Pada Layanan Keuangan
PELAPORAN LP2KD DAN PENYUSUNAN DOKUMEN SPKD
Jumlah TKPK yang melaporkan kinerja penanggulangan kemiskinan di daerahnya dari tahun ke tahun terus bertambah. Permendagri Nomor 42 Tahun 2010 mewajibkan TKPK untuk setiap tahun menyampaikan Laporan Pencapaian Penanggulangan Kemiskinan Daerah (LP2KD) kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri. Meskipun secara persentase belum memenuhi harapan, jumlah TKPK yang mampu memenuhi kewajiban ini dalam tiga tahun terakhir terus meningkat, khususnya di tingkat kabupaten/
kota. Hingga kuartal pertama tahun 2014, TKPK yang menyampaikan LP2KD 2013 tercatat sejumlah 164, jauh lebih banyak daripada LP2KD 2012. Dengan catatan, sebagian besar LP2KD untuk tahun tertentu baru disampaikan oleh daerah menjelang pertengahan tahun berikutnya.
Keterbatasan data perencanaan dan kapasitas analisis kebijakan menjadi kendala terbesar dalam penyelesaian LP2KD. Keaktifan TKPK dalam mengikuti kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas analisis dan perencanaan kebijakan penanggulangan kemiskinan—terutama yang diselenggarakan oleh TNP2K bekerjasama dengan TKPK di seluruh provinsi selama tiga tahun terakhir—terbukti belum mencukupi untuk mengatasi kendala teknis penyelesaian LP2KD. Masalah klasik keterbatasan data perencanaan masih menjadi hambatan utama, selain ketidakberlanjutan tugas tim teknis TKPK, karena tidak diterapkannya pertimbangan khusus dalam kebijakan mutasi PNS di daerah, sementara di lain pihak transfer pengetahuan dalam lingkungan birokrasi belum menjadi tradisi.
Substansi dan kerangka analisis dari hampir seluruh LP2KD telah mengacu kepada panduan yang diterbitkan oleh TNP2K. Melalui forum-forum pelatihan, magang dan konsultasi teknis perencanaan kebijakan bagi TKPK selama tiga tahun terakhir ini, Tim Advokasi TNP2K berupaya mendorong TKPK agar menerapkan suatu standar substansi dan kerangka analisis tertentu dalam melakukan evaluasi kondisi kemiskinan di daerah dan merekomendasikan prioritas intervensi kebijakan untuk penanggulangannya.
Rekomendasi ini telah dituangkan ke dalam buku panduan peningkatan kapasitas TKPK yang diterbitkan oleh TNP2K.
Gambar 73. Buku Panduan Bagi TKPK yang Diterbitkan Oleh TNP2K
Sumber: TNP2K
Substansi yang dimaksud di atas meliputi: (i) kondisi kemiskinan daerah, yaitu profil kemiskinan atau karakteristik masalah kemiskinan di daerah dalam berbagai dimensinya;
(ii) determinan kemiskinan daerah, yaitu gambaran tentang faktor-faktor penyebab di balik setiap karakteristik masalah kemiskinan yang ditemukan, berikut wilayah-wilayah di mana faktor-faktor itu menonjol sebagai masalah. Faktor-faktor dan wilayah-wilayah ini merupakan dasar penentuan prioritas intervensi kebijakan multidimensi; (iii) relevansi dan efektivitas anggaran daerah, yaitu gambaran tentang tingkat keberpihakan anggaran daerah, terutama dari sisi belanja, terhadap prioritas intervensi penanggulangan kemiskinan yang telah teridentifikasi; serta tentang sejauh mana belanja anggaran tersebut membawa perubahan terhadap indikator-indikator kemiskinan; (iv) perkembangan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di daerah, yang merupakan hasil dari kegiatan pemantauan oleh masing-masing kelompok program di daerah.
Kerangka analisis yang digunakan dalam laporan LP2KD pada prinsipnya melibatkan (i) analisis posisi relatif untuk melihat kondisi terakhir capaian indikator kemiskinan suatu daerah dibandingkan capaian tersebut oleh daerah-daerah lain, wilayah di atasnya dan nasional; (ii) analisis perkembangan antar waktu untuk mengetahui sejarah (fluktuasi atau konsistensi perubahan antar waktu) dari capaian indikator sebelum mencapai kondisi terakhirnya); (iii) analisis efektivitas untuk menilai sejauh mana intervensi menghasilkan perubahan dalam capaian indikator; dan bagaimana perubahan itu terjadi dari waktu ke waktu; (iv) analisis relevansi untuk menjawab pertanyaan apakah masalah menyangkut suatu indikator di suatu daerah juga terjadi di tingkat wilayah yang lebih luas, atau apakah masalah itu merupakan masalah khas daerah yang bersangkutan atau merupakan tantangan bersama antar daerah; (v) analisis keterkaitan untuk melihat hubungan antara tingkat capaian dan pola perubahan suatu indikator sasaran (indikator utama) dengan indikator-indikator pendukungnya—yaitu indikator-indikator yang dapat diintervensi untuk menghasilkan perubahan dalam indikator sasaran; dan (vi) kerangka monitoring (spot-check) program-program penanggulangan kemiskinan.
