• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERWAWASAN KONSERVAS

gambut LGDang dan LGDal dari tuplah berupa semak belukar, hutan sekunder tanah terbuka dan hutan primer. Artinya investasinya layak untuk dilaksanakan, namun pilihan terbaiknya yang mendapatkan prioritas untuk dilaksanakan adalah pengusahaan yang dilakukan pada lahan gambut LGDang (0-3 m) dari tuplah tanah terbuka dengan nilai NPV Rp 282.597.650,-; besaran IRR-nya 41% dengan lama waktu pengembalian modal (PBP) 4.3 tahun.

5

MODEL ALTERNATIF DAN PROFIL PENGUSAHAAN

PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERWAWASAN

KONSERVASI

Pendahuluan

Sebagai suatu usaha berjangka panjang (25 tahun), maka kelayakan investasinya perlu diketahui apakah pada akhirnya menguntungkan atau tidak. Oleh karena itu secara finansial, aliran uang baik berupa pengeluaran (biaya) dan pemasukan (pendapatan) selama berjalannya sutu usaha/proyek harus diketahui, tercatat untuk kemudian diuji apakah aliran kas (cash flow) yang dihasilkan tersebut layak berdasarkan kriteria finansial yang ada. Dalam teori analisis finansial kelayakan suatu usaha, metode penilaian yang digunakan diantaranya berupa Payback Periode (PBP), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Adanya perubahan tutupan lahan sebagai konsekuensi dari pembukaan kebun kelapa sawit, khususnya apabila dilakukan dengan membuka areal berhutan, ada dampak lingkungan yang ditimbulkan yang sebenarnya berkonsekuensi pada biaya sebagai biaya lingkungan (environmental cost). Namun seringkali biaya lingkungan yang timbul tidak turut diperhitungkan dalam analisis finansial usahanya. Hal ini terjadi karena biaya lingkungan yang timbul tidak ditanggung atau dibayarkan oleh perusahaan perkebunan pada saat melakukan investasi. Masyarakat yang mengalami dampak negatif kerusakan dari keberadaan usaha pembangunan perkebunan kelapa sawit, merupakan pihak yang

menanggung biaya lingkungan yang terjadi yaitu berupa hilangnya akses memanfaatkan sumberdaya alam/hutan, menurunnya kualitas lingkungan, perlindungan daerah tangkapan air, hilangnya nilai jasa lingkungan hutan seperti wisata, fungsi penyimpanan karbon dan nilai produk hutan seperti tegakan kayu dan biodiversitas.

Pengurangan bahkan kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity loss) akibat pembukaan kebun kelapa sawit yang lahannya berasal dari hutan

adalah merupakan bagian dari biaya environmental cost yang harus

diperhitungkan dalam analisis (valuasi) ekonominya. Sebaliknya pembukaan kebun kelapa sawit dari lahan yang tidak bervegetasi atau lahan kosong menjadi kebun, akan ada manfaat yang ditimbulkan diantaranya potensi biodiversitas berupa satwa predator yang secara alami dapat berkembang baik dan apabila dikelola akan lebih memberikan nilai tambah bagi pengelolaan kebun (biodiversity gain). Dalam hal ini biodiversity gain diartikan sebagai potensi biodiversitas (satwa liar predator dari jenis burung hantu dan ular sawa) yang dapat dikembangkan, dikelola dan dimanfaatkan untuk pengendalian hama (tikus) dilingkungan perkebunan, sehingga pada akhirnya akan ada penghematan (rupiah) terhadap biaya operasionalnya dengan cara menggantikan peran/penggunaan racun tikus dan pemasangan perangkap mekanis. Penambahan dan pengurangan keanekaragaman hayati dalam pengusahaan perkebunan kelapa sawit akan memberi implikasi terhadap nilai ekonomi pengusahaannya. Penilaian terhadap nilai manfaat ekonomi sumberdaya lingkungan/hutan yang diantaranya berupa potensi biodiversitas sudah banyak dikembangkan dan dihitung oleh para ahli ekonomi lingkungan, diantaranya dengan metode pendekatan harga pasar, memberikan nilai yang terukur moneter (nilai uang) dalam teori nilai total ekonomi atau Total Economic Value (TEV) (Peterson & Sorg 1987; Pillet 2006; Plottu et al. 2007; Darusman et al. 2004). Dengan demikian potensi kehilangan dan penambahan biodiversitas dapat diukur secara moneter.

