakan manusia), akan tetapi harus diikutkan dengan kebijakan terhadap sistem nilai sosial budaya yang telah melembaga dalam budaya komunitas Orang Rimba.
29
b. Maka untuk dapat mengsinkronkan content dengan contexts kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas, maka hubungan antara proses politik dan proses administrasi harus berjalan seiring. Sehingga implementasi kebijakan dimaknai tidak saja sebagai upaya untuk memaksimalkan proses administrasi, akan tetapi juga menggambarkan optimalisasi istrumen kebijakan melalui proses politik.
c. Dalam proses Kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas pemerintah lebih banyak menggunakan pendekatan istrumentalis, dengan implemetasi yang cendrung top down dan sifat memaksa yang sering kali mengakibatkan terjadinya deviasi antara tujuan dengan pelaksanaanya, terhadap pemaksaan tersebut sehingga Orang Rimba sebagai penerima kebijakan melakukan resistensi.
30
F. DEFENISI KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL 1. Defenisi Konseptual
a. Politik Resistensi : Resistensi adalah suatu penolakan, protes atau perlawanan yang dilakukan oleh pihak yang merasa tidak puas atau tidak setuju terhadap suatu kebijakan atau program yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Dalam penelitian ini resistensi adalah suatu perlawanan yang dilakukan oleh Orang Rimba terhadap Rencana Kebijakan Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas yang tidak mengakomodir kepentingan Orang Rimba (Kepentingan Ekonomi dan Menjalankan Tradisi dan Budaya).
b. Kebijakan Publik: Merupakan proses sosial (budaya) dan Politik yang berhubungan dengan kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukut Duabelas Propinsi Jambi. Hal ini dilakukan dengan mengoptimalkan serangkaian istrumen kebijakan agar menghasilkan perubahan sosial yang dikehendaki. Dengan harapan implementasi kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas akan menciftakan keteraturan keberadaan taman sebagai kawasan konservasi serta mendatangkan perubahan pola hidup dan pencerahan bagi komunitas Orang Rimba.
2. Defenisi Operasional
Resistensi Orang Rimba diindikasikan oleh beberapa indikator
a) Adanya upaya politik yang dilakukan oleh Orang Rimba untuk memperoleh pengakuan akan status mereka yang mendiami Taman Nasional Bukit Duabelas.
b) Adanya upaya politik yang dilakukan oleh Orang Rimba untuk mengembalikan Hak Ekonomi maupun Hak
31
Identitas yang hilang dikarenakan lahirnya kebijakan RPTNBD.
c) Adanya upaya untuk membangun pencitraan maupun merubah pandangan masyarakat luar terhadap keberadaan komunitas mereka (Orang Rimba).
G. METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study) dengan pendekatan kualitatif.
Dengan desain ini, penulis mengetahui dan memahami kasus dengan menjaring data dan informasi secara mendalam mengenai perlawanan yang dilakukan Oleh Orang Rimba terhadap lahirnya kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Dubelas Propinsi Jambi. Kedalaman data dan informasi tersebut kemudian digunakan untuk menganalisa, menginterpretasi dan menjelaskan fenomena resistensi yang dilakukan oleh Orang Rimba dalam menghadapi kebijakan RPTNBD, selain itu juga mencakup penyebab munculnya resistensi Orang Rimba, bentuk dan model resistensi Orang Rimba, serta tingkat efektivitas resistensi Orang Rimba dalam menyuarakan tuntutan mereka.
2. Informan
Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah orang yang dipandang memiliki akses informasi, dalam penelitian ini penulis menjumpai beberapa petinggi Adat Orang Rimba (Temenggung, Depati, Debalang, dan Manti) dan sebagian anggota adat, LSM yang secara langsung memberikan pendampingan yaitu Walhi Jambi, Sokolah, PPJ (Persatuan Petani Jambi), Media Massa (Jambi Ekspres dan Independent) lembaga bantuan Hukum Hak Asasi Manusia PBHI,
32
Departemen Sosial Kabupaten Sarolangun, Balai Konservasi Sumberdaya Alam, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, Dinas Kehutanan, serta beberapa Akademisi yang secara langsung menyoroti kehidupan Orang Rimba di Bukit Duabelas (beberapa dosen Institut Agama Islam Negeri Jambi).
