Setelah tindakan pertama (siklus I) selesai dilakukan dan hasil yang diharapkan belum mencapai kriteria keberhasilan yaitu meningkatnya hasil belajar siswa, maka akan ditindaklanjuti sebagai rencana perbaikan pembelajaran. Siklus ini terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta analisis dan refleksi pada siklus I, indikator keberhasilan belum tercapai maka penenlitian akan dilanjutkan dengan siklus II. Penenlitian ini berakhir, apabila peneliti menyadari bahwa penelitian ini telah berhasil menguji penerapan model
34
A. Deskripsi Data Pra Penelitian Tindakan Kelas
Kegiatan pra penelitian tindakan kelas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data awal mengenai keadaan sekolah, kelas dan siswa yang akan menjadi objek penelitian. Kegiatan pra penelitian yang dilakukan meliputi kegiatan wawancara dengan guru dan siswa serta kegiatan observasi di dalam kelas.
1. Kegiatan Wawancara Pra Penelitian
Kegiatan wawancara pra penelitian tindakan kelas dilakukan dengan guru dan siswa. Guru yang diwawancarai merupakan guru bidang studi fiqih, sedangkan siswa yang diwawancarai adalah beberapa orang siswa kelas VIII/E yang merupakan kelas objek penelitian. Kegiatan wawancara dengan guru dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengetahui gambaran tentang hasil belajar fiqih kelas VIII serta aktifitas belajar siswa pada saat proses berlangsung. Sedangkan kegiatan wawancara dengan siswa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pendapat siswa mengenai mata pelajaran fiqih dan cara belajar fiqih siswa. Berdasarkan hasil kegiatan wawancara yang telah dilakukan dengan guru dan siswa, diperoleh informasi sebagai berikut:
a. Hasil belajar fiqih siswa kelas VIII untuk angkatan 2014/2015 sudah cukup baik. Hal tersebut dapat dilihat dari karakteristik umum siswa dalam hal belajar, daya serap siswa terhadap materi pelajaran dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Namun hal tersebut tetap membutuhkan upaya yang optimal untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa.
b. Hasil belajar siswa kelas VIII/E berada di bawah rata-rata tingkat hasil belajar kelas VIII/A, B, C atau D. Oleh karena itu, guru bidang studi mengusulkan untuk melakukan kegiatan penelitian di kelas VIII/E.
c. Guru memberikan gambaran tentang suasana kelas pada saat kegiatan pembelajaran dan gambaran tentang perbandingan tingkat pemahaman dan keaktifan serta hasil belajar siswa. Berdasarkan gambaran-gambaran tersebut, guru merekomendasikan kelas VIII/E sebagai kelas yang akan dilakukan penelitian.
d. Beberapa siswa menyukai mata pelajaran fiqih, tetapi sebagian siswa lainnya kurang senang dengan mata pelajaran fiqih. Sebaian besar siswa yang kurang senang dengan mata pelajaran fiqih berpendapat bahwa materi pada pelajaran fiqih membosankan.
2. Kegiatan Observasi Pra Penelitian
Kegiatan observasi pra penelitian tindakan kelas dilakukan dengan tujuan untuk mengamati proses pembelajaran fiqih di kelas. Kegiatan observasi ini dilakukan dalam waktu 1 hari.
Berdasarkan kegiatan pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa guru masih menggunakan model pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher centred). Hal tersebut terlihat dari keseluruhan proses yang dilakukan, dimana pembelajaan fiqih cenderung didominasi oleh guru. Metode pembelajaran yang diterapkan pun masih berupa metode pembelajaran konvensional, yaitu metode ceramah dan tanya jawab. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran akan terlihat hanya ketika guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Hal tersebut menyebabkan sebagian besar siswa mengalami kejenuhan dalam belajar. Padahal, karakteristik sebagian besar siswa di kelas bersifat aktif. Meskipun karakteristik sebagian besar siswa sama-sama aktif, namun terlihat bahwa karakteristik siswa kelas VIII/E jauh lebih aktif jika dibandingkan dengan kelas lain. Siswa kelas VIII/E cenderung sulit diatur dan dikendalikan.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan, disertai dengan pertimbangana atas saran dan masukan yang diberikan oleh guru bidang
studi fiqih, maka peneliti memutuskan untuk melakukan kegiatan penelitian di kelas VIII/E.
B. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I
1. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan pada siklus ini dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan yang terdapat disekolah. Kemudian menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Selanjutnya RPP yang telah dibuat didiskusikan dengan guru kolaborator serta sehubungan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan soal test awal (pretest) dan soal test akhir (postest), membuat instrumen penelitian, membuat lembar observasi siswa, membuat lembar observasi guru, dan catatan lapangan.
Penelitian dilaksanakan di kelas VIII/E yang berjumlah 38 siswa , siswa di bentuk menjadi 6 kelompok dengan jumlah masing-masing anggota kelompok berjumlah 6-7 orang. Penentuan kelompok dilakukan secara bersama-sama oleh guru agar tercipta kerjasama dan tidak saling iri. Pengelompokan ini dipergunakan pada saat siswa melakukan diskusi kelompok pada saat diskusi berlangsung di dalam kelas.
Pada tahap ini, peneliti ingin mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning dalam proses pelaksanaannya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Tahap Pelaksanaan
Siklus pertama ini dilaksanakan sesuai dengan rencana, yaitu dua kali pertemuan. Pertemuan pertama yaitu mengerjakan soal test awal (pretest) yang diikuti 38 siswa guna untuk menyiapkan siswa dalam proses belajar. Setelah mengadakan pretest, dilanjutkan dengan membahas materi tentang ketentuan-ketentuan zakat fitrah. Sedangkan pelaksanaan posttest dilakukan
pada akhir pertemuan yang kedua. Langkah-langkah tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Sintaks Problem Based Learning Siklus I
Fase Aktivitas
Fase 1
Mengorientasikan siswa pada masalah
Fase ini terlaksana dalam kegiatan inti berupa eksplorasi yang ada di dalam RPP, yakni guru menjelaskan tentang model Problem Based Learning
terhadap siswa. Guru memotivasi siswa agar ikut aktif dalam diskusi pemecahan masalah. Selain itu guru juga sudah menyiapkan logistik yang diperlukan berupa LKS contoh kasus yang harus dikerjakan setiap kelompok diskusi, serta lembar observasi aktifitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning.
Fase 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Di kegiatan inti berupa elaborasi, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk mengorganisir siswa dalam proses diskusi.
Fase 3
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Setelah LKS contoh kasus telah dibagikan pada setiap kelompok siswa, guru berkeliling mengamati setiap kelompok serta mempersilahkan siswa bertanya tentang soal diskusi yang kurang dimengerti.
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan laporan
Siswa dituntut untuk membuat laporan berupa jawaban-jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan. Dalam kegiatan inti yaitu konfirmasi,
masing-masing kelompok diminta untuk
mempresentasikan hasil diskusinya.
Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses
Setelah semua kelompok mempresentasikan jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan, guru beserta seluruh siswa bersama-sama menganalisis apakah
pemecahan masalah jawaban yang telah dipresentasikan sudah benar. Ketika ditemukan jawaban yang kurang pas atau salah guru meluruskan dan memberikan penjelasan materi agar siswa mengerti pemecahan masalah dari contoh kasus tersebut. Dengan begitu secara tidak langsung, siswa telah menerima materi pelajaran tanpa merasa bosan dengan guru yang hanya menerangkan materi saja.
3. Tahap Pengamatan
a. Hasil Observasi Aktifitas Guru
Observasi dilaksanakan selama kegiatan belajar mengajar mata pelajaran fiqih dengan menggunakan problem based learning pada materi zakat fitrah. Pengamatan dilakukan oleh observer (guru bidang studi fiqih) dengan mencatat seluruh keadaan di ruang kelas dengan berbagai aktifitas yang dilakukan guru selama proses pembelajaran. Hasil observasi aktifitas guru dimuat dalam lampiran 17. Pada pertemuan I didapatkan hasil presentase 84% sedangkan pada pertemuan II didapatkan hasil presentase 94% sehingga pada siklus I didapatkan rata-rata presentase 89%. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan model problem based learning pada proses pembelajaran dengan kategori sangat baik.
b. Hasil Observasi Aktifitas Siswa
Observasi dilaksanakan selama kegiatan belajar mengajar mata pelajaran fiqih dengan menggunakan problem based learning pada materi zakat fitrah. Pengamatan dilakukan oleh observer (guru bidang studi fiqih) dengan mencatat seluruh keadaan di ruang kelas dengan berbagai aktifitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Hasil observasi aktifitas siswa dimuat dalam lampiran 18. Pada pertemuan I didapatkan hasil presentase 67,5% sedangkan pada pertemuan II didapatkan hasil presentase 92,5% sehingga pada siklus I didapatkan rata-rata presentase
80%. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan model problem based learning pada proses pembelajaran dengan kategori baik.