Oleh karena itu dalam konteks penelitian ini, pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi didefinisikan sebagai sebuah usaha perkebunan yang apabila dilakukan tidak terjadi kehilangan potensi biodiversitasnya (hipotesisnya adalah biodiversity loss sama dengan nol). Artinya, sebagai konsekuensi tidak terjadi biodiversity loss, maka untuk membuka kebun kelapa sawit, lahannya harus berasal dari bukan areal berhutan. Namun apabila terjadi pembukaan lahan pada areal berhutan, maka ada suatu keharusan untuk menggantikan biodiversity yang hilang (bio-loss) tersebut. Sebaliknya apabila terjadi pada lahan yang diduga kurang potensinya menjadi tutupan lahan kebun sawit, maka akan ada potensi biodiversitas yang berkembang baik dan memberi kemanfaatan bagi pengelolaan kebun sawit yang dianggap sebagai biodiversity gain (bio-gain). Namun berbeda dengan bio-loss sebagai suatu keharusan dalam pengusahaan kelapa sawit yang konservasi, maka bio-gain sifatnya bagi pelaku bisnis merupakan sebuah pilihan alternatif atau bersifat voluntary, karena pemanfaatan potensinya sebagai peran pengganti (dalam hal ini menggantikan peran penggunaan racun tikus atau pemasangan perangkap). Berbeda dengan analisis finansial usaha pada umumnya, maka dalam analisis (valuasi) finansial pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi berbagai biaya lingkungan (bio-loss) dan penghematan biaya dari potensi biodiversitas yang berkembang baik (bio-gain) yang mungkin atau potensial terjadi turut

diperhitungkan dalam menilai kelayakan investasi suatu kegiatan. Dan sebagai suatu pengusahaan, maka kelayakan investasinya harus memberikan nilai positif, artinya menguntungkan yang ditunjukkan dari besarnya nilai NPV, IRR dan PBP nya.

Model Alternatif Pengusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Berwawasan Konservasi

Seperti pada umumnya dalam suatu pengusahaan, berdasarkan prinsip dasar ekonomi, bahwa pengusahaan investasi kebun kelapa sawit pada akhirnya diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi para pengusaha. Artinya, dalam proyeksi analisis finansialnya diharapkan pada akhir daur pengusahaannya akan memberikan nilai positif, dimana biaya yang dikeluarkan (berupa biaya penggantian lahan, pengurusan sertifikat, pembukaan lahan/land clearing, investasi tanaman, non tanaman, pemeliharaan, pemanenan dan transport serta biaya umum) nilainya masih berada dibawah pendapatan yang diperoleh (pendapatan dihitung hanya dari produksi TBS kebun) sehingga diperoleh keuntungan. Dalam konteks pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi, apabila terjadi perubahan tutupan lahan berhutan maka harus menggantikan biodiversity loss sebagai biaya lingkungan dalam perhitungan analisis finansial kelayakan usahanya.

Setelah mendemonstrasikan perhitungan kelayakan usahanya, telah dihasilkan beberapa bentuk atau model yang menjadi alternatif pilihan dalam berinvestasi dibidang kelapa sawit. Terhadap beberapa model alternatif yang layak pengusahaannya, terdapat pilihan terbaik yang paling menguntungkan secara ekonomi dan yang dari aspek ekologi/lingkungan akan memberi pesan konservasi yang baik dalam pengusahaannya. Pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi secara kelayakan finansial pengusahaannya (selama 25 tahun) pada lahan gambut dan dari berbagai tipe tutupan lahan, adalah layak dilaksanakan (menguntungkan).

