AREAL PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
2.3 Perubahan Kondisi Tutupan Lahan
Sebelum PT.A, PT.B dan PT.C mengambil alih lahan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit, tidak ditemukan tutupan lahan berupa hutan primer, sebagaimana terlihat pada hasil penafsiran peta citra landsat (Lampiran 4-6 pada hlm 84-89). Lahan tersebut berasal dari eks perusahaan HPH yang sudah beroperasi sejak tahun 1972, dan sebagian areal lainnya merupakan bekas lahan perkebunan perusahaan lainnya dan lahan pertanian garapan oleh masyarakat. Banyak aktivitas penebangan liar dilakukan oleh kelompok masyarakat selama kurun waktu 1998-2001 yang saat itu lebih diuntungkan dengan euphoria reformasi yang mengusung isu ketidakadilan bagi rakyat kecil dan ketimpangan pembangunan dan perekonomian di luar pulau Jawa. Lisman (2007) dalam bukunya “Konflik Sosial Kehutanan” menyebutkan bahwa pada era bergulirnya reformasi tahun 1998, telah terjadi demonstrasi besar-besaran mahasiswa dan masyarakat, termasuk huru hara yang menghancurkan prasarana bisnis, fasilitas publik dan di bidang kehutanan terjadi penjarahan hutan dan penebangan liar. Sejak awal dimulainya aktivitas land clearing dan dilanjutkan dengan penanaman di tiga perkebunan yang diteliti, telah terlihat perubahan-perubahan atas tutupan lahannya. Perubahan kondisi penutupan lahan (tuplah) pada unit usaha perkebunan kelapa sawit berdasarkan hasil interpretasi citra landsat sebelum (citra
tahun 1989) dan setelah dibuka (citra tahun 2010) menjadi kebun kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Kondisi penutupan lahan pada masing-masing areal kebun lingkup PT.A, PT.B, dan PT.C di Provinsi Kalimantan Tengah
Tutupan lahan
Perkebunan PT.A Perkebunan PT.B Perkebunan PT.C Luas (ha) Luas (ha) Luas (ha) 1989 2010 1989 2010 1989 2010 Pkb 0 2443 0 1474 0 14082 Hs 1945 1044 0 0 15382 1134 B 2254 142 1305 4341 818 1820 Pc 0 0 11628 7596 6507 2909 T 0 295 265 475 66 2631 TA 0 275 689 0 233 435 A 0 0 0 0 0 0 TOTAL 4.199 4.199 13.887 13.886 23.006 23.011
Keterangan: Pkb (perkebunan sawit), Hs (hutan sekunder), B (semak belukar), Pc (pertanian campuran), T ( tanah terbuka), TA ( tertutup awan), dan A (tubuh air).
Hasil penafsiran peta citra landsat sebelum dan setelah dibuka menjadi kebun sawit, luas lahan perkebunan PT.A adalah 4199 ha. Sebelum dibuka, klasifikasi tuplahnya berupa hutan sekunder (Hs) seluas 1945 ha dan semak belukar (B) 2254 ha. Setelah ada aktivitas pembukaan lahan (land clearing) dan kegiatan penanaman, terlihat perubahan klasifikasi tuplahnya (citra landsat tahun 2010) yaitu berupa kebun yang sudah ditanami kelapa sawit (Pkb) seluas 2443 ha (58.18%), tuplah hutan sekunder berkurang menjadi 53% (1044 ha) dari luas semula, tuplah semak belukar yang jauh berkurang luasannya menjadi 6.29% (142 ha) dari luasan semula. Artinya berdasarkan data tersebut diatas, mengindikasikan adanya aktivitas land clearing yang terjadi pada tuplah hutan sekunder dan semak belukar (Gambar 2.3).
A. B.
Gambar 2.3 Perubahan kondisi tutupan lahan pada sebagian areal PT.A di Kabupaten Kobar : (A) Tutupan lahan tahun 1989, dan (B) Tutupan lahan tahun 2010.
Perkebunan kelapa sawit PT.B berdasarkan interpretasi citra landsat secara keseluruhan luas lahan yang dikelola sebesar 13886 ha. (berdasarkan ijin lahan yang diperoleh luasnya 14300 ha). Berbeda dengan kebun PT.A, Perkebunan PT.B hasil interpretasi citra landsat kondisi awal sebelum dilakukan land clearing tutupan lahannya berupa semak belukar (B), pertanian campuran (Pc), tanah terbuka (T), dan tidak terdapat tutupan lahan berupa hutan sekunder (Hs). Berdasarkan penafsiran peta citra tahun 2010, telah terbentuk sekitar 1474 ha perkebunan sawit, terjadi penambahan luas tuplah semak belukar dan pengurangan luasan tuplah pertanian campuran (lihat Lampiran 3 hlm 84).
Perkebunan kelapa sawit lingkup PT.C berdasarkan penafsiran peta citra landsat sebelum dan setelah dibuka menjadi kebun sawit luas lahan secara keseluruhan yang dikelola adalah 23011 ha. Kondisi awal tuplah perkebunan dilingkup PT.C berdasarkan interpretasi citra landsat terdapat tuplah hutan sekunder seluas 15382 ha, setelah pembukaan lahan dan aktivitas penanaman kelapa sawit luasan hutan sekundernya berkurang hingga berkisar 7.4% dari luasan semula (±1134 ha). Ini berarti sama seperti di PT.A, bahwa telah terjadi pembukaan areal hutan untuk membangun kebun kelapa sawit (lihat Lampiran 4 hlm 86). Gambar 2.4 memperlihatkan kenampakan tutupan lahan hasil interpretasi citra landsat yang kemudian diklarifikasi atau divalidasi di lapangan.
