KEANEKARAGAMAN HAYATI PADA BERBAGAI TIPE TUTUPAN LAHAN
3.4 Kehilangan Potensi Biodiversitas (Biodiversity loss)
Kehilangan potensi biodiversitas (biodiversity loss) didefinisikan sebagai hilang atau berkurangnya jumlah jenis tumbuhan dan satwaliar tertentu yang dulunya mudah dijumpai atau dapat diidentifikasi karena adanya perubahan tutupan lahan (habitat alaminya) akibat kegiatan manusia (dalam hal ini pengembangan kebun kelapa sawit). Dalam penelitian ini, yang diidentifikasi sebagai bagian dari biodiversitas yang dianggap hilang dibatasi terdiri atas tumbuhan dan satwa liar, yaitu berupa tegakan pohon di hutan (primer dan sekunder) yang hilang karena telah berubah menjadi kebun sawit, dan jenis primata arboreal Orangutan dan Owa yang hidupnya sangat bergantung dari keberadaan pohon-pohon di habitat alaminya yang hilang karena menjadi lahan sawit. Selain itu juga dimasukkan jenis mamalia Trenggiling yang banyak diburu untuk diperjualbelikan di pasar lokal atau diseludupkan sebagai akibat meningkatnya permintaan pasar dan harga pasaran yang tinggi.
Tabel. 3.7 Kepadatan satwa liar dan potensi tumbuhan sebagai indikator biodiversity loss pada berbagai tutupan lahan
Potensi yang hilang
Kepadatan satwa liar (ind/km2) Hutan primer Hutan sekunder Semak belukar Tanah kosong Orangutan1) 2 2 - - Owa-owa2) 7 7 - - Trenggiling3) 1 1 1 - Volume (m3/ha) Potensi tegakan4) 99.91 56.80 - -
Keterangan: *) kepadatan berdasarkan penelitian Galdikas (1978), 2Sugardjito (1975) di Kalimantan Tengah, 3 Asumsi (tidak ada data); 4 potensi tegakan dar hasil penelitian ini
Orangutan (Pongo pygmaeus). Spesies ini termasuk bangsa primata yang membangun sarangnya di kanopi pohon, menggunakannya untuk beristirahat termasuk tidur, bermain sepanjang hari, tempat untuk kawin, melahirkan anak, dan mengasuh anak sampai siap disapih (MacKinnon 1971, Rijksen 1978; Galdikas 1978). Orangutan mampu beradaptasi pada berbagai tipe hutan primer dari hutan rawa, hutan dataran rendah/ dipterocarpace sampai ke hutan pegunungan (MacKinnon 1972 dalam Rijksen 1978), mendiami hutan rawa gambut (Galdikas 1978), bertahan hidup di areal hutan bekas pembalakan, walaupun untuk jangka panjang kelangsungan hidupnya tidak terjamin karena kepadatannya yang rendah (IUCN 1982). Berdasarkan ketentuan IUCN (badan konservasi dunia), pedoman nasional (Strategi Nasional dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan) dan pendapat para ahli Orangutan, diperkirakan ukuran populasi minimum yang layak (minimum viable population) dan dapat bertahan hidup berjumlah 250 individu. Untuk membangun populasi tersebut dibutuhkan areal/kawasan hutan sekitar 16.000-25.000 hektar (1 individu dalam 100 hektar) dengan kepadatan berkisar 1-1.5 individu per km2 (Husson et al. 2009). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa Orangutan mampu hidup di habitat yang
sesuai dengan kerapatan populasi rata-rata 2 individu/km2 di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah (Galdikas 1978); 1.7 ind/km2 (Rieley, Page & Shepard 1996) dan berkisar 0.2-2.12 ind/km2 (Husson et al. 2000) di Sebangau Kalimantan Tengah; 1-2 ind/km2 di Ula Segama (MacKinnon 1971; MacKinnon 1974); 2 ind/km2 di Lokan (Horr 1975); 3 ind/km2 di TN Kutai (Rodman 1973).
Owa-owa (Hylobates agilis). Primata jenis Owa-owa mampu hidup dengan baik pada habitat berhutan dengan kerapatan populasi 7 ind/km2 di Tanjung Puting (Sugardjito 1975; Sutanto 1976; Nata 1977 dan Mafhud 1977 dalam Galdikas 1972), 8 ind/km2 di Tanjong Triang, Malaysia (Ellefson 1967, 1968), 9 ind/km2 di Muangthai utara (Carpenter 1940), 9-14.6 ind/km2 di Taman Nasional Kutai, 6.9-9.9 ind/km2 di Taman Nasional Kayan Mentarang, 7.9-9.5 ind/km2 di Hutan Lindung Sungai Wain (Nijman and Menken 2005). Perkiraan secara konservativ total populasi berkisar 250.000-375.000 individu (Geissmann & Nijman 2008).
