URAIAN TEORITIS 2.1 Komunikasi Dan Komunikasi Massa
II.1.7 Fungsi Komunikasi Massa
2.2 Teori Uses And Gratification
2.2.2 Kelebihan dan Kritik terhadap Teori Uses and Gratification
Menurut E.Rossi, model Uses and Gratifications memiliki kelebihan tersendiri dari teori komunikasi yang lainnya, dimana model ini menekankan pada keaktifan masyarakat sebagai pengguna media. Dengan demikian, dapat diketahui media mana yang disukai khalayak dan media mana yang tidak disukai khalayak.
Selain memiliki kelebihan, model ini juga tidak terhindar dari beberapa kritikan, seperti yang dikemukakan oleh David Morley, yaitu:
1. Teori Uses and Gratifications terlalu membesar-besarkan paham kepuasan, terlalu individualistik dan psikologistik sehingga mengabaikan konteks sosial budaya.
2. Disamping perbedaan interpretasi individu, perbedaan sosial ekonomi khalayak juga sangat berpengaruh dalam pemilihan media.
3. Teori Uses and Gratifications terlalu mengagungkan keaktifan khalayak dan kesadaran memilih, sehingga secara tidak langsung, teori ini mengatakan bahwa media dapat dipaksa untuk memenuhi kebutuhan khalayak.
4. Teori ini mengabaikan wawancara dan lebih menekankan penggunaan kuesioner dalam penelitian. Sebenarnya dalam kesempatan tertentu wawancara sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil penelitian yang sempurna.
Para pengguna media bersikap selektif dan rasional dalam memproses pesan-pesan media, namun pada saat yang lain, mereka memanfaatkan media untuk bersantai atau sebagai tempat pelarian. Perbedaan jenis maupun tingkat aktivitas audiens mungkin juga merupakan akibat dari efek-efek media.
Arah baru lainnya difokuskan pada manfaat media untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Misalkan saja, salah satu kemungkinan manfaaat media adalah untuk mengatasi rasa kesepian. Canary dan Spitzberg (1993) menemukan bukti yang mendukung manfaat ini, namun kaitannya tergantung pada kadar kesepiannya. Mereka menemukan bahwa manfaat media yang paling besar dalam mengatasi kesepian adalah dalam kondisi sepi secara situasional, atau mereka yang kesepian untuk sementara waktu. Mereka menemukan manfaat media yang tidak begitu besar untuk mengatasi kesepian pada kondisi sepi secara kronis atau mereka yang merasa kesepian dalam jangka waktu bertahun-tahun.
Penjelasan atas temuan ini agaknya adalah bahwa mereka yang sepi secara kronis merekatkan sifat-sifat kesepian mereka pada faktor-faktor internal dan dengan tidak meyakini bahwa komunikasi itu dengan sendirinya akan menjadi pelepasan (Severin dan Tankard, 2007: 363).
Salah satu kritik pendekatan manfaat dan gratifikasi adalah bahwa pendekatan ini terlalu sempit fokusnya, yaitu pada individu. Pendekatan ini bersandar pada konsep-konsep psikologis seperti kebutuhan dan mengabaikan struktur sosial maupun tempat media itu berada dalam struktur tersebut. Salah satu jawaban atas kritik ini datang dari Robin dan Windahl (1986) yang telah mengusulkan suatu sintesis antara pendekatan manfaat dan gratifikasi dengan teori ketergantungan. Model manfaat dan ketergantungan mereka menempatkan individu di dalam sistem kemasyarakatan yang membantu membentuk kebutuhan-kebutuhan mereka.
Perspektif pendekatan manfaat dan gratifikasi juga dikritik oleh para penulis yang memiliki perhatian pada persoalan hegemoni media. Mereka
mengatakan bahwa terlalu jauh kiranya jika dikatakan bahwa orang bebas memilih agenda media maupun interpretasi-interpretasi sesuai kehendak mereka. Pesan-pesan media massa cenderung memperkuat pandangan kebudayaan yang dominan dan audiens merasa sukar untuk mengelak (Severin dan Tankard, 2007: 358).
2.3 Motivasi Penggunaan Media
Semua tingkah laku manusia pada hakekatnya mempunyai motif sama. Motif merupakan suatu pengertian yang melengkapi semua gerak, alasan-alasan, atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu (Ardianto dan Erdinaya, 2004: 87)
Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu. Setiap individu pasti memiliki motif yang berbeda-beda dalam melakukan sesuatu. Perbedaan motif ini juga berlaku dalam prilaku penggunaan media. Berbedanya motif seseorang dalam menggunakan media menimbulkan perbedaan pula dalam tingkat kepuasan yang didapat individu dalam menggunakan media. Semakin sesuai pesan komunikasi dengan motivasi, semakin besar pula kemungkinan komunikasi tersebut dapat diterima dengan baik oleh komunikan (Erdianto, 2004: 87).
