• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada Layanan Keuangan

RAPAT KOORDINASI TKPK

Tidak semua TKPK dapat segera menjalankan fungsi kelembagaannya setelah terbentuk.

Ada variasi yang cukup lebar antar daerah dalam hal kemampuan TKPK menjalankan tugas kelembagaannya, yaitu melakukan koordinasi dan mengendalikan pelaksanaan penanggulangan kemiskinan di daerahnya. Tolok-ukur yang bisa digunakan di antaranya adalah frekuensi penyelenggaraan Rakor TKPK (Gambar 71), kepemimpinan ketua TKPK dan partisipasi pemangku kepentingan di dalamnya, pelaporan pencapaian penanggulangan kemiskinan di daerah, koordinasi penyusunan dan legalisasi SPKD, pengendalian pemantauan pelaksanaan program dan penanganan pengaduan masyarakat atas masalah kepesertaan maupun pelaksanaan program.

Gambar 71. Penyelenggaraan Rakor TKPK di Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

Sumber: Data Tim Advokasi-TNP2K

Menyelenggarakan Rakor Tidak Menyelenggarakan Rakor Menyelenggarakan Rakor Tidak Menyelenggarakan Rakor

2011 2012 2013

Sebagian besar dari TKPK telah menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) TKPK. Rakor TKPK merupakan salah satu instrumen bagi TKPK untuk melaksanakan tugas koordinasi penanggulangan kemiskinan di daerah yang bersangkutan. Dari tahun ke tahun jumlah TKPK yang menyelenggarakan kegiatan ini terus meningkat, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Pada tahun 2013, rakor telah terselenggara di seluruh TKPK provinsi.

Sementara di tingkat kabupaten/kota kegiatan ini telah diselenggarakan oleh sekitar 75 persen (350 TKPK) dari jumlah TKPK yang ada. Kegiatan ini seluruhnya menggunakan sumber pembiayaan dari APBD masing-masing daerah, yang umumnya dialokasikan melalui anggaran belanja Bappeda atau BPMD.

Frekuensi penyelenggaraan rakor oleh mayoritas TKPK telah mencapai minimal tiga kali dalam setahun. Permendagri Nomor 42 Tahun 2010 merekomendasikan bahwa penyelenggaraan rakor oleh TKPK adalah minimal tiga kali dalam setahun. Selain untuk memperbarui informasi perkembangan pelaksanaan dan capaian penanggulangan kemiskinan di daerah, rakor ini dimaksudkan sebagai forum bagi semua unit dalam TKPK, baik kelompok kerja maupun kelompok program, untuk memikirkan aksi kebijakan yang dibutuhkan dari masing-masing sektor dalam rangka mengatasi kendala-kendala yang ditemukan dari pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di lapangan. Menurut data, sebagian besar dari TKPK yang telah menyelenggarakan rakor TKPK pada tahun 2013 mampu memenuhi frekuensi minimal yang direkomendasikan oleh Permendagri tersebut.

Mayoritas rakor TKPK dipimpin langsung oleh wakil kepala daerah selaku Ketua TKPK.

Sedangkan dalam hal kepesertaan, separuh dari rakor yang terselenggara juga dihadiri oleh para pemangku kepentingan di luar struktur TKPK. Kehadiran wakil kepala daerah

selaku ketua TKPK untuk memimpin langsung pelaksanaan rakor TKPK umumnya dipandang penting oleh pemangku kepentingan di daerah karena dapat memperkecil kemungkinan para pimpinan SKPD mendelegasikan kehadirannya kepada staf atau bawahannya. Sehingga, rakor dapat berfungsi lebih dari sekadar sebuah forum lintas sektor untuk melaporkan kegiatan dan hasil penanggulangan kemiskinan, tetapi sekaligus untuk memutuskan tindak lanjut atas temuan-temuan dari pelaksanaan program di lapangan. Data menunjukkan bahwa sekitar 70 persen rakor TKPK sepanjang tahun 2013 telah dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Daerah selaku Ketua TKPK. Tidak kurang dari 50 persen rakor TKPK juga telah melibatkan unsur-unsur masyarakat di luar lembaga TKPK sebagai peserta aktif, seperti anggota DPRD, tokoh masyarakat dan agama, aparat penegak hukum, aktivis LSM, perwakilan perguruan tinggi, pelaku usaha dan sebagainya (Gambar 72).

