PENINGKATAN HASIL BELAJAR FIQIH
MELALUI MODEL
PROBLEM BASED LEARNING
(Penelitian Tindakan Kelas VIII di MTs Al-Ihsan Pondok Gede Bekasi)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
MUHANNIMAH
NIM 1110011000057
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
MELALUI MODEI
PROBLEM
BASED
LEARNING
(Penelitian Tindakan Kelasvrrl
di MTs Al-Ihsan pondok Gede Bekasi)Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana pendidikan Islam
Oleh
MUHANNIMAH NIM 1110011000057
JURUSAN
PENDIDIKAN
AGAMA
ISLAM
FAKULTAS
ILMU
TARBIYAH
DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM
NEGERI
(UIN)
.SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
Dosen Pembimbing:
Based Learning (Penelitian Tindakan Kelas
VIII
di
MTs AI-Ihsan pondokGede Bekasi) disusun
oleh
MUHANNIMAHNomor
Induk
Mahasiswa1110011000057, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatuilah Jakarta. Telah melalui
bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan
pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan fakultas.
Jakarta,12 Apil2016
Yang Mengesahkan,
Pembimbing
Nama
: MuhannimahNIM
Jurusan
Nama
NIP
Demikian
menerima
sendiri.
Bahwa skripsi yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Fiqih Melalui Model Problem Based Learning (Penelitian Tindakan Kelas
VIII
di
MTs Al-IhsanPondok Gede) adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen
: Dr. H. Sapiudin Shidiq, M.Ag
:19670328 200003 1 001
surat pernyataan
ini
saya buat dengan sesungguhnya dan saya siapsegala konsekuensi apabila terbukti skripsi
ini
bukan hasil karyaJakarta,12 April2016
Mahasiswa :1110011000057
: Pendidikan Agama Islam
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
i
pelaksanaan pembelajaran fiqih dengan menggunakan model problem based learning, (2) untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan hasil belajar dengan diterapkannya model problem based learning, dan (3) untuk menggambarkan hasil pembelajaran fiqih dengan model problem based learning.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK). PTK dilaksanakan sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan yang muncul di dalam kelas. Metode ini dilakukan empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Keempat tahap tersebut merupakan siklus yang berlangsung secara berulang dan dilakukan dengan langkah-langkah yang sama dan difokuskan pada pembelajaran diskusi sebagai praktik dari keterampilan pemecahan masalah melalui problem based learning.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan model problem based learning mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat melalui siklus yang telah dilakukan. Pada siklus I, nilai rata-rata pretest adalah 29,26 dan nilai rata-rata posttest adalah 73,68. Untuk siklus II, nilai rata-rata pretest yaitu 47,68 dan nilai rata-rata posttest yaitu 86. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat pada nilai N-gain, yakni N-gain siklus I adalah 0,621 sedangkan N-gain siklus II adalah 0,751. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih dengan menggunakan model problem based learning dirasa sudah maksimal karena pencapaian ketuntasan nilai KKM mencapai 86,84%.
ii
Fiqh learning using problem based learning model, (2) to determine whether there is an increase in learning outcomes with the implementation of problem based learning model, (3) to describe the learning outcomes of jurisprudence with problem based learning model.
The method used in this study is the method of Classroom Action Research (CAR). CAR efforts undertaken to overcome the problems that arise in the classroom. This method is done with four stages, namely planning, action, observation, and reflection. There are four stages in a cycle that is repeated with the same steps and remain focused on discussion as practice from problem solving by using a method of problem based learning.
The results of this study indicate that student learning outcomes increased using this method problem based learning. This increase can be seen from the results of each cycle is done. Details of the average value of the first cycle of the pretest average 29,26whereas the second cycle pretest averaged 47,68. Posttest first cycle of the average 73,68, whereas the second cycle posttest average 86. Improved learning outcomes can be seen from the value of the gain normali each cycle, the first cycle of N-gain 0,621, whereas the second cycle of N-gain 0,751. Student learning outcomes in subjects jurisprudence by using problem based learning because it is considered a maximum value above KKM achievement already exceeds the target is quite high at 86,84%.
iii
yang telah memberikan berbagai macam nikmat yang tidak terhingga terutama
nikmat Iman, Islam, dan serta sehat wal’afiat. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
Shalawat serta salam tak lupa penulis panjatkan kepada putra Abdullah dan
buah hati Siti Aminah, pemimpin umat kita nabi besar Muhammad SAW dan
keluarganya, sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya sampai akhir zaman.
Skripsi ini adalah bentuk dari setetes ilmu yang Allah berikan kepada manusia,
walaupun demikian tidak mudah untuk mendapatkannya. Penyusun skripsi ini
tidak terlepas dari bantuan dan saran dari orang-orang di sekeliling penulis. Secara
khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag dan Ibu Marhamah Saleh, Lc. MA
Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. H. Sapiudin Shidiq, M.Ag selaku dosen pembimbing skripsi yang
disela-sela kesibukannya bersedia meluangkan waktunya membimbing dan
mengarahkan penulis.
4. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama
di bangku perkuliahan, semoga ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan
mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
5. Pimpinan dan Staff Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
membantu penulis dalam menyediakan serta memberikan pinjaman literatur
yang di butuhkan.
6. Kepala sekolah Bapak Umaryadi Abbas, dan Bapak Jayadi, S.Pd.I selaku
iv
memberikan kasih sayang, nasehat, semangat, do’a, dan terus mendukung
penulis dalam menyelesaikan skripsi. Semua ini saya persembahkan untuk
kalian. “Letihmu untukku, letihku untukmu”
8. Adikku tersayang Ummy Sholihati, terima kasih selalu memberikan motivasi
serta berbagi cita-cita, impian dan harapan untuk membahagiakan kedua
orang tua.
9. Teman-teman P20AI yang telah mengisi buku hati penulis dengan kenangan
yang tiada pernah terhapus selama mengikuti perkuliahan.
Terima kasih kepada pihak yang memberikan semangat, do’a, bahan-bahan pemikiran dan dukungan yang tidak dapat disebutkan satu per satu, penulis mohon
maaf. Dengan penuh kesadaran penulis akui skripsi ini banyak kekurangan, untuk
itu penulis harapkan adanya teguran serta kritikan yang konstruktif dari semua
pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin.
