BAB I PENDAHULUAN
E. Kerangka Teori
2. Kebijakan Publik
2.1. Pelaksanaan Kebijakan Publik
Idealnya sebuah kebijakan publik dapat diartikan bahwa kebijakan tersebut berhasil ketika diterapkan, kebijakan dirumuskan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan, setelah diimplementasikan kebijakan tidak menimbulkan resistensi dari objek kebijakan dan yang terpenting kebijakan dapat berdampak positif dan memberikan kemamfaatan terhadap pelaksana (implementor) kebijakan sebagai wujud suksesnya sebuah tujuan, dan yang terpenting lagi berdampak positif dan memberikan mamfaat kepada objek (masyarakat) kebijakan sebagai bentuk kesejahteraan mampun ketertiban.
20
Kebijakan publik dengan pemahaman yang sederhana dirumuskan melalui defenisi yang menyatakan bahwa kebijakan publik adalah segalah sesuatu yang dikerjakan dan yang tidak dikerjakan oleh pemerintah. Defenisi tersebut memberikan sebuah gambaran bahwa kebijakan publik merupakan aturan main dalam kehidupan bersama, baik berkenaan dengan hubungan antar warga ataupun hubungan antar warga dengan pemerintah. (Rian Nugroho 2003, h. 4).
Terlepas dari pemahaman sederhana yang telah dibangun untuk melengkapai pemahaman tentang kebijakan publik, para ilmuan politik telah lebih dahulu menyampaikan defenisi tentang kebijakan publik, sebagaimana defenisi kebijakan publik yang disampaikan oleh Chadler dan Plano, menurut mereka bahwa kebijakan publik adalah pemamfaatan yang strategis terhadap sumberdaya-sumberdaya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Sehingga kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu para pelaksana pada tingkatan birokrasi pemerintah maupun para politisi untuk memecahkan masalah-masalah publik. Namun pada sisi yang berbeda Chadler dan Plano juga mengungkapkan juga bahwa kebijakan publik merupakan suatu bentuk intervensi yang dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah demi kepentingan kelompok yang kurang beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan secara luas.
Sama halnya dengan pemahaman sederhana yang telah dibangun diatas Thomas R. Dye memberikan pengertian dasar mengenai kebijakan publik sebagai apa yang tidak dilakukan maupun yang dilakukan oleh pemerintah, kemudian pengertian ini dikembangkan dan diperbaharui oleh ilmuan-ilmuan yang berkecimpung langsung dalam ranah kebijakan publik sebagai penyempurnaan karena arti tersebut jika diterapkan, maka ruang
21
lingkup studi ini menjadi sangat luas, disamping kajiannya yang hanya terfokus pada negara sebagai pokok kajian. (di dalam Hesel Nogi Tangkilisan, 2003. h, 1)
Kemudian untuk melengkapi pemahaman tentang kebijakan publik Anderson memberikan defenisi kebijakan publik sebagai kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah, dimana implikasi dari kebijakan itu adalah: (1) kebijakan publik selalu mempunyai tujuan tertentu atau mempunyai tindakan yang berorientasi pada tujuan (2) kebijakan publik berisi tindakan-tindakan pemerintah.
(3) kebijakan publik merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah, jadi bukan merupakan apa yang masih dimaksudkan untuk dilakukan (4) kebijakan publik yang diambil bisa bersifat positif dalam arti merupakan tindakan pemerintah mengenai segala sesuatu masalah tertentu, atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu (5) kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam arti yang positif didasarkan pada peraturan perundangan yang bersifat mengikat dan memaksa.
Sebagai perbandingan Woll menyatakan bahwa kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui sesuatu yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkatan pengaruh sebagai implikasi dari tindakan pemerintah, yaitu: (1) adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau yang lainya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat. (2) adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, pengangaran, pembentukan personil dan membuat
22
regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat (3) adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. (di dalam Hesel Nogi Tangkilisan, 2003.
h, 2).
Berangkat dari defenisi dan pemahaman yang telah dibangun diatas tentu tujuan akhir dari kebijakan publik adalah bagaimana merumuskan ataupun menghasilkan sebuah kebijakan yang mampu mengakomodir kepentingan pemerintah namun tidak mengesampingkan kepentingan masyarakat, sehingga ujung dari kebijakan tidak menuai resistensi dari objek kebijakan karna menilai bahwa kebijakan tersebut tidak mampu mengakomodir kepentingan keduabela pihak (subjek kebijakan dan Objek Kebijakan).
Untuk menghasilkan sebuah kebijakan yang ideal yang tidak menuai kecaman resistensi dari objek kebijakan, maka kebijakan harus melewati proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji.
