BAB IV KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI
4.2 Kelayakan Tim Pelaksana
Undiksha merupakan perguruan tinggi negeri satu-satunya di Bali Utara, memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam mencerdaskan masyarakat, baik masyarakat sekitarnya maupun masyarakat Bali. Dalam bidang pendidikan, di bawah koordinasi LPPM, Undiksha telah banyak melakukan aktivitas-aktivitas pengabdian yang bersinergi dengan Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dalam hal ini peningkatan kompetensi guru. Terkait dengan pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk meningkatkan kompetensi guru, Undiksha memiliki banyak SDM yang memadai, auditorium, dan sarana prasarana untuk menunjang pelaksanaan seminar, workshop pengkajian kurikulum, dan penyusunan perangkat pembelajaran.
Kompetensi tim yang terlibat dalam kegiatan PkM ini memiliki keahlian yang sesuai dengan keberhasilan program yang dirancang. Adapun kualifikasi tim yang terliat, yaitu memiliki jenjang pendidikan S2 dengan latar belakang ilmu pendidikan Matematika, Pendidikan IPA, dan Pendidikan Dasar. Semua tim memiliki pengalaman yang baik dalam hal implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran. Tim pelaksana ini terdiri dari dosen-dosen yang memiliki relevansi ilmu dengan program PkM. Keahlian, pengalaman, dan dukungan dari tim pengusul dapat dijelaskan pada Tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4 Organisasi dan Pengalaman Tim Pelaksana
Nama/Status Keahlian/Pengalaman Dukungan Made Juniantari, S.Pd., Evaluasi Proses dan Hasil Belajar.
Pernah mengikuti workshop Pendidikan Karakter yang diselenggarakan oleh LPPM Undiksha Th. 2015. Telah berhasil melaksanakan penelitian terkait
17 dengan pengembangan bahan ajar
berorientasi pendidikan karakter di perguruan tinggi pada Th. 2016 dan pengabdian kepada masyarakat pada Tahun 2016 yang berkaitan dengan penyusunan instrumen penilaian
keterampilan proses sains pada tahun 2016 dan pengabdian kepada
masyarakat tentang pelatihan penyusunan instrumen penilaian aktivitas belajar berorientasi pendidikan karakter di Gugus I Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan pada tahun 2016.
Dukungan materi tentang kepada masyarakat pada Th. 2016 berkaitan dengan implementasi
18 BAB V
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Pelatihan Pengembangan dan Pengemasan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pendidikan Karakter Bagi Guru di Gugus II Kecamatan Marha” telah terlaksana mulai Tanggal 25 Juli 2017 sampai dengan 9 Agustus 2017 di SD Negeri 3 Petiga Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan. Banyak peserta yang mengikuti pelatihan adalah sebanyak 25 peserta. Kegiatan yang telah terlaksana meliputi kegiatan 1) pelatihan pengembangan dan pengemasan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter yang terdiri dari dua sub kegiatan yaitu pemaparan garis besar mengenai program pendidikan karakter dan pelatihan pengembangan dan pengemasan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter yang diselenggarakan pada Tanggal 25-26 Juli 2017, 2) pendampingan dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas yang diselenggarakan pada Tanggal 9 Agustus 2017.
Pada awal pelaksanaannya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah melalui tahap perancangan kegiatan pelatihan yang meliputi kegiatan sosialisasi dan koordinasi dengan kepada UPTD Kecamatan Marga, Kepala Gugus II Kecamatan Marga, Para Kepala Sekolah di lingkungan Gugus II Kecamatan Marga, penentuan lokasi pelaksanaan, koordinasi dengan narasumber, teknisi, dan merancang modul pelatihan bersama tim pelaksana, penentuan jadwal pelatihan, dan menyiapkan sarana dan prasarana pendukung kegiatan. Semua kegiatan yang dirancang pada tahap perancangan ini melalui koordinasi yang baik dari pihak penyelenggara maupun pihak sekolah mitra. Selain itu, agar pelatihan mampu memberikan kontribusi secara langsung bagi penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan yang guru laksanakan, tim pelaksana menganalisis perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Perangkat Pembelajaran (RPP) dan pedoman penilaian yang guru-guru biasa terapkan. Berdasarkan kajian ini, maka pelaksanaan diharapkan dapat langsung membantu guru dalam membuat perangkat pembelajaran yang lebih baik.
