• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan magang yang dilakukan di Koperasi Wanita Srikandi Jimbarwana adalah sebagai berikut.

1. Wawancara

Dilakukan dengan cara bertanya secara langsung dengan personil pihak koperasi untuk memperoleh data berkaitan dengan kondisi umum koperasi yang meliputi sejarah dan perkembangan, lokasi dan tata letak, struktur organisasi, ketenagakerjaan, dan pemasaran koperasi.

2. Pengamatan Langsung

Dilakukan dengan mengamati proses produksi secara langsung dan ikut berperan aktif dalam kegiatan produksi.

3. Pengumpulan dan Analisis Data

Diperlukan untuk mengkaji akar dari permasalahan yang ada sehubungan dengan mutu produk permen cokelat yang dihasilkan. Data dikumpulkan dan dikaji dengan cara berikut.

a. Focus Group Discussion (FGD)

Dilakukan dengan pihak koperasi untuk memperoleh data tentang pemasaran, meliputi objektivitas pemasaran, strategi pemasaran (segmenting, targeting, dan positioning), dan taktik pemasaran (product, place, proce, dan promotion). Selain itu, melalui FGD ini juga akan digali informasi tentang kondisi produk permen cokelat ‘Jimbarwana’ saat ini.

b. Uji organoleptik

Dilakukan terhadap permen cokelat ‘Jimbarwana’ dengan dua produk pembanding yaitu Coco Creamy Milk Chocolate dan Cadbury Dairy Milk Chocolate. Uji organoleptik yang akan dilakukan adalah uji hedonik dan uji pemeringkatan (rating). Uji pemeringkatan dilakukan untuk memperoleh data tentang posisi pasar produk permen cokelat ‘Jimbarwana’ dibandingkan dengan produk lain sejenis di pasar. Uji hedonik dilakukan untuk memperoleh data tentang tingkat kesukaan produk permen cokelat ‘Jimbarwana’ dibandingkan dengan produk lain sejenis di pasar.

c. Uji laboratorium

Dilakukan terhadap permen cokelat ‘Jimbarwana’ untuk mengetahui kadar lemak dan terhadap Cadbury Dairy Milk Chocolate untuk mengetahui kadar gula.

1. Analisis kadar gula metode Luff Schrool (Egan et al., 1981) Prosedur :

a. Dilakukan persiapan sampel, yaitu 5 gram sampel padat/cair dilarutkan dalam aquades panas hingga volumenya mencapai 100 ml, ditambahkan timbal asetat setengah basa 2-3 tetes kemudian dikocok. Untuk menguji cukup tidaknya penambahan timbal asetat, ditambahkan beberapa tetes Na2HPO4 1 %, jika terdapat endapan putih berarti timbal asetat cukup. Lalu ditambahkan Na3PO4 1 % sampai tidak terdapat endapan putih lagi. Kemudian dilakukan penyaringan hingga diperoleh filtrat.

b. Dilakukan persiapan bahan kimia yang akan digunakan, yaitu: KI 20 %, HCl 4 N, asam asetat 3 %, H2SO4 26.5 %, dan larutan Luff Schrool. Larutan Luff Schrool dibuat dengan melarutkan sodium bikarbonat 14.4 gram dalam aquades panas, kemudian setelah larut dan tidak panas lagi ditambahkan asam sitrat 2.5 gram yang telah diencerkan dan Cu 1.25 gram yang juga telah diencerkan.

c. Analisis total gula dilakukan dengan menyiapkan filtrat sebanyak 10 ml, kemudian ditambahkan 5 ml HCl 4 N sedikit demi sedikit.

d. Kemudian sampel tersebut dipanaskan dalam waterbath suhu 70oC selama 15 menit.

e. Dilakukan penetralan keasaman sampel dengan menggunakan basa NaOH dan asam asetat, yaitu dengan terlebih dahulu ditambahkan idikator phenolphtatein (PP) sebanyak 3 tetes kemudian ditambahkan NaOH sedikit demi sedikit hingga larutan berubah warna menjadi merah, kemudian ditambahkan asam asetat sedikit demi sedikit hingga warna berubah seperti warna semula.

f. Kemudian dilakukan pengenceran sampel hingga 100 ml. g. Diambil sampel sebanyak 1 ml, ditambahkan 9 ml aquades dan

10 ml larutan Luff Schrool.

h. Sampel tersebut dididihkan selama 5 menit atau lebih hingga terdapat endapan merah bata.

