• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguji III : Sutriyo, M.Si, Apt

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS PT. PRADJA PHARIN

3.5 Kegiatan Industri PT. Pradja Pharin

Departemen logistik terdiri dari 4 bagian yaitu gudang bahan baku dan bahan kemas, gudang obat jadi, material and production planning, dan P&G

material and production planning. Gudang bahan baku dan bahan kemas

membawahi bagian dispensary atau penimbangan dan gudang non inventory. Departemen ini menggunakan program komputer EXACT sebagai sistem pencatatan stok.

Adapun tugas dan tanggung jawab departemen ini adalah:

- Menerima, menyimpan dan mengeluarkan barang serta mengelola semua inventaris yang meliputi bahan baku, bahan kemas dan obat jadi.

- Menjaga kualitas dan kuantitas bahan baku, bahan kemas dan obat jadi di dalam gudang sesuai dengan syarat dan ketentuan CPOB yang berlaku.

- Memonitor persediaan bahan baku, bahan kemas dan obat jadi

Secara umum, kegiatan departemen logistik meliputi kegiatan penerimaan, penyimpanan, pengeluaran dan penimbangan barang baik itu bahan baku, bahan kemas maupun obat jadi.

a. Penerimaan barang.

Kegiatan penerimaan barang yang berupa bahan baku ataupun bahan kemas dari pemasok diawali dengan pemesanan barang oleh bagian material and

production planning dengan menggunakan Purchase Order Request (POR) dan

mengirimkan Purchase Order (PO) ke pemasok yang dituju. Pemasok kemudian datang membawa barang pesanan beserta surat jalan dan Certificate of Analysis (CoA) dari barang tersebut sesuai dengan PO. Pada saat penerimaan barang, petugas gudang harus memeriksa kesesuaian barang dengan PO, supir dan truk yang datang dengan mengisi Form List Truck serta kondisi fisik barang dengan mengisi Incoming Material Check List. Supir diwajibkan untuk berpakaian sopan, bersepatu dan memiliki SIM sedangkan truk diperiksa kondisi fisiknya seperti kebersihan, ada atau tidaknya kerusakan pada bagian langit-langit truk, kondisi lantai box/container truk dan bila truk bak terbuka, harus ditutupi dengan dua

lapis terpal yang tidak tembus air. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi terhadap barang yang diangkut sehingga kualitasnya tetap terjamin.

Kondisi fisik barang diperiksa dengan mengamati kondisi kemasan (bersih dan kering, tersegel rapat, tidak rusak dan tidak robek atau bocor), jumlah barang dan lain-lain. Bila sudah sesuai dengan persyaratan, barang akan diterima dan surat jalan akan diparaf dan distempel oleh petugas. Setelah itu, barang disusun di atas pallet yang bersih. Petugas gudang kemudian memasukkan data barang yang datang ke sistem komputer. Setelah itu dilakukan pemberian nomor QC dan pencetakan label quarantine (warna kuning) dan General Receive Number (GRN). Petugas gudang kemudian menempelkan label quarantine pada tiap pallet dan label GRN pada tiap wadah serta mencatatnya ke dalam bincard.

Selanjutnya petugas gudang membuat Purchase Receipt Local (PRL) atau

Purchase Receipt Import (PRI) untuk barang impor sebagai bukti penerimaan

bahan baku atau bahan kemas yang kemudian akan diperiksa oleh pihak departemen QA. Setelah itu, petugas QC akan datang ke gudang untuk melakukan sampling terhadap barang yang masuk. Jika sesuai dengan spesifikasi, maka barang tersebut akan diluluskan dan ditempelkan label QA released berwarna hijau. Di samping itu, bincard dari barang tersebut juga akan distempel QA

released dan diubah statusnya menjadi released pada sistem EXACT. Namun,

jika tidak sesuai spesifikasi, maka barang tersebut tidak diluluskan dan ditempelkan label rejected berwarna merah. Barang bersangkutan akan ditolak dan dikembalikan ke pemasok atau dimusnahkan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Proses penerimaan obat jadi dimulai ketika divisi pengemasan sentral menyerahkan obat jadi beserta tanda terima dan dokumen Pengiriman Hasil Produksi (PHP) yang mencantumkan tanggal dokumen, nomor dokumen, nomor dan nama item produk, nomor bets, tanggal kadaluarsa, satuan unit hitung dan jumlah unit yang diserahkan. Kemudian petugas di gudang obat jadi akan menandatangani bukti serah terima. Obat jadi tersebut belum dapat diedarkan ke