Gambar 72. Rakor TKPK Menurut Frekuensi, Pimpinan dan Pesertanya (2013)

Sumber: Data Tim Advokasi-TNP2K

Masalah data perencanaan dan kepesertaan program penanggulangan kemiskinan dan kinerja implementasinya telah menjadi dua isu yang paling dominan dibicarakan dalam forum-forum rakor TKPK di daerah. Sejalan dengan transformasi pendekatan penanggulangan kemiskinan nasional yang ditandai oleh penajaman prioritas intervensi dan sasaran program (rumah tangga, keluarga atau individu), perhatian masyarakat dan pemerintah daerah kepada isu-isu yang berkaitan dengan fokus, lokus dan kepesertaan program makin meningkat. Isu-isu tersebut mendominasi agenda pembahasan di dalam rakor TKPK di daerah selama periode 2012–2013. Secara lebih spesifik, isu-isu utama yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Data Perencanaan dan Penargetan Program

Isu ini sangat mendominasi perhatian TKPK karena berpengaruh langsung terhadap kualitas rencana kerja dan pengalokasian anggaran daerah untuk penanggulangan kemiskinan. SKPD umumnya mengeluhkan kesulitan dalam memperoleh data-data terbaru terkait kemiskinan, baik data makro maupun mikro. Perbedaan antara data yang dipublikasikan oleh BPS di daerah dengan data sektoral yang dikumpulkan oleh SKPD juga dipandang sebagai kendala tersendiri bagi evaluasi dan perencanaan program. Secara lebih spesifik, rakor TKPK juga kerap mempertanyakan mekanisme pengumpulan data mikro (PPLS) oleh BPS dan pengelolaan oleh TNP2K untuk keperluan penetapan sasaran program.

b. Kinerja Implementasi Program Nasional.

Peserta Rakor TKPK umumnya membahas kinerja implementasi program dalam konteks kesesuaian implementasi itu terhadap prosedur dan ketentuan program, dan dampak program bagi penyelesaian masalah kemiskinan. Pembahasan menyangkut hal ini biasanya langsung dikaitkan dengan kinerja pendampingan dan pengawasan pelaksanaan program di lapangan.

c. Perencanaan Kebijakan Daerah

Rakor TKPK juga tidak jarang dimanfaatkan untuk keperluan menyamakan persepsi, mengumpulkan informasi (stock-tacking) atau melakukan uji publik dalam rangka pemantapan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD), dengan melibatkan unsur-unsur pemangku kepentingan penanggulangan kemiskinan di daerah.

d. Kelembagaan dan Peran TKPK

Optimalisasi peran TKPK sebagai sebuah lembaga dengan struktur dan fungsi yang luas juga menjadi perhatian khusus di daerah. Rakor TKPK dengan isu ini sebagai agenda utama umumnya membahas masalah mekanisme dan kapasitas sumber daya yang tersedia untuk operasionalisasi fungsi unit-unit di dalam lembaga ini, khususnya Kelompok Kerja (Pokja)—Data dan Informasi, Kemitraan, dan Penanganan Pengaduan;

dan Kelompok Program—berbasis rumah-tangga/keluarga/individu, pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan pelaku usaha mikro dan kecil.

e. Koordinasi Pusat dan Daerah

Kualitas keterlibatan unsur pemerintah dan masyarakat di daerah dalam pengelolaan program-program nasional yang ada sekarang umumnya dinilai belum mencukupi.

Meski porsinya relatif kecil dalam agenda rakor TKPK, tetapi pembahasan menyangkut isu ini biasanya menggarisbawahi satu poin penting tentang revisi terhadap prosedur perencanaan, penargetan, pemantauan dan penanganan pengaduan program- program nasional dengan memberikan porsi yang lebih besar pada peran daerah.