i. Kemudian sampel ditambahkan H2SO4 26.5 % 5 ml, KI 20% 2.5 ml, dan amilum 3 tetes, lalu dilakukan titrasi dengan Na- tiosulfat hingga warna berubah menjadi putih susu, catat jumlah Na-tiosulfat yang digunakan untuk titrasi tersebut. j. Blanko disiapkan dengan mencampurkan 10 ml aquades, 10 ml

Analisis :

X = (V0 – V1) x N Na2S2O3 0.1

V0 = volume titrasi blanko (ml) V1 = volume titrasi sampel (ml)

N = normalitas

Nilai X menentukan jumlah gula total dalam sampel dengan cara mencocokan nilai tersebut dengan tabel Luff Schrool pada Lampiran 4. Nilai X merupakan banyaknya ml Na2S2O3 yang terpakai. Dengan tabel Luff Schrool, nilai X kemudian dikonversi menjadi kadar gula (y).

Kadar gula total (%) = y x Fp x 100 %

W

y = kadar gula terbaca pada tabel Luff Schrool Fp = faktor pengenceran (100 x pengenceran) W = bobot sampel (mg)

2. Analisis kadar lemak metode Soxhlet (Apriyantono et al., 1989) Peralatan :

Peralatan yang dibutuhkan dalam analisis lemak adalah timbangan analitik, oven 100oC, pinset, desikator, kertas saring, dan peralatan ekstraksi lemak soxhlet lengkap.

Bahan :

Bahan yang dibutuhkan dalam analisis lemak adalah sampel sebanyak 5 gram dan petroleum eter (PE).

Prosedur :

a. Sampel dihancurkan hingga halus dan ditimbang sebanyak 5 gram pada kertas saring, kemudian dibentuk menjadi timbal.

b. Labu soxhlet disiapkan dengan terlebih dahulu ditimbang bobotnya dan dipanaskan dalam oven suhu 100oC selama 1 jam, kemudian labu soxhlet didinginkan dalam desikator selama 15 menit.

c. Peralatan soxhlet lainnya disiapkan, dirangkai dengan labu soxhlet, kemudian dimasukkan timbal.

d. PE dimasukkan ke dalam soxhlet sebanyak 2 siklus ekstraksi, kemudian soxhlet dirangkai ke refluks, heat plate dipanaskan hingga suhu mencapai 600oC, dan pompa reluks dinyalakan, jika PE di labu soxhlet sudah mendidih suhu heat plate diturunkan menjadi 400oC.

e. Proses ekstraksi lemak dilakukan selama kurang lebih 5 jam. f. Setelah 5 jam, timbal dikeluarkan dari soxhlet, kemudian

dipisahkan antara PE dengan lemak yang terekstraksi dengan cara PE pada soxhlet diuapkan hingga mendekati 1 siklus ekstraksi, PE yang mendekati 1 siklus tersebut dituang, dan hal ini dilakukan berulang kali hingga hanya lemak yang tersisa di labu soxhlet.

g. Kemudian labu soxhlet dipanaskan di oven 105oC selama 1 jam, lalu didinginkan dalam desikator, kemudian labu berisi lemak yang terekstraksi tersebut ditimbang dengan timbangan digital.

h. Labu soxhlet tersebut dipanaskan kembali selama 15 menit, didinginkan kembali dalam desikator, kemudian ditimbang, proses ini dilakukan berulang kali hingga diperoleh bobot labu soxhlet berisi lemak terekstraksi tersebut stabil.

Analisis :

Kadar lemak sampel (%) = L1 – L0 x 100 %

L0 = bobot labu soxhlet kosong (gram)

L1 = bobot labu soxhlet berisi lemak terekstraksi (gram) S = bobot sampel (gram)

d. Metode Quality Fuction Deployment (QFD), dilakukan untuk memperoleh titik terang antara akar masalah yang teridentifikasi dan faktor penyebabnya. Metode QFD ini membutuhkan data tentang bahan baku, proses, peralatan, hasil uji organoleptik, dan data sekunder (literatur) yang diperlukan.

e. Eksekusi langkah perbaikan dilakukan berdasarkan analisis masalah dengan metode QFD. Berdasarkan data QFD, akan diperoleh rekomendasi langkah perbaikan, baik berupa redesain bahan baku maupun redesain proses.

f. Data pengamatan produksi juga digunakan dalam menyusun program analisis kelayakan usaha.

V. ASPEK PRODUKSI

Dokumen terkait