Secara lengkap penjabaran model-model alternatif yang dihasilkan dari perhitungan pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi pada lahan gambut berdasarkan kedalaman dan berbagai tipe tutupan lahan adalah sebagai berikut:

1. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDang (0-3 m) dengan tuplah semak belukar memberikan nilai NPV sebesar Rp 278.246.174,- nilai IRR sebesar 38%, dan PBP selama 4.5 tahun.

2. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDang (0-3 m) dengan tuplah hutan sekunder memberikan nilai NPV sebesar Rp 183.779.650,- nilai IRR sebesar 15%, dan PBP selama 7.9 tahun.

3. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDang (0-3 m) dengan tuplah tanah terbuka memberikan nilai NPV sebesar Rp 282.597.650,- nilai IRR sebesar 41%, dan PBP selama 4.3 tahun.

4. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDang (0-3 m) dengan tuplah hutan primer memberikan nilai NPV sebesar Rp 89.141.650,- nilai IRR sebesar 9%, dan PBP selama 10.7 tahun.

5. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDal (>3 m) dengan tuplah semak belukar memberikan nilai NPV sebesar Rp 220.570.287,- nilai IRR sebesar 32%, dan PBP selama 5.0 tahun.

6. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDal (>3 m) dengan tuplah hutan sekunder memberikan nilai NPV sebesar Rp 126.040.287,- nilai IRR sebesar 13%, dan PBP selama 8.8 tahun.

7. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDal (>3 m) dengan tuplah tanah terbuka memberikan nilai NPV sebesar Rp 224.858.287,- nilai IRR sebesar 35%, dan PBP selama 4.8 tahun.

8. Usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut LGDal (>3 m) dengan tuplah hutan primer memberikan nilai NPV sebesar Rp 40.320.287,- dengan nilai IRR sebesar 8%, dan PBP selama 11.8 tahun.

Secara ringkas gambaran mengenai kelayakan investasi pengusahaan berwawasan konservasi yang memperhitungkan faktor biodiversity loss dan biodiversity gain pada lahan gambut dari berbagai tutupan lahan berdasarkan kriteria ukuran NPV, IRR dan PBP dapat diilustrasikan melalui Gambar 5.1 dan Gambar 5.2 berikut ini:

(c)

Gambar 5.1 Nilai NPV (a), IRR (b) dan PBP (c) pengusahaan perkebunan kelapa sawit pada kedalam gambut (LGDang 0-3 m) dan berbagai tutupan lahan dengan memperhitungkan bio-loss atau bio-gain

(a) (b)

(c)

Gambar 5.2 Nilai NPV (a), IRR (b) dan PBP (c) pengusahaan perkebunan kelapa sawit pada kedalam gambut (LGDang > 3 m) dan berbagai tutupan lahan dengan memperhitungkan bio-loss atau bio-gain

Secara keseluruhan dari pilihan model alternatif yang ada, maka model terbaiknya adalah apabila pengusahaan perkebunan kelapa sawit dilakukan pada lahan gambut LGDang (0-3 m) dengan tutupan lahan tanah terbuka dengan memperhitungkan biodiversity gain yang secara kelayakan finansial investasinya memberikan keuntungan per hektarnya yang paling besar, ditunjukkan dari nilai NPV sebesar Rp 282.597.650,- IRR sebesar 41%, dan jangka waktu pengembalian modal (PBP) selama 4.3 tahun (Tabel 5.1).

Tabel 5.1 Kelayakan finansial dari model terbaik pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi

Parameter Tuplah Tanah Terbuka Biodiversity Gain (per Ha) (per Ha) Total Biaya (Rp): 339.048.447 - Investasi 27.348.447 - Operasional 311.700.000 Total Pendapatan 744.764.636 3.300.000 NPV (Rp) 282.597.650 IRR (%) 41 PBP (Tahun) 4.3

