BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
4. Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar
Sebelum mewawancari informan terkait dengan pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar sejarah, terlebih dahulu peneliti menggali pemahaman informan mengenai museum secara umum. Ketika peneliti bertanya kepada pengunjung tentang pernahkah berkunjung ke museum dan museum mana yang pernah dikunjungi. Hampir semua pengunjung menjawab pernah berkunjung ke museum. Museum yang rata-rata mereka kunjungi adalah Museum Benteng Vredeburg, Museum Merapi, Museum Geologi, Museum Kereta Api. Sementara sebagian kecil pengunjung mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia
berkunjung ke museum (CL.1).118
Berkaitan dengan aktivitas yang sering mereka lakukan saat berkunjung ke museum sebagian besar mengatakan bahwa kegiatan yang sering mereka lakukan yaitu mengamati, melihat dan mecari tahu nilai sejarah dari masing-masing benda koleksi yang di museum. Sementara pengunjung pelaku studi mengatakan bahwa tidak hanya melihat, membaca sejarah koleksi-koleksi yang tertera di label, tetapi
juga berfoto dengan koleksi yang ada (CL.10).119
Berkaitan dengan kesan yang mereka dapatkan saat berkunjung ke Museum Misi Muntilan pengunjung pelaku rekreasi mengatakan bahwa kesan yang diperoleh saat berkunjung ke Museum Misi Muntilan yaitu museum ini memperlihatkan bagaimana Agama Katolik di Indonesia dalam perjalanannya terus berkembang. Dalam perkembangannya banyak tokoh yang tetap bertahan
118
Hasil wawancara dengan Yuni Irwanto, 22 April 2017
119
dalam menyembarkan misi, meskipun banyak hal sulit yang terjadi di tempat
mereka melayani, misalnya Romo van Lith (CL.1).120
Sementara itu, pengunjung pelaku studi mengatakan bahwa kesan diperoleh saat berkunjung ke museum ini adalah bangga, karena di Muntilan sebagai kota yang kecil ternyata banyak melahirkan tokoh-tokoh sejarah atau para misionaris yang menyebarkan Agama Katolik di Pulau Jawa khususnya Romo van Lith (CL.10). Beberapa pengunjung mengatakan bahwa kesan mereka dapatkan saat berkunjung ke Museum Misi Muntilan mereka merasa nyaman dan tenang.
Guru matapelajaran sejarah mengatakan bahwa kesan yang diperoleh saat berkunjung ke museum yaitu museum ini dibuat untuk mengenal jasa-jasa Romo
van Lith dan sejarah Gereja Katolik (CL.7).121 Sementara mahasiswa UGM
mengatakan bahwa kesan yang didapatkan saat berkunjung ke Museum Misi Muntilan yaitu penasaran mengenai koleksi yang ada. Sebetulnya dia sudah memiliki gambaran mengenai cerita tentang museum ini, tetapi isi di dalamnya
belum ada gambaran (CL.14).122 Berikut ini beberapa data mengenai kesan
pengunjung yang pernah datang ke Museum Misi Muntilan di antaranya: Tabel 4. Kesan Data Pengunjung Museum Misi Muntilan Tahun 2016
No Tanggal Nama Asal Kesan
1. 05-07-2016 SMA Pangudi Luhur Muntilan Menambah pengetahuan dan keingintahuan mengenai penyebaran Agama Katolik yang dilakukan oleh Romo van Lith.
120
Hasil wawancara dengan Yuni Irwanto, 22 April 2017
121
Hasil wawancara dengan Bruri, 9 Mei 2017
122
2. 11-08-2016 Kel. Editha dan Ibu Maria Lembang, Jawa Barat Sangat menarik mempelajari sejarah perkembangan Agama Katolik (merupakan museum yang hidup).
3. 13-08-2016 Keluarga besar
SMP Perdana Semarang
Semarang Sangat menarik dan
menambah ilmu pengetahuan sejarah.
4. 16-08-2016 Pendidikan Agama
Katolik USD
Yogyakarta Keren, kagum,
menambah wawasan dan semakin semangat untuk mewartakan.
5. 19-08-2016 Liza Ariesta,
Rizki, Aan Rukmana, M. Saleh
Kemendikbud Pekerjaan yang
dilakukan dengan hati akan sampai ke hati dan mempengaruhi seluruh kehendak hati.
