BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi pengurus museum diharapkan dapat mengemas pendampingan yang
menarik sehingga pengunjung tidak bosan atau sekedar mendengar penjelasan yang disampaikan tetapi mendapat makna dari setiap koleksi yang sudah diterangkan.
2. Koleksi yang ada di museum diharapkan dapat dilengkapi sumber datanya,
sehingga saat ada pengunjung yang ingin menayakan sebuah informasi mengenai benda koleksi tersebut didapat data yang pasti dan jelas.
3. Bagi pengunjung baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum diharapkan
digunakan sebagai tempat menyimpan, merawat benda-benda bernilai sejarah dan mahal, melainkan museum dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah. Setiap pengunjung juga dapat mengambil manfaat dari benda-benda koleksi yang ada di museum, seperti tokoh-tokoh yang ditampilkan dapat membentuk karakter siswa menjadi lebih baik lagi dalam menghargai warisan budaya yang dimiliki bangsa.
110
DAFTAR PUSTAKA
Amir Sutaarga. 1991. Studi Museologia, Jakarta : Proyek Pembinaan
Permuseuman Jakarta.
Baharuddin dan Esa. 2015. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta : Ar-
Ruzz Media.
Burhan Bungin. 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Clark, Francis X. 2001. Gereja Katolik di Asia “Sebuah Pengantar”. Maumere.
LPBAJ.
Dien Madjid dan Wahyudhi Johan. 2014. Ilmu Sejarah: Sebuah Pengatar. Jakarta
: Prenada Media Group.
Direktorat Museum. 2007. Pengelolaan Koleksi Museum. Jakarta
Etta Mamang Sangadji danSopiah. 2010. Metodologi Penelitian –Pendekatan
Praktis Dalam Penelitian. Yogyakarta : C.V Andi Offset.
Hamid Darmadi. 2014. Metode Penelitian Pendidikan (Teori Konsep Dasar dan
Implementasi). Bandung : Alfabeta.
Heri Susanto. 2014. Seputar Pembelajaran Sejarah (Isu, Gagasan dan Strategi
Pembelajaran). Yogyakarta : Aswaja Pressindo.
Imam Gunawan. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
Jacobs, Tom. 1987. Gereja Menurut Vatikan II. Yogyakarta : Kanisius.
Latuheru, John D. 1988. Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar-Mengajar Masa Kini. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Muhammad Idrus. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Transito.
Piter Salim dan Yenny Salim.1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer.
Jakarta : Modern English Press.
Schouten. 1991. Pengantar Didaktif Museum.Jakarta : Proyek Pembinaan
Museum Jakarta.
Sitepu. 2014. Pengembangan Sumber Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.
Steenbrink, Kareel. Orang-Orang Katolik di Indonesia Jilid 1. Maumere:
Ledalero.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&B. Bandung :
Alfabeta.
---. 2014. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung :Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian “Suatu Pendekatan Praktek”.
Jakarta : PT. Asdi Mahasatya.
Tim Edukasi MMM PAM. 2008. Pendidikan Katolik Model van Lith. Muntilan :
Tim. KAS. 1992. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. Semarang : KAS
Tjahjopurnomo, R. 2011. Sejarah Permuseuman Di Indonesia. Jakarta: Direktorat
Permuseuman, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Widja. 1988. Pengantar Ilmu Sejarah: Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan.
Semarang: Satya Wacana.
Woga, Edmund. 2002. Dasar-Dasar Misiologi. Yogyakarta : Kanisius.
Sumber Internet :
Wikipedia. 2017. Museum. (https://id.wikipedia.org/wiki/Museum). Diakses 21
April 2017.