Banyak daerah berinisiatif untuk mengembangkan LP2KD menjadi SPKD. Pada praktiknya, tidak sedikit kemudian diantaranya yang telah menetapkan dokumen ini sebagai Peraturan Kepala Daerah. Mengoordinasikan penyusunan SPKD oleh sektor-sektor terkait di daerah merupakan bagian dari fungsi TKPK. Dokumen ini menetapkan isu strategis dan rencana aksi lima tahunan, yang dari segi substansi dapat dikembangkan dari LP2KD—
khususnya dari hasil analisis-analisis kondisi kemiskinan multidimensi, determinannya, keberpihakan dan kinerja anggaran daerah, serta kinerja kelembagaan koordinasi lintas-sektor di daerah. Sehingga, semua lintas-sektor dapat menjadikan SPKD sebagai kebijakan acuan dalam menyusun rencana kerja tahunan (Renja SKPD) yang lebih mendukung penanggulangan kemiskinan. Untuk memperbesar peluang terjadinya hal ini, tidak sedikit daerah berinisiatif menetapkan SPKD menjadi suatu regulasi, yang umumnya berupa peraturan gubernur, bupati atau wali kota.
Gambar 74. Contoh Peraturan Kepala Daerah tentang SPKD
Sumber: TNP2K
Dari 498 daerah (provinsi dan kabupaten/kota) yang memiliki TKPK saat ini, 198 daerah diantaranya telah menyelesaikan penyusunan SPKD. Sebanyak 31 daerah diantaranya telah menetapkan dokumen tersebut sebagai peraturan kepala daerah. Sebanyak 233 daerah masih dalam proses penyusunan. Sedangkan 67 daerah lainnya tidak berinisiatif menyusun SPKD atau tidak diketahui status perkembangannya (Gambar 75).
Gambar 75. Daerah menurut Status Dokumen SPKD
Sedang disusun, 233 (46,79%)
SPKD disusun belum ditetapkan dengan Perkada, 167
(84,34%)
SPKD disusun sudah ditetapkan dengan Perkada, 31 (15,66%)
Sudah selesai disusun, 198
(39,76%) Tidak disusun/tidak diketahui
perkembangannya, 67 (13,45%)
Sumber: Data Tim Advokasi – TNP2K
Kapasitas teknis TKPK dalam menyusun LP2KD dan SPKD didukung oleh pelatihan, magang dan konsultasi teknis analisis dan perencanaan kebijakan yang diselenggarakan
oleh TNP2K bekerjasama dengan TKPK. Secara keseluruhan tingkat partisipasi TKPK dalam kegiatan-kegiatan tersebut sangat tinggi. Dukungan bagi peningkatan kapasitas Tim Teknis TKPK telah menjadi kesepakatan bersama TNP2K dan seluruh TKPK Provinsi sejak tahun 2010. Bentuk kegiatannya adalah (i) pelatihan analisis dan perencanaan kebijakan penanggulangan kemiskinan, yang diselenggarakan di tingkat provinsi dengan peserta dari seluruh TKPK kabupaten/kota di wilayah yang bersangkutan; (ii) magang di sekretariat TNP2K untuk pemantapan pemahaman tim teknis TKPK tentang materi pelatihan; dan (iii) konsultasi teknis untuk me-review draft LP2KD atau SPKD yang disusun oleh TKPK. Tingkat partisipasi tim teknis TKPK dalam kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Gambar 76. TKPK yang ikut magang dan pelatihan di TNP2K s/d Maret 2014
Sumber: Data Tim Advokasi – TNP2K
Hampir seluruh peserta pelatihan menyepakati arti penting pelatihan analisis dan perencanaan kebijakan bagi optimalisasi peran koordinasi TKPK. Mereka juga mengharapkan agar dukungan TNP2K dalam hal ini bisa terus dipertahankan. Oleh sebagian besar tim teknis TKPK peserta pelatihan di seluruh provinsi, materi pelatihan analisis dan perencanaan kebijakan penanggulangan kemiskinan dinilai menarik, memberi wawasan dan pengetahuan baru, serta bermanfaat bagi pelaksanaan tugas mereka. Penyampaian materi ini oleh narasumber dari TNP2K juga dinilai baik oleh mayoritas peserta.
Gambar 77. Contoh Laporan Pelaksanaan Penanggulangaan Kemiskinan Daerah (LP2KD)
Sumber: TNP2K
Gambar 78. Contoh Analisis Kabupaten
Sumber: TNP2K
Melalui pelatihan dan pemagangan tersebut, TKPK mampu membuat laporan dan analisis berdasarkan panduan yang diberikan oleh TNP2K (Gambar 77 dan 78). Dengan analisis tersebut, pemerintah daerah dapat menyusun skala prioritas dalam menyiapkan program yang terkait dengan penanggulangan kemiskinan di wilayahnya.
