• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelebihan dan Kekurangan Model Lelang dan Model Swakelola

“SWAKELOLA” DALAM KELEMBAGAAN IRIGASI DI

7.6 Kelebihan dan Kekurangan Model Lelang dan Model Swakelola

Seperti telah dibahas di awal bahwa sistem kontrak merupakan dasar dari model lelang dan model swakelola dalam pengelolaan irigasi pada tingkat petani. Sistem kontrak ini dapat bersifat tertulis maupun tidak tertulis. Pada awal sistem ini dimulai (sekitar tahun 1980an) kontrak tertulis bersifat sederhana, namun sekarang kontrak tersebut sudah menjadi bentuk tertulis lengkap dengan legitimasi dari pihak berwenang.

Adanya pergeseran dari model swakelola ke model lelang meng-indikasikan adanya keinginan masyarakat petani untuk mencari model terbaik dalam pengelolaan air irigasi. Adanya keinginan mendapatkan dana investasi yang lebih besar (yang dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur usahatani) mengindikasikan bahwa model lelang direspon secara positif oleh petani. Namun demikian, ada kekahwatiran pada sebagian pihak petani bahwa

“jika pengelolaan air irigasi (P3A) dikelola oleh sekelompok orang yang hanya berdasarkan ketersediaan dana (pemenang lelang) dan terkadang bukan petani,

112 Kelembagaan Irigasi

dimungkinkan pengelolaan air irigasi menjadi kurang optimal, karena model ini akan menyebabbkan hilangnya rasa bekerjasama antara petani dan P3A” .

Beberapa petani lain juga berpendapat:

“Pembangunan infrastruktur yang diserahkan kepada panita pembangunan dapat menyebabkan kurang sesuainya model bangunan yang diinginkan petani. Hal ini berbeda jika pembangunan dilakukan oleh petani dan P3A sendiri, akan lebih mudah menyesuaikan keinginan petani”

Meskipun demikian beberapa petani berpendapat tentang kelebihan sistem lelang diantaranya adalah:

“Hasil lelang dapat digunakan untuk membangun infrastruktur yang membutuh-kan dana besar. Dana dari model swakelola yang dikumpulmembutuh-kan dari swakelola hanya sedikit karena hanya dikumpulkan tiap musim dan terkadang tidak dapat terkumpul.

Karenanya model lelang lebih baik dibandingkan dengan model swakelola”

Beberapa petikan di atas mengilustrasikan bahwa kedua model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu, kedua sistem tersebut masih mencari bentuk terbaiknya yang dapat diamati dari waktu ke waktu.

7.7 Penutup

Model kelembagaan pengelolaan air irigasi di Daerah Irigasi Klambu Wilalung mengalami perubahan dari waktu ke waktu dalam 40 dekade terakhir. Sebelum tahun 1980 petani mengaplikasikan model ulu-ulu, selanjutnya dari tahun 1980-1990 petani mengaplikasikan model dharma tirta (yang merupakan embrio model swakelola). Dari tahun 1990 – sekarang petani mengaplikasikan model P3A-swakelola. Selanjutnya model lelang yang mulai dipraktekkan tahun 2005 merupakan transformasi kelembagaan pengelolaan irigasi dari model swakelola. Namun demikian tidak semua P3A mempraktekkan model lelang ini.

Kedua model tersebut memiliki basis yang sama yaitu sistem kontrak yang dibuat antara petani dan pengelola P3A. Sistem kontrak dibuat untuk memastikan masing-masing pelaku (petani dan pengelola P3A) bekerja

Model “Lelang” dan Model “Swakelola” dalam Kelembagaan … 113

sesuai yang tertera dalam kontrak. Setelah kontrak dibuat, apakah ada jaminan masing-masing pelaku bekerja sesuai dengan kontrak tersebut. Di sini ranah ekonomi kelembagaan baru berada. Bagaimana cara mengontrol sistem kontrak tersebut. Dalam kondisi keterbatasan sumber pendanaan untuk pengelolaan irigasi, jaminan pelaksanaan kontrak menjadi penting.

Petani akan memilih model yang menjalan kontrak dengan baik.

Istilah Penting Sistem kontrak Model lelang Model swakelola Ulu-ulu

Dharma tirta

Perkumpulan petani pemakai air (P3A) Daerah hulu (Upstream area)

Daerah hilir (downstream area) Referensi

Ambler, J.S. 1991. Irigasi di Indonesia: Dinamika Kelembagaan Petani. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, LP3ES, Jakarta.

Booth, A., 1977. Irrigation in Indonesia Part I, Bulletin of Indonesian Economic Studies. Volume 13, Issue 1. Australian National University. Australia.

Duewel, J. 1984. Central Java`s Dharma Tirta WUA Model: Peasant Irrigation Organization Under Condition of Population Pressure, Agricultural Administration (17) 261-285.

Funnel, D.C. 1994. Intervention and Indigeneus management. Land uses policy. 11, 45-54.

Mori, Y., 2014, Irrigation water management based on Lelang System: Case Study in Bendung Wilalung Induk 6, Master Thesis. Hokkaido University. Japan.

114 Kelembagaan Irigasi

Mori, Y., Rondhi, M., Kondo T., 2015, Supplying Irrigation Water based on Private Incentive: A Case Study of a WUA in Central Java. The paper presented in 15th study conference of Farm Management Society of Japan.