Kemendikbud.2017.Cagarbudaya.(http.kemdikbud.go.id/regmus/index.php/publi
LEMBAR OBSERVASI MUSEUM
Nama Museum : Museum Misi Muntilan
Waktu Pelaksanaan : 27 April 2017
No Obyek yang diamati Hasil
Ya Tidak
1. Lokasi museum strategis √
2. Museum memiliki bangunan pokok (permanen tetap, permanen
temporer, auditorium, kantor, laboratorium, konservasi, perpustakaan, bengkel, preparasi, dan ruang penyimpanan Koleksi)
√
3. Museum memiliki bangunan penunjang (lobby, tempat parkir,
toilet dan pos keamanan)
√
4. Koleksi museum memiliki nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai ilmiah √
5. Koleksi museum dijelaskan secara historis dan funginya √
6. Museum memiliki alat pengamanan (CCTV) √
7. Museum memiliki pengaman yang ketat terhadap koleksi √
8. Ruang penataan koleksi museum terjaga kebersihannya √
9. Museum memiliki pengaturan suhu ruangan untuk menjaga
koleksi
√
10. Pencahayaan ada di setiap ruang koleksi di museum √
11. Museum memiliki ruang penyimpanan koleksi yang luas √
12. Museum memiliki daftar inventaris koleksi yang diperbaharuhi secara rutin
√
13. Museum memiliki curator √
14. Museum memiliki tim edukasi √
15. Museum memiliki tenaga administrasi √
16. Museum memiliki sarana promosi (FB, Instagram, Email, Katalog dan Brosur)
LEMBAR PENGAMATAN DOKUMEN
No. Obyek yang diamati
Hasil
Ya Tidak
1. Dokumen data pengunjung √
2. Museum Misi Muntilan memiliki brosur √
3. Museum Misi Muntilan memiliki katalog √
DATA DOKUMEN
Dokumen Data Pengunjung Museum Misi Muntilan (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Brosur Museum Misi Muntilan (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Katalog Museum Misi Muntilan (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
KISI-KISI PERTANYAAN WAWANCARA Kisi-Kisi Wawancara Pengunjung
No Butir-Butir Pertanyaan
1 Kunjungan ke museum
2 Kesan saat berkunjung ke museum
3 Pemanfaatan museum sebagi sumber belajar sejarah
4 Pemanfaatan koleksi-koleksi Museum Misi Muntilan
5 Tujuan kunjungan
6 Kendala yang dihadapi dalam memanfaatkan Museum Misi Muntilan
Kisi Kisi Wawancara Guru Sejarah
No Butir-Butir Pertanyaan
1 Pemanfaatan museum sebagai sumber belajar sejarah
2 Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar sejarah
3 Pemanfaatan koleksi-koleksi yang ada di museum
4 Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan museum sebagai sumber
belajar
Kisi-Kisi Wawancara Pengunjung
No Butir-Butir Pertanyaan
1 Latar belakang berdirinya Museum Misi Muntilan
2 Koleksi-koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan
3 Kegiatan edukasi yang ada di Museum Misi Muntilan
Lembar Wawancara Pengunjung, Guru, dan Pengelola Museum Misi Muntilan
A. Wawancara Terhadap Pengunjung
1. Apakah Anda sering berkunjung ke museum? Museum mana yang pernah
Anda kunjungi?
2. Apa yang sering Anda lakukan saat berkunjung ke Museum?
3. Bagaimana kesan yang didapat saat berkunjung ke Museum Misi Muntilan?
4. Apakah Museum Misi Muntilan cocok dimanfaatkan sebagai sumber belajar
terutama sejara?
5. Apakah koleksi-koleksi yang ada di museum dapat memberikan manfaat
untuk sumber belajar, khususnya sejarah?
6. Apakah Anda, dalam melakukan kunjungan ke Museum Misi Muntilan ini
berdasarkan tugas kuliah/sekolah/rekreasi?
7. Menurut Anda, kendala apa yang dihadapi untuk menjadikan museum sebagai
seumber belajar?
B.Wawancara Terhadap Guru
1. Apakah Bapak/Ibu guru pernah menggunakan museum sebagai sumber
belajar?