Kemudian, tahap kegiatan pelatihan pengembangan dan pengemasan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter meliputi tahap pemaparan materi tentang garis besar program pendidikan karakter, pelatihan pengembangan dan pengemasan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter, dan kegiatan pendampingan pengimplementasian perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter yang berhasil
19 dibuat. Pada tahap pelaksanaan ini, nara sumber 1, I Made Citra Wibawa, S.Pd., M.Pd., yang merupakan dosen tetap Jurusan Guru Pendidikan Dasar (PGSD) Undiksha, memberikan pemaparan mengenai rancangan RPP yang memuat penilaian kognitif dan penilaian sikap yang sesuai dengan pedoman Kurikulum 2013. Topik materi yang disampaikan oleh narasumber 1 telah sesuai dengan tema pelatihan pengembangan dan pengemasan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter bagi guru SD dan sesuai juga dengan latar belakang pendidikan S3 yang sedang ditempuhnya yaitu program studi Pendidikan Dasar program Pascasarjana Undiksha. Setelah pemaparan materi dari narasumber 1, dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai program pendidikan karakter dan rancangan perangkat pembelajarannya oleh narasumber 2, Made Juniantari, S.Pd., M.Pd., (ketua tim pelaksana) di mana sebelumnya pernah mengikuti pelatihan pendidikan karakter yang diselenggarakan oleh LPPPM Undiksha Tahun 2015, dan selanjutnya materi tentang implementasi lokal genius dalam upaya mendukung program pendidikan karakter yang disampaikan oleh narasumber 2, Ni Putu Sri Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd. (anggota tim pelaksana).
Setelah pemaparan materi, guru-guru diajak untuk menganalisis nilai-nilai karakter yang dapat dibangkitkan dari siswa dan diterapkan berdasarkan mata pelajaran yang diampu dan dilanjutkan dengan menurunkan indikator-indikator nilai karakter tersebut yang selanjutnya akan dijadikan pedoman dalam pengembangkan dan mendesain kegiatan pembelajaran pada perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tagihan Kurikulum 2013 dan sesuai dengan indikator sikap yang diharapkan muncul dalam pembelajaran. Pada pelatihan ini, tim pelaksana kegiatan membantu guru-guru dalam merancang desain pembelajaran yang sesuai dengan harapan pendidikan karakter, dan cara mengevaluasi hasil pembelajaran yang dilaksanakan. Dengan adanya perangkat pembelajaran ini, diharapkan guru-guru dapat melaksanakan pembelajaran berorientasi pendidikan karakter, memaksimalkan peran sikap siswa dalam belajar yang menunjang keberhasilan belajar, dan memberikan tindak lanjut yang tepat mengenai aspek nilai karakter yang perlu dibina untuk siswanya sehingga pembinaan lebih terarah dan bermuara pada optimalnya hasil belajar yang dicapai siswa dalam belajar.
Setelah membantu guru dalam mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter, selanjutnya kegiatan yang terlaksana adalah kegiatan pendampingan dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter dalam pembelajaran. Pada tahap ini sebelum pelaksanaannya di kelas, perangkat pembelajaran yang telah disusun didiskusikan terlebih dahulu untuk memastikan dapat digunakan secara praktis dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, kegiatan
20 pendampingan juga bertujuan agar guru-guru dapat secara riil merasakan manfaat program pelatihan yang telah diberikan. Dengan adanya pendampingan guru-guru diharapkan mulai terbiasa melakukan pembelajaran berorientasi pendidikan karakter untuk memaksimalkan peran sikap belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran secara terarah dan optimal.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter dapat dikatakan telah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari semua peserta pelatihan sejumlah 25 orang dapat mengikuti kegiatan pelatihan sesuai jadwal kegiatan yang diberikan. Data hasil analisis angket respons guru terhadap kegiatan pelatihan juga menunjukkan respons guru terhadap kegiatan pelatihan sangat positif. Data respons guru terhadap kegiatan pelatihan dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut.
