Pada Layanan Keuangan
KEGIATAN DAN CAPAIAN
a. Menerbitkan Strategi Nasional Keuangan Inklusif
Sejak Januari 2011, TNP2K bersama-sama Bank Indonesia menyusun draft Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). SNKI merupakan tindak lanjut dari pidato Presiden RI di forum G-20 tentang komitmen Indonesia dalam mempromosikan sistem keuangan yang lebih inklusif. Tujuan dari SNKI adalah menjadikan keuangan inklusif sebagai bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan. Adanya sebuah strategi nasional diharapkan bisa mendorong koordinasi antar lembaga yang lebih baik dalam mendorong inisiatif-inisiatif terkait perluasan akses pada layanan keuangan.
Draft SNKI terdiri dari empat bab: 1) Visi dan Misi, 2) Situasi Akses Pada Layanan Keuangan, 3) Strategi Nasional Keuangan Inklusif–Target dan Tujuan, 4) Peta Jalan. Draft ini kemudian didiskusikan dengan berbagai pihak, termasuk kementerian dan lembaga pemerintah, untuk mendapatkan tanggapan dan masukan. Dalam perkembangan, draft ini juga sudah dipresentasikan dalam berbagai forum internasional, baik oleh TNP2K maupun Bank Indonesia, termasuk kepada Ratu Maxima dari Belanda yang menjadi duta internasional untuk keuangan inklusif pada akhir tahun 2013.
b. Mendorong Berkembangnya Layanan Keuangan Digital
TNP2K telah menyusun peta jalan untuk pengembangan layanan keuangan digital yang bisa digunakan untuk pembayaran transfer atau bantuan pemerintah (seperti PKH, BSM atau BLSM). Pembayaran secara digital memiliki banyak keuntungan: biaya penyaluran yang lebih murah, akuntabilitas yang lebih tinggi, berkurangnya kebocoran, kenyamanan bagi penerima, serta manfaat yang lebih luas bagi sistem keuangan secara luas. Mempromosikan layanan keuangan digital melalui program-program transfer pemerintah bisa menjadi langkah awal untuk mendorong berkembangnya sistem pembayaran digital secara luas, termasuk untuk kebutuhan pembayaran antar individu (person-to-person). Tapi untuk mendorong berkembangnya layanan keuangan digital, perlu juga dikembangkan infrastruktur serta ‘lingkungan’ yang mendukung, seperti tersedianya agen, aturan perbankan yang disesuaikan, serta kualitas layanan telekomunikasi yang memadai. Tujuan dari adanya peta jalan ini adalah memberikan panduan tentang arah yang dituju serta pilihan-pilihan yang tersedia.
Di saat yang sama, TNP2K bersama-sama dengan Kementerian Sosial, Bappenas dan Bank Indonesia, sedang melakukan uji coba penyaluran PKH melalui layanan keuangan digital—dalam hal ini produk uang elektronik (e-money) berbasiskan rekening bank.
Dalam uji coba ini, peserta PKH akan menerima bantuan melalui rekening uang elektronik yang terhubung di telepon selular. Penerima PKH bisa mengambil uangnya secara tunai di agen-agen yang ditunjuk, atau menggunakannya untuk transaksi lain.
Uji coba dilakukan di 1.667 desa tersebar lima kabupaten/kota (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo) dan melibatkan tiga bank komersial (Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, CIMB Niaga). Diharapkan pada pembayaran bulan September 2014, peserta PKH di wilayah uji coba sudah mulai menerima pembayaran melalui uang elektronik.
Untuk mendukung perkembangan layanan keuangan digital serta kegiatan uji coba, Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait di bulan April 2014. Adanya PBI ini bisa menjadi dasar hukum bagi bank komersial untuk mendorong berkembangnya produk-produk layanan keuangan digital.