Trenggiling (Manis javanica Desmarest 1822). Dari hasil survey pasar penjualan satwa di Sampit (ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur), diperoleh informasi tentang meningkatnya permintaan satwa jenis Trenggiling. Jenis yang tergolong dilindungi di Indonesia dan secara internasional ditetapkan oleh IUCN, sebagai “endangered species” yaitu jenis terancam punah. Negara asal jenis satwa ini adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Singapore, Thailand dan VietNam. Di Indonesia keberadaannya tersebar di pulau Sumatra, Jawa, Borneo/Kalimantan, Bangka dan Belitung, Nias, Bali dan pulau kecil lainnya (Corbet & Hill 1992). Habitatnya berada di hutan primer, hutan sekunder termasuk areal budidaya dan areal terbuka dekat pemukiman (Davies & Payne 1982; Foenander 1953; Medway 1977; Zon 1977; Bain and Humphrey 1982). Trenggiling memiliki wilayah jelajah yang luas dan menempati sarangnya selama beberapa bulan yang terdapat di atas pohon, di lubang-lubang pada akar pohon besar atau membuat lubang di dalam tanah yang digalinya sendiri. Satwa trenggiling diburu di Indonesia (dan juga Malaysia) untuk diperdagangkan secara illegal ke Negara China, Singapur, Thailand, Vitenam, dan Laos dalam bentuk daging dan kulitnya (sisik). Bagian satwa ini (sisik) lebih banyak dimanfaatkan untuk bahan obat penyakit kulit dan kanker di China, sedangkan kulitnya untuk keperluan fashion (Duckworth 2012).
3.5 Biodiversity gain
Seperti telah dijelaskan di atas, adanya perubahan tutupan lahan (hutan dan semak belukar) akibat aktivitas manusia dan pembangunan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, akan berdampak pula pada perubahan kondisi dan potensi keanekaragaman hayatinya. Perubahan itu dapat berwujud pada berkurangnya atau bahkan hilangnya potensi biodiversitas (biodiversity loss) yang tadinya ada atau mudah dijumpai. Namun disisi lain mungkin pula terjadi sebaliknya, yaitu akibat perubahan tutupan lahan yang awalnya berupa lahan (tutupan lahan tanah terbuka) yang dianggap tidak cukup mempunyai potensi keanekaragaman hayati (tumbuhan dan satwa liar) menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, maka diyakini akan menguntungkan bagi berkembangnya beberapa satwa liar khususnya satwa predator seperti burung hantu dan ular sawah.
Dalam lingkungan perkebunan kelapa sawit terdapat banyak populasi tikus yang menjadi hama perkebunan tanaman kelapa sawit. Tikus merupakan hama
yang paling merugikan karena akibat serangan hama tikus dapat mengakibatkan kerusakan buah sawit sekitar 10%. Untuk mengendalikan hama tikus, pihak pengelola kebun biasanya memasang racun tikus (rodentisida). Pembelajaran dari pengelolaan perkebunan di Sumatera, bahwa populasi ular sawah (Pyton reticulatus) semakin bertambah populasinya karena jumlah makanan yang berlimpah berupa tikus. Dengan berkembangnya satwa predator ular sawah akibat mangsa yang berlimpah, maka pengelolaan terhadap keberadaan satwa predator jenis ular ini menjadi penting untuk mendorong budidaya tanaman kelapa sawit berproduksi lebih optimal. Satwa predator lainnya adalah burung hantu yang umumnya ditemukan pada perkebunan kelapa sawit dari jenis beluk ketupa (Ketupa ketupu) dan kukuk beluk (Strix leptogrammica). Burung hantu juga merupakan predator tikus yang efektif di perkebunan kelapa sawit, karena mampu menurunkan serangan tikus pada tanaman kelapa sawit muda hingga di bawah 5 persen.