6. 21-08-2016 PRMK FSM
UNDIP
Semarang Inspirasi iman dan
perwataan yang mengagumkan.
7. 31-08-2016 TK Pangudi Luhur
Muntilan
Muntilan Luar biasa.
8. 11-09-2016 Prodiakon Paroki
St. Maria Annuntiata
Sidoarjo Menambah
pengetahuan dan penguatan iman untuk melaksanakan misi sebagai umat Katolik dalam kehidupan berlingkungan dan bermasyarakat.
Selanjutnya berkaitan dengan pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar, sebagian besar mengatakan museum ini dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah. Mereka memiliki alasan masing-masing mengenai museum yang dapat digunakan untuk sumber belajar di antaranya siswa SMA Pangudi Luhur van Lith yang mengatakan bahwa museum ini cocok sekali dijadikan sebagai sumber belajar karena kita dapat belajar mengenai sejarah
Muntilan sampai disebut Betlehem van Java (CL.10).123 Sementara itu, siswa SMA Pangudi Luhur van Lith lain mengatakan bahwa museum ini cocok dimanfaatkan sebagai sumber belajar karena koleksi-koleksi yang ada dapat
memberikan manfaat sendiri dalam pembelajaran (CL.11).124
Sementara mahasiswa Universitas Sanata Dharma mengatakan bahwa museum ini sangat cocok digunakan sebagai sumber belajar sejarah, meskipun koleksi yang ada sangat condong ke arah Agama Katolik. Akan tetapi, dalam sebuah pembelajaran kita harus bisa mengaitkan beberapa ilmu yang kita peroleh, karena dalam pembelajaran sejarah, sejarah tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan ilmu bantu lain. Sebagai salah satu sumber belajar sejarah, hal ini sesuai dengan mata kuliah yang sedang diambil mengenai Sejarah Gereja. Banyak koleksi yang dapat dijadikan contoh kongkret mengenai perkembangan Gereja
Katolik di Indonesia (CL.9).125
Sementara pengunjung pelaku rekreasi mengatakan bahwa museum ini sangat cocok dimanfaatkan untuk sumber pengetahuan, di mana fasilitas yang ada di museum ini sudah sangat memadai. Sebelum kita memasuki ruang museum, kita disediakan tempat untuk menonton video mengenai Museum Misi Muntilan. Setelah itu, kita akan diajak ke ruangan museum dan pengelola museum akan
menjelaskan satu persatu mengenai koleksi yang ada di museum (CL.13).126
Selanjutnya Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum SMA Pangudi Luhur van Lith mengatakan bahwa museum ini sangat cocok digunakan sebagai sumber
123
Hasil wawancara dengan Donita Sari, 15 Mei 2017
124
Hasil wawancara dengan Theresia Donal Cristian, 15 Mei 2017
125
Hasil wawancara dengan Theresia April Lindawati, 10 Mei 2017
126
belajar sejarah, tetapi belum ada materi sejarah yang berkaitan dengan Museum Misi Muntilan. Namun untuk pengetahuan sejarah secara umum, museum ini cocok digunakan untuk menambah wawasan dalam pengenalan mengenai sejarah
Gereja Katolik dan Romo van Lith (CL.5).127
Senada dengan pendapat di atas, guru matapelajaran sejarah mengatakan bahwa Museum Misi Muntilan sangat cocok digunakan sebagai sumber belajar sejarah, terutama untuk anak-anak van Lith karena visi misi yang dimiliki sangat relevan dengan museum. Selain itu, anak-anak juga dapat belajar mengenai sejarah Romo van Lith. Caranya belajar yaitu anak-anak diajak untuk berkunjung ke museum. Akan tetapi, pada kurikulum pendidikan kita saat ini, khususnya dalam mata pelajaran sejarah belum didapati materi mengenai proses masuknya Agama Kristen dan Katolik yang baru ada masuknya Agama Hindu, Buddha, Islam sekalipun sedikit disinggung namun belum dibahas secara mendalam. Untuk materi yang hampir mendekati, yaitu perkembangan kolonialisme di
Indonesia, itupun hanya sekilas misalnya tentang gold, glory, gospel, dan latar
belakang penjelajahan (CL.7).128
Sementara itu, mahasiswa UGM mengatakan bahwa museum ini cocok digunakan sebagai sumber belajar sejarah, tetapi masih banyak data-data mengenai koleksi-koleksi yang masih kurang cerita sejarahnya. Seperti pada waktu itu ada sekelompok anggota yang ingin mencari data mengenai Lonceng Angelus, tetapi museum hanya memiliki data sebatas lonceng ditemukan dan
127
Hasil wawancara dengan Robertus Balok, 8 Mei 2017
128