Jakarta, 12 April 2016
v
ABSTRACT ……….. ii
KATA PENGANTAR ………..………..…. iii
DAFTAR ISI ………. v
DAFTAR TABEL ………... vii
DAFTAR GAMBAR ………. viii
DAFTAR LAMPIRAN ………... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………..…… 1
B. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian ………... 5
C. Pembatasan Fokus Penelitian ……….. 5
D. Perumusan Masalah Penelitian ………... 5
E. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian ………... 5
BAB II KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN A. Hasil Belajar …………...……..……….…….. 7
1. Pengertian Hasil Belajar …………...……...………..…………... 7
2. Jenis-jenis Hasil Belajar ………... 9
B. Pembelajaran Fiqih ………... 11
1. Pengertian Pembelajaran Fiqih ……….. 11
2. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Fiqih ………. 13
3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih …..……….. 15
C. Model Problem Based Learning …….……….. 16
1. Pengertian Model Pembelajaran ……… 16
2. Pengertian Problem Based Learning………. 17
3. Tokoh Problem Based Learning……….... 18
4. Ciri-ciri Problem Based Learning………. 19
5. Pelaksanaan Problem Based Learning……….. 19
vi
A. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 24
B. Metode dan Rancangan Siklus Penelitian ………..………... 24
C. Subjek Penelitian ………... 26
D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian ………... 26
E. Tahapan Intervensi Tindakan ………..……….. 26
F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan ……..………... 28
G. Data dan Sumber Data ……..……….... 29
H. Instrumen-instrumen Penelitian …….………... 29
I. Teknik Pengumpulan Data ……….... 30
J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan ……..……….. 31
K. Analisis Data dan Interprestasi Data ………. 32
L. Tindak Lanjut/Pengembangan Perencanaan Tindakan ………. 33
BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Pra Penelitian Tindakan Kelas ………. 34
B. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I ………... 36
C. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II ………. 41
D. Analisis Data dan Pembahasan ………... 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… 49
B. Saran ……….. 50
vii
Tabel 3.1 Tahapan Pelaksanaan Tiap Siklus ……… 27
Tabel 3.2 Data dan Sumber Data ………. 29
Tabel 3.3 Teknik Pengumpulan Data ………... 30
Tabel 4.1 Sintaks Problem Based LearningSiklus I ………...… 37
Tabel 4.2 Hasil Tes Hasil Belajar Siswa pada Siklus I ……… 40
Tabel 4.3 Kekurangan dan Tindakan Perbaikan Siklus I ………. 40
Tabel 4.4 Sintaks Problem Based LearningSiklus II ……….. 42
viii
Gambar 4.1 Aktivitas Diskusi Siswa Siklus I ……….. 39
Gambar 4.2 Aktivitas Presentasi Hasil Diskusi Siklus I ……….. 39
Gambar 4.3 Aktivitas Diskusi Siswa Siklus II ………. 44
Gambar 4.4 Aktivitas Presentasi Hasil Diskusi Siklus II ………. 44
Gambar 4.5 Diagram Persentase Hasi Belajar Siswa………... 46
Gambar 4.6 Diagram Persentase Aktivitas Siswa ……… 47
ix
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II …………... 59
Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus I Pertemuan ke-1 ………….. 64
Lampiran 4 Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus I Pertemuan ke-2 ………….. 65
Lampiran 5 Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus II Pertemuan ke-3 …………. 66
Lampiran 6 Lembar Kerja Siswa (LKS) Siklus II Pertemuan ke-4 …………. 67
Lampiran 7 Soal Pretest dan Posttest Siklus I ………. 68
Lampiran 8 Kunci Jawaban Soal Pretest dan Posttest Siklus I ………... 72
Lampiran 9 Soal Pretest dan Posttest Siklus II ……… 73
Lampiran 10 Kunci Jawaban Soal Pretest dan Posttest Siklus II ……….. 76
Lampiran 11 Rekapitulasi Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tes Siklus I …. 77 Lampiran 12 Rekapitulasi Analisis Hasil Uji Coba Instrumen Tes Siklus II … 82 Lampiran 13 Tabel Pencapaian Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I …………... 87
Lampiran 14 Tabel Pencapaian Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II ………….. 89
Lampiran 15 Tabel Skor N-Gain Siklus I ……….. 91
Lampiran 16 Tabel Skor N-Gain Siklus II ……… 93
Lampiran 17 Hasil Observasi Aktivitas Guru ………... 95
Lampiran 18 Hasil Observasi Aktivitas Siswa ……….. 97
Lampiran 19 Catatan Lapangan Siklus I …….……….. 99
Lampiran 20 Catatan Lapangan Siklus II ……..……….. 101
Lampiran 21 Hasil Wawancara Guru Bidang Studi Fiqih (Pra Penelitian) …. 103 Lampiran 22 Hasil Wawancara Guru Bidang Studi Fiqih (Pasca Penelitian) 105 Lampiran 23 Hasil Wawancara Siswa (Pra Penelitian) ………... 107
1
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu
bangsa diketahui melalui sejauh mana komitmen masyarakat, bangsa ataupun
negara dalam menyelenggarakan pendidikan nasional. Pendidikan juga
merupakan kerja budaya yang menuntut peserta didik untuk selalu
mengembangkan potensi dan daya kreatifitas yang dimilikinya agar tetap survive
dalam hidupnya. Karena itu daya aktif dan partisipatif harus selalu muncul dalam
jiwa peserta didik.
Sejatinya, proses pendidikan yang diselenggarakan baik secara formal
maupun non formal diharapkan dapat memberikan bantuan (guidance) kepada peserta didik untuk mampu mengatasi masalahnya sendiri. Hal inilah barangkali
yang dimaksud dengan kedewasaan peserta didik. Dengan kata lain bahwa peserta
didik tidak selamanya dibimbing namun diharapkan mampu mandiri. Kegiatan
belajar diarahkan agar peserta didik mampu menerima dan memahami
pengetahuan dan keterampilan yang diberikan oleh pendidik.1
Dalam UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 dijelaskan pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.2 Jelas dalam UU Sisdiknas ditegaskan bahwa pendidikan adalah jalan
mewujudkan dan mengembangkan potensi serta keterampilan yang diperlukan
oleh siswa, masyarakat, bangsa dan negara.