Tabel 5.1 Data Respons Guru Terhadap Kegiatan Pelatihan
No. Pernyataan Respons
SS S R TS STS
1 Materi pelatihan yang diberikan sangat menarik. 19 6 0 0 0 2 Kegiatan pelatihan yang diberikan tidak efektif dari
segi waktu dan biaya.
0 0 0 20 5
3 Materi pelatihan yang diberikan sangat mendukung pembelajaran di kelas.
23 2 0 0 0
4 Materi pelatihan yang diberikan sulit dipahami. 0 0 1 22 2 5 Kegiatan pelatihan dilakukan dengan metode yang
tepat dan menyenangkan.
20 5 0 0 0
6 Materi pelatihan yang diberikan sangat kurang relevan untuk diterapkan.
0 0 0 9 16
7 Manfaat pelatihan tidak berdampak bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
0 0 0 17 8
8 Kegiatan pelatihan mampu memberikan inovasi dalam bidang pembelajaran yang lebih baik.
21 4 0 0 0
9 Materi pelatihan mudah untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas.
8 16 1 0 0
10 Kegiatan pelatihan yang sejenis diharapkan dapat dilakukan kembali.
22 3 0 0 0
Berdasarkan Tabel 5.1, rata-rata skor angket respons guru terhadap kegiatan pelatihan adalah sebesar 45,48 dari skor maksimum 50 atau sebesar 90,96%. Jumlah guru yang berhasil menyusun perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter adalah sebanyak 21 orang dari total 25 guru atau sebesar 84% guru berhasil menyusun perangkat pembelajaran.
Berdasarkan hasil yang telah dicapai oleh guru dalam kegiatan pelatihan, dapat dikatakan bahwa secara umum guru di Gugus II Kecamatan Marga telah memahami program pendidikan karakter, mampu mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran berorientasi
21 pendidikan karakter, serta menggunakan perangkat pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter memiliki tujuan untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan mendayagunakan fisik dan psikis, baik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat maupun pembentukan sikap secara terpadu untuk mencapai hasil belajar yang baik. perangkat pembelajaran yang meliputi komponen silabus, RPP, dan LKS akan mampu membantu guru dalam mengelola pembelajaran secara terpadu dengan memberdayakan nilai-nilai karakter yang telah ada dalam diri siswa. Silabus yang disusun oleh guru peserta pelatihan mampu memberikan pedoman bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual berdasarkan karakteristik materi dan nilai karakter yang sesuai dengan tingkatan proses berpikir siswa.
Silabus yang telah mengacu pada program pendidikan karakter merupakan penjabaran dari kurikulum dan atau pengembangan dari pemetaan kurikulum yang sesuai dengan harapan program pendidikan karakter dan berisi garis-garis besar materi pembelajaran.
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Sesuai dengan harapan pendidikan karakter, RPP yang diharapkan tersebut selanjutnya dirancang agar mampu membangkitkan karakter siswa melalui proses pengelolaan pembelajaran yang terarah.
Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP juga akan mampu terlaksana dengan optimal apabila didukung oleh media pembelajaran yang tepat bagi siswa, salah satunya LKS.
LKS adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. LKS biasanya berupa petunjuk langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Tujuan dibuatnya LKS untuk mendukung pembelajaran berorientasi pendidikan karakter adalah: 1) untuk mengaktifkan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran sesuai dengan nilai karakter yang diarahkan; 2) membantu siswa mengembangkan konsep; 3) melatih siswa menemukan dan mengembangkan keterampilan proses; 4) sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran; 5) membantu siswa dalam memperoleh informasi tentang konsep yang dipelajari melalui proses kegiatan pembelajaran secara sistematis; 6) membantu siswa dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari melalui kegiatan pembelajaran.
22 Dengan adanya LKS siswa akan mampu termotivasi dalam belajar dan mampu berperan sebagai subjek belajar yang baik sesuai harapan program pendidikan karakter.
