BAB IV. CARA PENDEKATAN DAN DAMPAK
C. Pengajaran Agama
1. Melalui peran katekis
Pada masa Prennthaler, peran katekis sudah mulai digalakkan. Dari para katekis pengaruh Katolik dapat disebarluaskan. Para katekis memiliki banyak jasa dalam mengembangkan pengaruh Katolik di Paroki Boro. Sejak tahun 1950 peran katekis sudah mulai terasa di Boro. Efeknya pada tahun 1958 terjadi pembaptisan dengan jumlah yang besar yaitu sekitar 1581 orang. Ini menunjukkan bahwa peran para katekis atau guru agama tidak dapat dipandang sebelah mata.
Selain itu, Keuskupan Agung Semarang menggalakkan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat melalui sebuah komisi yang bergerak di bidang sosial dan ekonomi113. Usaha-usaha itu, kemunginan ikut memicu banyaknya masyarakat di Paroki Boro untuk dibaptis.
Di Boro sendiri telah digalakkan usaha-usaha untuk mengembangkan sistem tanam yang lebih baik. Selain mengembangkan pertanian, Gereja Boro juga mempelopori peternakan. Kegiatan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dinamakan Petani Pancasila114. Kemungkinan peristiwa pembaptisan pada tahun 1958 dipengaruhi gerekan-gerakan Gereja Katolik dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Apalagi, pembaptisan tahun 1958 sangat penting untuk pembaptisan pasca 65, karena mereka yang dibaptis pada tahun 1958 banyak yang menjadi pioner bagi calon baptisan tahun 1966-1967 dengan menjadi katekis dan para wali baptis.
113
Baca: Marcel Beding, dkk., Gereja Indonbesia Pasca Vatikan 11 Refleksi dan Tantangan.
Yogyakarta: Kanisius, 1997. Hal.437.
Para katekis telah berjuang untuk mewujudkan sebuah komunitas baru yaitu komunitas Katolik, yang pada saat itu hidup di tengah masyarakat Muslim abangan
atau Kejawen, sementara Agama Katolik sendiri adalah minoritas, bahkan pada masa awal kedatangan P. Prennthaler, di Boro belum ada sama sekali masyarakat Boro yang menganut Katolik115.
Pada kenyataannya Agama Katolik dalam rangka menyebarkan pengaruhnya cukup sukses mendapatkan tempat di hati masyarakat, meskipun sampai dengan tahun 1966 Umat Katolik bukanlah mayoritas di Boro. Masyarakat Boro pada umumnya masih abangan atau Kejawen dan sebagian kecil adalah penganut Islam seperti yang telah disebutkan di atas.
Peristiwa 1958 cukup memberikan sedikit pencerahan bagi Paroki Boro. Dengan adanya baptisan yang besar pada tahun tersebut, telah memicu terjadinya gelombang pembaptisan pada tahun 1966, tahun 1967116 dan seterusnya. Dengan adanya pembaptisan pada tahun 1958, hampir tiap kampung memiliki penganut Katolik, meskipun baru satu atau dua orang saja. Orang-orang yang menjadi Katolik pada masa itu menjadi pioner Gereja dalam merealisasikan misinya. Hal tersebut tidak pernah terlepas dari kehadiran para katekis yang turut membantu para misioner.
Pada tahun 1970-an, Justinus Kardinal Darmojuwono sangat menaruh perhatian dan berharap kepada para katekis, karena bagaimanapun peran mereka
115
Berdasarkan Wawancara dengan Martinus Ponidi Sowimursidi yang merupakan katekis paling terkemuka di Paroki Boro. la menjelaskan bahwa pada masa kedatangan P. Prennthaler tahun 1927 belum ada sama sekali masyarakat Boro yang memeluk Katolik.
116 Total jumlah baptisan pada tahun 1958 adalah 1581. Sementara pada tahun 1966 dan 1967 tercatat sebanyak 2402. Lihat diagram lampiran 3.