Pihak gudang menerima barang retur dari distributor berupa obat jadi yang sudah mendekati masa kadaluarsa atau yang kemasannya rusak yang disertai dengan dokumen retur. Dokumen ini sama seperti dokumen PHP sehingga dapat ditelusuri nomor bets produk yang diretur. Proses penerimaan ini disertai pemeriksaan fisik oleh petugas gudang dan petugas QC. Departemen QA berwenang membuat disposisi untuk produk retur terkait masa kadaluarsa. Produk dapat diretur minimal 3 bulan sebelum tanggal kadaluarsa. Produk yang kemasannya rusak ditangani dengan pengemasan ulang. Jika kerusakan disebabkan kelalaian distributor misalnya kondisi penyimpanan yang tidak sesuai dengan persyaratan, maka biaya pengemasan ulang ditanggung oleh pihak distributor.

b. Penyimpanan barang.

Penyimpanan bahan baku dan bahan kemas diwajibkan mematuhi persyaratan kondisi penyimpanan yang baik sesuai dengan rekomendasi pemasok terkait. Hal ini terkait dengan suhu penyimpanan yang dapat mempengaruhi kualitas barang. Oleh karena itu, gudang memiliki beberapa area penyimpanan seperti area AC, area non AC dan cool storage area (2-8oC). Setiap stok barang memiliki kartu rak/bincard tersendiri dengan tujuan untuk mencatat kegiatan keluar-masuk barang, jumlah dan tanggal transaksi serta untuk memudahkan pengambilan barang dari rak gudang.

c. Pengeluaran barang.

Bahan baku dan bahan kemas yang keluar dari gudang didasarkan pada

Production Order (PO) dan Picking List (PL). Barang dikeluarkan dari gudang

dengan memperhatikan sistem First Expired First Out (FEFO) dan First In First

Out (FIFO) untuk bahan baku dan sistem First In First Out (FIFO) untuk bahan

kemas, sementara itu pengurangan stok barang dilakukan di sistem EXACT. Sebagai tanda bukti pengeluaran barang, pihak gudang akan mengeluarkan dokumen yang bernama Production Issue (PI). PI akan dikeluarkan setelah penimbangan yang mengacu pada Batch Production Record (BPR) untuk bahan baku atau setelah dikirim atau diterima oleh divisi pengemasan sentral untuk bahan kemas.

d. Penimbangan barang (Dispensary)

Kegiatan penimbangan yang dilakukan sudah terjadwal dan disesuaikan dengan jadwal kegiatan produksi. Dokumen penimbangan yang terkait antara lain

Production Order (PO), Picking List (PL), Batch Production Record Dispensary

(BPRD), dan label penimbangan. Sebelum penimbangan dilakukan, setiap alat timbang harus sudah mendapat label bersih yang berisi nama alat, nomor alat, dibersihkan oleh siapa, tanggal dan jam mulai dan selesai pembersihan, nama dan nomor bets produk terakhir yang ditimbang, tanggal dan paraf kepala bagian/supervisor serta nama dan nomor bets produk yang akan ditimbang. Selanjutnya dilakukan penyiapan jalur (line clearance) serta diperiksa kondisi lingkungan dengan menggunakan form checklist yang meliputi pemeriksaan suhu, kelembaban, perbedaan tekanan antar ruang saat penimbangan dan ruang timbang, alat, drum, pallet bersih, dan ruang timbang harus bebas dari penimbangan sebelumnya. Alat timbang harus selalu diverifikasi dengan batu timbang yang terkalibrasi dengan syarat penyimpangan tidak boleh lebih dari 0,1 % dari berat konvensional anak timbangan.

Semua bahan baku yang akan ditimbang harus mendapat status QA

released dan kegiatan penimbangan bahan aktif dilakukan terakhir setelah semua

bahan tambahan selesai ditimbang. Hal ini bertujuan untuk mencegah kontaminasi dari bahan aktif ke bahan yang lainnya. Penimbangan bahan untuk produk steril dilakukan di bawah Laminar Air Flow (LAF).

