• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Edukasi yang Ada di Museum Misi Muntilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

3. Kegiatan Edukasi yang Ada di Museum Misi Muntilan

Berkaitan dengan kegiatan edukasi yang dilaksanakan di Museum Misi Muntilan, sebagian besar mengatakan bahwa kegiatan edukasi yang dilakukan di museum ini berkaitan dengan rekoleksi dan pendampingan pengunjung. Pengunjung yang datang harus dipandu untuk memudahkan mereka mengenal koleksi yang ada di museum. Pengunjung diajak untuk meyaksikan sejarah Keuskupan Agung Semarang, karya misi dan perkembangan Gereja Katolik di Indonesia. Sementara salah satu pendiri museum mengatakan bahwa siapapun yang terlibat di dalam museum harus bisa menguasai edukasi yang ada. Hal ini dilakukan karena keterbatasan pengelola museum dan juga untuk mengatisipasi bila pengunjung yang datang jumlahnya banyak, sehingga setiap pengelola museum dapat mendampingi pengunjung yang datang. Bila pengunjung yang datang banyak mereka akan membaginya dalam beberapa kelompok, untuk itu semua pengurus diwajibkan menguasai sejarah dari masing-masing koleksi

(CL.12).108

Sementara itu, pengelola museum mengatakan bahwa pendampingan pengunjung dapat dibedakan menjadi dua yaitu pendampingan singkat dan pendampingan panjang. Pendampingan singkat waktunya 1-2 jam. Pendampingan singkat yaitu rombongan yang terdiri dari banyak orang ditempatkan dalam

108

rangkaian kegiatan ziarah biasanya berasal dari Semarang, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Magelang dan kota lain-lain. Oleh karena itu, pengunjung yang datang diberikan pengantar melalui film yang ditampilkan, selanjutnya diajak untuk berkeliling melihat koleksi-koleksi yang ada di museum, kemudian dilakukan proses tanya jawab sembari menjelaskan koleksi yang ada. Biasanya

museum akan ramai pada bulan-bulan Mei, Oktober, dan liburan (CL.3).109

Pendampingan panjang sekitar 4 jam sampai weekend, dalam istilah rohani

disebut rekoleksi, di mana pengunjung yang datang bukan hanya wisata untuk mengunjungi museum melainkan pengunjung diajak untuk lebih mendalami koleksi yang ada di museum. Misalnya mengenai foto Mgr. Albertus

Soegijapranata, SJ., yang mempunyai semboyan “100% Katolik 100% Indonesia”.

Pengunujung diberikan kesempatan untuk merefleksikan semboyan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ., yaitu “100% Katolik, 100% Indonesia”. Setelah itu, ditanyakan manfaat yang diperoleh dari rekoleksi yang telah dilakukan dan setiap pengunjung ditanamkan nilai kerohanian dalam diri mereka setelah melihat koleksi-koleksi yang ada di museum (CL.3).

Direktur museum sekarang mengatakan bahwa kegiatan edukasi yang berkaitan dengan rekoleksi harus memberikan refleksi-refleksi yang berkaitan dengan hidup orang Katolik khususnya untuk pengunjung yang beragama Katolik. Tidak hanya itu, pengunjung pun diarahkan untuk melihat dan mengamati peran Gereja Keuskupan Agung Semarang dalam perkembangannya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Selain itu, kegiatan edukai yang ada di Museum Misi

109

Muntilan, yakni mengadakan kerjasama-kerjasama, misalnya beberapa kali ada orang yang menulis tentang Sejarah Keuskupan Agung Semarang yang

bekerjasama dengan Museum Misi (CL.6).110

Tim edukasi mengatakan bahwa kegiatan edukasi yang ada di museum ini tidak hanya mengantarkan pengunjung, tetapi ada juga kegiatan lain, di antaranya mengadakan kerjasama dengan pengurus Kerkof setiap malam Selasa Kliwonan dengan mengadakan pengajian memakai musik tradisional dan khotbah. Hal ini sebagai salah satu saran untuk mendekatkan Museum Misi Muntilan dengan masyarakat sekitar. Tampilan ini merupakan proses edukasi karena hampir semua yang menangani adalah pengelola museum. Selain itu, mengunjungi kelompok- kelompok tertentu untuk memperkenalkan Museum Misi Muntilan, sehingga mereka dapat mengenal Museum Misi Muntilan bukan hanya menjadi gudang tempat penyimpanan benda, tetapi menjadi museum yang hidup dengan