Selain Silabus, RPP, dan LKS, instrumen penilaian berorientasi pendidikan karakter juga sangat penting bagi guru untuk mengukur sejauh mana pembelajaran yang dilaksanakan telah berhasil mendukung program pendidikan karakter. Salah satu instrumen penilaian yang tepat adalah instrumen penilaian aktivitas belajar berorientasi pendidikan karakter. Aktivitas belajar adalah seluruh kegiatan yang mendayagunakan fisik dan psikis, baik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat maupun pembentukan sikap secara terpadu untuk mencapai hasil belajar yang baik. Aktivitas belajar siswa hanya akan dapat diamati ketika siswa melakukan pembelajaran.
Secara umum lembar observasi yang dikembangkan didesain agar praktis dan efektif digunakan untuk mengukur aktivitas belajar siswa sekolah dasar dan berorientasi pendidikan karakter. Bentuk akhir lembar observasi yang telah disusun terdiri dari tiga bagian yaitu: 1) petunjuk penggunaan; 2) tabel pengamatan; dan 3) tabel deskriptor. Petunjuk penggunaan akan memudahkan guru dalam memahami penggunaan instrumen. Tabel pengamatan yang terdiri dari kolom nama siswa dan kolom nilai akan memudahkan guru dalam memberikan penilaian terhadap masing-masing siswa. Sedangkan tabel deskriptor akan memudahkan guru untuk mempelajari deksriptor pengamatan. Pemilihan jenis-jenis deskriptor erat kaitannya dengan pemilihan nilai karakter yang diharapkan muncul dalam pembelajaran. Pemilihan nilai-nilai karakter ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik perkembangan siswa sekolah dasar, karakteristik materi, dan masalah urgensi berkaitan dengan sikap belajar siswa yang diharapkan dapat diperbaiki.
Pembelajaran yang dilengkapi dengan instrumen penilaian aktivitas yang tepat dapat membantu guru untuk mengevaluasi secara lebih baik kualitas pembelajaran yang dirancangnya. Skor pengamatan aktivitas yang diperoleh guru melalui instrumen yang telah dirancang dapat dijadikan acuan mengenai tindak lanjut penanganan terhadap sikap belajar siswa. Melalui pengamatan yang baik, guru dapat mendesain pembelajaran yang lebih inovatif dan mampu membangkitkan nilai-nilai karakter siswa. Pentingnya mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter sangat dirasakan oleh guru di lingkungan Gugus II Kecamatan Marga. Hal ini terlihat dari antusias guru dalam mengikuti kegiatan pelatihan sebesar 100%, sebesar 90,96% guru peserta pelatihan memberikan respons positif terhadap kegiatan pelatihan, dan sebesar 84% guru telah berhasil mengemas perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter.
23 Dalam pembentukan karakter, nilai-nilai karakter dalam konteks sekolah harus ditanamkan secara konsisten meliputi tiga aspek yaitu: kurikulum, guru sebagai pelaksana pembelajaran, dan dukungan semua pihak baik sekolah, orang tua, dan masyarakat (Kurniawan, 2015). Pengintegrasian pendidikan karakter dalam konteks kurikulum haruslah dimulai dari komponen silabus, RPP, LKS, dan instrumen penilaian pembelajaran yang menyeluruh. Guru juga memegang peran penting dalam pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran di mana guru harus mampu memilih model pembelajaran active learning yang tepat untuk mendukung terintegrasinya nilai-nilai karakter yang ditanamkan. Pendidikan karakter juga memerlukan kerja sama antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakat dalam hal konsistensi penanaman nilai-nilai karakter.
Meskipun pelatihan secara umum dapat dikatakan berhasil mengatasi permasalahan yang dihadapi guru di Gugus II Kecamatan Marga, namun dari hasil yang diperoleh, beberapa guru di Gugus II Kecamatan Marga masih memerlukan pembinaan lebih lanjut. Hal ini disebabkan karena sebesar 26% guru masih belum berhasil mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran belajar berorientasi pendidikan karakter karena kendala dalam menentukan indikator dari nilai-nilai karakter yang diharapkan muncul.