Oleh karena itu, beberapa ahli politik menaruh minat untuk mengkaji kebijakan publik dan membagi proses-proses penyusunan kebijakan publik kebeberapa tahap. Tujuan pembagian ini untuk memudahkan dalam mengkaji kebijakan publik maupun memudahkan bagi para implementor membuat sebuah kebijakan kemudian menganalisa keberhasilan suatu kebijakan. (Charles Lindblom. 1986, h. 3) . Namun demikian, beberapa ahli mungkin membagi tahap-tahap dengan urutan yang berbeda. Tahap-tahap kebijakan publik menurut William Dunn adalah sebagai berikut (didalam Budi Winarno 2002,h.
28-30). (1) Tahap penyusunan agenda kebijakan. Yang merupakan awal dari proses kebijakan, untuk menentukan masalah-masalah yang akan masuk dalam agenda kebijakan (2)
23
Tahap Pembuatan Formulasi Kebijakan. Masalah yang masuk dalam agenda kebijakan di defenisikan kemudian dicari jalan terbaik, termasuk menentukan apakah objek kebijakan harus diikutkan dalam proses pembutan kebijakan sebagai bahan pertimbangan hasil kebijakan (3) Tahap Adopsi Kebijakan.
Dari sekian banyak alternatif kebijkan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut di adopsi dengan dukungan dari mayoritas melalui consensus. (4) Tahap Implementasi Kebijakan. Pada tahap ini kebijakan dilaksanakan oleh badan-badan administratif dan menyangkut juga sosial politik (4) Tahap Evaluasi Kebijakan. pada tahap ini lah kebijakan itu dilihat apakah mampu menyelesaikan persoalan atau malah menuai resistensi dari objek kebijakan.
Kemudian Hessel Nogis mengatakan bahwa ada prakondisis dimana implementasi kebijakan itu dianggap sukses, pra kondisis tersebut dilihat dari 4 (empat) faktor atau variabel kritis dalam mengimlementasikan kebijkan publik, yaitu: (1) Komunikasi. Agar implementasi menjadi efektif, maka mereka yang bertanggung jawab mengimplementasikan sebuah keputusan mesti tahu apa yang seharusnya mereka kerjakan.
Komando untuk mengimplementasikan kebijakan mesti di transmisikan kepada personalia yang tepat, dan kebijakan ini mesti jelas, akurat dan konsisten. (2) Sumberdaya. Sumber daya yang tepat dengan keahlian yang diperuntukan, informasi yang relevan dan cukup tentang cara untuk mengimplementasikan kebijakan. (3) Disposisi. Jika implementasi adalah untuk melanjutkan secara efektif, maka bukan saja para implementor tahu apa yang harus dikerjakan dan memiliki kapasitas untuk melakukan hal tersebut, melainkan juga mereka mesti berkehendak untuk melakukan sebuah
24
kebijakan. (4) Struktur Birokrasi. Ada struktur birokrasi yang mendukung terhadap proses pembuatan dan pengimplentasian kebijakan (Hessel Nogis S. Tangkilisan 2003, h. 12-13)
Pada sisi yang lain Soenarko menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari proses implementasi kebijakan publik, dan faktor ini lah yang juga menentukan idealnya sebuah kebijakan ketika di Implementasikan (Soenarko 1998, h. 185-186). Faktor-faktor tersebut meliputi. (1) Adanya Persetujuan, dukungan dan kepercayaan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat terlibat langsung dalam proses pengambilan kebijakan. (2) Isi dan tujuan kebijakan dimengerti secara jelas. Ada mamfaat yang secara langsung dapat diterimah oleh masyarakat. (3) Pelaksanan mempunyai cukup informasi, terutama mengenai kondisi dan kesadaran masyarakat yang dikenai kebijakan tersebut. Artinya pelaksana kebijakan melakukan riset dan pengkajian terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan objek kebijakan (4) Pembagian pekerjaan yang efektif dalam pelaksanaan. Ranah kebijakan tidak terkesan tumpang tindih antara wilayah pemerintah dan wilayah swasta yang menjadi stake holder dalam mensukseskan kebijakan yang diimplemnetasikan. (5) Pembagian kekuasaan dan wewenang yang rasional dalam pelaksanaan kebijaksanaan. Dan (6) Pemberian tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban yang memadai dalam pelaksanaan kebijakan.
Beberapa pandangan yang telah diutarakan diatas, mencoba menggambarkan bahwa proses kebijakan sesunguhnya tidak hanya menyangkut prilaku badan administratif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program, melainkan menyangkut jaringan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi dan sosial yang langsung atau tidak langsung dapat dipengaruhi
25
prilaku dari semua pihak yang terlibat dan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tujuan kebijakan, baik yang negatif maupun yang positif, sehingga dengan demikian secara sederhana dapat dipahami bahwa tujuan dari kebijakan adalah untuk menetapkan arah agar tujuan kebijakan dapat direalisasi sebagai hasil dari kegiatan pemerintah.