peninggalan-peninggalan yang ada (CL.2).111

Berkaitan dengan kegiatan rutin yang dilakukan di Museum Misi Muntilan, pengelola museum mengatakan bahwa kegiatan rutin yang dilakukan, yakni mendampingi sekolah-sekolah yang ada di lingkungan sekitar museum, seperti SMP Kanisus yang memanfaatkan museum setiap hari Jumat untuk mengenal Museum Misi, sedangkan SMA van Lith mewajibkan setiap siswa baru untuk mengenal Museum Misi Muntilan. Selain itu, Selasa Kliwononan yang dilakukan dengan masyarakat sekitar untuk mengenalkan Museum Misi. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan toleransi antar umat beragama dan membuka sekat-sekat

110

Hasil wawancara dengan Romo Nugroho, 8 Mei 2017

111

yang ada (CL.3).112 Sementara direktur museum sekarang mengatakan bahwa kegiatan rutin yang dilakukan di Museum Misi Muntilan, yakni kegiatan perawatan, konsulidasi atau pembicaraan-pembicaraan ditingkat staf dalam hal kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan sepanjang hari khususnya dalam hal

pendampingan pengunjung (CL.6).113

Berkaitan dengan kegiatan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar terutama sejarah di Museum Misi Muntilan direktur museum mengatakan bahwa kegiatan yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar terutama sejarah yaitu kegiatan pendampingan. Pengunjung yang datang didampingi untuk menjelaskan mengenai koleksi-koleksi yang ada, sehingga pengunjung yang datang dapat memiliki wawasan pengetahuan yang baru mengenai sejarah karya misi Keuskupan Agung Semarang dan perkembangan Agama Katolik di Indonesia. Semua pengunjung yang datang diajak untuk merefleksikan tentang manfaat yang

diperoleh dari kunjungannya ke museum (CL.6).114

Berkaitan dengan pengunjung yang datang ke museum sebagian kecil pengurus mengatakan bahwa pengunjung yang datang kebanyakan umat Katolik. Hal ini dikarenakan koleksi-koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan ini berkaitan dengan karya misi Keuskupan Agung Semarang dan sejarah Agama Katolik di Indonesia terutama Pulau Jawa. Sementara Romo Nugroho mengatakan bahwa pengunjung yang datang meliputi anak-anak TK, pelajar (SD, SMP, SMA), mahasiswa, dan umat umum. Profesinya bermacam-macam ada pejabat Gereja, Biarawan/Biarawati, guru dan lain-lain. Ada pula beberapa wisatawan

112

Hasil wawancara dengan Pak. Sena, 2 Mei 2017

113

Hasil wawancara dengan Romo Nugroho, 8 Mei 2017

114Ibid,

Mancanegara yang dibawa oleh biro perjalanan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Selain itu, dari beberapa Komunitas Penggemar Museum dan Komunitas Pencita Sejarah yang datang berkunjung untuk melihat koleksi-koleksi yang ada di museum beserta dengan sejarah dari setiap koleksi yang ditampilakn (CL.6). Semua kalangan mengunjungi dan memanfaatkan museum untuk keperluan pendidikan, rekreasi dan beberapa hal yang berkaitan dengan museum.

