• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

1) Kegiatan Awal

Guru mengucapkan salam, guru melakukan presensi/pengecekan kehadiran siswa di kelas, guru mengajukan pertanyaan dengan hal yang kontekstual sehubungan dengan materi. “Pernahkah kalian bercerita dengan orang lain atau teman mengenai pengalaman pribadi?” Dengan serempak beberapa siswa menjawab “Pernah Pak.”, namun ada pula siswa yang menjawab “Tidak pernah Pak.”

Kemudian dilanjutkan dengan “Nah kalau pernah apa yang kamu dapat petik dari pengalaman pribadi tersebut?” Salah seorang siswa mengangkat tangannya, dan menjawab, “Kita dapat mengetahui hal-hal yang mengesankan dari pengalaman hidup orang lain, dan berlatih untuk berbicara kepada teman dan orang lain.” Dengan jawaban itu, maka guru memberikan ungkapan pujian

“Bagus”. Guru menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang disampaikan oleh siswa tersebut, kemudian menyampaikan kompetensi yang akan dipelajari oleh siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia hari ini, yaitu menyampaikan pengalaman pribadi yang mengesankan.

2) Kegiatan Inti

Siswa dibagi kelompok dengan teman semejanya. Kemudian guru mejelaskan bagaimana cara menggunakan bahasa yang baik, berbicara dengan siapa, tujuan pembicaraan, di mana, dalam situasi atau peristiwa apa. Selanjutnya guru memberikan pertanyaan, tentang materi yang baru saja dijelaskan. Ternyata ada respon dari siswa, dan memang itulah yang diharapkan.

Kemudian guru menjelaskan langkah-langkah menyampaikan pengalaman pribadi yang mengesankan yaitu, mengingat-ingat secara detail/terperinci pengalaman yang paling mengesankan, menulis kata-kata kunci untuk mempermudah merangkai alur cerita, menguraikan kejadian secara terperinci dan lengkap,

menggunakan pilihan kata (diksi) yang tepat, dan menggunakan kalimat yang efektif dan menarik.

Guru membacakan contoh pengalaman pribadi yang mengesankan, stelah itu guru memberikan kesempatan untuk bertanya. Siswa berdiskusi dengan teman semejanya untuk dapat menyusun pengalaman pribadi yang mengesankan yang pernah dialami.

Untuk mendapatkan ketercapaian respon/tanggapan dari siswa tentang pembelajaran dengan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini:

Tabel 4.1 Persentase Ketercapaian Respons Siswa terhadap Proses Pembelajaran pada Pertemuan Pertama.

no Komponen yang diamati Persentase

ketercapain 1 Siswa yang hadir saat pembelajaran. 100,00 2 Siswa yang memperhatikan saat guru

mengarahkan. 71,88

3 Siswa menyimak contoh pengalaman yang

disampaikan dengan sikap yang baik 75 4 Siswa merespon dengan baik model

pembelajaran yang diberikan 78,13

Lanjutan table 4.1

5 Siswa berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung

68,75

6 Merespon positif atau senang terhadap pembelajaran menceritakan pengalaman dengan menggunakan pendekatan pragmatic

68,75

7 Siswa memperhatikan langkah-langkah bercerita pengalamam ketika bercerita di depan kelas

78,13

8 Siswa berperan aktif memberikan tanggapan

atas cerita teman di depan kelas 75

Pada tabel 4.1 di atas terlihat ketercapaian dalam pembelajaran cukup tinggi, Untuk indikator kehadiran siswa pada saat pembelajaran memperoleh persentase ketercapaian 100%, siswa yang memperhatikan saat guru mengarahkan atau menjelaskan memperoleh persentase ketercapaian 71,88%, siswa menyimak contoh pengalaman yang disampaikan dengan sikap yang baik memperoleh persentase ketercapaian 75%, Aktivitas siswa merespon dengan baik model pembelajaran yang diberikan

persentase ketercapaian 78,13%. Siswa berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung persentase ketercapaian 68,75%, Siswa merespon positif atau senang terhadap pembelajaran menceritakan pengalaman dengan menerapkan pendekatan pragmatik persentase ketercapaian 68,75%. Siswa memperhatikan langkah-langkah bercerita pengalaman ketika bercerita di depan kelas persentase ketercapaian 78,13, siswa berperan aktif memberikan tanggapan atas cerita teman di depan kelas persentase ketercapaian 75%. Hal ini mengindikasikan bahwa pada siklus I ini pembelajaran dengan menerapkan pendekatan pragmatik masih bisa dioptimalkan.