digunak belum mengetahui sejarahnya secara mendalam (CL.14).129 Dipihak lain, mahasiswi Universitas Sanata Dharma mengatakan bahwa Museum Misi Muntilan kurang cocok digunakan untuk sumber belajar sejarah karena koleksi- koleksi yang ada di museum itu belum memiliki kejelasan sudah ditampilkan
(CL.8).130 Menurut pengamatan peneliti pengunjung ini memang tidak memiliki
ketertarikan mengenai Museum Misi Muntilan, sehingga ia menjawab bahwa museum ini tidak cocok kalau digunakan sebagai sumber belajar terutama sejarah. Berkaitan dengan kunjungan ke Museum Misi Muntilan sebagian besar pengunjung mengatakan bahwa kunjungan yang mereka lakukan ini berdasarkan tugas sekolah, kuliah dan juga rekreasi. Pengunjung pelaku rekreasi mengatakan bahwa kunjungan yang dilakukan bersama teman-temannya merupakan rekreasi yang diadakan oleh Komunitas Anak Muda Katolik Universitas Surabaya. Di komunitas ini kami melakukan ziarah ke tempat-tempat yang bernilai religus dan juga belajar mengenai sejarah perkembangan Agama Katolik di Indonesia
(CL.1).131 Senada dengan pengunjung di atas, pengunjung pelaku rekreasi lain
mengatan bahwa kunjungan yang mereka lakukan ke Museum Misi muntilan dalam rangka rekreasi untuk menambah pengetahuan tentang Agama Katolik
(CL.13).132
Sementara siswa SMA Pangudi Luhur van Lith (CL.10, CL.11) mengatakan bahwa dalam melakukan kunjungan ini mereka diajak oleh sekolah untuk mengenal Musuem Misi Muntilan. Setiap awal tahun ajaran baru mereka diajak
129
Hasil wawancara dengan Riyan, 18 Mei 2017
130
Hasil wawancara dengan Indri, 10 Mei 2017
131
Hasil wawancara dengan Yuni Irwanto, 22 April 2017
132
untuk mengenal museum secara lebih dekat dengan datang berkunjung ke sana. Mahasiswi Universitas Sanata Dharma (CL.8, CL.9) mengatakan bahwa dalam melakukan kunjungan ke Museum Misi Muntilan ini dilakukan berdasarkan tugas kuliah, di mana mereka diajak untuk melihat beberapa hal yang dapat digunakan untuk bahan Pengembangan Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Berkaitan dengan cara memanfaatkan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar sejarah, sebagian besar mengatakan bahwa cara memanfaatkannya dengan mendampingi para pengunjung untuk melihat koleksi-koleksi yang ada di museum serta menjelaskan setiap koleksi yang ada dan diajak untuk menggali wawasan mereka mengenai benda yang mereka lihat sendiri. Sementara direktur museum mengatakan bahwa setelah ada pendampingan diharapkan ada studi-studi khusus yang dibuat berkaitan dengan koleksi, keberadaan, maupun tujuannya yang dimiliki museum. Studi-studi tersebut setidaknya dapat membantu merefleksikan dan memperdalam wawasan mengenai koleksi yang mereka lihat. Misalnya dalam bentuk karya tulis, dan jurnal yang sangat berperan dalam tujuan
pembuatan museum (CL.6).133
Sementara itu, salah seorang anggota tim edukasi mengatakan bahwa cara memanfaatk museum sebagai sumber belajar yaitu dengan membuat buku-buku mengenai sejarah dari koleksi-koleksi yang ditampilkan. Biasanya digunakan
untuk souvenir, sehingga mereka dapat menggali lagi sejarah dari setiap koleksi
yang sudah diterangkan dengan membaca buku yang ada (CL.2).134 Selain itu,
pengelola museum mengatakan bahwa caranya dengan datang berkunjung,
133
Hasil wawancara dengan Romo Nugroho, 8 Mei 2017
134
melihat, dan membantu pengunjung untuk berefleksi dan mempertimbangkan lagi keberadaan dirinya setelah melihat koleksi masa lampau mengenai kenyataan dirinya selama ini. Dengan pengamatan yang diperoleh, nantinya akan mendorong mereka membuat aksi, baik sendiri maupun secara bersama-sama. Inilah metode atau cara yang ditempuh untuk membantu pelajar, mahasiswa, masyarakat, umat untuk mengembangkan karakter, sehingga didapat hasil yang memuaskan untuk
hidupnya dan sesama (CL.3).135
Sementara guru matapelajaran yang ada disekitar museum mengatakan bahwa cara memanfaatkan museum sebagai sumber belajar yaitu dengan datang berkunjung ke Musuem Misi Muntilan, sehingga siswa yang diajak dapat memperoleh pengetahuan umum mengenai Agama Katolik dan penyebaran karya misi di Indonesia.