Beberapa petinggi adat dijadikan sebagai informan, terutama temenggung sebagai kepala rombongan dari setiap kelompok yang mengkordiner langsung setiap aksi perlawanan dalam menentang kebijakan RPTNBD, kemudian beberapa LSM yang disebutkan diatas merupakan lembaga masyarakat yang mendampingi secara langsug setiap aksi perlawanan yang dilakukan oleh Orang Rimba sekaligus memberikan pemahaman kepada Orang Rimba bahwa ada ruang bagi mereka untuk menyampaikan keluhan dan aspiransi ketika kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada mereka. Lembaga-lembaga pemerintahan diatas terutama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propisi Jambi merupakan pihak yang mengeluarkan kebijakan RPTNBD, media massa secara tidak langsung menyoroti setiap aksi yang dilakukan oleh Orang Rimba, dan akademisi merupakan para ilmuan yang secara langsung meneliti dan mengkaji dinamika kehidupan Orang Rimba di Bukit Duabelas.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah :
a. Sumber data utama diperoleh melalui wawancara dengan informan sebagaimana yang dijelaskan diatas dan pengamatan langsung di lapangan.
b. Sumber data tambahan diperoleh dengan mempelajari bahan-bahan tertulis yakni beberapa dokumen yang berkaitan dengan kasus resistensi Orang Rimba menghadapi kebijakan RPTNBD (Lexy Moleong 2002,
33
h 112). Dalam penelitian ini dokumen-dokumen tersebut diperoleh dari LSM (Walhi Jambi), Lembaga Pemerintahan (BKSDA dan TNBD, Depsos Kabupaten Sarolangun), dan beberapa tulisan akademisi yang berkaitan dengan keberadaan Orang Rimba di Bukit Duabelas.
4. Teknik Pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 3 (tiga) hal untuk menjaring data dan informasi yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian. Ketiga teknik tersebut adalah :
a. Wawancara Mendalam.
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data dan informasi sebanyak mungkin melalui tanya jawab (dialog) dengan para informan yang memiliki akses informasi.
Pertanyaan yang digunakan pun bersifat terbuka, artinya jawaban atas sebuah pertanyaan dapat diikuti dengan pertanyaan turunan lainnya guna memperdalam fokus penelitian. Wawancara dengan informan pun dilakukan secara informal dengan tujuan agar sang informan tidak kaku sehingga dapat memberikan data dan informasi sebanyak mungkin mengenai kasus yang mereka ketahui, alami dan rasakan.
b. Pengamatan (observation)
Dalam penelitian ini, Peneliti juga mengamati secara langsung kehidupan Orang Rimba di dalawam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, baik berkenaan dengan proses pemenuhan kebutuhan ekonomi, maupun proses dalam menjalankan aktifitas tradisi dan budaya. Observasi ini menjadi penting bagi peneliti karena data dan informasi yang diperoleh dari informan tidak semuanya dapat
34
menjawab pertanyaan penelitian. Selain itu, kemungkinan subyektivitas dari informan selalu ada sehingga dibutuhkan kejelian pengamatan untuk membantu menjawab pertanyaan penelitian.
c. Studi Dokumentasi dan Kepustakaan.
Selain itu, Peneliti juga menjaring data dan informasi dari beberapa dokumen dan literatur tentang obyek penelitian. Dokumen dan literatur dimaksud berupa laporan-laporan Pemerintah Daerah dan dokumen dinas yang berkenaan dengan kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas yang dikeluarkan oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam Propinsi Jambi, kemudian dokumen-dokumen yang dimiliki oleh LSM terutama LSM Walhi, serta tulisan-tulisan para akademisi yang menyoroti kasus resistensi Orang Rimba menghadapi kebijakan RPTNBD.