Profil dan Implikasi

Pengusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Berwawasan Konservasi Sebagaimana dijelaskan sebelumnya (pada bab analisis tutupan lahan dan analisis keanekaragaman hayati), bahwa ketika terjadi perubahan tutupan lahan dari areal berhutan menjadi kebun kelapa sawit, maka diduga terjadi perubahan pada kondisi keanekaragaman hayati yaitu berupa kehilangan potensi biodiversitasnya. Maka kemudian dilakukan pengamatan dan penilaian mengenai sejauh mana kehilangan potensi keanekaragaman hayati (biodiversity loss) yang terjadi pada berbagai tutupan lahan (hutan primer, hutan sekunder, semak belukar). Dalam suatu pengusahaan perkebunan kelapa sawit dengan skema konservasi (berwawasan konservasi), maka potensi biodiversity loss (bio-loss) harus dan wajib dihindari, sebagaimana definisi dan hipotesis pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi yaitu apabila dalam pengusahaannya tidak terjadi kehilangan biodiversitas, atau biodiversity loss (bio- loss) sama dengan nol. Sebagai konsekuensi, maka pengusahaannya harus diarahkan pada tutupan lahan tanah terbuka (dalam penelitian ini merupakan model alternatif terbaik yang dihasilkan), yang dianggap atau diduga tidak banyak memiliki potensi biodiversitas (dalam pengertian tumbuhan dan satwa liar). Namun apabila terjadi konversi atau perubahan tutupan lahan berhutan menjadi kebun kelapa sawit, maka harus mengganti potensi kehilangan biodiversitas (bio- loss) tersebut yang berkonsekuensi pada biaya. Artinya, biaya kehilangan bio-loss tersebut harus turut diperhitungkan sebagai biaya yang harus dikeluarkan dalam analisis finansial pengusahaannya. Disisi lain bagi perkebunan kelapa sawit yang lahannya berasal dari suatu tutupan lahan yang kurang potensinya (terkait tumbuhan dan satwa liar) seperti tutupan lahan tanah terbuka, perubahan menjadi hamparan kebun kelapa sawit dan atau tutupan lahan semak belukar di areal

kebun sawit akan memberikan ekosistem yang baik bagi perkembangan spesies- spesies tertentu dan kondisi ini dianggap sebagai suatu “biodiversity gain”(bio-

gain). Berbeda dengan bio-loss yang menjadi wajib hukumnya dalam

pengusahaan sawit dengan skema konservasi, maka faktor bio-gain bagi pelaku bisnis akan menjadi sukarela sifatnya atau voluntary, artinya dalam pengelolaan kebun kelapa sawit potensi bio-gain merupakan alternatif pilihan bagi pengelola karena perannya (satwa liar predator) sebagai pengganti penggunaan rodentisida (racun tikus) atau pemasangan perangkap dalam pengendalian hama tikus di lingkungan perkebunan.

Dari hasil penelitian ini (lihat pada bab analisis tutupan lahan areal perkebunan kelapa sawit), berdasarkan hasil penafsiran peta citra landsat telah terjadi perubahan tutupan lahan areal berhutan (hutan sekunder) dan semak belukar menjadi kebun kelapa sawit, yang berarti ada potensi biodiversitas yang hilang. Berdasarkan perhitungan, besarnya biaya biodiversity loss yang harus dibayarkan/diganti bila berasal dari hutan sekunder Rp 94.118.000,- dan dari semak belukar Rp 588.000,- per hektar nya. Sebagai perbandingannya apabila berasal dari hutan primer nilai kehilangan yang harus ditanggung sebesar Rp 188.756.000,-. Artinya bagi pengusaha yang akan menginvestasikan modalnya di bisnis kebun kelapa sawit secara bertanggungjawab dan “menghargai” kelestarian ekologis, maka untuk setiap hektar tutupan lahan yang akan dibuka pengusaha diwajibkan membayar sejumlah rupiah tertentu (tergantung tipe tutupan lahan yang dibuka) dan akan diperhitungkan dalam investasinya.