Motif adalah pernyataan dari dalam berupa gerakan yang sering muncul sebelum melakukan tingkah laku, hubungan antara motif dan tingkah laku sangat berdekatan. Seseorang dapat bertingkah laku dan seseorang juga bisa termotivasi untuk bertingkah laku. Idealnya, kita tidak berpengalaman tinggi dalam gerakan,
tetapi kita juga berkesempatan untuk bertingkah laku dengan maksud memenuhi kebutuhan (Epstein, 2004: 2).
Motivasi berasal dari kata motif yang menurut Effendy (1978: 69) dijadikan sebagai konsisi seseorang yang mendrong untuk mencapai kepuasan suatu tujuan. Menurut Gerungan (1991: 140-141), motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang memyebabkan ia berbuat sesuatu. Motif itu memberi tujuan dan arah kepada tingkah laku kita.
Kebutuhan dapat dipenuhi dari penggunaan media dan non media sehingga tercapainya kepuasan. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan individual khalayak, dimana digolongkan ke dalam lima kategori, yakni:
Dikutip dalam Peterson (2003: 311), Wilbur Schramm mengajukan dua prinsip dasar yang menjelaskan faktor pendorong khalayak untuk memilih media, yakni:
1. Prinsip kemudahan
Schramm menyatakan bahwa pendengar, pembaca, atau pemirsa memilih suatu media yang palin gmudah diperolehnya. Dijelaskannya bahwa manusia memang cenderung memilih yang gampang-gampang saja dan ini diterapkan pula dalam memilih media. Selama medianya tersedia, khalayak akan memilih yang paling dekat dalam jangkauannya.
Biaya juga termasuk dalam prinsip ini, bila sebuah keluarga sudah menghabiskan sekian ratus dolar untuk membeli televisi, maka mereka takkan tertarik bergabung dalam klub membaca atau berlangganan koran atau majalah baru.
Waktu pun jadi bahan pertimbangan. Memang ada orang yang mau berjalan jauh untuk menemukan koran yang disukainya atau sengaja berputar-putar dengan mobilnya hanya untuk mendengarkan radio. Namun, umumnya orang menikmati media pada waktu-waktu tertentu yang tidak merepotkannya.
2. Prinsip harapan memperoleh imbalan
Schramm menjelaskan bahwa prinsip ini berarti orang-orang akan memilih media yang menurut harapannya akan memberikan imbalan besar. Ia juga mendefinisikan dua macam imbalan, yakni imbalan langsung dan imbalan tertunda. Jika seseorang merasa senang dengan membaca suatu artikel tentang meningkatnya kriminalitas lalu bersikap lebih hati-hati, maka ia memperoleh imbalan yang tertunda.
McGuire dalam Rakhmat (2005: 209) menjelaskan motif kognitif yang menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu.
Berbagai motif yang mendorong orang menggunakan media sangat tergantung kepada konsumsi komunikasi massa. Bagi sebagian orang, terpaan media lebuh merupakan kegiatan yang kebetulan dan amat dipengaruhi faktor eksternal. Sebagian yang lain memandang pemuasan kebutuhan dengan media begitu kecil dibandingkan dengan kebutuhan khalayak sehingga faktor motivasional hampir tidak berperan dalam menentukan terpaan media. Sebagian yang lain lagi berpendirian bahwa walaupun ada pemuasaan potensial dalam komunikasi massa, kita tidak begitu berhasil dalam menentukan pemenuhan
kebutuhan karena media massa tidak memberikan petunjuk tentang ganjaran yang dapat diberikannya.
Menurut Mc Quail (1994: 216), untuk mengetahui minat audiens suatu media, berarti menyangkut kadar sejauhmana selektivitas kadar dan jenis motivasi yang menimbulkan penggunaan media, terhadap pengaruh yang tidak diinginkan, jenis, dan jumlah tanggapan yang diajukan audiens media.