Berkaitan dengan kendala yang dihadapi untuk menjadikan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar sejarah, pihak museum mengatakan bahwa kendala yang mereka hadapi yakni dalam hal penyedian data mengenai koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan, masih banyak data yang belum jelas mengenai sejarahnya. Sementara itu, dari guru mata pelajaran sejarah kendala yang dihadapi dalam hal catatan-catatan sejarah. Masih banyak koleksi yang belum memiliki keterangan mengenai sejarah kolekisi tersebut, sehingga membuat mereka kesulitan dalam menerangkan koleksi kepada siswa. Sementara guru SMP Kanisus mengatakan bahwa tidak ada kendala yang dihadapi karena kita mempunyai kompleks yang sama dengan Museum Misi, sehingga kapan saja
135
datang ke museum mereka terbuka dan menerima dengan senang hati (CL.4).136 Menurut peneliti, informan kurang begitu memahami mengenai pertanyan yang sedang diajukan, hal ini dikarenakan informan tersebut tidak memanfaatkan museum tersebut sebagai seumber belajar, karena menurut dia tidak ada materi yang cocok digunakan untuk memanfaatkan museum sebagai sumber belajar khususnya sejarah. informan mengatakan pembelajaran yang cocok yaitu Agama Katolik.
Sementara dari pengunjung sendiri kendala yang dihadapi untuk menjadikan museum ini sebagai sumber sejarah yaitu masih banyak koleksi- koleksi yang belum begitu jelas nilai sejarahnya. Sementara Theresia April Lindawati mengatakan bahwa kendala yang dihadapi untuk menjadikan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar yaitu museum ini kurang begitu di ekspos oleh masyarakat. Banyak orang kurang mengetahui kalau di Muntilan sendiri punya sebuah museum yang tidak kalah dengan museum lainnya yang ada di
Indonesia (CL.9).137
Pengunjung pelaku studi mengatakan bahwa kendala yang dihadapi untuk mejadikan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar sejarah, yakni dalam hal pendampingan. Kebanyakan orang kadang malas untuk mengikuti sebuah pendampingan sampai selesai dan menurutnya beberapa koleksi-koleksi yang ada di museum harus ditampilkan secara visual untuk memudahkan orang melihat
koleksi-koleksi yang ada di museum (CL.1).138 Selanjutnya siswa SMA Pangudi
Luhur van Lith mengatakan bahwa kendala yang dihadapi untuk menjadikan
136
Hasil wawancara dengan Pak. Joko, 8 Mei 2017
137
Hasil wawancara dengan Theresia April Lindawati, 10 Mei 2017
138
museum sebagai sumber belajar yaitu masih banyak orang yang beranggapan kalau Museum Misi cocoknya digunakan hanya untuk pelajaran agama saja. Padahal di dalamnya terdapat banyak sumber belajar yang dapat dihubungkan
dengan pembelajaran sejarah (CL.10).139
Di lain pihak, pengunjung pelaku rekreasi mengatakan bahwa menurutnya tidak ada kendala yang dihadapi untuk menjadikan museum ini sebagai tempat belajar, karena koleksi yang ada sudah cukup beragam dan sangat memberi pengetahuan bagi setiap pengunjung yang datang ke Museum Misi Muntilan
(CL.13).140
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai cara memanfaatkan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar yaitu dengan datang berkunjung dan melihat koleksi yang ada, tidak sekedar melihat tetapi mencari tahu mengenai sejarah dari setiap koleksi yang dilihat, sehingga dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai setiap koleksi yang ada di museum, seperti halnya mengenai sejarah karya misi Keuskupan Agung Semarang dan Agama Katolik di Indonesia. Dalam perkembangnya museum ini dirasa sangat cocok digunakan sebagai salah satu sumber belajar baru selain pembelajaran di kelas, karena mereka bisa belajar secara langsung dengan melihat koleksi-koleksi yang ada. Dengan melihat langsung koleksi yang ada di museum akan menumbuhkan rasa ingin tahu mengenai koleksi yang ada, sehingga setiap dari mereka akan menghargai dan mencintai warisan budaya yang di miliki bangsa Indonesia.