83
sangat besar. Tidak dapat dipungkiri kalau paroki-paroki di daerah peran katekis sangat besar, bahkan perannya lebih besar daripada seorang pastor117. Dukungannya itu, kemungkinan besar dipengaruhi oleh besarnya peran para katekis pada masa sebelummya.
Para katekis di daerah terpencil seolah-olah mengambil alih peran para pastor118. Ini disebabkan karena kurangnya jumlah pastor di setiap paroki. Meskipun di Paroki Boro setidaknya terdapat tiga pastor, namun dengan wilayahnya yang luas belumlah cukup dengan tiga pastor. Apalagi, tempat tinggal orang-orang Katolik agak jauh dengan pusat paroki dan terpencar agak jauh. Untuk itu diperlukan katekis demi terjaganya keberlangsungan benih iman Katolik di hati masyarakat. Apalagi tidak setiap saat seorang pastor paroki dapat berkunjung ke stasi-stasi atau lingkungan. Di sinilah letak pentingnya peranan seorang katekis119.
Di Jawa, pada umumnya memang telah terjadi semacam ketidakpercayaan kepada orang Katolik atau Kristen yang dikatakan sebagai agama penjajah120 namun
117 Baca: G. Subanar, Menuju Gereja Mandiri. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma 2005. Hal. l72.
118
Ibid. 119
P. Jayasewaya tidak memungkiri akan adanya peran para katekis. Meskipun, tugas mereka hanya menyiapkan para calon baptis, komuni pertama, dan krisma, namun mereka berperan penting dalam proses perkembangan Gereja.
120
Sampai dengan tahun 1870-an Jawa dianggap gelap dan tanpa harapan dalam karya misi. Hal tersebut disebabkan oleh agama Islam yang sudah demikian berpengaruh dalam masyarakat Jawa. Bambang Sutrisno Op. Cit. Hal. 22.
ketika pada tahun 1904 di Kalibawang terjadi pembaptisan121, maka kejadian itu menjadi pendorong misi Gereja Katolik untuk terus berjuang menyebarkan pengaruhnya di Pulau Jawa.
Sementara itu, di Menoreh sendiri perkembanga nya terus diperhatikan dengan kehadiran seorang pastor yang bemama Prennthaler untuk tetap menjaga eksistensi Katolik di Pegunungan Menoreh. Ia bahkan berjuang di bidang sosial dengan membantu masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup.
Dengan belajar dari pengalaman yang telah ada, maka mereka mulai mengedepankan peran katekis, sehingga sedikit demi sedikit mereka dapat menanamkan pengaruhnya ke dalam masyarakat. Ini dapat terjadi karena para katekis lebih memahami keadaan serta adat istiadat masyarakat Jawa, sehingga mereka lebih mudah masuk ke dalam masyarakat bila dibandingkan seorang pastor yang terjun langsung ke dalam masyarakat.
Peran katekis sangat vital terutama untuk di daerah terpencil. Masyarakat pada masa itu kebanyakan tidak beragama ataupun abangan. Dengan adanya para katekis pengaruh Katolik dapat tersampaikan dengan baik tentunya dengan mensiasati yaitu dengan cara yang persuasif. Menurut pendapat masyarakat pada tahun 1966 dan 1967, mereka menjadi Katolik karena mengangap bahwa agama Katolik yang dimaksud di sini adalah umat Katolik sangat terbuka dan mampu hidup
121 Baca: Sindhunata (ed.) Mengasih Maria 100 Tahun Sendangsono. Yogyakarta: Kanisius, 2004. Hal. 22.
85
berdampingan dengan masyarakat beragama lain. Umat Katolik bisa dikatakan tidak sombong.
Ini tentunya tidak pernah terlepas dari peran para katekis yang mampu mengadaptasikan ajaran Gereja dengan kebudayaan setempat tanpa menghilangkan dogma Gereja. Agama Katolik dikatakan memiliki persamaan dengan rutinitas religi orang Jawa, sehingga masyarakat mampu dengan cepat menyerap ajaran Katolik.