Barelson (1989) mengemukakan alasan khalayak membaca surat, alaasan tersebut ternyata terbagi ke dalam lima kategori yaitu membaca untuk memperoleh informasi, membaca untuk memperoleh prestise sosial, membaca untuk melarikan diri dari ketegangan atau stress, membaca sebagai kebutuhan sehari-hari, dan membaca untuk megetahui keadaan lingkungan sosial
Jika dihubungkan dengan penggunaan media, motif seorang angaota kahalayak adalah untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan fungsi media itu sendiri. Adapun fungsi media yang sesuai dengan pendekatan UG adalah: 1. Informasi
− Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat, dan dunia
− Mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat, hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan
− Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum − Belajar, pendidikan sendiri
2. Identitas diri
− menemukan penunjang nilai-nilai pribadi − menemukan model prilaku
− mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media) − meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri
3. Integrasi dan interaksi sosial
− menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial − memperoleh teman
− memperoleh pegetahuan tentang orang lain, empati sosial 4. Hiburan
− melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan − bersantai
− memperoleh kenikmatan jiwa (Mc Quail, 1994: 72)
2.4 Facebook
Facebook adalah situs jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Elliot Zuckerberg. Situs ini pada awalnya dibentuk hanya untuk siswa dari Harvard College. Namun, dalam hitungan jam, jejaring sosial ini kemudian dengan cepat menyebar ke kampus-kampus lain. Sebulan kemudian, mahasiswa Stanford, Columbia, dan Yale juga bergabung. Fenomena ini pun terus berkembang. Sejak 11 September 2006, orang dengan alamat surat (e-mail) apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis.
Facebook menawarkan keprivasian dan beragam fitur yang sangat lengkap bila dibandingkan dengan situs jejaring sosial sejenis. Facebook menyediakan fitur gabungan antara aplikasi social networking, chatting, blogging, multimedia,
photo sharing, dan bahkan email. Beberapa bagian dalam Facebook adalah Profile, News Feed, Wall, Application, Photo, Video, Poke, Group, Events, Marketplace, Post, Notes, dan Gifts. Dalam satu akun Facebook, seseorang bisa
melakukan beragam aplikasi tersebut. Seseorang juga bisa menemukan teman di Facebook dengan berbagai cara, antara lain dengan mengakses dan bergabung dalam sebuah jaringan yang disusun dalam empat kategori, yaitu daerah, akademi, tempat kerja, dan sekolah.
2.5 Kebutuhan Afiliasi
David McClelland dikenal menjelaskan tiga jenis motivasi, yang diidentifikasi dalam buku ”The Achieving Society”:
1. Motivasi untuk berprestasi (n-Ach) adalah keinginan untuk dipandang berhasil dalam hidup.
2. Motivasi untuk berkuasa (n-Pow) adalah keinginan akan kekuasaan menampakkan diri pada keinginan untuk mempunyai pengaruh terhadap orang lain.
3. Motivasi untuk berafiliasi/bersahabat (n-Affil) adalah kebutuhan yang muncul sebagai sifat manusia sebagai makhluk sosial.
Kebutuhan akan afiliasi menggambarkan seseorang perlu merasakan rasa keterlibatan dan 'milik' dalam kelompok sosial. Kebutuhan ini adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi
yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi sosial yang tinggi.
Kebutuhan berafiliasi adalah dorongan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan positif dan berafeksi pada orang lain; keinginan untuk disukai dan diterima serta berusaha menjaga hubungan itu agar tetap ada; dan kebutuhan untuk bergantung dengan teman-teman.
Manusia sebagai makhluk yang mencari kasih sayang dan penerimaan orang lain. Ia ingin memelihara hubungan baik dalam hubungan interpersonal dengan saling membantu dan saling mencintai. Dalam hubungannya dengan gratifikasi media, dikatakan bahwa salah satu fungsi media adalah menghubungkan individu yang satu dengan individu yang lain.
Orang dengan kebutuhan afiliasi tinggi memerlukan hangat hubungan interpersonal dan persetujuan dari orang-orang dengan siapa mereka kontak teratur. Orang-orang yang menempatkan penekanan pada afiliasi tinggi cenderung mendukung anggota tim, tetapi mungkin kurang efektif dalam kepemimpinan posisi. Afiliasi dapat didefenisikan sebagai positif, kadang-kadang intim, pribadi hubungan. Ada banyak situasi di mana orang merasa perlu untuk afiliasi. Satu situasi yang menyebabkan kebutuhan yang lebih besar untuk afiliasi adalah selama situasi stres.
Motif afiliasi yang mungkin terkait dalam beberapa hal untuk semakin besar kesempatan bahwa manusia yang afiliasi, berkelompok, akan menerima dukungan dari fakta bahwa motivaasi afiliasi muncul menjadi lebih kuat ketika kita takut tentang kesejahteraan kita.
