• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SITUASI SOSIAL BUDAYA DAN PERKEMBANGAN

B. Kehidupan Sosial Ekonomi

2. Kehidupan ekonomi

Keadaan alam yang gersang sangat berpengaruh terhadap hasil pertanian masyarakat. Pendapatan masyarakat dari hasil pertanian sangat kecil, bahkan mungkin tidak mencukupi kebutuhan lain di luar kebutuhan sehari- hari. Hamparan sawah yang cukup luas hanya bisa terlihat di Kelurahan Banjarasri, Banjararum dan Banjarharjo yang kesemuanya terletak di Kalibawang. Sementara itu, seluruh desa di Kecamatan Samigaluh tidak dimungkinkan untuk mengembangkan pertanian tanah basah. Pertanian yang mereka andalkan adalah tegalan dengan tanaman berumur panjang. Tanaman umur panjang tersebut adalah jati31 dan cengkeh. Tanaman lain yang dapat hidup adalah singkong, ketela rambat yang merupakan tanaman yang dapat hidup ditanah kering. Namun, tanaman seperti singkong dan ketela rambat pada waktu itu bukanlah tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Hasil pertanian seperti singkong mereka jual ke Muntilan, Samigaluh atau Dekso yang memang merupakan daerah yang strategis. Namun perjalanan mereka yang jauh dan hanya mengandalkan jalan kaki memerlukan waktu yang lama. Waktu banyak tersita di perjalanan, sementara barang dagangan yang bisa dibawa jumlahnya sedikit. Sementara itu, pasar tidak dibuka setiap hari seperti sekarang ini. Berdasarkan kebiasaan orang Jawa, setiap pasar memiliki hari pasaran masing- masing.

31

Berdasarkan pengamatan penulis yang melihat banyaknya tanaman jati di Perbukitan Menoreh serta berdasarkan cerita masyarakat Boro mengenai kondisi masyarakat yang sudah menetap di sana selama berpuluh puluh tahun. Keadaan ekonomi masyarakat begitu memprihatinkan, sehingga membuat masyarakatnya hidup dalam kemiskinan.

29

Dalam pengelolaan sawah, para pemilik biasanya memberikan tanah untuk digarap dengan hasil dibagi dua. Sistem pengupahan kepada penanam dan pemanen dibagi enam dengan para penggarap. Sawah yang terdapat di wilayah Menoreh tidak terlalu luas, sehingga banyak lahan tegalan yang kemudian ditanam dengan tanaman berumur panjang.

Boro dialiri sungai dengan debit air yang cukup besar. Di Samigaluh juga dialiri anak Sungai Progo. Sementara itu, di Boro terdapat sumber air yang mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Boro. Di wilayah lain, terdapat sumber air yang sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, namun jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Dengan alasan itu, masyarakat yang tinggal di bagian bukit mengalami kesulitan akan air untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Untuk sekedar memenuhi kebutuhan MCK saja sangat kesulitan, apalagi harus memenuhi kebutuhan pertanian. Sebagian masyarakat memiliki tanah luas, tetapi hanya sebagian kecil saja. Pada umumnya masyarakat memiliki tanah yang kecil, sehingga hasil dari lahan pertanian yang mereka miliki hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari- hari seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya.

Sebagian besar lahan pertanian di Menoreh adalah lahan tanah bengkok atau tanah kas desa. Masyarakat hanya berhak untuk menggarapnya, tetapi tidak berhak untuk menjadi pemilik dari tanah tersebut. Selain masalah yang sudah dikatakan di atas, pada masa itu masyarakat mempunyai anak yang banyak sehingga ekonomi keluarganya tidak kunjung membaik.

Di Kalibawang terdapat saluran irigasi yang sudah sangat baik. Namun irigasi tersebut tidak cukup membantu masyarakat, karena sebagian lahan pertanian basah adalah milik kas desa atau bengkok yang hanya digarap oleh para pamong desa. Sementara, masyarakat hanya mengharapkan belas kasihan dari para pamong desa yang akan memberikan lahan tersebut kepada masyarakat untuk digarap.

Saluran irigasi yang ada hanya mampu mengaliri sebagian kecil dari wilayah Kalibawang. Ini disebabkan oleh wilayah yang berbukit-bukit, sehingga tidak semua masyarakat yang ada di Menoreh dapat menikmatinya. Mungkin hanya tiga desa yang mampu dialiri air irigasi. Selebihnya air dinikmati oleh masyarakat di luar wilayah Kalibawang yang berada di selatannya, bahkan Samigaluh sama sekali belum memiliki irigasi.

Pemeliharaan hewan dilaksanakan dengan sitem gaduh atau bagi hasil dengan dengan cara pemilik memberikan indukan untuk dipelihara orang lain. Induk tetap menjadi milik tangan pertama. Pembagian hasil terlaksana bila indukan menghasilkan anak, karena yang dibagi adalah anak hewan. Indukan dihitung sewa pelihara, karena oleh pemilik akan diberikan jasa pemeliharaan.

Rumah-rumah yang ada di sana pada umumnya masih sangat sederhana. Rumah pada umumnya kecil-kecil dan hanya memiliki sedikit kamar. Seluruhnya hampir dipenuhi ruang tengah. Dinding rumah masih terbuat dari gedeg, berupa bambu yang dianyam. Lantai rumah pada umumnya tanah. Hanya sebagian kecil saja yang dinding rumahnya dari batu bata. Sekarang ini dapat dilihat bahwa rumah rumah yang berada di lingkungan Paroki Boro dapat dikatakan cukup layak untuk

31

dihuni. Hal itu baru dapat dilihat sejak awal tahun 1990-an, Peningkatan tersebut dihasilkan oleh masyarakat yang bekerja di luar daerah, Sementara masyarakat yang memilih bertahan kehidupan ekonominya tetap tidak mengalami peningkatan yang cukup berarti. Kehidupan ekonomi di Boro mengalami stagnasi karena banyak terjadinya perpindahan penduduk dari desa ke kota akibat meningkatnya kalitas sumber daya manusia. Manusia- manusia berkualitas lebih memilih bekerja dikota. Penduduk Menoreh rata-rata adalah orang tua dan orang-orang yang tidak mampu menempuh pendidikan tinggi.

Masyarakat tidak memiliki sarana MCK (mandi, cuci dan kakus) yang baik karena pada masa itu masyarakat tidak memiliki kamar mandi, Untuk membuang hajat, masyarakat melakukannya di kebun-kebun maupun di kali. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan akan air mereka harus berjalan kurang lebih satu kilo meter bahkan lebih. Memang pada kenyataanya di Menoreh langka akan air

Air yang mereka andalkan berasal dari mata air, sementara sumber air yang tersedia di sana sangat kurang. Ini disebabkan oleh lembah-Iembah yang sempit sehingga sungai-sungai tidak menghasilkan air yang cukup, apalagi bila musim kemarau menjelang.Hanya beberapa daerah saja yang memiliki sumber air.