• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perluasan Cakupan Pekerja di Sektor Informal ke Dalam JKN

Sementara Masyarakat

REFORMASI YANG DILAKUKAN

7. Perluasan Cakupan Pekerja di Sektor Informal ke Dalam JKN

Sekitar 70 juta masyarakat Indonesia masuk ke dalam sektor informal dimana sebagian belum memiliki jaminan kesehatan. Sebagian pekerja informal yang miskin harusnya sudah dicakup sebagai peserta PBI. Pekerja di sektor informal adalah mereka yang penghasilan tidak menentu, tidak pasti jumlahnya dan bergerak di bidang usaha menengah kecil. Beberapa literatur negara berkembang lainnya mengungkap kesulitan dalam kepatuhan koleksi iuran. Untuk itu kiranya ke depan perlu dipikirkan satu terobosan yang dapat mengembangkan cakupan di sektor informal demi capaian Cakupan Semesta di tahun 2019.

Beras adalah komponen penting bagi masyarakat miskin dan rentan. Kajian TNP2K atas data Susenas 2010 menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga miskin dan rentan sebagian besar (65 persen) digunakan untuk membeli bahan makanan dan beras mengambil porsi 29 persen komponen konsumsi masyarakat miskin. Artinya peningkatan harga beras akan melemahkan daya beli masyarakat terutama masyarakat miskin, yang pada gilirannya meningkatkan jumlah penduduk miskin. Untuk itu, kebijakan dalam rangka memastikan agar rumah tangga miskin dan rentan tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan terutama beras sangatlah penting.

Gambar 34. Komposisi Pengeluaran Rumah Tangga Miskin

Sumber: TNP2K

Berdasarkan kondisi di atas, beban kelompok miskin akan lebih berat jika terjadi gejolak harga makanan. Untuk itu, menjaga tingkat inflasi khususnya inflasi kelompok makanan sangat penting, karena inflasi kelompok makanan selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok non-makanan (Gambar 35). Keterlibatan berbagai pihak termasuk Pemerintah Daerah sangat penting dalam upaya menjaga stabilitas harga makanan.

Infrastruktur yang tidak memadai, banyaknya hambatan dalam melakukan usaha serta kebijakan yang tidak mendukung, berkontribusi terhadap meningkatnya harga makanan.

Gambar 35. Inflasi Tahunan Kelompok Makanan dan Non Makanan

Sumber: BPS

Pengantar

Program Raskin bertujuan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga sasaran dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras bersubsidi. Awalnya program ini adalah Operasi Pasar Khusus (OPK) yang diluncurkan pemerintah sebagai bagian dari program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang diluncurkan saat krisis ekonomi 1998.

Di bawah tanggung jawab bersama Menteri Negara Urusan Pangan (Menpangan) dan BULOG9, beras 10 kg/RTS/bulan disalurkan kepada 7,5 juta RTS (hasil pendataan BKKBN) dengan harga tebus Rp1.000/kg. Setelah kementerian negara tersebut ditiadakan pada Oktober 1999, OPK sepenuhnya menjadi tanggung jawab BULOG. Sejak 2002, OPK berubah nama menjadi Program Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin) untuk menekankan sasaran dari program ini.

Selain sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga sasaran (RTS) dan mekanisme perlindungan sosial, tujuan Program Raskin adalah: (i) stabilisasi harga di pasar; (ii) pengendalian inflasi melalui intervensi pemerintah dengan menetapkan harga beras bersubsidi sebesar Rp1.600/kg dan menjaga stok pangan nasional; (iii) peningkatan akses pangan baik secara fisik (beras tersedia di titik distribusi) maupun ekonomi (harga jual yang terjangkau) kepada RTS; (iv) menyediakan pasar bagi hasil usaha tani padi; dan (v) membantu pertumbuhan ekonomi daerah.