24 BAB VI
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA
Meskipun kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Pelatihan Pengembangan dan Pengemasan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Pendidikan Karakter Bagi Guru di Gugus II Kecamatan Marga” telah terlaksana dengan baik yang meliputi tahapan pemaparan materi tentang garis besar program pendidikan karakter, pelatihan pengembangan dan pengemasan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter, dan pendampingan dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter dalam pembelajaran di kelas, namun tim pelaksana selanjutnya akan tetap melaksanakan kegiatan pendampingan secara berkelanjutan dan membantu guru-guru dalam mengembangkan, mengemas, dan mengimplementasikan perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter. Hal ini dilakukan mengingat salah satu prinsip keberhasilan kegiatan ini adalah prinsip keberlanjutan, karena jika kegiatan dapat dilakukan secara terus-menerus maka hasilnya akan optimal dalam meningkatkan kompetensi pedagogi guru sekolah dasar di Gugus II Kecamatan Marga.
25 BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan bagi guru di Gugus II Kecamatan Marga telah mampu meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter. Hal ini dapat dilihat dari data persentase kehadiran guru peserta pelatihan sebesar 100%, respons positif guru terhadap kegiatan pelatihan sebesar 90,96%, dan 84% dari total guru telah berhasil mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran berorientasi pendidikan karakter. Guru juga telah berhasil mengimplementasikan perangkat pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran di kelas sehingga secara langsung dapat memperbaiki kualitas pembelajaran sesuai harapan program pendidikan karakter. Proses dan hasil pengabdian kepada masyarakat ini dapat dijadikan acuan dalam kegiatan pelatihan sejenis untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengimplementasikan program pendidikan karakter. Hasil kegiatan ini masih perlu ditindaklanjuti dalam bentuk pendampingan secara kontinu sehingga mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
7.2 Saran
Tingkat partisipasi dan antusiasme peserta pelatihan dalam program pengabdian kepada masyarakat ini sangat tinggi. Hal ini dapat dijadikan acuan dalam kegiatan pelatihan berikutnya di Gugus II Kecamatan Marga. Dukungan dari berbagai pihak yang meliputi kepala UPTD, Ketua Gugus, Kepala Sekolah, dan guru-guru sangat baik sehingga sangat perlu untuk dipertahankan agar dapat terlaksananya kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat membantu guru-guru dalam meningkatkan kompetensi pedagoginya.
26 DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2010. Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025. Jakarta: Kemdikbud.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013.
Jakarta: Kemendikbud.
Kementerian Pendidikan Nasional. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Jakarta:
Kemendiknas.
Ratumanan, Tanwey Gerson. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press.
Sagala, S. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Subarinah, S. 2011. Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika SD yang bernuansa PAKEM menggunakan Kompermatik (Kotak Permainan Matematika Realistik.Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika. Yogyakata.
Sudrajat, A. Why Chaacte Education?. Jurrnal Pendidikan Karakter. Vol, 1 No. 1, 47-58.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
27
LAMPIRAN
28 Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan
Foto 1. Registrasi Peserta
Foto 2. Sambutan Ketua Pelaksana, Pengawas UPP Kec. Marga, dan Ketua Pusat PkM Undiksha
29 Foto 3. Pemaparan Materi Narasumber 1
Foto 4. Pemaparan Materi Narasumber 2
30 Foto 5. Pemaparan Materi Narasumber 3
Foto 6. Pendampingan di SD Negeri 3 Petiga
31 Lampiran 2. Modul Pelatihan
MODUL
PELATIHAN PENGEMBANGAN DAN PENGEMASAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERORIENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BAGI GURU DI
GUGUS II KECAMATAN MARGA
Oleh:
Made Juniantari, S.Pd.,M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Matematika, Undiksha Ni Putu Sri Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi, Undiksha
Ni Ketut Desia Tristiantari, S.Pd., M.Pd. Dosen Jurusan PGSD, Undiksha
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
JULI, 2017
32 I. PENDAHULUAN
Dewasa ini makin disadari pentingnya pendidikan karakter sebagai upaya mengantisipasi dampak negatif kemajuan teknologi dan informasi. Perkembangan zaman yang memasuki abad teknologi dan informasi memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan moral masyarakat, baik dampak positif maupun negatif. Dalam beberapa tahun terakhir, dampak negatif dari perkembangan zaman tersebut mulai dirasakan menjangkiti masyarakat di Indonesia seperti: pola hidup konsumtif, korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, dan kehidupan politik yang tidak produktif (Mendiknas, 2010).