Gambar 4.1 Gambar 4.2
Aktivitas Diskusi Siswa Siklus I Aktivitas Presentasi Hasil Diskusi Siklus I
c. Catatan Lapangan
Pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dimuat dalam catatan lapangan yang ada pada lampiran 19. Berdasarkan hasil catatan lapangan, aktifitas siswa masih didapatkan hasil yang kurang maksimal. Hal ini dikarenankan beberapa sebab, diantaranya siswa masih belum mengenal guru, belum mengerti serta belum terbiasa dengan model
problem based learning. d. Wawancara
Setelah selesai menerapkan model problem based learning pada siklus I, wawancara pun dilakukan dengan guru bidang studi fiqih. Dari hasil wawancara didapatkan kesimpulan bahwa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan model problem based learning pada siklus I diantaranya siswa masih ada yang bercanda saat diskusi kelompok, siswa juga masih belum berani dalam memaparkan hasil diskusi kelompok. Selain itu dari pihak guru juga belum bisa mengendalikan siswa.
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dari aspek kognitif siswa pada siklus I dilakukan tes hasil belajar siswa. Adapun hasil dari tes hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Hasil Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Pretest Posttest N-Gain
Jumlah 1112 2800 23,61716
Rata-rata 29,26316 73,68421 0,621504 Pada siklus I, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan skor rata-rata 29,26. Namun skor rata-rata-rata-rata meningkat menjadi 73,68 setelah dilakukan tindakan. Untuk mengetahui tingkat efektifitas penerapan tindakan dalam penelitian tindakan kelas pada siklus I, maka data skor siswa di analisis dengan N-Gain. Dari selisih skor rata-rata pretest dan rata-rata posttest didapatkan nilai N-Gain sebesar 0,62 dengan kategori sedang (g sedang : 0,70 > (g) > 0,3). Tabel skor N-Gain siswa siklus I dipaparkan secara lengkap pada lampiran 15. Namun hasil posttest siklus I hanya mencapai 60,52% siswa yang mencapai KKM dan belum memenuhi indikator keberhasilan dimana 75% siswa harus mencapai nilai KKM. Tabel ketuntasan siswa dalam mencapai KKM untuk siklus I terdapat pada lampiran 13.
4. Tahap Refleksi
Berdasarkan analisis hasil observasi, catatan lapangan serta wawancara ditemukan beberapa kekurangan yang ada pada siklus I dan diperlukan tindakan perbaikan pada siklus selanjutnya. Hal tersebut dijelaskan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 4.3 Kekurangan dan Tindakan Perbaikan Siklus I
Kekurangan Perbaikan
Perhatian siswa belum fokus di kelas Guru memberikan ice breaking untuk memfokuskan perhatian siswa
kelompok pembagian kelompok serta ikut mengatur pembagian kelompok agar cepat, tenang dan rapi
Siswa tidak mengerti dengan soal-soal LKS berbasis masalah
Mengelilingi setiap kelompok serta memberikan pengarahan
Masih banyak siswa yang tampak bercanda dan mengobrol saat diskusi dengan teman sekelompok
Mendatangi kelompok yang bercanda dan mengobrol
Siswa masih malu-malu dan tidak mau menyampaikan hasil diskusi di depan kelas
Guru memberikan motivasi agar siswa bersemangat untuk berlomba-lomba menyampaikan hasil diskusi
C. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II
1. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan pada siklus II ini dimulai dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS), sedangkan materi yang diajarkan pada siklus II ini adalah zakat mal. Selanjutnya RPP yang telah dibuat didiskusikan dengan guru kolaborator serta sehubungan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan soal test awal (pretest) dan soal test akhir (postest), membuat instrumen penelitian, membuat lembar observasi siswa, membuat lembar observasi guru, dan catatan lapangan.