2. Pertemuan Kedua

Berdasarkan perencanaan penelitian yang telah tetapkan, maka pada pertemuan kedua, materi pembelajaran dilanjutkan dengan tes akhir siklus pertama yaitu siswa ditugasi berbicara dengan menyampaikan pengalaman pribadi dengan pilihan kata, ekspresi, dan kalimat yang efektif.

Untuk mendapatkan ketercapaian respon/tanggapan dari siswa tentang pembelajaran dengan penerapan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia pada sikulus II dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini:

Tabel 4.2 Persentase Ketercapaian Respons Siswa terhadap Proses Pembelajaranpada Pertemuan Kedua

No Komponen yang diamati Persentase

ketercapaian

1 Siswa yang hadir saat pembelajaran. 100 2 Siswa yang memperhatikan saat guru

mengarahkan. 81,25

3 Siswa menyimak contoh pengalaman yang

disampaikan dengan sikap yang baik 78,13 4 Siswa merespon dengan baik model pembelajaran

yang diberikan 81,25

5 Siswa berperan aktif selama proses pembelajaran

berlangsung 71,88

6 Merespon positif atau senang terhadap pembelajaran menceritakan pengalaman dengan menggunakan pendekatan pragmatic

71,88

7 Siswa memerhatikan langkah-langkah bercerita

pengalamam ketika bercerita di depan kelas 78,13 8 Siswa berperan aktif memberikan tanggapan atas

cerita teman di depan kelas 75

Pada tabel 4.2 di atas terlihat ketercapaian dalam pembelajaran cukup tinggi, Untuk indikator kehadiran siswa pada saat pembelajaran memperoleh persentase ketercapaian 100, siswa yang memperhatikan saat guru mengarahkan memperoleh

persentase ketercapaian 81,25%. Aktivitas siswa dalam menyimak contoh pengalaman yang disampaikan dengan sikap baik memperoleh ketercapaian 78,13%, Siswa yang merespon dengan baik model pembelajaran yang diberikan memperoleh persentase ketercapaian 81,25%, Siswa yang berperan aktif selama proses belajar mengajar berlangsung persentase ketercapaian 71,88%.

Siswa yang merespon atau senang terhadap pembelajaran menceritakan pengalaman dengan menerapkan pendekatan pragmatik persentase ketercapaian 71,88%, siswa yang memerhatikan langkah-langkah bercerita pengalaman ketika bercerita di depan kelas persentase ketercapaian 78,13%, siswa berperan aktif memberikan tanggapan atas cerita teman di depan kelas persentase ketercapaian 75%. Hal ini mengindikasikan bahwa pada pertemuan kedua ini pembelajaran dengan menerapkan pendekatan pragmatik, keaktifan siswa mengalami peningkatan, tetapi belum mencapai target ketercapaian untuk setiap aspek penilian.

b. Tindakan Siklus II 1. Pertemuan Ketiga

Kegiatan pertemuan ketiga dikhususkan pada pemantapan materi pembelajaran bebicara dengan pokok bahasan menyampaikan pengalaman pribadi yang mengesankan dengan pilihan kata, ekspresi dan kalimat yang efetif. Guru kembali

menjelaskan materi pembelajaran mengenai berbicara dengan pendekatan pragmatik. Guru juga menambahkan penjelasan langkah-langkah menyampaikan pengalaman pribadi yang mengesankan dengan pilihan kata, ekspresi, dan kalimat yang efektif.

Pada petemuan ini, dibacakan lagi contoh pengalaman pribadi yang mengesankan yang berbeda dengan contoh teks pengalaman pribadi yang disampaikan pada siklus I. Hal ini dilakukan peneliti, agar siswa dapat mencontohi cara menyampaikan pengalaman pribadi yang mengesankan sehingga peneliti dapat menilai hasil kerja dan penyampaian pengalaman pribadi siswa yang menjadi objek penelitian.

