DAN SEKARANG Oleh: Damardjati Kun Marjanto
3. Kelembagaan Agama Kaharingan dalam Pemerintahan
Sebelum berbicara tentang eksistensi agama Kaharingan di Kabupaten Kotawaringin Timur, kita akan melihat perkembangan kelembagaan agama Kaharingan. Proses perkembangan kelembagaan agama Kaharingan ini dimulai di Kota Palangkaraya, yang pada akhirnya sampai pada kedudukan lembaga agama Kaharingan seperti sekarang ini yang kepengurusannya sampai ke kabupaten-kabupaten, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kesadaran untuk membuat sebuah wadah sebagai sarana perjuangan agama Kaharingan, mulai dirintis oleh beberapa tokoh Kaharingan setelah Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Setelah lima tahun merdeka yaitu tepatnya ada tanggal 20 Juni 1950, para tokoh Kaharingan mendirikan sebuah organisasi yang bernama SKDI atau Serikat Kaharingan Dayak Indonesia. Pendirian organisasi ini bertujuan untuk memuluskan usaha para tokoh Kaharingan supaya agama Kaharingan dapat diakui dan dimasukan dalam administrasi Pemerintahan Republik Indonesia. Setelah mendirikan sebuah organisasi resmi, mulailah para tokoh Kaharingan berusaha untuk memasukan agama Kaharingan ke Departemen Agama RI. Usaha tersebut pernah ditempuh pada waktu Kongres III SKDI yang diadakan di Bahu Palawa pada tanggal 22 Juli 1953. Hasil Kongres merekomendasikan untuk mengirimkan surat ke Depag RI yang kemudian ditindaklanjuti oleh pengurus SKDI dengan mengirim surat ke Depag RI pada tanggal 7 Maret 1954 No. 9-P-DPP-SKDI/1954. Usaha dari para tokoh Kaharingan melalui SKDI cukup membuahkan hasil dengan adanya perhatian baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hal ini bisa dilihat dengan adanya surat dari Departemen Agama RI No. L/III/99/11943 tanggal 8 September 1959 yang merupakan surat tanggapan atas surat dari Dewan Pemerintahan Swatantra Tk.I Kalteng No.Pem.56-VI-D-3 tanggal 1 Agustus 1959 tentang calon petugas Pegawai Kantor Urusan Agama Prop. Kalteng Seksi Kaharingan.
Perjuangan administratif baik ke pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terus dilakukan, dengan terbitnya surat Kepala Kantor Urusan Agama Prop. Kalteng No. 406/A/1/60, tanggal 10 Februari 1960 tentang calon pegawai kantor Urusan Agama. Juga ada surat dari Departemen Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah Jakarta, No.BPX.24/1/16 tanggal 2 Mei 1962 tentang pengisian formulir pengurus dan penanggung jawab organisasi SKDI. Pada tahun 1965, terbit surat dari Gubernur KDH Kalteng No. 437/Sos.II/1965 tanggal 23 Desember 1965 yang berisi penugasan satu orang pegawai untuk mempersiapkan bagian Kaharingan di Kantor Urusan Agama Prov. Kalteng. SKDI mengutus Unget Djunas untuk dapat diterima menjadi pegawai Kantor Urusan Agama Prov. Kalteng.
Walaupun usaha pengurus SKDI untuk memperjuangkan pengakuan agama Kaharingan sebagai salah satu agama yang diakui oleh pemerintah pusat, belum membuahkan hasil, namun di tingkat masyarakat, kehidupan keagamaan pemeluk Kaharingan semakin intensif dan mendapat banyak dukungan baik dari masyarakat maupun dari pemerintah daerah. Kongres demi kongres yang dilakukan oleh SKDI selalu mendapat sambutan baik dari semua pihak. Pada kurun waktu tersebut, pada masa pemerintahan Orde Lama, para tokoh Kaharingan tidak berhenti berusaha untuk memasukan agama Kaharingan dalam Administrasi Pemerintahan Republik Indonesia. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Pada masa Orde Baru, pada tahun 1967, Organisasi SKDI menggabungkan diri dengan Sekber Golkar, dan pada pemilu tahun 1971 SKDI berhasil memasukkan tokohnya duduk sebagai anggota DPRD, yaitu 3 orang di DPRD Tk I Kalteng, 2 orang di DPRD Tk.II Kota Madya Palangkaraya, dan masing-masing 1 orang di DPRD Tk.II Barito Selatan, dan Barito Utara. Pada Pemilu tahun 1977, SKDI berhasil mendudukan 2 orang wakilnya di DPRD Tk.I. Kalteng mewakili Golkar.