5. Teknik Analisis Data
Sehubungan dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni pendekatan kualitatif, maka dalam menganalisis data, peneliti tidak menggunakan uji statistik melainkan analisi data menggunakan uji non statistik. Adapun data-data yang bersifat kuantitatif hanya digunakan untuk mempermudah analisa dan penafsiran Peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Berangkat dari argumen tersebut maka ada 3 (tiga) model analisis data yang digunakan yakni :
a. Reduksi data yaitu pemilihan, penyederhanaan data, penafsiran, pengabstrakan dan transformasi data.
b. Penyajian data yaitu penyusunan kembali data dan informasi yang telah diperoleh kedalam suatu bentuk yang lebih sederhana.
35
c. Penarikan kesimpulan yaitu penyusunan kesimpulan dari hasil analisa sebelumnya yang disesuaikan dengan pertanyaan penelitian.
6. Fokus dan Lokasi Penelitian
Setiap penelitian yang baik tentu memiliki fokus yang jelas. Penelitian ini difokuskan pada Resistensi Orang Rimba menghadapi Kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas, berkaitan dengan penyebab munculnya resistensi, bentuk dan model resistensi, serta tingkata efektivitas resistensi dalam mewujudkan tujuan gerakan resistensi. Lokasi penelitian ini adalah Taman Nasional Bukit Duabelas Propinsi Jambi.
I. SITEMATIKA PENULISAN
Bab 1, “Pendahuluan”. Dalam bab ini mengulas mengenai fakta-fakta resistensi Orang Rimba dalam menghadapi Kebijakan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas yang bertujuan mengatur kehidupan mereka di dalam kawasan. Upaya menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan acuan beberapa teori-teori terutama teori Politik Resistensi dan Kebijakan Publik. Selain itu, bab ini juga menguraikan metode penelitian yang telah digunakan dalam proses penelitian.
Bab 2, berjudul ” Marjinalisasi Orang Rimba di Bukit Duabelas”. Bab ini menjelaskan tentang proses marjinalisasi Orang Rimba di Bukit Duabelas yang kemudian menyebabkan resistensi itu muncul, diawali dengan pembahasan sejarah keberadaan Orang Rimba di Bukit Duabelas yang merupakan awal penyebab munculnya resistensi, dimana berdasarkan beberapa sejarah tersebut (yang menjelaskan keberadaan Orang Rimba di Bukit Duabelas), memberikan keyakinan kepada mereka bahwa Bukit Duabelas merupakan warisan leluhur Orang Rimba, sehingga harus
36
dimamfaatkan dan dikelolah dengan tata aturan adat. Peyebab resistensi Orang Rimba selanjutnya yaitu lahirnya kebijakan RPTNBD dengan tidak mengakomodir kepentingan Orang Rimba di dalam kawasan menyebabkan hilangnya hak untuk menjalankan ekonomi dan hak untuk menjalankan tradisi dan budaya. Kemudian dengan fakta-fakta yang ada kebijakan tersebut terlihat lebih cendrung presfektif negara.
Bab 3, berjudul “Pertarungan Orang Rimba Merebut ’Hak’
Di Bukit Duabelas”. Bab ini mengilustrasikan bentuk gerakan perlawanan yang dilakukan oleh Orang Rimba dalam menghadapi Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Dubelas. Dalam menghadapi kebijakan RPTNBD Orang Rimba melancarkan perlawanan individual yang kemudian berevolusi menjadi gerakan kolektif seiring dengan munculnya kesadaran kolektif dan adanya dukungan dari beberapa NGO yang mengorganisasikan serta mendampingi dalam proses perlawana tersebut, perlawanan kolektif dilakukan secara terbuka, serta bertindak berdasarkan kesepakatan adat. Sedangkan perlawanan individual dilakukan bukan berdasarkan kesepakatan adat, cendrung dilakukan secara diam-diam dan bersifat tertutup.
Bab 4, berjudul ”Efektivitas Perlawanan Orang Rimba”.
Bab ini diawali dengan penjelasan tentang karakteristik perlawanan Orang Rimba, dimana di dalamnya dijelaskan bahwa perlawanan yang dilakukan oleh Orang Rimba bukan merupakan perlawanan yang revolusioner, melainkan lebih mengarah pada tuntutan hak yang hilang disebabkan lahirnya kebijakan RPTNBD. Kemudian Analisi tingkat efektivitas perlawanan dalam mewujudkan tujuan perlawanan (Mengembalikan hak ekonomi dan hak identitas) yang dinilai berhasil dalam jangka pendek dengan adanya respon dari pemerintah merevisi dokumen kebijakan RPTNBD, namun perlawanan ini dinilai belum berhasil dalam jangka panjang yaitu
37
mengembalikan hak ekonomi dan identitas mereka secara untuh di kawasan Bukit Duabelas disebabkan adanya faktor internal dan eksternal.