2. Apakah menurut Bapak/Ibu guru Museum Misi Muntilan ini cocok digunakan
untuk sumber belajar sejarah?
3. Apakah Bapak/Ibu guru mengetahui jenis koleksi yang terdapat di Museum
Misi Muntilan?
4. Jenis koleksi apakah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar
terutama sejarah?
5. Bagaimana cara Bapak/Ibu guru memanfaatkan Museum Misi Muntilan
sebagai sumber belajar sejarah kepada siswa?
6. Kendala apa saja yang dihadapi Bapak/Ibu guru untuk memanfaatkan Museum
C.Wawancara Terhadap Pengelola Museum
1. Mengenai latar belakang berdirinya Museum Misi Muntilan
a. Bagaimana latar belakang berdirnya Museum Misi Muntilan?
b. Mengapa Muntilan dijadikan sebagai tempat berdirinya museum?
c. Adakah tujuan khusus dibangunnya Museum Misi Muntilan?
d. Apakah kendala yang dihadapi dalam dalam mendirikan museum di Muntilan?
2. Koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan
a. Bagaimana cara melakukan pengumpulan benda-benda agar menjadi koleksi
Museum Misi Muntilan?
b. Adakah pengkategorian untuk koleksi-koleksi yang ada di museum?
c. Berapa jumlah dan jenis koleksi yang ada di awal museum dibangun?
d. Adakah kreteria dalam pemajangan koleksi-koleksi yang ada di museum?
e. Adakah makna dari pembagian setiap ruang yang ada di museum?
f. Koleksi mana yang digunakan sebagai sumber belajar sejarah?
3. Kegiatan yang ada di Museum Misi Muntilan yang dapat dijadikan sebagai
sumber belajar
a. Apa saja kegiatan edukasi yang dilaksanakan di Museum Misi Muntilan?
b. Adakah yang menjadi Kegiatan favorit yang ada di museum?
c. Siapa saja yang terlibar dalam kegiatan edukasi yang ada di Museum Misi
Muntilan?
d. Kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut?
Bagaiman menghadapi kendala tersebut?
e. Kegiatan apa saja yang ada di Museum Misi Muntilan yang dapat dijadikan
sumber belajar terutama sejarah?
f. Siapa saja yang pengunjung yang datang ke Museum Misi Muntilan?
g. Kegitaan yang berhubungan dengan sejarah?
4. Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar Sejarah
a. Apakah Museum Misi Muntilan ini cocok digunakan untuk sumber belajar
sejarah?
b. Bagaimana cara memanfaatkan Museum Misi Muntilan sebagai sumber
DAFTAR NARASUMBER
Pengunjung
1. Yuni Irwanto (Mahasiswa Universitas Surabaya)
2. Donita Sari (XI IPS 1 SMA Pangudi Luhur Van Lith)
3. Thresiana Donal Cristiani (X IPS 2 SMA Pangudi Luhur Van Lith)
4. Theresia April Lindawati (Mahasiswa Universitas Sanata Dharma)
5. Indri Prasanti (Mahasiswa Universitas Sanata Dharma)
6. Fransicus Saferius Agung Prabowo (Kodam IV Diponegoro)
7. Riyan Saputra (Mahasiswa UGM)
Guru
1. Robertus Balok Nugroho (SMA Pangudi Luhur van Lith)
2. Albertus Joko Suryanto (SMP Kanisius)
3. Bruri (SMP Stela Duce)
Pengelola Museum Misi Muntilan
1. Rm. Demonicius Bambang Sutrisno, Pr
2. Romo. Yosep Nugroho Trisumartono
3. Antonius Tri Usada Sena
CATATAN LAPANGAN 1 WAWANCARA
Judul/ Topik : Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar Sejarah
Nama Peneliti : Erza Setiana Sirait
Responden : Yuni Irwanto ( Mahasiswa Ekonomi, Universitas Surabaya)
Hari, Tanggal : Kamis, 22 April 2017
Keterangan P : Peneliti I : Informan
P : Apakah anda sering berkunjung ke museum? Museum mana yang pernah
Anda kunjungi?