Bahan baku beserta bincard-nya yang sudah disiapkan sesuai dengan PL dibawa ke ruang antara untuk dibersihkan dan dibuka kemasan terluarnya lalu dimasukkan ke dalam ruang dispensary untuk ditimbang. Bincard digunakan untuk mencatat hasil penimbangan dan disesuaikan dengan pencatatan stok di EXACT. Setelah penimbangan selesai, bagian gudang akan mengeluarkan

Production Issue (PI) dimana waktu pemotongan stoknya di sistem EXACT

paling lama 16 jam setelah ditimbang. Hasil penimbangan selanjutnya akan diberi label penimbangan dan diserahkan ke bagian produksi beserta dokumen terkait.

3.5.1.1. Material and Production Planning

Material and production planning berfungsi sebagai penghubung komunikasi antara produksi, pemasaran, pengadaan, akuntansi dan penyimpanan yang masing–masing berfungsi dalam penyediaan obat.

Tugas dan tanggung jawab departemen ini antara lain: 1. Merencanakan dan memonitor jalannya produksi.

2. Sebagai sumber data informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi.

3.5.1.2 P&G Material and Production Planning

Fungsi, tugas dan tanggung jawab departemen ini sama dengan material

and production planning tetapi dikhususkan untuk menangani produk P&G.

3.5.1.3 Gudang Bahan Baku dan Bahan Kemas

Gudang bahan baku ditujukan sebagai tempat penyimpanan semua bahan baku, baik untuk kegiatan produksi Prafa maupun toll manufacturing dimana area penyimpanan bahan P&G dan bahan toll manufacturing ditempatkan di lokasi tersendiri, sementara bahan baku berupa zat aktif untuk kegiatan produksi betalaktam dan sefalosporin disimpan di area gudang yang terpisah secara fisik dari gudang lain. Gudang ini sendiri terdiri dari beberapa area penyimpanan yaitu: a. Area AC, merupakan area gudang dengan suhu ≤ 25°C dan Rh ≤ 75% untuk

menyimpan bahan baku yang tidak stabil pada suhu > 25°C.

b. Area non AC, merupakan gudang dengan suhu 32°C dan Rh ≤ 75% untuk menyimpan bahan yang stabil pada suhu tersebut

c. Cool Storage Area, merupakan gudang dengan suhu 2-8°C untuk menyimpan bahan yang tidak stabil pada suhu kamar.

d. Area prekursor, merupakan area gudang untuk penyimpanan prekursor seperti fenilpropanolamin dan pseudoefedrin. Area ini memiliki kunci ganda, masing-masing disimpan oleh petugas gudang dan QA.

Gudang bahan kemas ditujukan sebagai tempat penyimpanan semua bahan yang diperlukan pada proses pengemasan untuk menghasilkan obat jadi. Gudang ini memiliki dua ruang penyimpanan yaitu :

a. area AC merupakan area gudang untuk penyimpanan label dan alu-foil.

b. area non AC merupakan area gudang untuk penyimpanan box, botol, ampul, vial dan rubber stopper dan leaflet.

3.5.1.4 Gudang Obat Jadi

Gudang obat jadi digunakan untuk menyimpan hasil produksi berupa obat jadi yang siap dikirimkan ke distributor. Gudang ini memiliki beberapa fasilitas ruangan yakni:

a. Area AC, untuk menyimpan obat jadi yang memerlukan penyimpanan pada suhu ≤ 25°C dan Rh ≤ 75%.

b. Area non AC, untuk menyimpan obat jadi yang tidak memerlukan persyaratan khusus dalam penyimpanannya.

c. Cool Storage Area, dengan suhu 2-8°C.

d. Area Barang Kembalian, untuk menyimpan obat kembalian dari distributor yang sedang menunggu disposisi QA.

Selain keempat gudang yang telah disebutkan, terdapat juga fasilitas gudang api untuk menyimpan bahan-bahan yang mudah terbakar.

3.5.2 Departemen Technical Service (TS)

Departemen TS bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan pabrik terutama pemeliharaan mesin atau peralatan produksi dan sarana penunjang produksi. Adapun tugas dan tanggung jawab departemen TS adalah sebagai berikut:

a. Memelihara semua mesin produksi dan sarana penunjang sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

c. Menangani proyek pembangunan. Rencana pembangunan fasilitas produksi terlebih dahulu diajukan kepada departemen TS, kemudian ditentukan material dan bahan kontruksi yang diperlukan serta anggaran belanja.