Dari demonstrasi perhitungan analisis finansial kelayakan investasi dalam penelitian ini (dengan pembatasan bahwa pendapatan hanya dihitung dari produksi TBS yang dihasilkan, sedangkan biaya kompensasi biodiversity loss “hanya” diperhitungkan dari satwa liar indikator, terbatas pada primata arboreal yakni orangutan, owa, trenggiling, dan potensi tegakan kayu yang dianggap hilang akibat penebangan dengan harga lokal minimum), memberikan hasil yang positif, artinya pengusahaan dari berbagai tipe tutupan lahan (semak belukar, hutan sekunder, tanah terbuka dan hutan primer) dinilai layak untuk dilaksanakan berdasarkan indikator nilai NPV, IRR dan PBP.

Meskipun dianggap menguntungkan/layak secara finansial pengusahaan dengan skema konservasi pada lahan gambut dari tutupan lahan berhutan (hutan primer dan hutan sekunder), ada pertimbangan-pertimbangan lainnya yang perlu diperhatikan, antara lain bahwa:

1) Pengusahaan kebun sawit pada lahan gambut khususnya dari tutupan lahan hutan primer, bila dilihat nilai NPV (40-89 juta rupiah per ha selama 25 tahun) dengan besaran IRR yang berkisar 8-9% (tidak jauh berbeda atau sedikit berada diatas tingkat suku bunga diskonto yang digunakan 6.5%), namun sebagai pertimbangannya akan lebih baik dan aman apabila uang tersebut disimpan pada bank dengan tingkat suku bunga yang sama (6.5%), atau diinvestasikan pada usaha lain yang lebih cepat mendapatkan hasil dan keuntungan, dibandingkan bila diinvestasikan pada sektor kebun kelapa sawit yang membutuhkan waktu usaha yang panjang (25 tahun) dan jangka waktu pengembalian modal yang relatif cukup lama (PBP) yaitu 11-12 tahun;

2) Bila pengusahaannya dilakukan dari lahan hutan sekunder, nilai NPV-nya berkisar 126-183 juta rupiah per ha dengan besaran IRR nya antara 13-15%

dan PBP nya 8-9 tahun, adalah layak usaha meskipun jauh lebih menguntungkan apabila diusahakan pada lahan semak belukar dan tanah terbuka yang NPV-nya 220-280 juta rupiah per hektar selama 25 tahun, IRR nya 38-41% (jauh dari discount rate 6.5%) dengan waktu pengembalian modal jauh lebih singkat 4-5 tahun;

3) Apabila investor akan tetap berinvestasi pada usaha kelapa sawit yang lahannya berasal dari tuplah hutan primer dan sekunder, perlu mempertimbangkan proporsi biaya investasinya yang harus dikeluarkan, yang apabila dari hutan primer 87% berupa investasi bio-loss (biaya penggantian bio-loss) sementara untuk investasi kebunnya (pengeluaran yang berkaitan langsung dengan operasional kebun) hanya 13%. Bila di hutan sekunder besarnya proporsi tersebut adalah 77% untuk investasi bio-loss dan 33% untuk keperluan investasi kebun.

Memperhatikan hasil perhitungan analisis finansial kelayakan usaha dengan skema konservasi dan beberapa pertimbangan yang disebutkan di atas, maka Profil dari suatu pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi dapat didiskripsikan sebagai berikut:

a) Terkait definisi pengusahaan perkebunan kelapa sawit berwawasan konservasi yang mencantumkan tidak terjadi kehilangan biodiversitas (biodiversity loss sama dengan nol), maka sebagai konsekuensi akan kebutuhan lahannya adalah dengan memanfaatkan tutupan lahan tanah terbuka (tidak dari tutupan lahan berhutan);

b) Jika pada prakteknya terjadi dari tutupan lahan berhutan, maka harus ada perhitungan penggantian/kompensasi terhadap biodiversity loss (sebagai suatu keharusan) dan pemanfaatan dari biodiversity gain (yang sifatnya voluntary) dalam analisis (valuasi) finansial kelayakan investasinya

c) Sebagai suatu bentuk pengusahaan, maka tentu saja usaha tersebut harus menguntungkan. Oleh karena itu kriteria kelayakan investasinya berupa NPV harus bernilai positif, dan besaran IRR nya berada diatas suku bunga diskonto yang berlaku (perbedaan besarannya harus cukup signifikan) serta jangka waktu pengembalian modal (PBP) yang relatif singkat.