(A) (B)
(C) (D)
Gambar 2.4 Kenampakan tutupan lahan pada perkebunan kelapa sawit yang diteliti: (A) Tutupan lahan pertanian campuran (Pc), (B) Semak belukar (B), (C) Hutan sekunder (Hs), dan (D) kebun kelapa sawit (Pkb)
Perubahan penggunaan lahan yang pesat terjadi apabila adanya investasi di bidang pertanian atau perkebunan. Dalam kondisi ini akan terjadi perubahan lahan hutan, semak, ataupun alang-alang menjadi lahan perkebunan (Sitorus et al. 2006). Wijaya (2004) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perubahan penutupan lahan diantaranya pertumbuhan penduduk, mata pencaharian dan kebijakan pemerintah. Alih fungsi lahan dalam kurun waktu tertentu dapat mempengaruhi perubahan penutupan lahan. Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan penutupan lahan berasal dari faktor alam (bencana alam, kebakaran hutan, letusan gunung berapi) dan faktor manusia berupa faktor sosial ekonomi, pertumbuhan penduduk dan kebijakan pemerintah (Puspawati, 2012).
Berdasarkan laporan yang ditelaah, sejumlah hotspot teridentifikasi didalam wilayah konsesi perkebunan yang diteliti yaitu sebanyak 53 titik untuk tahun 2006 dan 26 titik untuk tahun 2007. Adanya fire hotspot tersebut bukan disebabkan karena pihak perkebunan menggunakan proses pembakaran dalam kegiatan pembersihan, akan tetapi penyebabnya adalah pembersihan lahan yang dilakukan oleh penduduk untuk berladang sebelum lahannya dibebaskan oleh perusahaan (sebelum proses ganti rugi) (Santosa et al. 2010). Demikian pula faktor kebijakan pemerintah (dalam hal ini kebijakan dalam RTRWP Kalteng) yang mengalokasikan areal untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit (kawasan budidaya berupa KPP/KPPL/APL), akan berpengaruh terhadap perubahan tutupan lahannya yang secara fungsinya adalah memang dikembangkan untuk produksi hasil perkebunan kelapa sawit.
Dari hasil penafsiran tutupan lahan diatas menjadi jelas bahwa pembukaan lahan untuk budidaya kelapa sawit tidak seluruhnya berasal dari areal berhutan seperti banyak dugaan yang berkembang, melainkan juga dari tutupan lahan yang awalnya sudah ada berupa semak belukar, pertanian campuran (ladang/kebun masyarakat) atau tanah kosong. Hutan sekunder yang tersisa di areal perkebunan saat ini diperuntukkan sebagai areal konservasi/areal lindung seperti areal sempadan sungai dan ekosistem hutan gambut. Tabel 2.6 menyajikan data mengenai proporsi lahan yang ditanami sawit dengan alokasi areal konservasi di lokasi perkebunan.
Tabel 2.6 Alokasi areal konservasi di dalam kebun kelapa sawit
Perkebunan Luas keseluruhan ( ha) Luas kebun penelitian (ha) Luas areal yang ditanami (ha) Areal Konservasi Luas (ha) Prosentase
(%) PT.A 4203 4203 (kebun X) 2443 77 1.83 PT.B 14300 2619 (kebun Y) 1474 76,6 2.93 PT.C 23011 4500 (kebun Z) 4184 440.32 9.75 Sumber: Data diolah dari Santosa et al. (2010)
Simpulan
1. Peruntukkan/status lahan perkebunan kelapa sawit sebelum dikonsesi
berdasarkan RTRWP Provinsi Kalimantan Tengah (Perda No 8 Tahun 2003) adalah bukan kawasan hutan melainkan sebagai Areal Penggunaan Lainnya (APL).
2. Lahan yang dibuka menjadi kebun kelapa sawit sebelumnya berasal dari lahan eks perusahaan HPH, bekas lahan perkebunan dari perusahaan kelapa sawit lainnya, semak belukar dan bekas ladang atau lahan pertanian garapan masyarakat. Perkebunan PT.A lahannya berasal dari eks HPH (868 ha), bekas perkebunan sawit lainnya (1500 ha), dan semak belukar (1835 ha), PT.B lahannya diperoleh dari eks HPH (11295 ha), bekas perkebunan sawit lainnya (524 ha), ladang masyarakat (2171 ha), dan semak belukar (310 ha); dan lahan PT.C berasal dari bekas HPH (8675 ha), semak belukar (9536 ha), dan ladang masyarakat (4800 ha).
3. Berdasarkan hasil penafsiran citra landsat sebelum diambil alih menjadi kebun kelapa sawit, tutupan lahan pada perkebunan PT.A berupa Hutan sekunder (46%) dan Semak belukar (54%); perkebunan PT.B tidak teridentifikasi adanya hutan sekunder, melainkan berupa Semak belukar (9.4%), Pertanian campuran (83.7%), Tanah kosong (1.9%) dan Tertutup awan (5%); dan PT.C berupa Hutan sekunder (68%), Semak belukar (3.4%), Pertanian campuran (27.3%), Tanah kosong (0.3%) dan Tertutup awan (1%). Perbandingan antara luas lahan yang ditanami kelapa sawit dengan areal konservasinya hingga tahun 2012 masing-masing adalah: perkebunan PT.A lahan ditanami sawit 2443 ha (98.17%) dan areal konservasinya 77 ha (1.83%); lahan PT.B berupa kebun sawit 1474 ha (97.07 ha) dan areal konservasi 76.6 ha (2.93%); lahan PT.C berupa kebun sawit luasnya 4033 ha (90.22%) dan areal konservasinya 440.32 ha (9.79%).