• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah dan Evolusi Model Swakelola dan Model Lelang Model lelang adalah salah satu bentuk model kontrak dalam

“SWAKELOLA” DALAM KELEMBAGAAN IRIGASI DI

7.3 Sejarah dan Evolusi Model Swakelola dan Model Lelang Model lelang adalah salah satu bentuk model kontrak dalam

pengelolaan air irigasi (barang sumberdaya bersama). Model ini hadir dari perjalanan “evolusi” panjang pengelolaan air irigasi yang berusaha mencari bentuk terbaiknya dari waktu ke waktu. Hal ini dapat diartikan bahwa model yang diaplikasikan pada waktu tertentu bisa jadi model terbaik pada waktu tersebut. Namun karena pergeseran waktu (termasuk kebutuhan pengairan), maka suatu model bisa dikatakan tidak relevan, dan perlu penyesuaian kembali.

Sejarah model lelang tidak terlepas dari sejarah awal sistem tersebut di mulai dari sebuah bendungan Kedung Ombo di Jawa Tengah. Beberapa dekade sebelum model lelang ditemukan dan diaplikasikan secara luas pada masyarakat tani. Model pengelolaan air irigasi di tingkat tersier Jawa Tengah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sebelum tahun 1976 irigasi dikelola oleh ulu-ulu3 (Both, 1977). Pada saat itu sawah dialiri dengan air

3 Ulu-ulu adalah seseorang yang ditunjuk oleh pihak otoritas desa untuk mengatur air pada petak petani. Ulu tidak menerima iuran air dari petani sebagai usahanya mengatur air, akan tetapi dia menerima tanah adat yang dapat ditanami. Masyarakat menyebut ulu-ulu

Model “Lelang” dan Model “Swakelola” dalam Kelembagaan … 101

yang berasal dari air hujan atau dikenal dengan tadah hujan. Setalah itu, irigasi dikelola oleh dharma tirta dengan menggunakan air yang berasal dari air hujan dan air dari sungai (kali) pembuangan dengan menggunakan pompa air (Duewel, 1984). Perbedaan keduanya adalah dharma merupakan kesatuan (perkumpulan) dari orang-orang yang bersatu dalam wadah organisasi. Selain itu, dharma tirta melakukan usaha untuk mendapatkan air dengan bantuan pompa air. Sebagai kompensasinya, dharma tirta menerima iuran air dari petani. Karena dharma tirta mengeluarkan usaha untuk mendapatkan air dan mendistribusikan air maka dharma tirta menerima iuran air. Iuran air digunakan untuk beberapa keperluan utama dalam operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, diantara pembuatan saluran tersier (yang biasanya tidak permanen), pemeliharaan saluran sekunder.

Sistem tersebut disebut dengan sistem swakelola. Secara sederhana, sistem swakelola adalah sistem yang mengatur air dengan mandiri. Karena besarnya usaha dharma tirta dalam memperoleh air, maka iuran air yang dibayarkan oleh petani ke dharma tirta juga relatif besar. Pada saat itu iuran air bisa sampai 1/8 (moro 8), satu bagian untuk dharma tirta dan 7/8 untuk petani.

Sejak tahun 1990, saat bendungan Kedung Ombo mulai dioperasikan, pemerintah menyamakan nama organisasi pengatur air pada tingkat saluran tersier dengan nama Persatuan Petani Pemakai Air (P3A). Dengan adanya bendungan Kedung Ombo tersebut akses untuk mendapat air menjadi lebih mudah. Karenanya biaya operasi dan pemeliharaan saluran juga mengalami penurunan. Karenanya, iuran air yang dibayarkan petani juga mengalami penurunan dari 1/8, 1/10, 1/12 hingga 1/25 selama 20 tahun terakhir.