Setelah perhitungan investasi yang memasukkan nilai biodiversity loss telah dilakukan dan dianggap layak dengan beberapa pertimbangan tersebut di atas, timbul pertanyaan kemudian tentang kapan dan bagaimana uang atau investasi bio-loss tersebut harus dibayarkan. Banyak muncul ide atau pendapat bagaimana hal ini harus dilakukan, diantaranya yang bisa dikemukakan disini adalah (1) bahwa biaya kompensasi tersebut sudah harus dikeluarkan pada saat pengusaha akan melakukan kegiatan investasi awal. Dalam penelitian ini biaya investasi awal (tahun pertama hingga sebelum tanaman menghasilkan di tahun ke- 3) rata-rata sekitar 28-29 juta rupiah per ha di lahan gambut gambut 0-3 m dan sedikit lebih mahal di gambut >3 m yaitu berkisar 30-32 rupiah juta per ha. Dari beberapa sumber (Pusat Informasi Kelapa Sawit 2013; WSP 2013) menyebutkan angka investasi awal sekitar 30-40 juta rupiah per ha). Jadi angka investasi awal tersebut seharusnya akan ditambah lagi dengan biaya biodiversity loss yang besarnya sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.5. Kompensasi tersebut diwajibkan untuk dibayarkan sejak awal, hal ini dianggap logis sebagai suatu

bentuk “konsekuensi” yang harus dilakukan mengingat hasil perhitungan analisis finansialnya menunjukkan bahwa usaha tersebut menguntungkan. Disamping itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa periode pengembalian modal (Payback Period) dapat dicapai dalam waktu yang cukup singkat dibanding panjang usia pengusahaan (sekitar 4-5 tahun khususnya apabila lahan berasal dari tanah terbuka dan semak belukar), maka adalah menjadi suatu keharusan bagi pengembang untuk segera mengalokasikan biaya kompensasi rupiah dimaksud sejak awal berinvestasi; (2) bahwa kompensasi rupiah tersebut disarankan untuk diarahkan peruntukannya antara lain untuk melakukan konservasi tanah dan air termasuk pengaturan drainase, khususnya pada lahan gambut dimana usaha perkebunan itu dijalankan; merehabilitasi areal-areal kritis; melindungi dan mempertahankan areal berhutan (areal konservasi) yang masih tersisa di dalam perkebunan; mengembangkan, memelihara dan mengelola lintasan satwa/koridor dilingkungan perkebunan seperti daerah sempadan sungai dan areal penghubung dengan areal berhutan diluar perkebunan (riparian buffer zone); hingga melakukan advokasi, kampanye peduli konservasi, dan lain sebagainya.

Disisi lain sebagai pertimbangan (merupakan pilihan yang bersifat voluntary) bagi pengusaha kelapa sawit, adalah bahwa dengan menjalankan skema pengusahaan berwawasan konservasi dapat diperoleh pula biodiversity gain yang dapat diperhitungkan sebagai konsekuensi perubahan tutupan lahan yang diduga tidak berpotensi, dari lahan tanpa vegetasi, lahan terbuka bekas kebakaran, maupan tanah terbuka yang polos atau ditumbuhi alang-alang, berubah menjadi hamparan kebun kelapa sawit. Potensi perubahan tutupan lahan ini dapat memberikan kesempatan berkembangnya satwa predator untuk mengendalikan hama tikus di lingkungan perkebunan. Didalam suatu penelitian di perkebunan sumatera, penggunaan predator burung hantu mampu menurunkan serangan tikus pada tanaman kelapa sawit muda hingga 5%. Disebutkan bahwa tikus merupakan hama yang paling merugikan karena akibat serangan hama tikus dapat mengakibatkan kerusakan buah sawit sekitar 10%. Pemanfaatan peran satwa predator untuk mengendalikan hama tikus, apabila dikembangkan dan dikelola dengan baik, maka akan menghemat biaya operasional pengendalian hama yang biasa dikeluarkan untuk pembelian racun tikus dan pengadaan serta pemasangan perangkap tikus. Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan untuk pengendalian tikus berkisar antara Rp 200.000,- - Rp 300.000,- per hektar. Apabila potensi biodiversitas ini dikelola dengan baik, disatu sisi akan menguntungkan pengelola perkebunan dari sisi penghematan biaya operasional, dan di sisi lain merupakan strategi konservasi yang baik dengan melindungi, meningkatkan populasi dan melestarikan satwa predator, mengingat satwa predator burung hantu merupakan satwa yang dilindungi dan sudah semakin langka keberadaannya karena banyak diburu dan diperjual belikan (harga di pasar lokal Rp 150.000,- per ekor). Sedangkan Ular sawa banyak diburu untuk diambil kulitnya (harga kulit dipasar lokal Rp 100.000,- - Rp 300.000,- per meter panjang).