Bab 5, bab ini merupakan “Penutup” dari bab-bab sebelumnya yang berisi kesimpulan dan saran. Dalam penutup, secara umum dapat dijelaskan bahwa Orang Rimba dalam menghadapi kebijakan RPTNBD melancarkan kearifan perlawanan secara kolektif dan individual, perlawanan ini muncul seiring dengan lahirnya kebijakan RPTNBD yang menyebabkan hilangnya Hak Ekonomi dan Hak Identitas dalam menjalankan tradisi dan Budaya Orang Rimba di Bukit Duabelas.
38
BAB IIMARJINALISASI ORANG RIMBA DI BUKIT DUABELAS
Keberadaan Orang Rimba di Bukit Duabelas mengalami proses marjinalisasi yang hebat dari tanah mereka sendiri, dinamika kehidupan yang sarat akan tradisi dan budaya hilang seiring dengan perubahan-perubahan baru yang dilakukan oleh pemerintah.
Perubahan-peruban yang berwujud kebijakan pemerintah dengan dalih ingin merubahan kehidupan mereka kearah yang lebih baik berujung pada kesensaraan bagi Orang Rimba. Lahirnya kebijakan RPTNBD menambah persoalan baru dalam kehidupan mereka, sehingga mereka harus kehilangan sumber ekonomi yang menjadi tumpuan untuk bertahan hidup di dalam hutan, dan kehilangan eksistensi dalam menjalankan ragam tradisi dan budaya sebagai sebuah entitas identitas keberlangsungan kehidupan Orang Rimba dalam bergantinya generasi.
A. SEJARAH KEBERADAAN ORANG RIMBA DI BUKIT DUABELAS
Banyak istilah yang digunakan dalam memberikan lebel tentang Orang Rimba. Penulis dari Belandan Aeperti Hagen dan Winter menamai mereka “Orang Kubu”, kemudian Muntolib menyebut mereka “Orang Rimbo” di dalam disertasinya, pemerintah menyebut mereka Sukun Anak Dalam, masyarakat Jambi menyebut mereka “Orang Kubu”, “Orang Rimbo”, “Sanak”
atau “Dulur”. Orang Rimba sendiri tidak senang dengan sebutan
“Orang Kubu” karena artinya terlalu negatif. Mereka lebih senang dengan sebutan “Orang Rimbo”, “Sanak” atau “Dulur” (Marhalim Siagian 2007).
39
Seperti kutipan wawancara yang penulis ambil dari koran kompas, mereka ingin disebut sebagai “Orang Rimbo”, “Sanak”
atau “Dulur”:
“Kami paling senang jika orang menyebut kami Orang Rimbo. Sanak, atau Dulur Karena kami memang tinggal di dalam rimbo. Kami paling tidak suka disebut dengan ”Suku Kubu,”(Koran Kompas 2006)
Secara umum bentuk kehidupan Orang Rimba tidak jauh berbeda dengan beberapa komunitas masyarakat adat terpencil yang ada di Indonesia, kehidupan yang masih bersifat nomaden (mengembara) atau semi nomaden (setengah menetap) dengan bentuk mata pencaharian berburu dan meramu yang bersumber dari alam. Bukti-bukti kesamaan tersebut dapat kita lihat pada kehidupan Masyarakat Adat Sakai yang ada Riau (Isjoni 2002,h.33), Masyarakat Adat Talang Mamak yang hidup tersebar di kecamatan Siberda Pasir Penyu di Kabupaten Indragiri Hulu (Isjoni 2002,h.53), kemudian Masyarakat Adat Hutan yang tersebar di kabupaten Bengkalis dan Kampar (Isjoni 2002,h.109).