c. Melakukan Sejumlah Studi Tentang Perbaikan Program KUR Sebagai Masukan Untuk Komite KUR
Untuk mendorong perbaikan terhadap program KUR, TNP2K telah membantu Komite KUR yang diketuai oleh Kementerian Koordinator Perekonomian dalam bentuk beberapa kajian resmi maupun masukan-masukan langsung lewat berbagai forum dan rapat koordinasi. Sejumlah kajian terkait KUR yang pernah dilakukan adalah:
• Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (2010)
• Hambatan Akses Usaha Mikro dan Kecil terhadap Kredit Usaha Rakyat (2011)
• Keberlanjutan Akses Usaha Mikro dan Kecil melalui Program Kredit Usaha Rakyat (2012)
• Profil UMKM dan Wirausaha Menggunakan Data Survei BPS (2012)
• Peningkatan KUR ke Sektor Primer Prioritas (2013)
• Apakah Peningkatan Pinjaman UMKM Meningkatkan Produktivitas? Hasil dari data Survei Industri Mikro dan Kecil (2013)
Selain itu di tahun 2014 ini ada tiga buah studi yang merupakan permintaan langsung dari Kemenko Perekonomian juga sedang dijalankan:
• Kajian tentang penambahan jumlah bank penyalur KUR Mikro, bekerjasama dengan Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
• Kajian tentang penambahan jumlah perusahaan penjamin kredit, bekerjasama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Universitas Indonesia
• Kajian tentang profil penerima KUR menggunakan data Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia
TINDAK LANJUT KE DEPAN
a. Sekretariat atau Forum Kebijakan Keuangan Inklusif
Sejak awal draft ini disusun, TNP2K dan Bank Indonesia sudah merencanakan untuk membuat semacam sekretariat atau forum kebijakan antar lembaga yang akan mengawal implementasi SNKI. Karena TNP2K bukanlah lembaga yang permanen, pemerintah kemudian sepakat untuk menunjuk Kementerian Keuangan, dalam hal ini Badan Kebijakan Fiskal (BKF), sebagai koordinator pelaksanaan SNKI. Pada bulan April 2013, Bank Indonesia, TNP2K dan BKF bertemu untuk menyusun beberapa rencana ke depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru dibentuk juga dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya dan menjadi bagian dari tim inti SNKI.
Sejak koordinasi SNKI dipegang oleh Kementerian Keuangan, TNP2K terus terlibat aktif dalam mendukung koordinasi serta pembahasan-pembahasan setelah itu. Saat ini forum terdiri dari TNP2K, Bank Indonesia, OJK dan dalam waktu dekat akan diperluas dengan melibatkan beberapa kementerian dan lembaga lain. Langkah selanjutnya
adalah bersama-sama mendorong adanya dasar hukum bagi SNKI sehingga koordinasi antar lembaga bisa berjalan lebih mudah, dan tugas serta tanggung jawab masing-masing instansi menjadi jelas untuk mencapai sasaran yang disepakati bersama.
Setelah sekretariat atau forum ini terbentuk, diharapkan agenda-agenda kebijakan keuangan inklusif seperti tercantum di dalam strategi nasional di bawah ini bisa segera didorong.
Gambar 66. Agenda Keuangan Inklusif dan Kelompok Target
Sumber: Strategi Nasional Keuangan Inklusif
b. Perbaikan KUR
KUR adalah produk bank yang dijalankan tetap dengan menggunakan logika perbankan. Artinya, bank akan memberikan KUR pada mereka yang dianggap prospektif dari kacamata bank. Implikasinya, KUR memang bukanlah sebuah program yang dtargetkan pada kelompok termiskin. Tapi pemerintah perlu mendorong adanya program-program yang bisa lebih aktif menargetkan pengusaha mikro dan kecil
melalui skema pemberdayaan, penyediaan kredit untuk wirausaha pemula, maupun berbagai inisiatif untuk mendorong sistem keuangan inklusif secara umum.
Pemerintah juga bisa mendorong intensifikasi KUR—meraih lebih banyak konsumen di kelompok 40 persen terbawah, khususnya di desil tiga dan empat dengan cara:
• Mendorong lebih banyak account officer yang aktif mencari konsumen potensial hingga ke desa
• Menggunakan sistem rujukan, misalnya bekerja sama dengan nasabah yang sudah ada atau lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat untuk mendapatkan lebih banyak pelaku UMKM
• Menargetkan daerah-daerah baru di mana terdapat banyak potensi konsumen KUR tapi belum banyak tergarap karena belum banyak cabang bank yang beroperasi (lihat studi TNP2K 2012).