1
Slamet Imam Santoso, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1987),
h. 81
2
Redaksi Sinar Grafika, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 20 Tahun
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang
didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di
dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak
anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi, dituntut untuk
memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan
kehidupan sehari-hari. Akibatnya? Ketika anak didik kita lulus dari sekolah,
mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin aplikasi. Oleh karena itu,
pendidik atau guru harus mengutamakan keterampilan dasar dan meningkatkan
tingkat berpikir kritis yang harus dimiliki peserta didik agar mereka dapat
memahami konsep dengan sistematis, baik secara teoritis maupun aplikasinya.3
Abduhzen, pengamat pendidikan, mengungkapkan pada Okezone “belum maksimal dalam memberikan kemampuan berpikir, karena pembelajaran selama
ini lebih banyak pada mengisi pikiran saja.” Abduhzen mengimbuhkan, pelajar Indonesia kini lebih banyak diharuskan menghafal lantaran kemampuan itulah
yang akan dipakai saat ujian nasional. Para pendidik lupa mengajarkan
pemahaman atas konsep yang dipelajari para siswa. Guru kurang mengoptimalkan
keterlibatan siswa dalam pembelajaran. “Padahal siswa perlu terlibat. Itu sebabnya
pembelajaran harus bersifat terbuka, sehingga siswa bisa mengekspresikan
pikirannya. Mereka juga bisa berekspresi dengan tubuhnya dan perasaanya
sehingga kemampuan berpikirnya berkembang. Karena tindakan manusia itu
berdasarkan atas apa yang ada dipikirannya,” paparnya. Kondisi berbeda akan terlihat pada siswa yang hanya dicekoki informasi dan diharuskan menghafalnya. Mereka tidak bisa berekspresi dengan baik tetang apa yang dirasakan dan
dipikirkan.4
Menurut Suwarna, mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan guru
untuk menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses
belajar bagi peserta didik. Dalam mengajar, guru tidak hanya sekedar
3
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2009), h. i
4
Afriani Susanti, “Siswa hanya Fokus Menghafal”, http://m.okezone.com, Jakarta, 5 Mei
menerangkan dan menyampaikan sejumlah materi pelajaran kepada peserta didik,
namun guru hendaknya selalu memberikan rangsangan dan dorongan agar pada
diri siswa terjadi proses belajar.5 Oleh sebab itu, setiap guru perlu menguasai
berbagai metode mengajar dan dapat mengelola kelas secara baik sehingga
mampu menciptakan iklim kondusif.
Dalam setiap kegiatan mengajar, pada dasarnya meliputi tiga kegiatan, yaitu
kegiatan sebelum pembelajaran, kegiatan pelaksanaan pembelajaran, dan kegiatan
sesudah pembelajaran. 6 Agar kegiatan mengajar dapat berjalan efektif, maka guru
harus mampu memilih metode mengajar yang paling sesuai. Proses pembelajaran
akan efektif jika berlangsung dalam situasi dan kondisi yang kondusif, hangat,
menarik, menyenangkan, dan wajar. Oleh karena itu guru perlu memahami
berbagai metode mengajar dengan berbagai karakteristiknya, sehingga mampu
memilih metode yang tepat dan mampu menggunakan metode mengajar yang
bervariasi sesuai dengan tujuan maupun kompetensi yang diharapkan.
Fiqih merupakan salah satu diantara mata pelajaran yang lebih ditekankan
dibanding mata pelajaran lain. Tetapi banyak siswa yang merasa kurang mampu
dalam mempelajari fiqih. Kenyataan yang banyak dijumpai di sekolah selama ini
adalah pembelajaran fiqih berlangsung secara tradisional yang meletakkan guru
sebagai pusat belajar bagi siswa. Karena siswa memiliki kebutuhan belajar,
teknik-teknik belajar, dan berperilaku belajar, guru harus menguasai metode dan
teknik pembelajaran, memahami materi dan bahan ajar yang cocok dengan
kebutuhan belajar, dan berperilaku membelajarkan siswa. Guru dituntut untuk
dapat memilih kegiatan pengajarannya sehingga siswa terhindar dari kebosanan
dan tercipta kondisi belajar yang interaktif, efektif dan efisien. Guru berperan
memotivasi, menunjukkan dan membimbing siswa supaya siswa melakukan
kegiatan belajar. Sedangkan siswa berperan untuk mempelajari kembali,
memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup dengan berpikir dan berbuat
di dalam dan terhadap dunia kehidupan. Untuk memecahkan masalah
pembelajaran yang demikian, perlu dilakukan upaya pengembangan
5
Suwarna, Pengajarnan Mikro Pendekatan Praktis Menyiapkan Pendidikan Profesional,
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), h. 54
6
pembelajaran. Pengembangan pembelajaran yang diperlukan saat ini adalah
pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan kreatifitas siswa, serta
memberikan iklim yang kondusif dalam perkembangan daya nalar siswa.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, model pembelajaran
yang dipilih dalam penelitian ini adalah problem based learning pada materi zakat, karena materi zakat merupakan salah satu materi yang dianggap sulit oleh
siswa. Hal ini terbukti dengan rendahnya rata-rata ulangan harian kelas VIII MTs
Al-Ihsan Pondok Gede tahun ajaran 2013/2014, sehingga dibutuhkan salah satu
model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Selain itu, diharapkan
dengan model problem based learning dapat meningkatkan pastisipasi siswa dalam aktifitas pembelajaran.
Dalam problem based learning, pembelajaran yang berdasarkan struktur masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dan berkaitan dengan materi
zakat yang dipelajari. Dengan cara ini siswa mengetahui mengapa mereka belajar.
Semua informasi akan mereka kumpulkan melalui penelaahan materi ajar,
eksperimen, ataupun melalui diskusi dengan temannya, untuk dapat memecahkan
masalah yang dihadapi.
Problem based learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalah yang autentik dengan maksud untuk menyusun
pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir
tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Dalam model
pembelajaran ini guru memandu siswa dalam menguraikan rencana pemecahan
masalah menjadi tahap-tahap kegiatan.7
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul: “Peningkatan Hasil Belajar Fiqih melalui Model
Problem Based Learning”
7
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif, (Jakarta: Kencana, 2010), h.
B.
Identifikasi Area dan Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dapat diidentifikasikan beberapa masalah yaitu:
1. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan
kemampuan berpikir.
2. Pembelajaran fiqih berlangsung secara tradisional yang meletakkan guru
sebagai pusat belajar bagi siswa (teacher centred). 3. Kurangnya keaktifan siswa dalam proses belajar
4. Rendahnya hasil belajar fiqih siswa
C.
Pembatasan Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memberikan batasan masalah diantaranya
yaitu:
1. Cakupan materi fiqih pada penelitian ini dibatasi hanya pada materi zakat.
2. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah problem based learning.
3. Hasil belajar fiqih yang ingin dicapai sesuai dengan KKM yaitu 75.
D.
Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
Apakah penerapan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi zakat kelas VIII MTs Al-Ihsan Pondok Gede Bekasi?
E.
Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi
Penelitian ini diharapkan berguna bagi para pendidik untuk memanfaatkan
model problem based learning menjadi aternatif penggunaan media yang efektif dalam pengajaran fiqih.
1. Bagi sekolah
Menjadi bahan masukan untuk para guru untuk mengembangkan
kompetensinya, terutama yang berkaitan dengan aktivitas belajar siswa
dengan penerapan model problem based learning dalam pembelajaran fiqih. 2. Bagi guru
Menjadi bahan masukan untuk para praktisi pendidikan khususnya guru fiqih
dalam penggunaan model problem based learning agar mengarah kepada keaktifan siswa sehingga hasil belajar dapat tercapai dengan maksimal.
3. Bagi siswa
Penelitian ini dapat membantu siswa mengaktifan dirinya dalam proses
belajar mengajar sehingga keinginan siswa untuk belajar meningkat. Selain
itu dengan menggunakan model problem based learning dapat menunjukkan cara berpikir siswa, serta saling tukar menukar pengalaman informasi.
4. Bagi peneliti sendiri bermanfaat untuk mengenalkan dan memanfaatkan
problem based learning kepada siswa sebagai alternatif penggunaan media yang efektif dan peneliti dapat memahami lebih jauh penggunaan model
7
A.
Hasil Belajar
1.
Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya yaitu hasil dan belajar. Dalam KBBI dijelaskan pengertian “hasil
adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dsb) oleh usaha.”1 Pengertian
lain “hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktifitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.”2
Dapat disimpulkan bahwa hasil yang ingin dicapai perlu adanya usaha berupa
proses maupun aktifitas.
“Belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat pengalaman atau latihan.”3
Selain itu juga belajar dapat diartikan sebagai “tahapan perubahan
seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
interaksi dengan lingkungan yang melibatakan proses kognitif.”4 Dalam definisi
lain menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.”5
Dari beberapa definisi di atas mengenai belajar dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat
dari pengalaman atau latihan dan proses berpikir.
1
Tim Penyususn Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka: 1998), Cet. I, h. 300
2
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), h. 44
3
Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), h. 55
4
Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), h. 92-93
5
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
Jadi, “hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya.”6 “Hasil belajar merupakan prestasi
belajar peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar
dan derajat perubahan perilaku yang bersangkutan.”7 Sedangkan menurut
Djamroh “hasil belajar adalah apa yang diperoleh oleh siswa setelah dilakukan aktivitas belajar.”8
Sementara itu, Nana Sudjana mengatakan “hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman
belajar.”9
Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal: pretest, proses, dan posttest. Ketiga hal tersebut dijelaskan berikut ini.
a. Pretest (tes awal)
Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pretest.
Pretest ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran
yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu pretest memegang peranan yang
cukup penting dalam proses pembelajaran.
b. Proses
Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan dari pelaksanaan proses
pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui
modul. Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi
hasil. Dari segi proses pembelajaran dikatakan berkualitas apabila seluruhnya
atau setidak-tidaknya sebagian besar 75% peserta didik terlihat secara aktif,
baik fisik, mental maupun, sosial dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari
segi hasil proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan
perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidaktidaknya
6
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), cet.10, h. 22
7
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,
2009), h. 212
8
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Cet.2,
h.10
9
sebagian besar 75%. Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil dan
berkualitas apabila masukan merata menghasilkan output yang banyak dan
bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat
dan pembangunan.
c. Posttest
Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan posttest. Posttest
memiliki banyak pengetahuan terutama dalam melihat keberhasilan
pembelajaran.10
Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan suatu pencapaian untuk mengukur seberapa jauh belajar yang siswa
peroleh setelah melalui serangkaian proses belajar mengajar yang bertujuan untuk
mengukur suatu hasil pada pencapaian tujuan indikator pembelajaran yang telah
ditentukan.
2.
Jenis-jenis Hasil Belajar
Howard Kingsley membagi “tiga macam hasil belajar, yakni keterampilan
dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita.”11
Gagne juga membuat semacam sistematika jenis belajar. Menurutnya
sistematika tersebut mengelompokan hasil-hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri
sama dalam satu kategori. Kelima hal tersebut adalah sebagai berikut.
a. Keterampilan intelektual, kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol huruf, angka, kata atau gambar. b. Informasi verbal, seseorang belajar menyatakan atau menceritakan suatu fakta
atau suatu peristiwa secara lisan atau tertulis, termasuk dengan cara menggambar.
c. Strategi kognitif, kemampuan seseorang untuk mengatur proses belajarnya sendiri, mengingat dan berfikir.
d. Keterampilan motorik, seseorang belajar melakukan gerakan secara teratur dalam urutan tertentu.
e. Sikap, keadaan mental yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan dalam bertindak.12
10
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h.100-102
11
Nana Sudjana, loc. cit.
12
Eveline Siregar dan Hertini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor: Ghalia
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan
kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni
ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual perilaku yang
merupakan proses berfikir atau perilaku yang termasuk hasil kerja otak. Beberapa
kemampuan kognitiftersebut antara lain sebagai berikut:
a. Hafalan: Kemampuan memanggil kembali fakta yang disimpan dalam otak
digunakan untuk merespons suatu masalah.
b. Pemahaman: Kemampuan untuk melihat hubungan fakta dengan fakta. c. Penerapan: Kemampuan kognitif untuk memahami aturan, hukum, rumus
atau sebagainya dan menggunakan untuk memecahkan masalah.
d. Analisis: Kemampuan memahami sesuatu dengan menguraikannya ke dalam unsur-unsur.
e. Sintesis: Kemampuan memahami dengan mengorganisasikan bagian-bagian ke dalam kesatuan.
f. Evaluasi: Kemampuan membuat penilaian dan mengambil. 13
Kawasan afektif, meliputi tujuan belajar yang berkenaan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri. Kawasan
ini dibagi dalam lima jenjang tujuan, yaitu sebagai berikut:
a. Penerimaan: Kesediaan menerima rangsangan dengan memberikan perhatian kepada rangsangan yang datang kepadanya.
b. Partisipasi/Merespon: Kesediaan memberikan respons dengan berpartisipasi.
c. Penilaian/Penentuan Sikap: Kesedian untuk menentukan pilihan sebuah nilai dari rangsangan tersebut.
d. Organisasi: Kesediaan mengorganisasikan nilai-nilai yang dipilihnya untuk menjadi pedoman yang mantap dalam perilaku.
