II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kelayakan Usaha
Prospek pengembangan bisnis dapat dilihat melalui analisis kelayakan usaha dari pendirian usaha tersebut dan hal ini diperlukan dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi selanjutnya. Studi kelayakan bisnis merupakan kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha/proyek (Ibrahim, 2003). Studi kelayakan usaha bertujuan untuk memberikan gambaran kepada pihak yang
terkait dengan usaha tersebut misalnya investor, kreditur dan pemerintah. Pendirian dan pengembangan usaha layak dilaksanakan ditinjau dari beberapa aspek antara lain aspek organisasi, aspek pemasaran, aspek teknik/operasi dan aspek keuangan (Zubir, 2006).
Proyek merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menggunakan sejumlah sumberdaya untuk memperoleh manfaat. Analisis proyek dilakukan untuk mangambil keputusan dalam menentukan pemilihan investasi yang tepat dari berbagai alternatif yang dapat dilaksanakan (Pramudya, 2011). Kegiatan ini membutuhkan biaya yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu tertentu.
Hal pertama yang dikaji berkaitan dengan analisis kelayakan usaha meliputi biaya bangunan fisik, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan proyek (Zubir, 2006). Pembangunan sarana dan prasarana tersebut meliputi:
a. Pembelian tanah (termasuk biaya pematang tanah, pembuatan saluran air, lapangan parkir, tanaman dan pemagaran).
b. Biaya pembangunan (pabrik, kantor, gudang, mess karyawan, pos satpam dan bangunan penunjang lainnya).
c. Biaya pembelian mesin-mesin dan pemasangannya (termasuk biaya tenaga ahli yang digunakan).
d. Biaya instalasi listrik, air dan sebagainya. e. Biaya pembelian kendaraan.
f. Biaya pembelian peralatan kantor, perabot dan lain lain.
Menurut Ibrahim (2003), faktor-faktor yang perlu dinilai dalam menyusun studi kelayakan bisnis menyangkut beberapa aspek, yaitu :
a. Aspek pasar dan pemasaran meliputi perkiraan peluang pasar, perkembangan pasar, penetapan harga dan langkah kebijakan pendukung.
b. Aspek teknik dan teknologi meliputi lokasi usaha/proyek yang direncanakan, sumber bahan baku, jenis teknologi yang digunakan, kapasitas produksi, jenis dan jumlah investasi yang diperlukan.
c. Aspek organisasi dan manajemen meliputi bentuk organisasi dan jumlah tenaga kerja dengan keahlian yang diperlukan.
d. Aspek ekonomi dan keuangan meliputi perkiraan biaya investasi, perkiraan biaya operasi dan pemeliharaan, kebutuhan modal kerja, sumber pembiayaan, perkiraan pendapatan, perhitungan kriteria investasi, break even point, pay back period, proyeksi laba/rugi, proyeksi aliran kas, dan dampak proyek terhadap perekonomian masyarakat.
Modal kerja sangat dibutuhkan dalam memulai usaha guna menjalankan kegiatan operasional perusahaan. Modal kerja adalah dana yang dibutuhkan untuk operasional perusahaan sehari-hari yang meliputi kebutuhan dana yang tertanam dalam harta lancar dalam bentuk piutang usaha, persediaan bahan baku, bahan dalam proses, barang jadi dan bahan penunjang (termasuk bahan bakar), serta sejumlah kas minimum yang dibutuhkan untuk dana cadangan (Zubir, 2006).
Perhitungan kelayakan usaha yang paling utama didasarkan pada kriteria Net Present Value (NPV). Inti dari konsep NPV adalah nilai bersih dari arus kas masuk dan keluar yang dihitung pada saat ini atau periode nol. NPV dapat dikatakan dapat menunjukkan keuntungan yang akan diperoleh selama umur investasi (Zubir, 2006). NPV merupakan nilai selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang (Husnan dan Suwarsono, 2005). Menurut Pramudya (2011), NPV merupakan perbedaan antara nilai sekarang (present value) dari manfaat dan biaya. Jika NPV bernilai positif (NPV > 0), maka proyek layak untuk dilaksanakan dan sebaliknya jika NPV bernilai negatif (NPV < 0), maka usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan.