Perawatan rutin dan modifikasi yang dilakukan oleh departemen TS bertujuan agar mesin produksi tidak rusak pada saat dipakai sehingga jadwal produksi yang telah disusun material and production planning tidak mengalami

downtime. Ada dua jenis downtime yang dapat terjadi yaitu:

a. Unschedule downtime, merupakan downtime yang terjadi karena berhentinya mesin secara tiba-tiba selama proses produksi sedang berlangsung. Hal ini menyebabkan mesin harus diperbaiki sehingga memperpanjang waktu produksi.

b. Schedule downtime, merupakan downtime yang terjadi karena mesin berhenti beroperasi akibat suatu kegiatan yang tidak dapat ditolak, misalnya gulungan aluminium foil habis pada saat proses stripping sehingga membutuhkan waktu untuk memasang gulungan aluminium foil yang baru pada mesin stripping, saat sanitasi ruangan atau pelaksanaan preventive maintenance.

Sedangkan sarana penunjang produksi di PT. Prafa yang dikelola departemen TS antara lain:

3.5.2.1 Electricity

Electrical berperan dalam pemantauan dan perawatan perangkat

kelistrikan dan berhubungan langsung dengan PLN sebagai penyedia tenaga listrik. Rangkaian listrik untuk pabrik dimulai dari gardu PLN kemudian menuju gardu listrik kecil kemudian menuju ke panel besar yang berada di setiap gedung dan terakhir menuju setiap panel kecil yang berada di ruangan.

3.5.2.2 Clean Compressed Air

Terdapat dua buah kompressor yang digunakan untuk menghasilkan clean

compressed air atau udara bersih bertekanan di pabrik. Clean compressed air ini

digunakan baik untuk yang contact product seperti proses spraying pada Fluid

Bed Dryer (FBD) maupun yang non-contact product seperti deduster pada mesin

3.5.2.3 Sistem Pengolahan Air

Ada tiga jenis kualitas air yang digunakan untuk keperluan pabrik yakni

tap water, hot purified water (HPW) dan water for injection (WFI). Sumber air ini

berasal dari 3 sumur artesis dengan kedalaman ±150 m. Awalnya air dipompa ke permukaan dan ditampung ke dalam dua tangki penampungan (storage tank).

Proses klorinasi dilakukan terhadap air di dalam storage tank dengan penambahan natrium hipoklorit (NaOCl) 0,7-1,0 ppm untuk membunuh bakteri. Air hasil olahan lalu dialirkan ke fasilitas pengolahan hot purified water (HPW) serta ke fasilitas pabrik lainnya seperti ruang ketel uap, produksi dan toilet sebagai air ledeng.

Proses produksi hot purified water yaitu air yang mengandung klorin dilewatkan ke multimedia filter berisi ferolite dan antrasite. Ferolite berfungsi untuk menurunkan kadar zat besi sedangkan antrasite berfungsi untuk memisahkan partikel kasar dari air. Setelah itu, air dialirkan ke carbon filter untuk menetralkan klorin dan menghilangkan bau lalu dilakukan penyaringan dengan menggunakan cartridge filter 5 µm. Selanjutnya air dilewatkan melalui cation bed untuk memisahkan kation dengan mengunakan resin penukar kation dan anion

bed untuk memisahkan anion dengan menggunaan resin penukar anion. Kemudian

air dilewatkan ke mix bed (gabungan resin penukar anion dan kation) untuk mencegah adanya anion dan kation yang terlewat melalui resin penukar ion sebelumnya. Air yang keluar dari mix bed kemudian disaring dengan menggunakan cartridge filter berturut-turut 1 µm dan 0,5 µm lalu disinari UV untuk merusak DNA bakteri. Hasilnya kemudian disaring lagi dengan cartridge filter 0,2 µm lalu dipanaskan dengan menggunakan plate heat exchanger (PHE) sebelum dimasukkan ke dalam storage tank. Suhu HPW di storage tank dipertahankan dalam kisaran 88-92oC. Air dalam storage tank lalu disirkulasi ke gedung produksi dan ke ruang produksi air water for injection (WFI).