Beberapa percaya bahwa kebutuhan afiliasi adalah kebutuhan bawaan yang didasarkan pada seleksi alam. Dahulu, manusia yang memilih untuk berburu sendirian akan kurang mampu membunuh binatang besar untuk makanan dan untuk menghindari menjadi mangsa binatang lain, dan untuk bertahan hidup, daripada manusia yang merasa perlu untuk hidup dan berburu dengan orang lain. Dengan demikian, kekuatan alam mungkin dipilih orang manusia dengan kebutuhan untuk afiliasi karena mereka adalah orang-orang yang selamat.
Psikolog percaya bahwa setiap manusia belajar motif untuk afiliasi melalui sendiri pengalaman pembelajaran. Karena pengalaman bayi diberi makan, dibersihkan, menggelitik, tetap hangat, dan bentuk-bentuk positif lainnya dalam memelihara kehadiran manusia lain, manusia lain mungkin menjadi rangsangan positif melalui pengkondisian klasik. Demikian juga karena tindakan kita yang menyebabkan kita berada dalam kehadiran orang lain tersenyum, mengulurkan tangan bayi untuk memeluk, dan sejenisnya sering mengakibatkan hasil yang menyenangkan kemudian prilaku afiliasi cenderung positif diperkuat (Houston, 1985).
Kebutuhan untuk afiliasi bagi seorang individu dapat bervariasi dalam jumlah pendek waktu, disini adalah saat-saat ketika individu ingin dengan orang lain dan lain waktu untuk sendirian.
Kebutuhan afiliasi hadir dalam semua manusia normal, tetapi kebanyakan penelitian tentang topik ini menyangkut perbedaan antara individual yang memiliki tingkat yang berbeda ini motif. Individu yang tinggi dalam kebutuhan affliasi, misalnya, cenderung lebih suka dengan orang lain.
Harold D.Laswell menyebut media massa memiliki fungsi “correlation”. Asumsi pokok dari Katz, Gurevitz, dan Hass adalah pandangan bahwa komunikasi massa digunakan individu untuk menghubungkan dirinya melalui hubungan instrumental, afektif, dan integratif dengan orang-orang lain baik itu diri sendiri, keluarga, teman, bangsa, dan sebagainya.
Isi media menegaskan fungsi khalayak sebagai peserta dalam drama kemanusiaan yang lebih luas. Tidak jarang isi media massa juga dipergunakan seseorang sebagai bahan percakapan dalam membina interaksi sosial. Media massa juga dapat menjadi sahabat karib bagi khalayaknya yang setia.
Memenuhi kebutuhan berafiliasi dengan cara mengadakan kontak sosial seperti menghubungi atau mengunjungi teman merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh individu yang sedang mengalami kesepian (Peplau & Perlman, 1982). Penelitian yang ia lakukan bertujuan untuk membuktikan secara empiris hubungan antara kesepian dengan kebutuhan berafiliasi pada remaja. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan yang signifikan antara kesepian dengan kebutuhan berafiliasi. Kesepian merupakan suatu pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan, yang diakibatkan karena tidak terpenuhinya pengalaman untuk menjalin hubungan kedekatan dengan orang lain, atau perasaan kurang puas dalam berhubungan dengan orang lain, yang disebabkan oleh factor dari dalam diri maupun dari luar diri yang akan berpengaruh terhadap emosi maupun perilaku individu. Kebutuhan berafiliasi adalah dorongan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan positif dan berafeksi pada orang lain; keinginan untuk disukai dan diterima serta berusaha menjaga hubungan itu agar tetap ada; dan kebutuhan untuk bergantung dengan teman-teman. Subjek pada
penelitian ini secara keseluruhan berjumlah 50 responden. Alat ukur yang akan dipakai untuk mengukur kesepian dan kebutuhan berafiliasi dalam penelitian ini adalah Skala Kesepian yang diadaptasi dari Sita (2003) yang disusun berdasarkan karakteristik kesepian dikemukakan oleh Peplau & Perlman, (1982), dan Skala Kebutuhan Berafiliasi yang diadaptasi dari Runikasari (1991) yang disusun berdasarkan dimensi-dimensi kebutuhan berafiliasi, yaitu akan tampil lebih baik jika ada insentif afiliasi, mempertahankan hubungan, kerjasama,konformitas, menghindari konflik, tingkah laku kepemimpinan kurang, dan rasa takut akan penolakan. Hasil penelitian menyimpulakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesepian dengan kebutuhan berafiliasi pada renaja. Dikatakan semakin tinggi kesepian maka semakin tinggi kebutuhan berafiliasinya dan sebaliknya, semakin rendah kesepian maka semakin rendah pula kebutuhan berafiliasinya.