September 2015.

Norton, R.D., 2004. Agricultural Development Policy: Concept and Experiences.

John Wiley & Sons, Ltd. West Susex.

Rondhi M., Mori, Y., Kondo, T. 2015. Sistem Lelang dan Sistem Swakelola dalam Manajemen Irigasi pada Tingkat Tersier. Jurnal Agroteknologi, Vol. 9 No.2 halaman 174-183.

Rondhi M., Mori, Y., Kondo, T., 2016, Institutional Change of Its Effect to Water Usagae Association Performance in Irrigation Water Management, The paper presented at international conference, Agribusiness Development for Human Welafare. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 14-15 Mei 2016.

Rondhi M., Mori, Y., Kondo, T., 2016. Institutional Arrangement of Irrigation Water Management in Rural Area: Case Study of a WUA in Central Java, Indonesia. The paper presented in International Conference:

Strengthening Indonesian Agribusiness: Rural Development and Global Market Linkages: IPB Convention Center. 25-26 April 2016

Rondhi, M. Y. Mori, T. Kondo., 2017, Diffusion of “Lelang System” and Farmer Choice on Irrigation Water Management Model, Proceeding of The International Conference on Food Sovereignty and Sustainable Agriculture, page 361-366.

-oo0oo-

GLOSARIUM

Adverse selection merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan adanya upaya untuk mennyembunyikan informasi kepada pihak lain dengan tujuan tertentu.

Biaya informasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan informasi.

Biaya monitoring adalah biaya yang dikeluarkan untuk memastikan tujuan yang diharapkan sesuai dengan keinginan (kesepakatam).

Biaya negosisasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan tujuan yang ingin dituju.

Biaya transaksi adalah biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan (memastikan) sesuatu sesuai tujuan.

Daerah hilir merupakan daerah irigasi pada bagian yang jauh dengan sumber air.

Daerah hulu merupakan daerah irigasi pada bagian yang dekat dengan sumber air.

Daerah irigasi adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan irigasi (mendapatkan air dari intake yang sama).

Dharma tirta adalah model pengelolaan irigasi di Jawa Tengah.

136 Kelembagaan Irigasi

Ekonomi bermoral adalh istilah yang digunakan untuk menjelaskan model ekonomi yang menekankan pada pembagian yang lebih merata antar pelaku usaha.

Ekonomi kelembagaan baru merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang bagaimana pengaturan sesuatu.

fixed payment merupakan model pembayaran air irigasi berdasarkan besaran yang tetap.

Insentif merupakan rangsangan (dorongan) yang diberikan satu pihak kepada pihak lain untuk melakukan sesuatu sesuai kesepakatan.

Model prinsipel-agen: adalah model yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antar dua pihak di mana pihak pertama mendelegasikan tugasnya kepada pihak kedua.

Model Swakelola adalah model pengelolaan irigasi di mana penentuan pengelola irigasi didasarkan pada musyawarah mufakat (tidak menggunakan model lelang).

Moral hazard adalah istilah untuk menjelaskan adanya tindakan menyimpang dari ikatan yang telah disepakati.

Moro adalah istilah untuk menjelaskan pembagian hasil suatu usahatani.

one-sided prisoner dilemma adalah dilemma yang dialami oleh pelaku (pihak I) yang menjalin hubungan dengan pihak lain (pihak II), akan tetapi pihak lain tidak melakukan seperti yang diinginkan pihak I.

Perkumpulan petani pemakai air (P3A) merupakan istilah generik (umum) yang digunakan untuk menyebut pengelola air irigasi.

prisoner dilemma merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mengammbarkan dilemma (masalah) yang dialami oleh seseorang (diibaratkan tawanan) dengan pilihan-pilihan yang ada (cenderung sulit).

Private information adalah adalah istilah dalam menjelaskan informasi yang hanya dimiliki oleh pemilik informasi.

Glosarium 137

Sharing output merupakan model pembayaran air irigasi berdasarkan besaran yang tergantung pada besarnya output usahatani.

Sistem Irigasi merupakan istilah kesatuan sistem (tata cara) pengelolaan irigasi yang meliputi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi, dan sumber daya manusia.

Sistem kontrak adalah sebuah sistem dalam pengelolaan irigasi di man terdapat paling tidak dua pihak yang beerjasama, di mana pihak pertama sebagai pemberi mandate, dan pihak lainnya yang diberikan mandat dengan sistem tertentu.

Sistem lelang merupakan sebuah sistem dalam pengelolaan irigasi di mana dalam penentuan pengelolaan irigasi detneukan secara lelang.

Subak adalah sistem irigasi yang dijalankan oleh sebagian besar pengelolaan irigasi di Bali.

Teori collective action merupakan teori sosial untuk menggambarkan perilaku orang dalam suatu kelompok pada barang sumberdaya bersama.

Ulu-ulu adalah seseorang yang bertanggungjawab dalam mengatur air irigasi dalam jaringan tersier (petak petani).

Utilitas adalah tingkat kepuasan yang dialami oleh pelaku dalam berhubungan dengan pihak lain.

-oo0oo-

138 Kelembagaan Irigasi

Dokumen terkait