Saat ini Program Raskin memberikan subsidi beras sebanyak 15 kg per Rumah Tangga Sasaran-Penerima Manfaat (RTS-PM) per bulan dengan Harga Tebus Raskin (HTR) Rp1.600 per kg di Titik Distribusi (TD)10. Raskin disalurkan oleh Perum BULOG ke TD, yaitu lokasi yang ditentukan dan disepakati oleh Perum BULOG dan pemerintah kabupaten/kota.

Pada umumnya TD berada di tingkat desa/kelurahan dan sebagian di kecamatan. Menurut Perum BULOG, saat ini di seluruh Indonesia terdapat sekitar 50.000 TD dimana jumlah desa/

kelurahan pada 2011 tercatat 78.024. Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab mendistribusikan Raskin dari TD ke Titik Bagi (TB), yaitu lokasi tempat penyerahan Raskin kepada para RTS-PM, untuk selanjutnya dibagikan kepada RTS-PM Raskin. Sementara itu, TB umumnya berada di kantor desa/kelurahan atau di rumah kepala dusun/RW/RT. Oleh karena itu, sebagian TD sama dengan TB.

Jumlah RTS-PM Program Raskin Nasional 2013 dan 2014 sebanyak 15.530.897 rumah tangga yang diperoleh dari Basis Data Terpadu (BDT) untuk program perlindungan sosial.

Jumlah RTS-PM Program Raskin 2014 tersebut meliputi sekitar 25 persen penduduk dengan peringkat kesejahteraan terendah secara nasional, yang telah mencakup rumah tangga miskin dan hampir miskin. Sebagai perbandingan, angka kemiskinan pada 2012 adalah 11,66 persen sehingga cakupan Program Raskin tidak hanya untuk rumah tangga yang miskin tetapi juga rumah tangga hampir miskin atau rentan. Namun jumlah RTS-PM sebenarnya mengalami perubahan dari tahun ke tahun sebagaimana tersaji pada Tabel 9.

9 BULOG berubah badan hukumnya pada 2003 dari Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) menjadi Perusahaan Umum (Perum).

10 Nilai subsidi per kilogram bervariasi tergantung harga beras. Tahun 2014 Harga Pembelian Beras yang ditentukan di APBN-P adalah Rp8.047,69/kg.

Dengan demikian rata-rata nilai subsidi per kilogram di TD adalah sebesar Rp6.477,69/kg.

Anggaran Program Raskin pada 2014 mencapai Rp18,8 triliun meningkat dari Rp5,2 triliun pada 2005. Pada 2013 seiring dengan kebijakan penyesuaian subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), disalurkan tambahan tiga bulan beras Raskin sehingga anggaran mencapai Rp20,5 triliun. Biaya Program Raskin tertinggi di antara program-program bantuan sosial lainnya, bahkan mencapai separuh total anggaran bantuan sosial.

Tabel 9. Jumlah Pagu RTS-PM Program Raskin 2005–2014

Sumber: Tikor Raskin Pusat dan TNP2K

Subsidi Raskin 2014 disediakan dalam APBN Tahun 2014 melalui DIPA Kementerian Keuangan. Kebijakan Pemerintah Pusat dalam Penganggaran Program Raskin hanya untuk pengadaan beras dan penyalurannya sampai TD. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (Pasal 18 dan 58) dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900/2634/SJ tanggal 27 Mei 2013, maka pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) diharapkan untuk mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk penyaluran Raskin dari TD sampai dengan RTS-PM. Penyediaan anggaran tersebut mencakup antara lain untuk biaya operasional Raskin, biaya angkut Raskin dari TD ke TB hingga ke RTS-PM, subsidi harga tebus Raskin, dana talangan Raskin, dan/atau tambahan alokasi Raskin kepada RTS-PM di luar pagu yang ditetapkan maupun tambahan alokasi Raskin untuk RTS-PM di dalam pagu yang ditetapkan. Selain pembiayaan dari APBN dan APBD, masyarakat dapat berpartisipasi secara sukarela untuk membantu pembiayaan distribusi Raskin dari TD ke RTS-PM, tanpa menambah HTR dari RTS-PM yang diatur di dalam Juklak/Juknis di masing-masing daerah.