Proses pembuatan WFI dimulai ketika HPW dialirkan menuju ruang produksi WFI. HPW ini kemudian ditampung dalam tangki double jacket dan dialirkan menuju destilator. Air dipanaskan sampai menjadi uap kemudian

dikondensasi secara bertahap dan ditampung ke dalam storage tank untuk dialirkan ke user point sebagai WFI.

3.5.2.4 HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning)

Heating, Ventilating, Air Conditioning (HVAC) merupakan sistem

sirkulasi udara yang mengatur temperatur, kelembaban relatif, dan jumlah partikel. Air Handling Unit (AHU) merupakan suatu perangkat pengolahan udara yang menggunakan prinsip HVAC. Tiga fungsi Utama HVAC, yaitu heating,

ventilating, dan air conditioning saling berhubungan untuk menghasilkan udara

dalam gedung yang berkualitas, mengurangi infiltrasi udara, ventilasi, dan menjaga hubungan tekanan antar ruangan.

Prinsip kerja HVAC adalah sebagai berikut, udara luar dan udara hasil resirkulasi di dalam ruangan masuk ke dalam washable filter untuk disaring yang bertujuan untuk mencegah masuknya kotoran. Udara kemudian dialirkan menuju

fan cooling unit (FCU) untuk didinginkan. Udara hasil pendinginan melewati booster fan untuk didorong menuju premedium filter housing yang merupakan

filter dengan efisiensi 90-95%. Udara hasil penyaringan tersebut akan mengalami penyaringan akhir oleh HEPA filter H11 (95%) dan keluar menuju electricity

heater untuk menurunkan Rh dan selanjutnya didistribusikan melalui pipa.

Ada empat parameter yang perlu diperhatikan dan dikendalikan dalam sistem AHU, yaitu yang pertama temperatur ruangan yang harus diatur sedemikian rupa agar persyaratan temperatur ruangan untuk kegiatan produksi dapat terpenuhi. Kedua adalah kelembaban relatif ruangan, kelembaban udara adalah parameter kritis bagi produk yang bersifat higroskopis. Ketiga yaitu jumlah partikel. Jumlah partikel dalam setiap ruangan berbeda-beda tergantung klasifikasi ruangan. Jumlah partikel dikendalikan oleh beberapa filter yang terdapat pada AHU. Kemudian yang keempat adalah jumlah sirkulasi udara dan perbedaan tekanan. Jumlah sirkulasi udara dan perbedaan tekanan akan menentukan tingkat kebersihan ruangan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya kontaminasi silang.

3.5.2.5 Steam Boiler

Berdasarkan kualitas uap yang dihasilkannya, terdapat dua buah steam

boiler yang digunakan di PT. Prafa, yaitu:

a. Plant steam boiler. Boiler ini digunakan untuk menghasilkan uap panas bertekanan tinggi yang dipakai sebagai sumber energi panas untuk memanaskan double jacket tank dan pengolahan air.

b. Clean steam boiler. Boiler ini digunakan sebagai sumber uap panas untuk peralatan dan/atau mesin di fasilitas steril pabrik, seperti misalnya autoklaf. Sumber air yang digunakan boiler ini adalah water for injection (WFI).

3.5.3 Departemen Human Resources and General Services (HRGS)

Departemen HRGS dipimpin oleh seorang manajer yang membawahi tiga divisi yaitu personnel affairs, general affairs dan building maintenance. Manajer HRGS bertugas untuk memimpin, mengarahkan, mengevaluasi dan mengembangkan suatu tim yang terdiri dari staf-staf untuk memastikan bahwa manajemen dokumentasi ketenagakerjaan, proses dan kegiatan administrasi lainnya berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan.

Tugas divisi personnel affairs adalah menangani segala hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang ada di PT. Prafa antara lain:

a. Menyusun daftar gaji dan tunjangan jabatan serta menghitung pembayarannya setiap akhir bulan.

b. Membuat laporan jumlah karyawan.

c. Melakukan perekrutan karyawan atas permintaan departemen lain yang membutuhkan.

d. Membuat dan memeriksa absensi/kehadiran karyawan serta memasukkan data absensi karyawan.