13
e. Karakterisasi: Menjadikan nilai-nilai yang diorganisasikan untuk tidak hanya menjadi pedoman perilaku tetapi juga menjadi bagian dari pribadi
dalam perilaku sehari-hari.14
Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.
a. Persepsi: Kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala lain. b. Kesiapan: Kemampuan menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan. c. Gerakan Terbimbing: Kemampuan melakukan gerakan meniru model yang
dicontohkan.
d. Gerakan Terbiasa: Kemampuan melakukan gerakan tanpa ada model contoh kemampuan dicapai karena latihan berulang-ulang sehingga menjadi
kebiasaan.
e. Gerakan Kompleks: Kemampuan melakukan serangkaian gerakan dengan cara, urutan dan irama yang tepat.
f. Kreatifitas: Kemampuan menciptakan gerakan-gerakan baru yang tidak ada sebelumnya atau mengkombinasikan gerakan-gerakan yang ada menjadi
kombinasi gerakan baru yang orisinal.15
Dari berbagai penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hasil
belajar bukan hanya diukur dari hasil kognitif akan tetapi membawa ke aspek
yang lain pula diantaranya aspek afektif yang mana aspek ini melihatkan
perubahan sikap dan nilai, dan juga membawa kepada aspek psikomotor berkaitan
pada keterampilan dan kemampuan baik secara bertingkah laku, fisik dan
psikologis.
B.
Pembelajaran Fiqih
1.
Pengertian Pembelajaran Fiqih
Pada tingkatan Madrasah Tsanawiyah (MTs), mata pelajaran fiqih
merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar mereka bisa mengenal,
14
Ibid., h. 52
15
memahami dan mengamalkan syariat Islam yang kemudian menjadi dasar
pandangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Secara etimologi, “fiqih berarti paham yang mendalam.”16 Dengan definisi
lain dalam buku Zakiah Daradjat, “fiqih artinya faham atau tahu.”17 Dan dalam
firman Allah SWT surat at-Taubah ayat 122 dijelaskan:
“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya.”18
Tahu atau paham yang dimaksud di atas adalah tahu dan paham tentang
masalah-masalah agama. Pengertian fiqih seperti tergambar pada ayat di atas
merupakan pengertian yang sebenarnya. Pengertian tersebut pada perkembangan
selanjutnya mengalami penyempitan makna. Hal ini sebagaimana dikemukakan
oleh Prof. Quraisy Shihab bahwa “fiqih yang mulanya dimaksudkan sebagai
pengetahuan yang menyeluruh tentang agama, mencakup hukum, keimanan,
akhlak, al-Qur’an dan hadits.”19 Tetapi istilah itu kemudian dipakai khusus
menyangkut pengetahuan tentang hukum agama saja.
Sedangkan menurut istilah yang digunakan para ahli fiqih (fuqaha), fiqih itu ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syariat Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci. Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqih itu ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan, membahas, memuat hukum-hukum Islam yang bersumber pada al-Qur’an, sunah dan dalil-dalil syar’i yang lain, setelah
16
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih Jilid I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 2
17
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995),
h. 78
18
Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahan, (Semarang: CV Adi
Grafika, 1994), h. 301
19
diformulasikan oleh para ulama dengan mempergunakan kaidah-kaidah ushul fiqih.20
Dari definisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud
fiqih yaitu ilmu yang menerangkan segala hukum-hukum yang berhubungan
dengan perbuatan mukallaf yang diperoleh dari dalil-dalil yang rinci.
Adapun pengertian mata pelajaran fiqih dalam kurikulum Madrasah
Tsanawiyah adalah:21
a. Mata pelajaran fiqih adalah bimbingan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan
syari’at Islam. Materi yang sifatnya memahami, menghayati dan mengamalkan pelaksanaan syariat tersebut yang kemudian menjadi dasar pandangan dalam
kehidupannya, keluarga dan masyarakat lingkungannya.
b. Bentuk bimbingan tersebut tidak terbatas pada pemberian pengetahuan, tetapi
lebih jauh seorang guru dapat menjadi contoh dan tauladan bagi siswa dan
masyarakat lingkungannya. Dengan keteladanan guru diharapkan para orang
tua dan masyarakat membantu secara aktif pelaksanaan fiqih di dalam rumah
tangga dan masyarakat lingkungannya.
Dari penjelasan diatas, dapat penulis pahami tentang pengertian mata
pelajaran fiqih dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah yaitu mata pelajaran yang
diarahkan untuk memberikan pegetahuan, pemahaman dan bimbingan kepada
siswa mengenai ketentuan-ketentuan syariat Islam untuk diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari.
2.
Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Fiqih
Fiqih sebagai bagian dari syari’at Islam, maka sudah barang tentu tujuannya identik dengan tujuan syari’at Islam itu sendiri. Hanya saja tujuan ilmu fiqih lebih
terinci dan tegas daripada tujuan syari’at, karena objeknya adalah segala
perbuatan orang-orang mukallaf dalam melakukan segala aktifitasnya untuk
mendidik rohani dan jiwanya. Diantara tujuannya yaitu:
20
Zakiah Daradjat, loc. cit.
21
Depag RI, GBPP MTs Mata Pelajaran Fikih, (Dirjen pembinaan Kelembagaan Agama
a. Melaksanakan ibadah shalat dengan baik lengkap dengan rukun dan
sifat-sifatnya, dapat mendidik rohani dan membersihkan jiwa sehingga mampu
menjadi sumber kebaikan bagi dirinya sendiri.
b. Melaksanakan ibadah zakat dengan ikhlas, dapat melatih diri bersifat sosial
dan membersihkan jiwa dari sifat-sifat kikir serta untuk memperbaiki
hubungan antara si kaya dan si miskin.
c. Melaksanakan ibadah puasa dengan ikhlas, dapat meningkatkan kesadaran
untuk mencapai takwa yang merupakan kunci segala kebahagiaan.
d. Melaksanakan ibadah haji dengan ikhlas, dapat memberikan pengalaman dan
wawasan yang lebih luas, tentang kebesaran dan kekuasaan Allah, pencipta
berbagai bangsa manusia dan alam.
e. Melaksanakan muamalah; jual beli, sewa menyewa, gadai, titipan dan
sebagainya penuh dengan amanah (kejujuran) dan menjauhi segala perbuatan
yang dapat merugikan sesama manusia.
f. Melaksanakan munakahat dengan baik, sebagai suatu lembaga pembentukan
dan pembinaan masyarakat yang baik dan dari masyarakat yang baik inilah
yang dapat menjadi masyarakat yang adil dan makmur.22
Adapaun tujuan pembelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah untuk
membekali peserta didik agar dapat: (1) mengetahui dan memahami pokok-pokok
hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan
manusia dengan Allah yang diatur dalam fikih ibadah dan hubungan manusia
dengan sesama yang diatur dalam fikih muamalah. (2) Melaksanakan dan
mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah
kepada Allah dan ibadah sosial. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan
ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang
tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.23
Pembelajaran fiqih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat
memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk
22
Muhammadiyah Djafar, Pengantar Ilmu Fiqih, (Jakarta: Kalam Mulia, 1993), Cet. I, h. 17
23
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008 Tentang Standar
diaplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat
menjalankan syariat Islam secara kaaffah (sempurna).
Dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari fiqih yaitu selain mengetahui
hukum-hukum yang telah ditetapkan syari’at Islam juga didalamnya terdapat
nilai-nilai spiritual yang menjadi pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan
sosial serta dapat menimbulkan kedisiplinan yang tinggi.
3.
Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih
Para penulis kitab-kitab fiqih Syafi’iyah membagi pembahasan fiqih kepada
empat bagian, yaitu:
a. Aspek ibadah meliputi masalah-masalah yang dapat dikelompokkan ke dalam
kelompok thaharah, sholat, puasa, zakat, haji, qurban, jenazah serta aqiqah.
b. Aspek mua’amalat meliputi masalah-masalah yang dikelompokkan ke dalam
kelompok persoalan harta kekayaan, harta milik, harta kebutuhan, cara
mendapatkannya dan menggunakannya seperti jual beli, khiyar, gadai,
jaminan dan lain-lainnya.
c. Aspek munakahat yang meliputi masalah-masalah yang dikelompokkan
dalam kelompok persoalan pernikahan.
d. Aspek jinayat yang meliputi masalah-masalah yang dikelompokkan dalam
kelompok persoalan pelanggaran, kejahatan, pembalasan, hukuman dan
sebagainnya.24
Adapun ruang lingkup mata pelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah
meliputi ketentuan pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian,
keselarasan dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan sesama manusia.
Adapun ruang lingkup mata pelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah meliputi:
a. Aspek fiqih ibadah meliputi: ketentuan dan tata cara taharah, shalat fardu,
shalat sunnah dan shalat dalam keadaan darurat, sujud, azan dan iqamah,
berzikir dan berdoa setelah salat, puasa, zakat, haji dan umrah, kurban dan
akikah, makanan, perawatan jenazah, dan ziarah kubur.
24
b. Aspek fiqih muamalah meliputi: ketentuan dan hukum jual beli, qirad, riba,
pinjam-meminjam, utang piutang, gadai, dan upah. 25
C.
Model
Problem Based Learning
1.
Pengertian Model Pembelajaran
Joyce dan Weil dalam Rusman berpendapat bahwa “model pembelajaran
adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk
kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan
pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.” 26
Definisi lain mengungkapkan bahwa model pembelajaran adalah suatu
rencana atau pola yang dapat kita gunakan untuk merancang pembelajaran tatap
muka di dalam kelas atau dalam latar tutorial dan dalam membentuk
materiil-materiil pembelajaran termasuk buku-buku, film-film, pita kaset, dan program
media computer, serta kurikulum (serangkaian studi jangka panjang).27
Adapun Soekamto dkk dalam Trianto mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dan mengorganisasikan pengalamanbelajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar.28
Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa
model pembelajaran adalah serangkaian rencana yang memberikan gambaran
tentang prosedur sistematis rancangan pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Model pembelajaran mencakup berbagai hal yang
terkait dengan pelaksanaan proses pembelajaran, termasuk didalamnya adalah
penerapan metode dan strategi, penggunaan media, pemberian evaluasi, dan lain
sebagainya.
25
Ibid., 92
26
Rusman, op. cit., h. 133
27
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum dan Pembelajaran,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), h. 198
28
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan
Model pembelajaran memiliki urgensi yang sangat penting dalam
pelaksanaan pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran
merupakan panduan atau pedoman bagi para pendidik dalam hal pelaksanaan
proses belajar mengajar. Pentingnya model pembelajaran ini menuntut keharusan
kepada para pendidik agar dapat merancang dan menentukan model pembelajaran
seperti apa yang akan diterapkan dalm proses pembelajaran yang akan dilakukan.
2.
Pengertian
Problem Based Learning
Problem Based Learning adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, di rancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam karir dan kehidupan sehari-hari.29
“Pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran
yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk
belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan belajar.”30
Strategi pembelajaran berdasarkan masalah adalah menyodorkan masalah kepada peserta didik untuk dipecahkan secara individu atau kelompok, strategi ini pada intinya melatih keterampilan kognitif peserta didik terbiasa dalam pemecahan masalah mengambil keputusan, menarik kesimpulan, mencari informasi dan membuat artefak sebagai laporan mereka.31
Dilihat dari aspek psikologi, pembelajaran berbasis masalah bersandarkan
kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata
proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara
individu dan lingkungannya. Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan
berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada
29
Materi pelatihan penerapan Metode PBL di IBII, Elsa Krisanti & Kamarza Mulia, 2004
dalam M. Taufiq Amir, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, Bagaimana
Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan, (Jakarta: Kencana, 2010), Cet. II, h. 21
30
Ali Mudlofir, Aplikasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Bahan Ajar
dalam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), Cet. I, h. 64
31
Martinis Yamin, Strategi dan Metode dalam Pembelajaran, (Jakarta: GP Press Group,
aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik melalui penghayatan
secara internal akan problema yang dihadapi.32
“Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan
dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan
kompleksitas yang ada.”33
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
berbasis masalah (problem based learning) adalah sebuah model pembelajaran yang memanfaatkan masalah yang nyata, dengan tujuan mempersiapkan dan
membiasakan siswa menghadapi masalah yang akan dihadapi dalam
kehidupannya.
3.