Senada dengan pendapat di atas, pengelola museum juga mengatakan bahwa tidak hanya pengunjung dari umat Katolik sendiri, tetapi dalam perkembangnya juga mulai ada beberapa kelompok lintas iman yang berkunjung ke Museum Misi Muntilan, di antaranya ANSOR, NU, dan beberapa mahasiswa yang ingin menulis skripsi. Misalnya mahasiswa IAIN yang menyusun tugas akhir mengenai perbandingan Romo Van Lith dengan Sunan Kalijaga dan mahasiswa UNY yang

tertarik mengenai sejarah Gereja yang ada di Museum Misi Muntilan (CL.3).115

Macam-macam kalangan memanfaatkan museum ini. Mgr. Pujasumarta dalam Surat Gembala menyebut bahwa umat Katolik Keuskupan Agung Semarang didorong untuk datang ke Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner untuk belajar menganai sejarah Agama Katolik di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan mengenai Keuskupan Agung Semarang. Berikut ini data pengunjung Museum Misi Muntilan tahun 2016.

Tabel 3. Data Pengunjung MMM116 Januari - Desember 2016

No Jenis Pengunjung Jumlah

1. Pengunjung Pelaku Studi 1.451

2. Pengunjung Bertujuan Khusus 39

3. Pengunjung Rekreasi 3.632

115

Hasil wawancara dengan Pak. Sena, 2 Mei 2017

116

Berkaitan dengan kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan kegiatan edukasi yang ada di Museum Misi Muntilan, pengelola museum mengatakan bahwa kendala yang dihadapi dalam kegiatan edukasi, yakni bila pengunjung yang datang tidak memberikan informasi terlebih daluhu kepada pihak museum, karena pihak museum sudah memiliki program yang harus dikerjakan seperti mendampingi pengunjung yang sudah memberikan konfirmasi sebelumnya. Selain itu, kendala yang dihadapi yaitu dalam hal manajemen waktu, pihak museum sendiri memiliki jumlah staf yang terbatas. Oleh sebab itu, pengunujung yang datang sebaiknya memberikan kabar terlebih dahulu sebelum datang ke

museum, sehingga dapat terlayani dengan baik (CL.3).117

Sementara itu, direktur museum mengatakan bahwa kendala yang kami hadapi yaitu dalam inovasi penyelenggaraan. Di mana kolekis-koleksi yang ditampilkan hanya begitu-begitu saja. Mereka ingin memberikan pengertian yang mudah ditangkap oleh anak-anak, remaja bahkan orang dewasa mengenai sejarah dan misi dari setiap benda koleksi yang ada sehingga pengunjung yang datang tertarik mengenai sejarah koleksi-koleksi yang ditampilkan. Selain itu, kendala lain yang kami hadapi yaitu banyak diantara umat yang ingin menyumbangkan koleksi yang mereka miliki di rumah untuk diletakan di Museum Misi Muntilan. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa koleksi yang sudah cukup tua dapat ditempatkan begitu saja di Museum karena selama ini banyak anggapan yang mengatakan bahwa museum digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda tua dan bernilai sejarah, untuk itu kami memberi pemahaman kepada para

117Ibid.,

pengunjung megenai koleksi yang dapat dipajang di museum, yakni koleksi yang memiliki nilai sejarah mengenai Sejarah Keuskupan Agung Semarang (CL.6).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi yang ada di Museum Misi Muntilan, di antaranya kegiatan pendampingan pengunjung, rekoleksi, Selasa Kliwonan, pembuatan buku-buku sejarah mengenai koleksi-koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan. Kegiatan pendampingan dan rekoleksi dilakukan untuk memudahkan pengunjung menangkap informasi mengenai koleksi-koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan. Selain itu, ada kegiatan rekoleksi yang merupakan kegiatan menggali informasi yang mereka peroleh setelah melihat benda-benda koleksi yang ada di museum, sehingga nantinya akan menumbuhkan rasa menghargai warisan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Kegiatan lain yaitu Selasa Kliwonan yang dilakukan dengan mengadakan pengajian memakai musik tradisional dan khotbah. Hal ini sebagai salah satu saran untuk mendekatkan Museum Misi Muntilan dengan masyarakat sekitar. Nantinya Selasa Kliwonan ini akan menimbulkan toleransi antar umat beragama dan membuka sekat-sekat yang ada. Oleh karena itu, kegiatan edukasi yang ada di museum tidak sekedar untuk umat Katolik, tetapi juga untuk masyarakat di sekitar Museum Misi Muntilan.

4. Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar Sejarah

Dokumen terkait