Pertanyaan berikutnya yang muncul kemudian adalah apa bentuk

penghargaan atau “reward” yang mungkin bisa diperoleh oleh

pebisnis/pengusaha perkebunan kelapa sawit sehingga mau berinvestasi di sektor kebun kelapa sawit dengan mengikuti skema konservasi? Khususnya dengan memanfaatkan lahan tanah terbuka (bukan areal berhutan), sehingga tidak akan ada kehilangan potensi biodiversitas (bio-loss). Terlebih lagi bila perkebunan

mampu memanfaatkan potensi biodiversitas dalam pengelolaan kebunnya (satwa predator untuk pengendalian hama tikus), yang secara tidak langsung berarti turut serta melestarikan jenis-jenis satwa liar yang dilindungi dan mempunyai nilai komersialisasi yang tinggi. Kondisi demikian bisa menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan pemerintah kepada investor dengan mendukung, mendorong, dan

mempromosikan gerakan “konservasi” tersebut. Tentu saja sebagai

konsekuensinya harus ada “reward” yang perlu dipersiapkan antara lain melalui insentif (atau bahkan juga disinsentif) yang bermanfaat bagi pengusaha sehingga mau melakukan investasi perkebunan kelapa sawit dengan skema konservasi. Insentif tersebut misalnya bisa dalam bentuk kemudahan dalam proses perizinan, insentif pajak (tax incentive) atau bahkan seruan atau himbauan kepada para konsumen, yaitu negara pengimport minyak sawit yang pada umumnya cukup menaruh perhatian/kepedulian terhadap kelestarian lingkungan termasuk produk- produk yang ramah lingkungan, agar dapat memberlakukan harga khusus (“premium price”) bagi TBS yang diproduksi dari pengusahaan perkebunan dengan skema konservasi.

Pertanyaannya kemudian adalah, kapan dan kepada siapa hasil model perhitungan pengusahaan perkebunan kelapa sawit dengan skema konservasi, tersebut diberlakukan? Bahwa model perhitungan dengan skema konservasi akan bermanfaat dan dapat diterapkan utamanya bagi perkebunan kebun kelapa sawit yang baru akan dibuka, mengingat masih banyak luasan lahan yang tersedia meskipun status arealnya adalah APL namun memiliki areal berhutan bahkan dengan tutupan lahan hutan primer. Namun demikian, informasi atau kriteria profil yang dihasilkan dari penelitian ini hendaknya juga dapat diterapkan kepada perkebunan kelapa sawit yang lama (sudah operasional) yang asal lahan dulunya bukan dari tutupan lahan tanah terbuka. Disamping itu, khususnya bagi pengusaha/pebisnis, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memilih model alternatif berinvestasi pada sektor kelapa sawit, karena selain menguntungkan dari sisi finansial, juga secara ekologi memberi pesan konservasi yang baik yakni membuka lahan sawit dengan memanfaatkan tanah terbuka/lahan kosong. Bagi pemerintah hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pengembangan perkebunan kelapa sawit, khususnya terkait pemanfaatan lahan yang tidak berasal dari hasil mengkonversi kawasan