• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 7 PENGELOLAAN PENYERAHAN HASIL AKHIR PEKERJAAN

C. Kelengkapan Dokumen Pelaksanaan Konstruksi

1. Gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan (as built drawings);

2. Semua berkas perizinan yang diperoleh pada saat pelaksanaan konstruksi fisik, termasuk surat izin mendirikan bangunan (IMB);

3. Kontrak pekerjaan pelaksanaan konstruksi fisik, pekerjaan pengawasan beserta segala perubahan/ addendumnya.

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 53

4. Laporan harian, mingguan, bulanan yang dibuat selama pelaksanaan konstruksi fisik, laporan akhir manajemen konstruksi/ pengawasan, dan laporan akhir pengawasan berkala;

5. Berita acara perubahan pekerjaan, pekerjaan tambah/kurang, serah terima I dan II, pemeriksaan pekerjaan, dan berita acara lain yang berkaitan dengan pelaksanaan konstruksi fisik;

6. Foto-foto dokumentasi yang diambil pada setiap tahapan kemajuan pelaksanaan konstruksi fisik;

7. Manual pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung, termasuk petunjuk yang menyangkut pengoperasian dan perawatan peralatan dan perlengkapan mekanikal-elektrikal bangunan;

8. Penyusunan Kontrak Kerja Konstruksi Pelaksanaan dan Berita Acara Kemajuan Pekerjaan/Serah Terima Pekerjaan Pelaksanaan Konstruksi maupun Pengawasan Konstruksi mengikuti ketentuan yang tercantum dalam Keppres tentang elaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Pedoman/Petunjuk Teknis pelaksanaannya;

9. Pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik di lapangan;

10. Pekerjaan galian tanah dan urugan tanah biasanya diiringi dengan pekerjaan pengukuran karena ketepatan lokasi bangunan terkait dengan penentuan titik pondasi. Sehingga pekerjaan penggalian selain berdasarkan titik pondasi melainkan juga dipengaruhi oleh elevasi kedalaman dan elevasi atas pondasi; 11. Kegiatan konstruksi merupakan kegiatan yang menindaklanjuti dari program

sebelumnya. Pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik diawali dari pembersihan lahan (tanaman dan/atau puing-puing bangunan), pengukuran horizontal dan vertikal, pemasangan bouwplak, pekerjaan bawah meliputi penggalian tanah, pemasangan pondasi, sloof dan tie beam, pekerjaan atas mulai dari kolom, balok dan atap. Selain pekerjaan tersebut, pekerjaan lain yang masih dilakukan adalah pemasangan dinding, pintu-jendela, plafon, lantai, pengecatan.

D. Gambar Pelaksanaan Pekerjaan Sesuai dengan yang Dilaksanakan (As

Built Drawing)

As Built Drawing merupakan gambar yang dibuat sesuai kondisi terbangun di

lapangan yang telah mengadopsi semua perubahan yang terjadi (spesifikasi dan gambar) selama proses konstruksi yang menunjukkan dimensi, geometri, dan lokasi yang aktual atas semua elemen proyek.

54 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

Tujuan gambar ini adalah sebagai pedoman pengoperasian bangunan yang dibuat dari shop drawing dimana telah mengadopsi perubahan yang dilakukan pada saat konstruksi dimana perubahan tersebut ditandai secara khusus. As Built Drawing dibuat oleh kontraktor/pelaksana konstruksi dengan persetujuan Penyedia Jasa / Owner melalui proses cek oleh konsultan pengawas.

Dengan tujuan pedoman pengoperasian, As Built Drawing tidak perlu sedetail shop

drawing yang yang ditujukan untuk dasar membangun dengan tingkat detil yang

tinggi. Aspek penting yang harus diperhatikan adalah tujuan komunikasi kedua gambar tersebut. Shop Drawing bertujuan untuk informasi lengkap bagaimana membangun sebuah bangunan, sedangkan As Built Drawing bertujuan untuk informasi pedoman pengoperasian.