Selain mrmbrikan pemantapan materi, pada pertemuan ini peneliti juga memberikan motivasi kepada siswa agar siswa mengikuti pembelajaran ini dengan lebih bersemangat.

Tabel 4.3 Persentase Ketercapaian Respons Siswa terhadap ProsesPembelajaranpada Pertemuan Ketiga

Ketercapaian yang diamati Persentase

Ketercapaian 1 Siswa yang hadir saat pembelajaran. 100

2 Siswa yang memperhatikan saat guru

mengarahkan. 84,38

Lanjutan tabel 4.3

3 Siswa menyimak contoh pengalaman yang

disampaikan dengan sikap yang baik 90,63 4 Siswa merespon dengan baik model

pembelajaran yang diberikan 87,50

5 Siswa berperan aktif selama proses

pembelajaran berlangsung 81,25

6 Merespon positif atau senang terhadap pembelajaran menceritakan pengalaman dengan menggunakan pendekatan pragmatic

78,13

7 Siswa memperhatikan langkah-langkah bercerita pengalamam ketika bercerita di depan kelas

87,50

8 Siswa berperan aktif memberikan tanggapan

atas cerita teman di depan kelas 78,13

Aktivitas siswa pada pertemuan ketiga atau sebagai awal siklus kedua menunjukkan bahwa peningkatannya baik. Namun, dapat dilihat pada kegiatan memperhatikan dan merespon pembelajaran dengan antusias 27 siswa atau 84,38%, menyimak contoh cerita pengalaman 29 siswa atau 90,63%, merespon dengan baik model pembelajaran yang diberikan 28 siswa atau 87,50%, berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung 26 siswa atau 81,25%, merespon positif atau senang terhadap pembelajaranmenceritakan

pengalaman dengan menggunakan pendekatan pragmatik 25 siswa atau 78,13%, memerhatikan langkah-langkah bercerita pengalaman ketika teman bercerita di depan kelas 28 siswa atau 87,50%, memberikan tangapan atas cerita teman di depan kelas 25 siswa atau 78,13%. Dari data di atas, dapat diindikasikan bahwa pada pertemuan ketiga sebagai awal tindakan siklus kedua pembelajaran dengan menerapkan pendekatan pragmatik, mengalami peningkatan yang sangat baik.

2. Pertemuan Keempat

Pada pertemuan keempat dikhususkan pada pemberian tugas menyampaikan pengalaman pribadi yang mengesankan melalui pendekatan pragmatik. Siswa ditugasi mencatat pokok-pokok pengalaman pribadi yang pernah dialami, lalu disusun dalam bentuk cerita dan disampaikan di depan kelas dan dinilai berdasrkan aspek penilaian yakni, suara ((volume, lafal, intonasi, tempo), ekspresi (mimik, pandangan mata, kinesik), isi dan alur cerita (runtut, lancar/hafal, jelas), bahasa (struktur kalimat dan diksi), sikap (percaya diri, ketenangan, dan keberanian).

Aktivitas pembelajaran pada pertemuan keempat sekaligus akhir dari siklus II, disajikan pada tabel 4.4

Tabel 4.4 Persentase Ketercapaian Respons Siswa terhadap Proses Pembelajaran pada Pertemuan Keempat

No Komponen yang diamati Persentase

ketercapaian

1 Siswa yang hadir saat pembelajaran. 100 2 Siswa yang memperhatikan saat guru

mengarahkan. 93,75

3 Siswa menyimak contoh pengalaman yang

disampaikan dengan sikap yang baik 90,63 4 Siswa merespon dengan baik model

pembelajaran yang diberikan 87,50 5 Siswa berperan aktif selama proses

pembelajaran berlangsung 81,25

6 Merespon positif atau senang terhadap pembelajaran menceritakan pengalaman dengan menggunakan pendekatan pragmatik

84,38

52 Siswa memperhatikan langkah-langkah bercerita pengalamam ketika bercerita di depan kelas

90,63

8 Siswa berperan aktif memberikan tanggapan atas cerita teman di depan kelas

87,50

Hasil pengamatan pada pertemuan keempat menunjukkan bahwa siswa aktif melaksanakan semua akitivitas pembelajaran.