2. Tahap Pelaksanaan
Siklus kedua ini dilaksanakan sesuai dengan rencana, yaitu dua kali pertemuan. Pertemuan pertama sesuai dengan rencana yaitu dengan mengadakan soal test awal (pretest) yang diikuti 38 siswa guna untuk menyiapkan siswa dalam proses belajar. Setelah mengadakan pretest, dilanjutkan dengan membahas materi tentang ketentuan-ketentuan zakat mal. Sedangkan pelaksanaan postest dilakukan pada akhir pertemuan yang kedua.
Langkah-langkah tindakan pada siklus I disajikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada lampiran 2.
Tabel 4.4 Sintaks Problem Based Learning Siklus II
Fase Aktivitas
Fase 1
Mengorientasikan siswa pada masalah
Fase ini terlaksana dalam kegiatan inti berupa eksplorasi yang ada di dalam RPP, yakni guru menjelaskan tentang model Problem Based Learning
terhadap siswa. Guru memotivasi siswa agar ikut aktif dalam diskusi pemecahan masalah. Selain itu guru juga sudah menyiapkan logistik yang diperlukan berupa LKS contoh kasus yang harus dikerjakan setiap kelompok diskusi, serta lembar observasi aktifitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning.
Fase 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Di kegiatan inti berupa elaborasi, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk mengorganisir siswa dalam proses diskusi.
Fase 3
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Setelah LKS contoh kasus telah dibagikan pada setiap kelompok siswa, guru berkeliling mengamati setiap kelompok serta mempersilahkan siswa tentang soal diskusi yang kurang dimengerti.
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan laporan
Siswa dituntut untuk membuat laporan berupa jawaban-jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan. Dalam kegiatan inti yaitu konfirmasi,
masing-masing kelompok diminta untuk
mempresentasikan hasil diskusinya.
Fase 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses
Setelah semua kelompok mempresentasikan jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan, guru beserta seluruh siswa bersama-sama menganalisis apakah
pemecahan masalah jawaban yang telah dipresentasikan sudah benar. Ketika ditemukan jawaban yang kurang pas atau salah guru meluruskan dan memberikan penjelasan materi agar siswa mengerti pemecahan masalah dari contoh kasus tersebut. Dengan begitu secara tidak langsung, siswa telah menerima materi pelajaran tanpa merasa bosan dengan guru yang hanya menerangkan materi saja.
3. Tahap Pengamatan
a. Hasil Observasi Aktifitas Guru
Kegiatan guru selama proses pembelajaran diamati dengan menggunakan lembar observasi. Hasil observasi aktifitas guru diuraikan pada lampiran 17. Pada pertemuan III didapatkan hasil presentase 96% kemudian pada pertemuan IV juga didapatkan hasil presentase 96% sehingga pada siklus II didapatkan rata-rata presentase 96%. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan model
problem based learning pada proses pembelajaran dengan kategori sangat baik.
b. Hasil Observasi Aktifitas Siswa
Hasil observasi aktifitas siswa diuraikan pada lampiran 18. Pada pertemuan III didapatkan hasil presentase 87,5% kemudian pada pertemuan IV didapatkan hasil presentase 97,5% sehingga pada siklus II didapatkan rata-rata presentase 92,5%. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan model problem based learning pada proses pembelajaran dengan kategori sangat baik. Presentase pada pertemuan III mengalami penurunan dibanding dengan pertemuan II, namun pada pertemuan IV kembali mengalami peningkatan aktifitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan problem based learning.