Keterbatasan anggaran bukan kendala utama dalam formalisasi dan aktivasi TKPK.

Masalah terbesar umumnya berkaitan dengan pemahaman akan arti penting dan teknis operasional dari fungsi lembaga, keberadaan tenaga pendamping, dan kepemimpinan atas lembaga TKPK itu sendiri. Beberapa faktor yang secara tipikal memengaruhi aktivasi fungsi kelembagaan TKPK adalah sebagai berikut:

a. Pemahaman Penentu Kebijakan Akan Arti Penting TKPK

Pada sejumlah daerah, kandungan Perpres Nomor 15 Tahun 2011 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Permendagri Nomor 42 Tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan tidak cukup tersosialisasikan. Sehingga pemahaman tentang hubungan langsung antara kinerja kelembagaan koordinasi dengan efektivitas program penanggulangan kemiskinan tidak dipahami secara utuh.

b. Keberadaan Pedoman Operasionalisasi Fungsi Kelembagaan

Sesuai Permendagri Nomor 42 Tahun 2010, organisasi TKPK dibangun oleh dua unit besar yaitu sekretariat (berisi pokja data dan informasi; pokja penanganan pengaduan; pokja kemitraan; dan sekretaris) dan kelompok program (terdiri atas kelompok program berbasis rumah-tangga/individu; kelompok program berbasis pemberdayaan masyarakat; dan kelompok berbasis pemberdayaan pelaku UMK).

Masalahnya, hingga saat ini belum tersedia petunjuk teknis menyangkut peran koordinasi masing-masing unit tersebut dalam setiap program penanggulangan kemiskinan. Di lapangan, kondisi ini membatasi keterlibatan TKPK dalam agenda-agenda pemantauan program, penanganan pengaduan dan pemutakhiran data kemiskinan.

c. Keberadaan Focal Point dan Pelaksana Teknis

Faktor ini dikaitkan dengan frekuensi mutasi PNS yang umumnya relatif tinggi, sehingga tidak ada jaminan bahwa staf yang telah mengikuti program peningkatan kapasitas TKPK dapat menerapkan kemampuannya sebagai fasilitator dalam operasional dari fungsi lembaga. Pada saat yang sama mayoritas TKPK belum melihat urgensi dan/

atau belum mampu melakukan perekrutan konsultan atau tenaga ahli sebagai pen-damping TKPK, khususnya di sekretariat. Lebih dari itu, tidak jarang keaktifan TKPK terbantu oleh faktor kedekatan personal antara pelaksana TKPK dengan kepala daerah dan/atau wakilnya.

d. Keterlibatan Langsung Pimpinan Daerah

TKPK yang aktif hampir seluruhnya merupakan TKPK yang mendapat dukungan langsung dari pimpinan daerahnya, baik wakil kepala daerah selaku ketua, maupun kepala daerah sebagai penanggung jawab. Indikator keterlibatan itu antara lain berupa kesediaan untuk secara reguler memimpin langsung rakor TKPK dan menagih laporan tindak lanjutnya, mempertanyakan dan menegur unsur TKPK yang dalam rakor tidak diwakili oleh pejabat dari level pengambil keputusan, memfasilitasi penyusunan dan penandatanganan dokumen SPKD, memfasilitasi pelaporan kinerja TKPK (LP2KD), memfasilitasi permohonan data untuk keperluan perencanaan dan penargetan program kepada pemerintah pusat, khususnya kepada TNP2K, dan aktif memimpin pertemuan konsultasi dan menghadiri rapat koordinasi dengan TNP2K.

e. Ketersediaan Anggaran Operasional

Hampir seluruh kegiatan reguler TKPK seperti rakor dan pelatihan tim teknis dibiayai dari pos belanja SKPD Bappeda dan/atau BPMD. Sedangkan untuk kegiatan monitoring program nasional yang dilakukan oleh kelompok program, anggaran bersumber dari SKPD yang terlibat dalam pengelolaan program yang bersangkutan, selain dari dana monitoring yang sudah dianggarkan oleh program itu sendiri.