Sebagai suatu strategi pembelajaran, problem based learning memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa
d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dan kehidupan nyata
e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajar
f. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
g. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
h. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
i. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
j. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir
Kelebihan yang lain dipaparkan secara singkat sebagai berikut:
a. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserap dengan baik.
c. Dapat memperoleh dari berbagai sumber. 40
Disamping keunggulan, problem based learning juga memiliki kelemahan, diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari41
Adapun kekurangan lain sebagai berikut:
a. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai. b. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
c. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.42
D. Hasil Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian terkait pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah, diantaranya sebagai berikut:
1. Hasil penelitian Lin Suciani Astuti (2011) yang berjudul: “Peningkatan Hasil
Belajar Konsep Kesetimbangan Kimia melalui Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning)”, menyatakan penerapan model pembelajaran
PBL (Problem based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep kesetimbangan kimia.43
2. Hasil penelitian Robiatul Adawiyah (2011) yang berjudul: “Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Islam Al-Fatah Jakarta
40
Iif Khoiru Ahmadi, dkk., Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu, (Jakarta: PT Prestasi Pustaka, 2011), Cet. I, h. 56-57
41
Wina Sanjaya, op. cit., h. 220-221
42
Iif Khoiru Ahmadi, loc. cit.
43
Lin Suciani Astuti, Peningkatan Hasil Belajar Konsep Kesetimbangan Kimia Melalui Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning), (Jakarta: FITK UIN, 2011), h. 70
Utara)”, menyatakan bahwa ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa
dengan adanya penerapan model pembelajaran problem based learning.44 3. Hasil penelitian Nabila Syafi’i (2009) yang berjudul “Pengaruh Metode
Problem Based Learning (PBL) terhadap Hasil Belajar Kimia pada
Pembelajaran Kimia Terintegrasi Nilai”, menyatakan terdapat perbedaan hasil
belajar kimia antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, selain itu juga pada kelas yang menggunakan metode PBL lebih baik dari kelas yang menggunakan metode konvensional.45
Dari penelitian-penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) berpengaruh terhadap proses belajar. Karena untuk meraih prestasi yang maksimal dipengaruhi strategi pengajaran yang efektif.
E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan permasalahan yang ada, maka hipotesis yang diajukan pada penelitian ini sebagai berikut: Melalui model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran fiqih siswa kelas VIII di MTs Al-Ihsan.
44
Robiatul Adawiyah, Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Islam Al-Fatah Jakarta Utara), (Jakarta: FITK UIN, 2011), h. 60
45Nabila Syafi’i, Pengaruh metode Problem Based Learning (PBL) terhadap Hasil Belajar Kimia pada Pembelajaran Kimia Terintegrasi Nilai, (Jakarta: FITK UIN, 2011), h. 64
24
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII MTs Al-Ihsan yang beralamat di Jalan Masjid Nurul Ihsan No 1 Jatiwaringin – Pondok Gede – Bekasi. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan November semester ganjil tahun ajaran 2014/2015.
B. Metode dan Rancangan Siklus Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan model problem based learning mencoba untuk memperbaiki proses belajar mengajar di dalam kelas tersebut.
Penelitian tindakan kelas berkembang dari penelitian tindakan. Oleh karena itu, untuk memahami pengertian penelitian tindakan kelas (PTK) perlu kita telusuri pengertian penelitian tindakan. Menurut Kemmis, “penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka.”
Pendapat lain tentang penelitian tindakan dikemukakan oleh Elliot yang menyatakan “penelitian tindakan adalah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan melalui proses diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan mempelajari pengaruh yang ditimbulkannya.”1
“Penelitian tindakan kelas berasal dari bahasa Inggris classroom action research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut.”2
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu penelitian yang
1
Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), Cet. II, h. 24-25
2
Paizaluddin dan Ermalinda, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), (Bandung: Alfabeta, 2013), Cet. I, h. 6
dikembangkan berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar di kelas.
Pada penelitian tindakan kelas ini terdiri dari empat rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang, pada penelitian ini peneliti menggunakan 2 siklus. Prosedur penelitian ini terdiri dari empat tahap kegiatan setiap siklus, yaitu:
1. Perencanaan (planning)
Dalam tahap ini peneliti merencanakan dengan merumuskan pertanyaan apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan dilakukan. 2. Tindakan (action)
Pada tahap ini peneliti melaksanakan apa yang telah direncanakan pada tahap perencanaan.
3. Pengamatan (observing)
Peneliti melakukan pengamatan pada siswa selama proses belajar mengajar berlangsung dengan lembar observasi.
4. Refleksi (reflection)
Pada tahap ini peneliti beserta guru menganalisis data yang telah diperoleh dari kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Hal ini kemudian dianalisis dan akan digunakan untuk merencanakan tindakan selanjutnya.
Gambar 3.1 Bagan 4 Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas
Refleksi Refleksi Pengamatan Pelaksanaan Perencanaan Pengamatan Pelaksanaan SIKLUS I SIKLUS II Perencanaan