139
Hasil wawancara dengan Donita Cristian, 15 Mei 2017
140
C.Pembahasaan
1. Latar Belakang Berdirinya Museum Misi Muntilan
Berdasarkan hasil penelitian, para pengelola museum mengatakan bahwa latar belakang berdirinya Museum Misi Muntilan, sudah mulai ada sekitar tahun 1990. Pada waktu itu Keuskupan Agung Semarang berulang tahun ke 50. Pada saat ulang tahun ke 50 ada beberapa program yang dibuat oleh keuskupan salah satunya membuat museum. Museum ini didirikan untuk mengetahui sejarah awal mulanya Keuskupan Agung Semarang dan perkembangannya dari masa ke masa. Selain itu, museum didirikan untuk kepentingan orang-orang yang ingin memahami, mendalami spritualitas atau pola dasar penghayatan iman di Keuskupan Agung Semarang. Oleh sebab itu, dibangunlah sebuah museum di Semarang, tetapi museum ini kurang mendapat perhatian dari umat, sehingga museum dipindahkan ke Muntilan.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh teori mengenai latar belakang berdirinya Museum Misi Muntilan pada buku pedoman museum. Pada saat peringatan 50 tahun Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada tahun 1990 memiliki empat macam program: 1) pendataan; 2) musyawarah pastoral; 3) penulisan sejarah; dan 4) pendirian museum. Masing-masing program terlaksana dengan aneka dinamika. Dalam hal pendirian museum, sejak tahun 1992 sudah dirintis terjadinya suatu museum Gereja Keuskupan Agung Semarang dengan dilaksanakannya penataan benda-benda koleksi peninggalan karya misi Keuskupan Agung Semarang. Tempat presentasi benda-benda koleksi ini berada
di Wisma Uskup Keuskupan Agung Semarang, Jalan Pandanaran 13 Semarang.
Namun, keberadaannya kurang mendapatkan perhatian dari umat.141
Kemudian muncul gagasan dari Mgr. Ignatius Suharyo agar museum yang dibangun sekarang berbeda dengan Wisma Uskup dan museum lain, di mana museum yang dibangun harus dapat menarik minat orang-orang untuk berkunjung. Hal ini dikarenakan pada saat itu, ada anggapan bahwa museum hanyalah merupakan gudang bagi benda-benda penting dan mahal, sehingga pada saat itu tidak ada umat yang berkunjung ke Wisma Uskup. Oleh sebab itu, Mgr. Ignatius Suharyo dan para panitia ingin mengubah pemikiran umat bahwa museum bukan hanya sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga sebagai tempat untuk mempelajari apa yang sudah terjadi dan untuk mempertimbangkan rencana-rencana tindak lanjut kedepan. Beliau berpikir supaya museum yang didirikan menjadi museum yang hidup, museum yang bisa menjadi sarana edukasi, museum yang tetap ada hubungan dengan perkembangan zaman.