Perubahan sistem ulu-ulu ke sistem dharma tirta dan juga perubahan besarnya iuran air merupakan bentuk-bentuk perubahan kelembagaan irigasi yang sangat menarik untuk dipelajari. Terlebih lagi, sejak sepuluh tahun terakhir (sejak tahun 2005) beberapa P3A ada yang mengaplikasikan model baru yang disebut dengan model lelang.

sebagai sebuah sistem dibandingkan hanya seseorang yang mengatur air, meskipun sebenarnya adalah pengatur air secara individu.

102 Kelembagaan Irigasi

Model lelang muncul secara endogen dari masyarkat petani di Desa Undaan Tengah (salah satu daerah irigasi Klambu Wilalung), Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus tahun 2005 yang merasa prihatin dengan kondisi infrastruktur pertaniannya (pengairan irigasi). Daerah pertanian di desa ini merupakan daerah dataran bawah yang mudah tergenang air pada saat musim hujan. Pada saat tersebut petani berfikir untuk membuat drainase (pembuangan air), dan membuat jalan usahatani untuk mengangkut hasil pertanian dari lahan ke jalan utama. Mereka mengalami kesulitan sumber pendanaan. Hingga akhirnya disepakati untuk melelangkan pengelolaan air irigasi kepada pihak yang bersedia membangun infrastruktur yang dimaksud (pembuangan air saat musim hujan dan infrastruktur jalan usahatani).

Pada saat itu pengelolaan air irigasi masih menggunakan model swakelola yang sebenarnya juga ada kontrak untuk membangun sarana irigasi secara periodik (setelah panen saat iuran air dari petani terkumpul).

Namun, karena dana yang terkumpul secara periodik tersebut jumlahnya kecil, maka dana tersebut tidak bisa digunakan untuk pembangunan infrstruktur yang membutuhkan dana besar seperti drainase (pembuangan air) dan pembangunan infrastruktur jalan usahatani. Selain dana yang terkumpul tiap musim yang jumlahnya kecil, terdapat alasan lain terkait pengelolaan keuangan model swakelola yang dianggap tidak akuntabel.

Luas areal lahan pertanian di Desa Undaan Tengah seluas 716 bahu.

Nilai Lelang pada periode 2005-2010 sebesar Rp 300 juta yang dibayarkan pada tahun 2005. Nilai tersebut dialokasikan untuk pembangunan jalan usahatani, saluran drainase untuk membuang kelebihan air saat musim penghujan. Pada saat tersebut proses pembangunan dilakukan oleh pihak yang ditunjuk bersama (komisi pembangunan antara P3A terpilih dengan pihak desa).

Besarnya nilai lelang tergantung luas lahan, kondisi lahan (subur tidaknya), dan lama waktu pengelolaan air irigasi tersebut (Rondhi, 2017).

Semakin luas lahan yang akan dikelola, maka nilai lelang akan semakin besar. Selanjutnya, semakin subur lahan yang dilelang (potensi panen, tergenang tidaknya lahan), maka nilai lelang semakin besar. Terakhir,

Model “Lelang” dan Model “Swakelola” dalam Kelembagaan … 103

semakin lama lelang pengelolaan air irigasi pada lahan, maka nilai lelang akan semakin tinggi. Biasanya nilai lelang merupakan kombinasi dari ketiganya.

Semenjak saat itu model lelang mulai dikenal masyarakat petani pada daerah irigasi Klambu Wilalung yang mengairi lahan petani seluas 6.844 bahu. Adanya sistem kontrak model lelang merupakan upaya masyarakat untuk mengelola air irigasi (termasuk pembuatan dan pemeliharaan infrastrukturnya) pada kondisi keterbatasan anggaran pemerintah.

Sebenarnya model swakelola juga merupakan sistem kontrak yang berupaya untuk mengelola air irigasi dengan keterbatasan penganggaran pemerintah, akan tetapi model pembayaran di akhir musim memungkinkan pengelola P3A berbuat mengingkari kontrak. Pembahasan ini lebih jelas pada bab 8.

7.4 Diskripsi Singkat Daerah Irigasi Klambu Wilalung

Dokumen terkait