Di Boro, para katekis juga diambil dari masyarakat Boro sendiri. Di setiap lingkungan terdapat sekurang-kurangnya satu katekis yang tugasnya adalah untuk mengajarkan agama baik terhadap Umat Katolik, maupun orang yang belum menganut Katolik, tetapi memiliki kemauan untuk menjadi Katolik.
Pada umumnya, katekis-katekis pada awal perkembangan Paroki Boro tidak memiliki pendidikan yang cukup, sehingga mereka tidak memahami isi Kitab Suci122. Mereka dipilih berdasarkan kemauan sendiri dan memiliki semangat yang tinggi untuk mengajar agama. Para calon katekis yang dipilih kemudian diharuskan untuk belajar agama sampai benar-benar tahu dan mengerti dengan isi. Kitab Suci.
122 Mereka memang buta aksara latin, tetapi kebanyakan tidak buta aksara Jawa. Untuk itu, Kitab Suci digubah ke dalam aksara Jawa.
Pada umumnya para calon katekis tersebut dibebaskan untuk belajar dengan caranya sendiri123. Sebagian besar memilih untuk menghapal isi Kitab Suci124. Untuk mempercepat proses penangkapan materi, maka diperkenalkanlah salawatan yang isinya berasal dari Kitab Suci dan Injil. Dengan cara seperti itu, sebagian besar katekis mampu menghapal seluruh isi Kitab Suci dan Injil. Mengenai salawatan akan dibahas pada bagian sesudahnya125.
Peran para katekis semakin bertambah dengan adanya ketetapan pemerintah yang mengharuskan masyarakat untuk memeluk agama akibat dari adanya G 30 S126. Beban mereka semakin berat karena adanya permintaan dari masyarakat untuk dibaptis. Pada tahun-tahun sebelum ketetapan pemerintah itu telah ada upaya dalam menyampaikan ajaran Katolik, namun masyarakat masih sangat sedikit yang menyatakan minatnya untuk menjadi Katolik. Namun pengaruh Katolik sudah lama meresap dalam pikiran masyarakat melalui peran para katekis yang berani mengakarkan agama kepada masyarakat yang bukan Katolik. Dengan demikian
123
Selain belajar secara ototidak, para katekis dikursuskan ke Girisonta. Mereka bertugas untuk menyiapkan para calon baptis yang dewasa, peneriaman Komuni Pertama dan Sakramen Krisma. Tugas para katekis di Paroki Boro menjadi sangat penting karena wilayah yang sangat luas dan tidak dapat dijangkau dengan cepat. Hampir sebagian besar wilayahnya harus ditempuh dengan berjalan kaki. Berdasarkan wawancara dengan P. Jayasewaya, Pr pada tanggal 5 Februari 2007.
124 Bapak Sowimursidi mampu menghapal sebagian besar isi salawatan, ketika diminta untuk mendendangkan syair salawatan ia dengan sukarela dan dengan rasa bangga melantunkannya.
125
Seperti yang dituturkan oleh Mbah Sowi pada wawancara pada tannggal 10 September 2006. la menuturkan bahwa ia hanya tamat sekolah rakyat. Mbah Sowi belajar menguasai Kitab Suci dengan menghapal seluruh Isi Kitab Suci. Untuk mempercepat menghafalnya, maka ia juga belajar salawatan.
126
Kegiatan katekis di tahun 1960-an sangat vital terutama di sekitar tahun 1965-1967 saat Gereja mengalami panen raya. Calon baptis akhir tahun 1966-1967 mencapai di atas 2000-an orang. Tanpa mereka para pastor kewalahan. Bardasarkan penjelasan P. Sugito.
87
peran para katekis sangat penting karena perkembangan Gereja Boro sedikit banyak berasal dari andil para katekis.