Dalam memperhatikan penjelasan guru dan partisipasi terhadap proses pembelajaran masih ada siswa yang kurang memperhatikan, tetapi untuk kegiatan lain siswa sudah sangat aktif.

Hal yang terpenting dalam penelitian ini adalah siswa menjadi termotivasi untuk membiasakan dirinya menciptakan keinginan berbicara atau menyampaikan gagasan sesuai konteks dan situasi tutur. Dalam hal ini siswa sudah mampu dan berkeinginan untuk menyampaikan pengalaman pribadi melalui pendekatan pragmatik.

3. Tahap Penilaian/Evaluasi a. Penilaian/Evaluasi Siklus I

Evaluasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah pemberian nilai hasil kerja siswa menyampaikan pengalaman pribadi melalui pendekatan pragmatik. Hal ini diharapkan dapat memudahkan siswa dalam berbicara menyampaikan pengalaman pribadi sehingga hasil yang diperoleh maksimal. Adapun penilaiannya adalah berdasarkan suara (volume, lafal, intonasi, dan tempo), ekspresi (mimik, pandangan mata, dan kinesik), isi dan alur cerita (runtut, lancar, dan jelas), bahasa (struktur kalimat dan diksi), dan sikap (percaya diri, ketenangan, dan keberanian).

Penilaian hasil kerja dilakukan oleh peneliti secara kolaborasi dengan teman sejawat. Hal ini dilakukan guna mengetahui keberhasilan

siswa dalam pembelajaran berbicara menympaikan pengalaman pribadi melalui pendekatan pragmatik.

Hasil tes kemampuan siswa menyampaikan pengalaman pribadi melalui pendekatan pragmatik disajikan dalam bentuk deskriptif kuantitatif dengan penyajian tabel dan analisis berupa tafsiran terhadap isi tabel.

1) Data Hasil Tes Siklus I

Data hasil penelitian pertemuan pertama menunjukkan bahwa siswa tampak kurang semangat mengikuti rangakaian proses pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya motivasi dalam mengikuti pembelajaran berbicara menyampaikan pengalaman pribadi dengan pendekatan pragmatik. Namun, setelah mendapatkan pengarahan berupa motivasi dan penjelasan materi yang cukup, akhirnya pada pertemuan kedua yang merupakan pertemuan akhir siklus I, terjadi peningkatan hasil tes siswa, tetapi belum mencapai persentase ketuntasan. Hasil analisis tes akhir siklus I ditunjukkan dalam tabel 4.5 di bawah.

Tabel 4.5 Nilai Hasil Menyampaikan Pengalaman Pribadi melalui Penerapan Pendekatan Pragmatik Siklus I

No. Nomor Induk Siswa

Aspek Penilaian Jmlh

Nilai

Dari tabel 4.5 mengenai aspek yang dinilai dari hasil tes menyampaikan pengalaman pribadi dengan penerapan pendekatan pragmatik, dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Suara (volume, lafal, intonasi, dan tempo)

Adapun yang ditekankan pada aspek penilaian suara adalah kemampuan siswa menyampaikan pengalaman pribadinya dengan volume suara yang memadai artinya dapat didengar oleh semua yang orang yang ada dalam kelas. Demikian pun dengan lafal atau pengucapan kata, intonasi, dan tempo agar siswa memperhatikan pelafalan kata yang baik dan benar. Dari segi intonasi yakni bagaimana ketepatan lagu kalimat dan ketepatan penggunaan waktu yang ditentukan.

Skor rata-rata yang dicapai siswa pada aspek suara ini adalah 4,12. Hasil ini menunjukkan kemampuan siswa dalam menyampaikan pengalaman pribadinya belum mencapai hasil yang maksimal, karena skor maksimal untuk aspek ini adalah skor 5.

b. Ekspresi (mimik, pandangan mata, kinesik)

Aspek penilaian ekspresi yaitu kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan atau ide-ide mengenai pengalaman hidupnya dengan mimik, pandangan mata dan gerakan anggota tubuh yang sesuai dengan isi pengalaman pribadinya tersebut.

Dengan ekspresi yang tepat, maka pendengar akan seolah-olah melihat langsung atau ikut merasakan apa yang diceritakan.