Gambar 4.3 Gambar 4.4
Aktivitas Diskusi Siswa Siklus II Aktivitas Presentasi Hasil Diskusi Siklus II
c. Catatan Lapangan
Pengamatan selama proses pembelajaran siklus II berlangsung dimuat dalam catatan lapangan yang ada pada lampiran 20. Berdasarkan hasil catatan lapangan aktifitas siswa sudah jauh meningkat, tampaknya mereka sudah mulai mengerti dan terbiasa dengan model problem based learning.
d. Wawancara
Setelah selesai menerapkan model problem based learning pada siklus II, wawancara pun dilakukan dengan guru bidang studi fiqih. Dari hasil wawancara didapatkan kesimpulan bahwa pembelajaran fiqih dengan model problem based learning sudah berjalan dengan baik.
e. Hasil Belajar
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dari aspek kognitif siswa pada siklus II dilakukan tes hasil belajar siswa. Adapun hasil dari tes hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5 Hasil Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus II
Pretest Posttest N-Gain
Jumlah 1812 3268 28,56074
Pada siklus II, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan skor rata-rata 47,68. Namun skor rata-rata-rata-rata meningkat menjadi 86 setelah dilakukan tindakan. Untuk mengetahui tingkat efektifitas penerapan tindakan dalam penelitian tindakan kelas pada siklus II, maka data skor siswa di analisis dengan N-Gain. Dari selisih skor rata-rata pretest dan rata-rata posttest
didapatkan nilai N-Gain sebesar 0,75 dengan kategori tinggi (g tinggi : nilai (g) > 0,70). Tabel skor N-Gain siswa siklus II dipaparkan secara lengkap pada lampiran 16. Tes posttest siklus II telah mencapai keberhasilan sebesar 86,84% siswa yang mencapai KKM dan sudah memenuhi indikator keberhasilan sebesar 75%. Ketuntasan siswa dalam mencapai KKM untuk siklus II terdapat pada lampiran 14.
4. Tahap Refleksi
Berdasarkan analisis hasil observasi, catatan lapangan serta wawancara peran guru pada pembelajaran siklus II ini benar-benar tidak mendominasi kelas seperti pada siklus I. Waktu banyak diberikan untuk siswa terlibat langsung dalam pembelajaran. Siswa tampak lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran karena termotivasi dengan masalah kehidupan sehari-hari pada materi zakat. Siswa juga sudah mulai serius dan fokus dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu siswa sudah berani untuk tampil di depan kelas memaparkan hasil diskusi kelompok.
D. Analisis Data dan Pembahasan
Setelah dilakukan penelitian tindakan kelas yaitu dengan menerapkan model
problem based learning (PBL) pada materi zakat, hasil belajar fiqih siswa meningkat khususnya dalam materi zakat. Pada siklus I terjadi peningkatan nilai rata-rata dari pretest 29,26 menjadi 73,68 nilai rata-rata posttest. Hal ini mungkin disebabkan siswa masih belum mengerti bagaimana langka-langkah pembelajaran
problem based learning yang baru mereka dapatkan. Selama proses pembelajaran guru bidang studi belum pernah menerapkan model pembelajaran seperti ini. Sehingga siswa merasa kebingungan dan sulit untuk beradaptasi dengan proses
pembelajaran baru. Pada hasil belajar kognitif siklus I, jumlah siswa yang mencapai nilai KKM yaitu sebanyak 23 siswa dan jumlah siswa yang tidak mencapai KKM sebanyak 15 siswa. Ada kemungkinan siswa yang belum mencapai KKM ini disebabkan belum bisa menangkap atau menerima dengan baik model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Skor N-gain yang didapatkan pada siklus I sebesar 0,62 dengan kategori sedang.
Pada siklus II peningkatan nilai rata-rata pretest 47,68 menjadi 86 nilai rata-rata posttest. Siswa yang mencapai KKM pada siklus II yaitu 33 siswa dan 5 siswa yang tidak mencapai KKM. Skor N-gain dari siklus I ke siklus II menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar dengan skor N-gain di siklus I 0,62 sedangkan menjadi 0,75 dengan kategori tinggi untuk siklus II.
Diagram 4.5 Persentase Hasil Belajar Siswa
Aktifitas siswa pada siklus I telah menunjukkan rata-rata keterlaksanaan langkah-langkah model problem based learning dengan kategori baik sebesar 80%. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian tindakan dengan menerapkan model
problem based learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, siswa masih kurang memunculkan tahap mengembangkan dan menyajidakan laporan serta tahap mengevaluasi proses pemecahan masalah. Siswa belum terlatih dalam
47.68 86 86,84% 0.75 29.26 73.68 60,52% 0.62 NILAI RATA-RATAPRETEST NILAI RATA-RATA POSTTEST PENCAPAIAN KKM N-GAIN