Orang Rimba Bukit Duabelas merupakan komunitas atau masyarakat hukum adat yang tinggal secara semi nomaden di kawasan hutan Bukit Duabelas Propinsi Jambi. Orang Rimba disebut komunitas semi nomaden karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Perpindahan Orang Rimba dari satu tempat ke tempat lainnya disebabkan oleh beberapa hal seperti: (1) .melangun, (2). menghindari musuh, (3). membuka ladang baru.
Orang Rimba tinggal di pondok-pondok yang mereka sebut sesudungon yaitu bangunan sederhana yang terbuat dari kayu hutan, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.
40
Gambar. 1Tempat Tinggal Orang Rimba yang Disebut Sebagai Sesundungon
Dok. Walhi Jambi
Bukit Duabelas sendiri terletak di perbatasan tiga Kabupaten yaitu Batang Hari, Tebo, dan Sarolangun. Saat ini berdasarkan keterangan yang diberikan oleh para tokoh-tokoh Orang Rimba, paling sedikit terdapat 59 rombong atau kelompok Orang Rimba yang hidup di kawasan hutan Bukit Duabelas. Diantara 59 rombong tersebut, beberapa yang mulai hidup dan menyatukan diri dengan kehidupan desa di sekitarnya. Sebagian besar masih tinggal di hutan dan masih menerapkan hukum adat sebagaimana nenek moyangnya dahulu. Jumlah Orang Rimba di Bukit Duabelas, sampai saat ini belum diketahui secara pasti, tetapi seandainya disetiap rombong terdapat 10 (sepuluh) kepala keluarga dan di setiap keluarga terdiri
41
dari lima orang jiwa maka bisa diperkirakan jumlah Orang Rimba mencapai 2950 jiwa.
Ada banyak versi sejarah mengenai keberadaan dan terbentuknya komunitas Orang Rimba di Bukit Duabelas.
Diantaranya pendapat yang menyatakan bahwa leluhur Orang Rimba adalah seorang perantau asal Pagar Ruyung, di dalam hutan perantau tersebut bertemu dengan seorang putri yang berasal dari buah kelumpang. Singkat cerita akhirnya mereka menikah, dan keturunan mereka inilah yang sekarang disebut sebagai Orang Rimba.
Pendapat lain menyatakan bahwa leluhur Orang Rimba adalah sekelompok tentara Pagar Ruyung yang tidak berani lagi pulang ke tanah airnya karena misinya gagal. Kelompok tentara ini pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di hutan dan menikah dengan perempuan desa di sekitar hutan. Keturunan para tentara inilah yang sekarang disebut sebagai Orang Rimba.
Kemudian pendapat lain juga mengatakan leluhur Orang Rimba adalah sisa-sisa tentara Kesultanan Jambi dan tentara Kesultanan Palembang yang terlibat perang di wilayah Air Hitam. Setelah menjalani perang yang berkepanjangan dan melelahkan kedua pasukan itu sepakat untuk berdamai. Ternyata kedua pasukan tersebut tidak mau kembali ke kesultanan masing masing, mereka memilih untuk tinggal di sekitar hutan Air hitam dan menikah dengan perempuan perempuan Desa Air Hitam. Keturunan para tentara inilah yang sekarang disebut sebagai Orang Rimba.
Selain itu juga ada pendapat yang mengatakan bahwa leluhur Orang Rimba adalah kelompok masyarakat Desa Kubu Karambia kerajaan Pagar Ruyung yang menolak untuk menerima ajaran Agama Islam dan melarikan diri kekawasan hutan Bukit Duabelas.
Keturunan masyarakat inilah yang sekarang disebut sebagai Orang Rimba.
42
Terakhir ada juga pendapat yang mengatakan bahwa leluhur Orang Rimba adalah Imigran gelombang pertama yang datang ke Indonesia dari wilayah utara. Mereka datang pada tahun 2000 SM.
Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam, berburu dan mengumpulkan hasil hutan. 1500 tahun kemudian datang gelombang imigran kedua ke Indonesia. Imigran gelombang kedua ini dalam
Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam, berburu dan mengumpulkan hasil hutan. 1500 tahun kemudian datang gelombang imigran kedua ke Indonesia. Imigran gelombang kedua ini dalam