Skor rata-rata yang dapat dicapai siswa pada aspek ini adalah 3,5. Skor ini tergolong dalam kriteria cukup. Artinya siswa dalam aspek ekspresi belum memncapai hasil maksimal. Namun demikian, bukan berarti bahwa siswa tidak mampu. Hanya saja belum mencapai nilai maksimal yakni skor 5.

c. Isi dan Alur (tuntas, runtut, lancar)

Adapun hal yang ditekanan pada aspek isi dan alur yaitu kemampuan siswa dalam menyusun ide-ide atau gagasan sesuai dengan urutan kejadian yang pernah dialami secara lengkap, jelas, dan lancar.

Skor rata-rata yang dapat dicapai pada aspek ini adalah skor 3,25. Skor ini masuk dalam kriteria cukup. Hasil ini menunjukkan kemampuan siswa belum mencapai hasil maksimal. Skor maksimal untuk aspek ini adalah skor 5.

d. Bahasa (struktur kalimat, diksi, ejaan)

Dalam aspek penilaian bahasa, penilaian ditekanan pada kemampuan siswa menggunakan strukutur kalimat, pilihan kata, dan ejaan yang sesuai dengan bahasa yang baik dan benar.

Penggunaan bahasa yang baik dapat membuat isi dari penyampaian pengalaman pribadi akan lebih dipahami dan dinikmati oleh pendengar. Dengan demikian, pendengar atau orang

lain akan tertarik dan seolah-olah melihat atau merasakan apa yang kita ceritakan.

Skor rata-rata yang dicapai siswa dalam aspek bahasa ini yaitu 3,25. Skor ini juga termasuk dalam kriteria penilaian cukup. Hasil ini belum mencapai skor maksimal, karena aspek ini skor maksimalnya adalah 5.

e. Sikap (percaya diri, ketenangan, dan keberanian)

Dalam pembelajaran menampaikan pengalaman pribadi, aspek sikap sangat penting. Banyak orang yang mampu menulis gagasan atau ide-ide tetapi untuk berdiri di hadapan umum atau orang lain untu menyampaikannya adalah suatu hal yang sangat sulit atau berat. Oleh kaena itu, aspek sikap ini merupakan penekanan dalam penilaian berbicara khususnya dalam pembelajaran menyampaikan pengalaman pribadi.

Skor rata-rata yang diperoleh siswa dalam aspek sikap yaitu 3,63. Skor ini belum mencapai skor maksimal. Skor maksimal dalam penilain sikap yaitu skor 5.

Pada bagian berikut akan dideskripsikan persentase hasil belajar bahasa Indonesia siswa pada siklus I

Tabel 4.6 Persentase Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa pada Siklus I

Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase

<72 Tidak Tuntas 12 37,50

≥ 72 Tuntas 20 62,50

Jumlah 32 100,00

Berdasarkan tabel 4.6 di atas terlihat bahwa frekuensi siswa yang tuntas berdasarkan standar ketuntasan minimal yang ditetapkan di sekolah, yakni ≥ 72 adalah kategori tuntas sedangkan

<72 adalah kategori tidak tuntas. Maka siswa yang tuntas adalah 20 siswa dengan persentase 62,50dan siswa yang tidak tuntas adalah 12 siswa dengan persentase 37,50.

Berdasarkan hasil analisis sebagaimana tercantum pada lampiran 7, maka terlihat bahwa untuk skor tertinggi hasil belajar bahasa Indonesia yang dicapai oleh siswa adalah 88 dan skor terendah adalah 60 dari skor maksimum yang mungkin dicapai yaitu 100. Skor rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia siswa pada siklus I adalah 71 dengan standar deviasi 7.

Dari hasil penilaian di atas dapatditetapkan bahwa nilai rata-rata siswa adalah 71. Dari interval persentase tingkat penguasaan, skor ini termasuk dalam kriteria cukup. Namun, skor tersebut belum

berhasil mencapai nilai sesuai standar nilai yaitu 72 ke atas.

Dengan demikian, maka peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas X SMA negeri 1 Anggeraja Kabupaten Enrekang pada siklu I belum berhasil, sehingga akan diperbaiki pada siklus II.

Dokumen terkait