Tokoh
Problem Based Learning
Tiga orang tokoh konstuktivistik yang banyak berbicara tentang
pembelajaran berorientasi masalah, masing-masing adalah;
a. John Dewey menyatakan bahwa sekolah merupakan laboraterium bagi peserta didik untuk penyelidikan dan pengatasan masalah kehidupan sehari-hari dalam
dunia nyata. Pedagogi Dewey mendorong guru untuk melibatkan peserta didik
di berbagai proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki
berbagai proyek masalah sosial dan intelektual penting. Dewey berpendapat
bahwa dalam proses belajar peserta didik harus diberikan kebebasan
mengeluarkan pendapat. Peserta didik harus aktif dan tidak hanya menerima
pengetahuan yang diberikan oleh guru. Begitu pula guru, guru harus
menciptakan suasana agar peserta didik senantiasa merasa haus akan
pengetahuan.34
b. Kilpatrick menjelaskan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya purposeful
(memiliki maksud yang jelas) dan tidak abstrak. Pembelajaran yang purposeful
itu dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan memerintah anak-anak dalam
32
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2007), Cet. VII, h. 213
33
Rusman, op. cit., h. 232
34
kelompok kecil untuk menangani proyek-proyek yang mereka minati dan
mereka pilih sendiri.35
c. Jean Piaget membenarkan bahwa anak-anak memiliki sifat bawaan ingin tahu dan terus berusaha memahami dunia disekitarnya. Keingintahuan anak
terhadap lingkungan yang dialaminya, dia berusaha mengkonstruksikan secara
aktif refresentasi-refresentasi dibenaknya tentang lingkungan yang dia alami.36
4.
Ciri-ciri
Problem Based Learning
Strategi pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning
memiliki tiga ciri utama, yaitu:
a. Problem based learning merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi problem based learning ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. Problem based learning tidak mengharapkan siswa hanya mencatat, mendengar kemudian mengafal mata pelajaran, akan tetapi
siswa dituntut untuk aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data,
dan akhirnya menyimpulkan.
b. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah, problem based learning menempatkan masalah sebagai kunci utama dalam proses pembelajaran.
c. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir
secara ilmiah, yaitu proses berpikir yang sistematis dan empiris.37
5.
Pelaksanaan
Problem Based Learning
Pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah lebih sulit karena
membutuhkan banyak latihan dan harus mengambil keputusan tertentu selama
perencanaan dan pelaksanaannya. PBL mempersiapkan peserta didik untuk
banyak berpikir untuk memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan
dunia nyata.
35
Ibid., h. 65-66
36
Ibid., h. 66
37
Pertama, peserta didik dikelompokkan ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang dan maksimal 5 orang. Kedua, menentukan sarana dan tujuan pelajaran berbasis masalah adalah salah satu diantara tiga pertimbangan penting
perencanaan. PBL dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan seperti meningkatkan
keterampilan intelektual dan penyelidikan dan membantu peserta didik memiliki
[image:34.595.114.518.211.662.2]keterampilan mandiri.38
Tabel 2.1 Sintaks Problem Based Learning39
Fase Aktivitas Guru
Fase 1
Mengorientasikan
siswa pada masalah
Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang
diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif pada
aktifitas pemecahan masalah yang dipilih
Fase 2
Mengorganisasi siswa
untuk belajar
Membantu siswa membatasi dan mengorganisasi tugas
belajar yang berhubungan dengan masalah yang
dihadapi
Fase 3
Membimbing
penyelidikan individu
maupun kelompok
Mendorong siswa mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari untuk
penjelasan dan pemecahan
Fase 4
Mengembangkan dan
menyajikan laporan
Membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan, video, dan model, dan
membantu mereka untuk berbagi tugas dengan
temannya
Fase 5
Menganalisis dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah
Membantu siswa melakukan refleksi terhadap
penyelidikan dan proses-proses yang digunakan selama
berlangsungnya pemecahan masalah
38
Martinis Yamin, op. cit., h. 69-70
39
Richard I Arends dalam Ngalimun, Strategi dan Model Pembelajaran, (Yogyakarta:
6.
Kelebihan dan Kekurangan
Problem Based Learning
Sebagai suatu strategi pembelajaran, problem based learning memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran
b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan
kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa
d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dan kehidupan nyata
e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang
mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat
mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun
proses belajar
f. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap
mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang
harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari
buku-buku saja.
g. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
h. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir
kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan
pengetahuan baru
i. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
j. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk terus menerus
belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir
Kelebihan yang lain dipaparkan secara singkat sebagai berikut:
a. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar
diserap dengan baik.
c. Dapat memperoleh dari berbagai sumber. 40
Disamping keunggulan, problem based learning juga memiliki kelemahan, diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan
merasa enggan untuk mencoba
b. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka
ingin pelajari41
Adapun kekurangan lain sebagai berikut:
a. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
b. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
c. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.42
D.
Hasil Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian terkait pembelajaran dengan model pembelajaran
berbasis masalah, diantaranya sebagai berikut:
1. Hasil penelitian Lin Suciani Astuti (2011) yang berjudul: “Peningkatan Hasil
Belajar Konsep Kesetimbangan Kimia melalui Model Pembelajaran PBL
(Problem Based Learning)”, menyatakan penerapan model pembelajaran
PBL (Problem based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep kesetimbangan kimia.43
2. Hasil penelitian Robiatul Adawiyah (2011) yang berjudul: “Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Islam Al-Fatah Jakarta
40
Iif Khoiru Ahmadi, dkk., Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu, (Jakarta: PT Prestasi
Pustaka, 2011), Cet. I, h. 56-57
41
Wina Sanjaya, op. cit., h. 220-221
42
Iif Khoiru Ahmadi, loc. cit.
43
Lin Suciani Astuti, Peningkatan Hasil Belajar Konsep Kesetimbangan Kimia Melalui
Utara)”, menyatakan bahwa ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa
dengan adanya penerapan model pembelajaran problem based learning.44 3. Hasil penelitian Nabila Syafi’i (2009) yang berjudul “Pengaruh Metode
Problem Based Learning (PBL) terhadap Hasil Belajar Kimia pada
Pembelajaran Kimia Terintegrasi Nilai”, menyatakan terdapat perbedaan hasil
belajar kimia antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, selain itu juga
pada kelas yang menggunakan metode PBL lebih baik dari kelas yang
menggunakan metode konvensional.45
Dari penelitian-penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan
strategi pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) berpengaruh terhadap proses belajar. Karena untuk meraih prestasi yang maksimal dipengaruhi
strategi pengajaran yang efektif.
E.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan permasalahan yang ada, maka hipotesis yang diajukan
pada penelitian ini sebagai berikut: Melalui model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran fiqih siswa kelas VIII di MTs
Al-Ihsan.