I : Saya belum pernah berkunjung ke museum. Ini adalah museum pertama
yang baru saya kunjungi.
P : Bagaimana kesan yang didapat saat berkunjung ke Museum Misi
Muntilan?
I : Kesan yang saya dapat dari Museum Misi Muntilan yaitu museum ini
memperlihatkan bagaimana agama Katolik di Indonesia dalam perjalannya terus berkembang. Dalam perkembangannya banyak memperlihatkan para tokoh-tokoh yang terus berjuang untuk tetap kukuh, meskipun sulit berada di daerah Muntilan saat itu.
P : Adakah manfaat Museum Misi Muntilan sebagai sumber belajar?
I : Ada, manfaatnya terkusus untuk orang-orang yang beragama Katolik
atau untuk orang yang non-Katolik, karena bisa memperlihatkan perkembangan agama Katolik di Indonesia. Supaya orang Katolik sadar bahwa Katolik itu ada dan dalam perjalannya sungguh banyak sejarah yang di dapat dan banyak mengispirasi orang banyak untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik.
I : Belum, selama ini saya memanfaatkan museum hanya untuk liburan atau rekreasi bersama keluarga.
P : Apakah koleksi-koleksi yang ada di museum dapat memberikan manfaat
untuk sumber belajar dan koleksi mana yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar, khususnya sejarah?
I : Iya, koleksi-koleksi yang ada memiliki nilai sejarah masing-masing. Dari
koleksi-koleksi yang ada dapat dijadikan bahan untuk meneliti sejarah masing-masing benda yang ada di museum. sedangkan untuk koleksi yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah yaitu koleksi mengenai orang-orang awam yang menjadi Katolik dan menyebarkan misi bagi sekelilingnya. Contohnya Barnabas SarikRomo.
P : Apakah anda dalam melakukan kunjungan ke Museum Misi Muntilan ini
berdasarkan tugas kuliah/sekolah/rekreasi?
I : Tidak, dalam melakukan kunjungan ini kami bukan berdasarkan tugas
kuliah, tetapi dari komunitas anak muda katolik yang kami buat. Komunitas kami ini melakukan ziarah ke tempat-tempat yang bernilai religus dan juga belajar mengenai sejarah perkembangan agama Katolik di Indonesia.
P : Menurut Anda, kendala apa yang dihadapi untuk menjadikan museum
sebagai seumber belajar?
I : Kalau menurut saya orang kadang malas untuk mengikuti sebuah
pendampingan sampai cerita berakhir. Kalau menurut saya koleksi- koleksi yang ada di museum harus ditampilkan juga secara visual untuk memudah orang melihat koleksi-koleksi yang ada di museum.
CATATAN LAPANGAN 2 WAWANCARA
Judul/ Topik : Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar Sejarah
Nama Peneliti : Erza Setiana Sirait
Responden : Pak Muji (Pernah menjabat sebagai penilik guru agama se-DIY)
Hari, Tanggal : Kamis, 27 April 2017
Keterangan P : Peneliti I : Informan
1. Mengenai latar belakang berdirinya Museum Misi Muntilan
P : Latar belakang Museum Misi Muntillan didirikan?
I : Awalnya Mgr. Ignatius Suharyo menginginkan membuat museum yang
hidup. Supaya ada pembelajaran dari umat mengenai dinamika hidup gereja. Umat diajak untuk mengenal perkembangan awal sejarah agama Katolik dan mengenai Sejarah Keuskupan Agung Semarang.
P : Mengapa Muntilan dijadikan sebagai tempat berdirinya museum?