Melihat capaian dan output yang dihasilkan oleh TKPK-TKPK saat ini, sulit membayangkan itu terjadi 4-5 tahun yang lalu. Tahun 2009-2010 kondisi TKPK dari sisi formal kelembagaan, dukungan dana APBD, kondisi sumber daya manusia sangat beragam. Ini menjadi tantangan besar bagi TNP2K dalam menjalankan program peningkatan kapasitas TKPK saat awal terbentuk di tahun 2010. Namun upaya yang persisten dan konsisten TNP2K – lewat pelatihan, magang, konsultasi teknis, penyusunan pedoman dan lainnya-- dengan dukungan dari bapak Wapres berujung pada hasil yang menggembirakan. TKPK-TKPK saat ini, seperti telah dipaparkan di atas, telah berhasil menjalankan fungsi-fungsi utama dalam rangka mendukung upaya penanggulangan kemiskinan dengan cukup baik.
Memang upaya tersebut masih belum tuntas. Namun fondasi telah terbentuk dan peta jalan telah terbentang sehingga upaya dan arah peningkatan kapasitas TKPK ke depan menjadi lebih jelas dan lebih menjanjikan.
TINDAK LANJUT KE DEPAN
Berdasarkan hasil kegiatan advokasi kebijakan daerah dalam penanggulangan kemiskinan selama ini, dan dari hasil kaji cepat terhadap faktor penghambat dan pendorong operasionalisasi mengoperasionalkan peran TKPK di daerah, ada beberapa hal yang menjadi catatan untuk tindak lanjut ke depan, yaitu:
a. Lembaga semacam TKPK yang mempunyai peran dan fungsi melakukan koordinasi dan pengendalian pelaksanaan penanggulangan kemiskinan di daerah dipandang oleh
para pihak di daerah masih dibutuhkan, mengingat upaya-upaya penanggulangan kemiskinan merupakan prioritas daerah, prioritas nasional, maupun global, namun sifatnya lintas sektoral dan lintas pemangku kepentingan, sehingga perlu sinkronisasi, harmonisasi, dan integrasi penanggulangan kemiskinan lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan tersebut.
b. Agar tugas dan fungsi TKPK dalam hal koordinasi dan pengendalian pelaksanaan penanggulangan kemiskinan yang sudah mulai nampak hasilnya dapat terus berjalan dan semakin kuat, maka upaya peningkatan kapasitas kelembagaan dan kapasitas tim teknis sebagai focal point pelaksana kegiatan TKPK perlu terus dilakukan baik melalui pelatihan, magang, maupun kegiatan-kegiatan konsultasi teknis.
c. Perlu upaya advokasi yang lebih intensif untuk meningkatkan peran dan perhatian pimpinan daerah dan pemangku kepentingan lain seperti DPRD, akademisi, dan media, terhadap upaya penanggulangan kemiskinan di daerah melalui koordinasi TKPK, sehingga operasionalisasi TKPK dapat didukung dengan baik dari sisi regulasi, struktur, maupun teknis-teknis tugas dan fungsinya. Regulasi dimaksud dapat berupa peraturan daerah, peraturan kepala daerah, maupun surat keputusan yang menguatkan perhatian dan prioritas daerah terhadap penanggulangan kemiskinan dan sinerginya melalui TKPK. Struktur diartikan sebagai berjalannya struktur TKPK yang berisi SKPD terkait dalam menjalankan tugas dan fungsinya baik dalam sekretariat maupun kelompok program, sedangkan secara teknis dibutuhkan dukungan-dukungan seperti keberadaan sekretariat, anggaran operasional, regularitas rapat koordinasi, keberadaan tim teknis yang tidak terganggu dengan cepatnya mutasi, intensitas koordinasi dan sosialisasi, dan sebagainya. Upaya advokasi itu dapat dilakukan melalui penguatan berjenjang dari penguatan TKPK Provinsi untuk memberikan asistensi dan dukungan kepada TKPK Kabupaten/Kota, sehingga advokasi yang dilakukan dapat berupa pendampingan kelembagaan (misalnya dengan membentuk unit-unit outreach advokasi di provinsi terpilih), advokasi para pemangku kepentingan, dan sosialisasi serta komunikasi intensif kepada SKPD terkait dalam struktur TKPK terutama pelaksana program (kelompok program).
d. Guna memperkuat upaya-upaya tersebut dalam rangka menjalankan/operasionalisasi advokasi kebijakan di daerah, dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis operasionalisasi koordinasi dan pengendalian bagi TKPK, seperti petunjuk teknis pelaksanaan Rapat Koordinasi, petunjuk teknis penyusunan LP2KD dan SPKD, petunjuk teknis kerjasama multi pihak, petunjuk teknis pengelolaan data kemiskinan, petunjuk teknis monitoring dan evaluasi program, dan sebagainya, sehingga memudahkan TKPK dalam mendapatkan rujukan upaya advokasinya di daerah.