Pada tanggal 20-28 Januari 1972, telah diadakan Musyawarah Besar para alim ulama Kaharingan se-Kalimantan Tengah. Hasil musyawarah besar tersebut salah satunya adalah pendirian Organisasi Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia (MB-AUKI) yang berpusat di Kota Palangkaraya. Organisasi ini mendapatkan sambutan yang hangat dari berbagai pihak. Dalam waktu yang relatif singkat,
organisasi ini sudah membentuk kepengurusannya sampai tingkat kampung yang ada di seluruh Kalimantan Tengah. Mulai saat itu terjadi pembenahan yang cukup besar dalam organisasi maupun dalam kehidupan ritual keagamaan umat Kaharingan, misalnya, mendirikan balai-balai ibadah di seluruh pelosok daerah, beribadah setiap hari Kamis malam di Balai Basarah, membukukan berbagai aturan-aturan agama Kaharingan, menggalakkan ibadah-ibadah dari rumah ke rumah secara bergiliran, dan yang tidak kalah pentingnya mencetak intelektual di kalangan penganut agama Kaharingan.
Raker MBAUKI pada tahun 1979 kembali menegaskan keinginan umat Kaharingan untuk diakomodasikan aspirasi mereka melalui Departemen Agama. Untuk memenuhi keinginan Umat Kaharingan, maka Majelis Besar mengadakan kontak dengan Departemen Agama memalui Direktur Urusan Agama Hindu dan Buddha menyampaikan keinginan umat Kaharingan melalui suat tanggal 1 Januari 1980 No. 5/KU-KP/MBAUKI/I/1980 yang isinya keinginan untuk menggabungkan diri dengan Hindu Dharma dan Parisada Hindu Dharma. Keinginan umat Kaharingan tersebut direspons oleh pengurus Hindu Dharma di Denpasar tanggal 9 Januari 1980. Untuk itu Direktur Urusan Agama Hindu dan Buddha Departemen Agama RI mengeluarkan surat No. HII/10/1980 tanggal 24 Januari 1980 yang berisi menerima keinginan umat Kaharingan dan pengurus MBAUKI tersebut. Pada suratnya tanggal 24 Januari 1980 No. HII/70/1980 Direktur Urusan Agama Hindu dan Buddha menyarankan untuk mengganti nama organisasi dari Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan. Pada tanggal 10 Maret 1980 dibentuklah panitia peresmian bergabungnya umat Kaharingan ke dalam Agama Hindu dan Parisada Hindu Dharma, dan pada tanggal 13 Maret 1980, berangkatlah Pimpinan Majelis Besar menuju Denpasar untuk mengadakan konsultasi dengan seluruh unsur pimpinan Hindu. Pada akhirnya, tanggal 30 Maret 1980 dikukuhkan secara resmi penggabungan agama Kaharingan ke dalam Agama Hindu Dharma. Semenjak tahun 1980 sampai sekarang, organisasi yang mengurus umat Kaharingan adalah Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan dengan pusatnya di Palangkaraya.
Penggabungan umat Kaharingan ke dalam wadah Parisada Hindu Dharma, sampai saat ini masih tetap berlangsung. Di kalangan
umat Kaharingan sendiri terdapat pro kontra terhadap penggabungan tersebut. Ada beberapa organisasi yang didirikan oleh beberapa umat Kaharingan yang ingin keluar dari organisasi Parisada Hindu Dharma, antara lain: MAKIP (Majelis Agama Kaharingan Indonesia Pusat), BAKDP (Badan Agama Kaharingan Dayak Indonesia), MAKRI (Majelis Agama Kaharingan Republik Indonesia), dan DBDKI (Dewan Besar Dayak Kaharingan Indonesia). Walaupun di dalam unsur tokoh-tokoh Kaharingan masih terdapat pro kontra penggabungan ke dalam agama Hindu, namun bagi pengurus Majelis Agama Hindu Kaharingan, penggabungan tersebut masih merupakan pilihan yang terbaik, sehingga mereka memilih isu ketertinggalan sumber daya manusia umat Kaharingan sebagai isu yang menjadi prioritas penanganan dan pembinaan yang harus segera dilakukan.