I : Sebetulnya museum ini dulunya ada di Semarang di Kompleks
keuskupan, tetapi agaknya di sana tidak berkembang maka museum hanya dijadikan sebagai gudang tempat menyimpan benda-benda sejarah, tidak ada yang mengunjungi, kurang ada yang mengurusi. Lalu Mgr. Ignatius Suharyo tahun 1998 menunjuk Romo Bambang Sutrisno untuk membuat museum di Muntilan. Romo Bambang Sutrisno diminta untuk membuat museum yang hidup di Muntilan. Mengapa di Muntilan?
karena Muntilan memiliki nilai historis. Secara historis Muntilan
dianggap sebagai tempat awal tumbuh dan berkembangnya jemaat Katolik Pulau Jawa yang sering disebut Betlehem Van Java. Maka museum diletakkan di Muntilan. Pada tahun 1998 mulai merintis membuat museum yang bekerjasama dengan Keuskupan dan Serikat
Jesiut. Tahun 2000 mulai beroperasi dan pengunjung yang datang mulai didata. Tahun 2004 diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Pujasumarta.
P : Adakah tujuan khusus dibangunnya Museum Misi Muntilan?
I : Museum kita ketahui pada umummnya digunakan sebagai tempat
menyimpan benda-benda peninggalan sejarah, tetapi sekarang ada paham baru yaitu museum menjadi tempat pembelajaran yang bernilai sejarah. Oleh karena itu, tujuan didirikan museum ini salah satunya untuk pembelajaran. Di mana pengunjung yang datang diajak untuk belajar dari koleksi-koleksi yang ada. Sehingga pengunjung yang datang tidak pulang dengan tangan kosong tetapi, mendapat ilmu dari koleksi-koleksi yang mereka lihat sendiri.
2. Koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan
P : Bagaimana cara melakukan pengumpulan benda-benda agar menjadi
koleksi Museum Misi Muntilan?
I : Pengumpulan Koleksi didapat dari
o Koleksi langsung dari Keuskupan Agung Semarang
o Beberapa kelompok-kelompok religus yang mengirim data-data
historis
o Menjemput koleksi-koleksi yang memiliki nilai sejarah. Hampir
semua koleksi diserahkan secara hibah. Koleksi yang ada di museum sangat banyak dan masih banyak yang disimpan di gudang.
P : Adakah pengkategorian untuk koleksi-koleksi yang ada di museum?
I : Pengkategorian koleksi-koleksi didasarkan atas pendekatan proses dan
tokoh. Pertama kita tampilkan tokoh-tokoh, lalu di ruang tertentu proses bagaiman perkembangan Gereja dari awal Gereja Batavia sampai perkembanganya, tokoh awan, tokoh-tokoh biarawan-biarawati, tokoh- tokoh uskup, tokoh-tokoh yang berkarisma. Tidak sembarang meletakan benda koleksi yang ada di ruangan tetapi, setiap ruang mempunyai maksud tertentu.
3. Kegiatan edukasi yang ada di Museum Misi Muntilan
I : Dalam bidang edukasi yaitu semua pengunjung harus dipandu. Pemandu bertugas menjelaskan koleksi yang ada di museum. Kedua, mengadakan kerjasama dengan pengurus Kerkof setiap malam selasa kliwonan mengadakan pengajian memakai musik tradisional dan khotbah. Tampilan ini adalah proses edukasi karena hampir semua yang menangai pengelola museum. Mengunjungi kelompok-kelompok tertentu untuk memperkenalkan museum, sehingga mereka dapat mengenal Museum Misi Muntilan bukan hanya menjadi gudang tempat penyimpanan benda tetapi, menjadi museum yang hidup dengan peninggalan-peninggalan para Romo terdahulu.
P : Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan edukasi yang ada di Museum
Misi Muntilan?
I : Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan edukasi yaitu pihak museum
dan juga jaringan-jaringan kerja misalnya kelompok Paroki Sato Antonius Muntilan dan semua lingkungan sekitar, tenaga-tenaga relawan yang pernah bekerja sama dengan Museum Misi Muntilan.
4. Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar Sejarah
P : Bagaimana cara memanfaatkan museum untuk sumber belajar sejarah?
I : Cara memanfaatkan museum sebagai sumber belajar sejarah yaitu setiap
pengunjung yang datang selalu dipandu. Kami membuat buku-buku
untuk souvenir, sehingga mereka dapat membaca sendiri. Membuat
berbagai macam tulisan untuk memudahkan mereka mengenal Museum Misi Muntilan.
CATATAN LAPANGAN 3 WAWANCARA
Judul/ Topik : Pemanfaatan Museum Misi Muntilan sebagai Sumber Belajar Sejarah
Nama Peneliti : Erza Setiana Sirait
Responden : Antonius Tri Usada Sena (Pengelola Museum )
Hari, Tanggal : Selasa, 2 Mei 2017
Keterangan P : Peneliti I : Informan
1. Mengenai latar belakang berdirinya Museum Misi Muntilan
P : Bagaimana latar belakang berdirnya Museum Misi Muntilan?
I : Museum Misi Muntilan didirikan oleh Keuskupan Agung Semarang.
Tim persiapan sudah mulai ada sekitar tahun 1990, pada waktu itu Keuskupan Agung Semarang berulang tahun ke 50. Pada saat ulang tahun ke 50 ada beberapa program yang dibuat oleh Keuskupan dan programnya mengarah ke umat semua, salah satunya membuat museum. Mgr. Ignatius Suharyo membentuk museum sebagai ucapan syukur dan satu sisi untuk mengingatkan anak-anak muda dan umat dengan melihat sejarah umat akan tertantang untuk menyumbang apa. Tahun 1990 memulai gagasanya dari Keuskupa Agung Semarang untuk membuat museum. Tahun 1998 dibentuklah Panitia Persiapan yaitu Panitia Museum Misi Muntilan Sejarah Gereja Keuskupan Agung Semarang. Nah, entah bagaimana yang ditunjuk menjadi pengelola panitia pembuatan museum itu bukan dari orang-orang sejarah malah Romo Bambang, dia adalah pastor penggerak umat. Memang ada beberapa ahli sejarah yang dilibatkan yaitu Bu. Sumini yang menjadi pendamping dari sisi sejarah, juga ada Romo Hasto. Sisi bangunan dari Universitas Katolik Suegijapranata. Memang ada praktisi museum yaitu Pak
Marsudi, beliau adalah orang pemerintah yang bekerja dibidang kebudayaan bagian MUSKALA (Museum dan Benda Purbakala). Kemudian ada keanehan di mana dalam membentuk museum malah orang-orangnya bukan dari kalangan sejarah. Dalam perkembangan waktu, ada gagasan dari Mgr. Ignatius Suharyo supaya museum yang dibangun tidak sama dengan museum-museum yang lain. Di mana museum pada waktu itu, belum seperti sekarang sebuah museum ada bangunan, ada benda-benda penting, benda-benda mahal, seperti gudang mahal jadi orang beranggapan datang ke museum hanya untuk melihat- lihat. Mgr. Ignatius Suharyo berpikir supaya museum yang didirikan menjadi museum yang hidup, museum yang bisa menjadi menjadi sarana edukasi. Museum yang tetap ada hubungan degan perkembangan zaman. Maka ditunjuklah Romo Bambang Surisno yang punya tim namanya P3J (Pelayanan, Pendampingan, dan Pengembalaan Jemaat Keuskupan Agung Semarang). Tim inilah yang mengolah bagaimana sebuah benda mati bisa berbicara untuk orang hidup zaman sekarang. Contohnya sepeda ontel merupakan benda mati, di mana sepeda otel ini dapat memancing orang zaman sekarang yang mempunyai kendaraan dan sering menggunakannya sebagai sarana transportasi yang dapat
digunakan menjadi berkah bagi orang lain. Secara historis, tahun 1998
terbentuk panitia dan dua bidang. Satu bidang yang mengurusi benda- benda yang kelihatan yaitu bangunan, pemajangan, situasi sekitar dan yang tidak kalah pentingnya sisi isinya yang nantinya memikirkan edukasinya. Bagian wadah banyak ditangai oleh orang-orang dari Semarang. Sisi edukasi Ibu Sumini dan juga kemudian bergabung teman- teman dari Museum Benteng Vrederbug. Tahun 2000 kemudian dibangunlah museum.