44
Robiatul Adawiyah, Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa (Penelitian Tindakan Kelas di SMP Islam Al-Fatah Jakarta Utara), (Jakarta: FITK UIN, 2011), h. 60
45Nabila Syafi’i,
24
A.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII MTs Al-Ihsan yang beralamat di
Jalan Masjid Nurul Ihsan No 1 Jatiwaringin – Pondok Gede – Bekasi. Waktu
pelaksanaan penelitian pada bulan November semester ganjil tahun ajaran
2014/2015.
B.
Metode dan Rancangan Siklus Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas
(classroom action research) dengan model problem based learning mencoba untuk memperbaiki proses belajar mengajar di dalam kelas tersebut.
Penelitian tindakan kelas berkembang dari penelitian tindakan. Oleh karena
itu, untuk memahami pengertian penelitian tindakan kelas (PTK) perlu kita
telusuri pengertian penelitian tindakan. Menurut Kemmis, “penelitian tindakan
adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan oleh peneliti
dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka.”
Pendapat lain tentang penelitian tindakan dikemukakan oleh Elliot yang
menyatakan “penelitian tindakan adalah kajian tentang situasi sosial dengan
maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan melalui proses diagnosis,
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan mempelajari pengaruh yang
ditimbulkannya.”1
“Penelitian tindakan kelas berasal dari bahasa Inggris classroom action research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas
tersebut.”2 Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu penelitian yang
1
Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), Cet. II, h.
24-25
2
Paizaluddin dan Ermalinda, Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research),
dikembangkan berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar
mengajar di kelas.
Pada penelitian tindakan kelas ini terdiri dari empat rangkaian kegiatan yang
dilakukan dalam siklus berulang, pada penelitian ini peneliti menggunakan 2
siklus. Prosedur penelitian ini terdiri dari empat tahap kegiatan setiap siklus,
yaitu:
1. Perencanaan (planning)
Dalam tahap ini peneliti merencanakan dengan merumuskan pertanyaan apa,
mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan dilakukan.
2. Tindakan (action)
Pada tahap ini peneliti melaksanakan apa yang telah direncanakan pada tahap
perencanaan.
3. Pengamatan (observing)
Peneliti melakukan pengamatan pada siswa selama proses belajar mengajar
berlangsung dengan lembar observasi.
4. Refleksi (reflection)
Pada tahap ini peneliti beserta guru menganalisis data yang telah diperoleh
dari kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang
direncanakan. Hal ini kemudian dianalisis dan akan digunakan untuk
[image:39.595.116.512.187.806.2]merencanakan tindakan selanjutnya.
Gambar 3.1 Bagan 4 Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas
Refleksi
Refleksi
Pengamatan
Pelaksanaan Perencanaan
Pengamatan
Pelaksanaan
SIKLUS I
SIKLUS II
C.
Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIII/E MTs Al-Ihsan Pondok Gede
semester ganjil 2014/2015 yang berjumlah 38 orang. Pihak yang terkait dalam
penelitian ini adalah guru bidang studi fiqih, observer, serta seluruh siswa kelas
VIII/E.
D.
Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian
Dalam pelaksanaanya, peran dan posisi peneliti dalam penelitian bertindak
sebagai guru yang melakukan proses pembelajaran fiqih dengan menerapkan
model pembelajaran berbasis masalah. Sedangkan guru bidang studi fiqih dalam
penelitian ini terlibat sebagai kolaborator dan observer. Dimana guru membantu
peneliti dalam hal membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
membantu dalam melakukan refleksi dan menentukan tindakan-tindakan yang
akan dilaksanakan pada siklus selanjutnya. Selain itu, guru bidang studi sebagai
pemberi penilaian terhadap peneliti dalam mengajar dengan menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah dan mengamati seluruh aktivitas belajar fiqih
siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Peneliti dan guru bidang studi masing-masing memiliki kedudukan yang
setara, artinya masing-masing mempunyai peran dan posisi yang saling
membutuhkan satu sama lain dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan.
E.
Tahapan Intervensi Tindakan
Sebelum penelitian tindakan kelas ini dilakukan, peneliti melakukan
penelitian pendahuluan (pra penelitian). Kemudian akan dilanjutkan dalam dua
siklus pada mata pelajaran fiqih. Hal ini dimaksudkan untuk melihat
perkembangan aktivitas siswa pada setiap siklus setelah diberikan tindakan. Bila
pada siklus I terdapat masalah dalam tindakan dan indikator keberhasilan belum
tercapai. Selanjutnya, dilakukan tindakan ulang melalui siklus berikutnya (siklus
II) lebih banyak diarahkan pada perbaikan dan penyempurnaan terhadap
Adapun uraian dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai
[image:41.595.118.516.168.735.2]berikut:
Tabel 3.1 Tahapan Pelaksanaan Tiap Siklus
Tahap Kegiatan
Pendahuluan 1. Observasi ke sekolah
2. Mengurus surat izin penelitian
3. Membuat instrumen penelitian
4. Menyiapkan perlengkapan penelitian
5. Melakukan wawancara kepada guru bidang studi fiqih di
sekolah tersebut dan menentukan kelas subjek penelitian
Perencanaan 1. Menyiapkan kelas tempat penelitian
2. Membuat RPP dengan menggunakan model Pembelajaran
Berbasis Masalah
3. Mendiskusikan RPP dengan dosen pembimbing dan
kolaborator
4. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dengan
model Pembelajaran Berbasis Masalah
5. Menyiapkan materi ajar untuk setiap pertemuan
6. Menyiapkan lembar observasi siswa dan guru, wawancara
dan catatan lapangan serta keperluan observasi lainnya
7. Menyiapkan sumber belajar
Pelaksanaan 1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Pelaksanaan pembelajaran dengan model Pembelajaran
Berbasis Masalah dengan metode diskusi
3. Membagi lembar tugas untuk didiskusikan secara kelompok
4. Memonitor kegiatan-kegiatan siswa pada saar proses
pembelajaran
5. Meminta hasil kerja setiap kelompok dikemukakan di depan
kelas
7. Pemberian tugas kepada siswa pada materi yang akan
dibahas selanjutnya
Pengamatan Dalam tahap ini peneliti melakukan pengamatan bersamaan
dengan pelaksanaan tindakan untuk memperoleh data yang
akurat untuk perbaikan pada siklus selanjutnya
Refleksi Tahap ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali
apa yang sudah dilakukan. Hasil evaluasi dijadikan feedback
dalam merencanakan perbaikan untuk pelaksanaan tindakan
selanjutnya. Serta melakukan analisis terhadap semua data
yang