Divisi building maintenance bertanggung jawab dalam pemeliharaan bangunan pabrik PT. Prafa. Divisi general affairs bertugas menangani seluruh hal yang berkaitan dengan kesejahteraan dan fasilitas umum karyawan yaitu:

c. Makan siang karyawan, supir, dan laundry. d. Pengolahan limbah

General affairs juga menangani hubungan antara pabrik dengan pihak luar

yaitu masyarakat, instansi pemerintah ataupun instansi non pemerintah serta menangani keluhan dari masyarakat terkait gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh pabrik ataupun limbahnya. Administrasi kesekretariatan dan keuangan pabrik juga ditangani oleh departemen HRGS yang meliputi surat masuk dan surat keluar, membuat laporan-laporan dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan pengeluaran-pengeluaran pabrik.

Salah satu tugas general affairs adalah menangani pengolahan limbah. Limbah padat dapat berasal dari debu hasil proses produksi, sampah sisa proses pengemasan, sampah dari lingkungan pabrik, produk rejected dan obat yang telah kadaluarsa. Limbah padat yang masih dapat dimanfaatkan serta memiliki nilai jual seperti sisa kemasan (kaleng, drum, alumunium foil, plastik, botol, kardus) dikumpulkan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) kemudian dijual kembali. Limbah padat berupa debu hasil proses produksi akan disedot oleh dust collector yang kemudian dikumpulkan oleh petugas technical service sebulan sekali dan disimpan di TPS. Limbah padat yang berasal dari proses produksi betalaktam dan sefalosporin terlebih dahulu dimasukkan dalam kantung plastik transparan yang dibasahi bagian luar dan dalamnya dengan larutan NaOH pH 12 kemudian disimpan di TPS. Selanjutnya, limbah padat tersebut dikirim ke PT. Wastec International untuk dimusnahkan.

Limbah cair berasal dari proses produksi, pencucian peralatan produksi, limbah laboratorium dan buangan lainnya. Semua limbah cair ini kemudian diolah di Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Limbah cair yang berasal dari proses produksi betalaktam dan sefalosporin dilakukan pretreatment dahulu sebelum dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

Dalam proses pengolahan limbah cair, IPAL di Prafa terdiri dari 11 buah bak yang masing-masing kegunaannya dijelaskan secara ringkas sebagai berikut: a. Antibiotic denaturation Tank 1. Bak ini merupakan bak penampungan limbah

dilakukan penambahan NaOH sehingga pH cairan menjadi 12 dan terjadi hidrolisis cincin laktam.

b. Antibiotic denaturation Tank 2. Di dalam bak ini berlangsung proses netralisasi limbah cair sehingga diperoleh limbah dengan pH ± 7 yaitu dengan penambahan HCl. Hal ini diperlukan karena bakteri aerobik yang akan digunakan dalam tahap pengolahan limbah selanjutnya, tumbuh dan bekerja pada pH netral. Proses penambahan HCl dan NaOH dilakukan secara otomatis menggunakan dosing pump.

c. Oil separation. Bak ini merupakan bak penampungan limbah cair utama yang berasal dari produksi non betalaktam dan sefalosporin. Di dalam bak ini berlangsung proses netralisasi limbah cair sehingga diperoleh limbah dengan pH ± 7 yaitu dengan penambahan HCl.

d. Oil Collection. Bak ini berfungsi untuk memisahkan cairan dengan minyak secara manual.

e. Contact Tank. Bak ini merupakan bak penampungan limbah produksi baik beta laktam dan sefalosporin atau non betalaktam (NBL) yang telah mengalami penetralan. Bak ini memiliki kanal berkisi (fish bone weir) untuk mengurangi gas yang terkandung di dalam air limbah.

f. Primary Clarifier. Bak ini berbentuk kerucut atau luas bagian bawah lebih sempit dibandingkan dengan bagian atas.

g. Sludge stabilization. Bak ini berfungsi untuk menampung lumpur yang berlebih untuk selanjutnya dialirkan ke filter press.

h. Aeration Tank. Bak ini memiliki diffuser untuk mensuplai oksigen bagi bakteri.

Diffuser ini memiliki dua blower yang bekerja 24 jam secara bergantian.

i. Secondary Clarifier. Bak ini berfungsi untuk memisahkan air dan lumpur dengan cara menyedot lumpur untuk dialirkan ke bak sludge stabilization. j. Break Tank. Bak ini merupakan bak untuk menampung air limbah yang sudah

tidak mengandung lumpur. Setelah itu limbah dialirkan berturut-turut menuju

sand filter dan carbon filter. Filtrasi ini bertujuan untuk menyaring air limbah

Dokumen terkait