P : Mengapa Muntilan dijadikan sebagai tempat berdirinya museum?
itu kalau direpresentasikan secara historis Muntilanlah tempatnya, karena dulunyala Romo van Lith yang menjadi peletak dasar Sejarah Gereja Keuskupan Agung Semarang, tinggal dan menjalankan aksinya.
Alasanya pertimbangan historis karena Romo van Lith pernah tinggal di
sini dan ada jejak-jejak Pasturan, Gereja Antonius, maka dipilihlah Muntilan sebagai tempat pembangunan museum.
P : Adakah tujuan khusus dibangunnya Museum Misi Muntilan?
I : Salah satu tujuan khusus didirikan museum ini adalah sebagai sarana
belajar untuk umat mengenai Sejarah Keuskupan Agung Semarang dan misi ke Katolikan di Indonesia khususnya Pulau Jawa.
P : Apakah kendala yang dihadapi dalam dalam mendirikan museum di
Muntilan?
I : Kendalanya yang dihadapi yaitu tentang pemahaman permuseuman itu
sendiri. Ada yang memahami museum dari sisi sejarah saja. Pendanaan, karena kepentinganya tidak kelihatan. Umat yang belum bisa memahami museum ini seperti apa. Tantangan internal sendiri kami bukan dari orang sejarah. Sehingga kami harus belajar dari ahli-ahli sejarah. Mengatur jadwal untuk kunjungan karena banyak orang yang mulai berkunjung ke museum. kemudian cara menata bagaimana sinergi antara museum, sekolah, Gereja, Kerkof. Dari sisi kelembangaan tantangan tidak mudah juga. Museum ini didirikan dengan menyatukan berbagai lembaga. Yang menjalankan museum ini faktanya dari awal adalah tim P3J KAS (Pelayanan, Pendampingan, dan Pengembalaan Jemaat Keuskupan Agung Semarang). Tim ini kerjanya mengurusi umat dan tidak ada hubungannya dengan sejarah dan museum. Kemudian untuk menyatukannya tidak mudah.
2. Koleksi yang ada di Museum Misi Muntilan
P : Bagaimana cara melakukan pengumpulan benda-benda agar menjadi
I : Pada tahap awal koleksi museum didapat dari Wisma Uskup, KAS. Bentuknya ada jubah, patung, gambar, foto, beberapa naskas, dan panji. Dalam perkembangannya museum ini dikatakan kaya karena benda- benda di sini adalah benda-benda asli. Koleksi-koleksi yang ada di museum adalah hadiah atau hibah. Yang pernah kami ganti atau membelinya yaitu Lonceng Prenthaler di mana lonceng ini memiliki nilai sejarah. Koleksi yang lain kebanyakan Hibah dari orang-orang yang datang ke museum. Benda-benda yang bisa masuk ke museum adalah benda yang ada hubungan dengan karya misi dan mempunyai nilai untuk umat KAS.
P : Adakah pengkategorian untuk koleksi-koleksi yang ada di museum?
I : Pada waktu museum ini dibangun, kami mendapat pemahaman mengenai
benda yang bergerak dan benda yang tak bergerak. Benda yang tak bergerak itu yang saya tangkap bangunannya. Benda bergerak yaitu patung, pakaian, dan lain-lain. Suatu benda yang memiliki nilai bagi