Memperhatikan situasi dan kondisi karakter bangsa yang memprihatinkan tersebut, pemerintah mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa.
Pembangunan karakter bangsa seharusnya menjadi arus utama pembangunan nasional. Artinya, setiap upaya pembangunan harus selalu dipikirkan keterkaitan dan dampaknya terhadap pengembangan karakter. Hal itu tercermin dari misi pembangunan nasional yang menempatkan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007), yaitu terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi ipteks. Untuk menghadapi situasi demikian, dunia pendidikan diharapkan mampu menyesuaikan kurikulum sehingga adaptif dengan perkembangan zaman. Lembaga-lembaga pendidikan memegang peranan utama dalam mencegah dampak negatif yang ditimbulkan dari perkembangan teknologi dan informasi tersebut, dengan mengupayakan pembentukan generasi yang cerdas secara intelektual dan memiliki karakter yang baik sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa (Parwati, 2013).
Dalam rangka mengupayakan pembentukan generasi yang cerdas intelektual dan memiliki karakter yang baik, pengintegrasian pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan di kelas wajib dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini mutlak diperlukan mengingat sebagian besar waktu yang dihabiskan oleh peserta didik adalah dengan mengikuti pembelajaran di kelas. Dengan demikian proses pembelajaran yang berorientasi pendidikan karakter merupakan hal penting yang harus diupayakan oleh guru untuk
33 membentuk karakter positif dalam diri peserta didik. Pembentukan karakter melalui pembelajaran tersebut harus dilakukan mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sehingga karakter-karakter positif tersebut dapat terbentuk dan tertanam dengan kuat dalam diri peserta didik.
Untuk melihat sejauh mana pembelajaran berdampak bagi kemajuan kognitif dan sikap positif peserta didik, hasil belajar tidaklah hanya dapat dilihat dari penilaian tes dalam ranah kognitif saja. Penilaian hasil pembelajaran haruslah meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik agar pembelajaran berlangsung bermakna bagi peserta didik. Meskipun demikian, fakta di lapangan menunjukkan ranah afektif dan psikomotorik masih kurang diperhatikan. Ini terlihat dari kecenderungan guru hanya memberikan penilaian siswa yang hanya berdasarkan nilai tes siswa dalam ujian yang dilaksanakan. Kurangnya penilaian dan perhatian terhadap ranah afektif dan psikomotorik siswa mengakibatkan siswa cenderung memiliki anggapan nilai ujian tinggi merupakan tujuan utama dalam pembelajaran sehingga mengabaikan tujuan dari pembelajaran sesungguhnya. Kecenderungan ini tentunya
Untuk melihat sejauh mana pembelajaran berdampak bagi kemajuan kognitif dan sikap positif peserta didik, hasil belajar tidaklah hanya dapat dilihat dari penilaian tes dalam ranah kognitif saja. Penilaian hasil pembelajaran haruslah meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik agar pembelajaran berlangsung bermakna bagi peserta didik. Meskipun demikian, fakta di lapangan menunjukkan ranah afektif dan psikomotorik masih kurang diperhatikan. Ini terlihat dari kecenderungan guru hanya memberikan penilaian siswa yang hanya berdasarkan nilai tes siswa dalam ujian yang dilaksanakan. Kurangnya penilaian dan perhatian terhadap ranah afektif dan psikomotorik siswa mengakibatkan siswa cenderung memiliki anggapan nilai ujian tinggi merupakan tujuan utama dalam pembelajaran sehingga mengabaikan tujuan dari pembelajaran sesungguhnya. Kecenderungan ini tentunya