(A) Kukuk beluk (Strix leptogrammica) (B) Beluk ketupa (Ketupa ketupu)
Gambar 3.3 Jenis satwa predator yang menguntungkan bagi pengendalian hama tikus di perkebunan kelapa sawit yang dianggap sebagai
“biodiversity gain”
Pemanfaatan jenis-jenis pemangsa (predator) yang membantu pengelola perkebunan dalam pengendalian hama tikus yang merupakan “prey” predator jenis burung hantu dan ular sawah, adalah merupakan suatu keuntungan yang diperoleh dari adanya perubahan tutupan lahan menjadi kebun sawit dari lahan terbuka. Dengan demikian dapat dikatakan, berkembangnya populasi satwa predator merupakan keuntungan bagi perkebunan dalam hal menghemat biaya operasional pengendalian hama perkebunan dengan menggantikan peran penggunaan racun tikus dan pemasangan perangkap tikus, sehingga potensi ini dapat diterjemahkan sebagai suatu “biodiversity gain”.
Simpulan
Analisis komparatif hasil identifikasi potensi tumbuhan dan satwa liar pada berbagai tipe tutupan lahan, dapat disimpulkan hasilnya sebagai berikut:
1. Untuk komunitas tumbuhan:
a) Kerapatan vegetasi pada areal konservasi dalam perkebunan lebih sedikit (130-200 ind/ha) bila dibanding kerapatan di hutan primer 1587 di kawasan hutan konservasi.
b) Potensi (volume) tegakan pada areal konservasi perkebunan juga lebih sedikit potensinya (29.19-56.80 m3/ha) bila dibandingkan potensi tegakan pada hutan primer (99.91 m3/ha).
c) Ukuran keanekaragaman atau kelimpahan jenis pada areal konservasi di perkebunan berdasarkan nilai Indeks Shannon (H’) bervariasi antara 2.63- 3.05 relatif tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian lain di hutan sekunder (2.07-3.49), sedangkan keragaman jenis di hutan primer (kawasan hutan konservasi) yaitu 3.12.
d) Ukuran kekayaan jenis Margalef (Indeks Margalef DMg) di perkebunan
termasuk dalam kriteria sedang sampai dengan tinggi kekayaan jenisnya (4.45-6.21), sedangkan di hutan primer pada kawasan hutan konservasi (hutan primer) yang lokasinya berdekatan dengan perkebunan tersebut tergolong tinggi sebesar 10.53. Implikasi nya bahwa areal berhutan yang ada di perkebunan (areal konservasi) dapat menjadi benteng perlindungan bagi keberagaman komunitas tumbuhan yang harus dipertahankan sebagaimana kondisi awalnya sebelum dikonsesi untuk perkebunan sawit.
2. Untuk komunitas Satwa liar
Beberapa jenis satwa liar yang teridentifikasi pada tutupan lahan berhutan (hutan primer dan sekunder) sulit dijumpai bahkan tidak dapat hidup akibat perubahan tutupan lahannya menjadi kebun kelapa sawit, khususnya jenis primata arboreal seperti orangutan, owa dan bekantan yang sepenuhnya hidup bergantung dari keberadaan tegakkan pohon. Berdasarkan informasi dan survey pasar, jenis trenggiling banyak diburu, diperdagangkan dan diselupkan karena bernilai komersial (daging, kulit/sisiknya). Identifikasi keberadaan satwa liar melalui perjumpaan langsung atau berdasarkan jejak (suara, sarang, bekas jejak kaki/cakar) dan informasi dari masyarakat pada lokasi perkebunan (areal konservasi, semak belukar dan tanah kosong) dan kawasan hutan konservasi (hutan primer) dari kelompok mamalia ditemukan 11 jenis, burung (20 jenis), dan reptil (6 jenis).
3. Biodiversity loss dan biodiversity gain
a) Beberapa jenis primata (sebagai mahluk arboreal orangutan dan owa) dan jenis trenggiling dijadikan sebagai satwa indikator dari potensi biodiversitas yang berkurang atau hilang (biodiversity loss), sebagai konsekuensi perubahan tutupan lahan hutan primer dan hutan sekunder (kepadatan orangutan 2 ind/km2, owa 7 ind/km2, trenggiling 1 ekor/km2), semak belukar (trenggiling 1 ekor/km2) yang menjadi kebun kelapa sawit.
b) Sebaliknya, perubahan tutupan lahan dari lahan tanah terbuka (dianggap tidak cukup memiliki potensi tumbuhan dan satwa liar) menjadi lahan kebun sawit, bagi beberapa spesies jenis predator (burung hantu dan ular) memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan lebih baik karena membantu pengelola perkebunan dalam pengendalian hama tikus. Potensi berkembangnya populasi jenis satwa predator ini dan pemanfaatannya diterjemahkan sebagai “biodiversity gain” yang mampu memberikan keuntungan bagi pengelola perkebunan (dalam hal penghematan biaya operasional pengendalian hama perkebunan yang tadinya dilakukan menggunakan pestisida atau racun tikus dan pemasangan perangkap tikus).