Kriteria lain yang digunakan untuk menilai kelayakan usaha adalah Internal rate of Return (IRR) dan Payback Period (PBP). Analisis IRR akan mencari pada tingkat bunga berapa akan dihasilkan NPV sama dengan nol, sedangkan PBP menghitung kapan atau berapa lama NPV akan menjadi nol (Zubir, 2006). Jika biaya modal (discount rate) suatu usaha lebih besar dari IRR, maka NPV menjadi negatif sehingga usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan dan sebaliknya.
Presentase keuntungan yang diperoleh atau investasi bersih dari suatu proyek atau tingkat diskonto yang dapat membuat arus penerimaan bersih sekarang atau investasi (NPV) sama dengan nol disebut IRR. Jika nilai IRR lebih
besar dari tingkat diskonto, maka proyek layak untuk dilaksanakan. Sedangkan jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat diskonto, maka proek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan (Gray, 1992).
Break even Point (BEP) merupakan suatu gambaran kondisi penjualan produk yang harus dicapai untuk melampaui titik impas. Proyek dikatakan impas jika jumlah hasil penjualan produknya pada periode tertentu sama dengan jumlah biaya yang ditanggung sehingga proyek tersebut tidak menderita kerugian tetapi juga tidak memperoleh laba. Jika hasil penjualan produk tidak dapat melampaui titik ini, maka proyek yang bersangkutan tidak dapat memberikan laba (Sutojo, 1993).
Penilaian prestasi dan kondisi keuangan suatu perusahaan, seorang analisis keuangan memerlukan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran yang seringkali digunakan adalah risiko yang menunjukkan hubungan antara dua data keuangan. Analisis dan penafsiran sebagai rasio akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap prestasi dan kondisi keuangan dari pada analisis terhadap data keuangan saja (Husnan dan Enny, 1995).
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Istilah profitabilitas merujuk pada beberapa indicator, atau rasio yang berbeda-beda yang biasa digunakan untuk menentukan profitabilitas dan prestasi kerja perusahaan (Downey dan Erickson, 1989). Penilaian profitabilitas merupakan ukuran kemampuan perusahaan perorangan atau badan untuk menghasilkan laba dengan memperhatikan modal yang digunakan. Dalam rencana pembangunan perusahaan, analisis ini sangat penting karena profitabilitas mengambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya. Maka sebagai dasar penilaian perusahaan, penilaian profitabilitas sangat penting (Harmaizar, 2006)
Rasio profitabilitas dapat mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan, asset maupun laba bagi modal sendiri. Semakin tinggi profitabilitas berarti semakin baik, tetapi profitabilitas (profit margin) sangat dipengaruhi oleh harga pokok penjualan (Sartono, 1997).
Zelvina (2009) meneliti mengenai pendapatan usaha pembenihan dan pemasaran benih ikan patin di Desa Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa benih patin yang dihasilkan sebesar 224.000 ekor dan harga benih patin per ekor Rp80,- sehingga penerimaan usaha setiap siklusnya Rp17.920.000. Biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp14.178.767, sehingga memberikan tingkat pendapatan sebesar Rp3.760.900 per siklus, R/C rasio 1,26.
Sedangkan menurut hasil penelitian Hasanudin (2011) mengenai efisiensi teknis dan pendapatan usahatani pembenihan ikan Patin Di Kota Metro Lampung menunjukkan bahwa rataan hasil sebesar 71.875 ekor dan harga benih per ekor Rp.150,- dengan penerimaan usaha setiap siklusnya Rp.10.781.250,-. Biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp.3.246.690,-, sehingga memberikan tingkat pendapatan sebesar Rp.7.534.560,- per siklus, dengan nilai R/C ratio 3,32. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan input-input, penerimaan, pengeluaran dan pendapatan usahatani yang dapat menjadi acuan dalam membandingkan antara pembenihan ikan patin di Bogor dan Kota Metro.