Dari pernyataan di atas diperkuat dengan teori mengenai kesadaran sejarah. Di mana dalam diri panitia museum Keuskupan Agung Semarang sudah nampak mengenai pentingnya sejarah bangsanya, bagi perkembangan kehidupan di masa sekarang dan mendatang. Dengan demikian, kesadaran sejarah tidak tidak lain dari pada kondisi kejiwaan yang menunjukkan tingkat penghayatan pada makna
141
dan hakekat sejarah bagi masa kini dan bagi masa yang akan datang, menyadari
dasar pokok bagi berfungsinya makna sejarah dalam proses kehidupan.142
Sementara itu, museum yang hidup bukan sekedar gudang mahal sebagai tempat mengumpulkan dan menjaga benda dari masa lampau, tetapi museum yang mampu membuat setiap orang yang datang ke sana memiliki rasa bangga dan kagum mengenai warisan budaya yang di miliki bangsanya. Guna mewujudkan gambaran “museum yang hidup”, Mgr. Ignatius Suharyo sejak awal telah menekankan pentingnya peran dan fungsi bidang edukasi. Bidang edukasi inilah yang akan menjadi “nyawa” bagi MMM,143 karena saat para pengunjung datang dan melihat koleksi yang ada akan menumbuhkan imajinasi dari tokoh-tokoh yang ditampilkan, sehingga menumbuhkan semangat cinta tanah air dalam dirinya.
Berkaitan dengan pemilihan Muntilan sebagai lokasi didirikan museum para pengelola mengatakan bahwa pemilihan lokasi museum didasarkan atas
pertimbangan historis.144 Di mana dulunya Muntilan merupakan tempat
berkembangnya karya misi di Jawa. Dari hasil observasi juga dapat dilihat bahwa Muntilan memiliki nilai historis yang cukup kental. Hal ini dibuktikan dari beberapa situs sejarah misi yang ada di Muntilan, seperti kerkof, bruderan, susteran, dan beberapa sekolahan. Banyak dari pengunjung tidak hanya berkungjung ke museum melainkan mereka juga berziarah ke makam-makam para romo yang ada di Kerkof Muntilan, seperti Romo van Lith, dan Romo Sandjaja.
Pertimbangan historis lain juga diperkuat dengan teori mengenai sejarah Romo van Lith saat menyebarkan misi di Muntilan. Saat di Muntilan Pastor van
142
Aman, Model Evaluasi Pembelajaran Sejarah, Yogyakarta : Ombak, 2011, hlm. 140.
143
Ibid., hlm. v.
144
Lith melihat bahwa pengertian umat tentang agama di sana sangat dangkal. Oleh karena itu, Pastor van Lith tinggal di Kampung Semampir di tengah orang-orang
Jawa, untuk memperkenalkan kepada umat mengenai karya keselamatan Allah.145
Romo van Lith menggunakan pendidikan sebagai sarana dalam perkembangan misi di Jawa Tengah. Karya misi di Jawa dalam perkembangannya dipusatkan kepada pendidikan di Muntilan, karena akar segala kekurangan ialah bahwa para misionaris kurang mahir dalam bahasa dan adat Jawa, maka segala tenaga dipusatkan kepada studi dan kontak kepada lapisan masyarakat di Muntilan dan sekitarnya.
Pada tahun 1902, Romo van Lith mendirikan tiga kelembagaan: perkumpulan pribumi untuk badan hukum urusan umat, rumah sakit, dan sekolah dengan sistem asrama. Akan tetapi, menyadari situasi bangsa Jawa yang tertindas karena penjajahan Belanda dan gejolak kebangkitan nasional, Romo van Lith memilih bidang pendidikan sebagai landasan karya misinya. Dengan kerangka berpikir seperti itu, pendidikan yang diperjuangkan oleh Romo van Lith berbeda dengan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu pemerintah Nederland sedang melancarkan politik etis untuk membalas budi penderitaan orang pribumi dengan tiga progam: irigasi, transmigrasi, dan
edukasi.146
Di dalam program edukasi, dibukalah sekolah-sekolah untuk orang pribumi agar dapat menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda. Karena berhubungan dengan masalah pembiayaan, maka yang dapat bersekolah tentu hanya kaum
145
Tim. KAS, op.cit, hlm.18-20.
146
ningrat dan pengusaha kaya. Romo van Lith memang memperjuangkan agar anak, remaja dan kaum muda menjadi terdidik tanpa memandang golongan miskin atau pun kaya. Tetapi lebih dari itu, karya pendidikan tidak terutama untuk mencetak calon-calon pegawai. Bagi Romo van Lith karya pendidikan menjadi sarana untuk perwujudan iman. Istilah perwujudan iman berarti tekanan kepada pengalaman atau tindakan hidup yang cocok dengan nilai-nilai iman kristiani.
Dalam diri mereka sosok Romo van Lith merupakan tokoh yang berjasa