E. Pedoman Pengoperasian dan Pemeliharaan BG (Sipil, IPAL, ME)

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Operasional Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, pemeliharaan bangunan gedung adalah kegiatan menjaga keandalan bangunan gedung beserta prasarana dan sarananya agar bangunan gedung selalu laik fungsi (preventive maintenance).Perawatan bangunan gedung adalah kegiatan memperbaiki dan/atau mengganti bagian bangunan gedung, komponen, bahan bangunan, dan/atau prasarana dan sarana agar bangunan gedung tetap laik fungsi (currative maintenance).

1. Manajemen Pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung

a. Batasan Organisasi Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung Organisasi.

Pengoperasian dan pemeliharaan bangunan gedung dipengaruhi oleh tingkat kompleksitas bangunan yang meliputi luas dan dimensi bangunan, sistem bangunan yang digunakan, teknologi yang diterapkan, serta aspek teknis dan non teknis lainnya, seperti:

1) Ukuran fisik bangunan gedung. 2) Jumlah bangunan.

3) Jarak antar bangunan.

4) Moda transportasi yang digunakan oleh pekerja dan penyelia. 5) Kinerja produksi atau opersional dari tiap lokasi.

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 55

7) Jenis dan fungsi bangunan gedung.

Organisasi ini yang bertanggung jawab atas kelancaran operasional bangunan, pelaksanaan pengoperasian dan perawatan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan secara efisien dan efektif. Untuk itu, dibutuhkan organisasi dengan ketentuan:

1) Seluruh personil mempunyai tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang jelas dan terukur.

2) Seluruh personil merupakan tenaga trampil dan handal, sudah terlatih dan siap pakai.

3) Manajemen menerapkan pemberian imbalan dan sanksi yang adil. 4) Struktur Organisasi Pemeliharaan Dan Perawatan Bangunan Gedung 5) Dipimpin oleh seorang manajer bangunan (building manager).

6) Sekurang-kurangnya memiliki empat departemen: Teknik (engineering) tata grha (house keeping), Layanan Pelanggan, dan Administrasi & Keuangan.

b. Departemen engineering dan tata graha mempunyai penyelia (supervisor). Departemen umum dibantu oleh beberapa staf. Setiap penyelia mempunyai tim pelaksana Fungsi, Tanggung Jawab dan Kewajiban.

1) Manajer Bangunan (Building Manager).

Mengkoordinir pekerjaan Kepala Departemen Teknik (Chief Engineering), Kepala Departemen Tata Grha (Chief House Keeping), Kepala Departemen Administrasi & Keuangan, dan Layanan Pelanggan (Chief Finance &

Administration, and Chief Customer Care).

 Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan pemeliharaan dan

perawatan peralatan/perlengkapan gedung, instalasi dan utilitas bangunan.

Mengadakan inspeksi langsung secara teratur ke seluruh ruangan bangunan untuk memeriksa kondisi mesin, peralatan/perlengkapan bangunan dan instalasi serta utilitas bangunan.

 Menerapkan sistem pengarsipan yang teratur untuk seluruh

dokumen, surat-surat, buku-buku manual pengoperasian,

pemeliharaan dan perawatan, serta laporan-laporan yang ada.

56 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

2) Kepala Departemen Teknik (Chief Engineering).

Mengkoordinir, mengarahkan dan mengawasi kegiatan penyelia dan

pelaksana yang berada di bawah kewenangannya.

 Menyusun rencana anggaran operasional.

 Mengkoordinir, mengarahkan dan mengawasi kegiatan

pemeliharaan, perawatan dan perbaikan peralatan/perlengkapan bangunan dan instalasi serta utilitas bangunan.

Mengevaluasi dan memberi masukan tentang penggunaan bahan

dan energi serta biaya operasinal.

 Menyusun dan menyajikan laporan operasional sesuai dengan tata laksana baku (standard operation procedure).

3) Kepala Departemen Tata Grha (Chief House Keeping).

Mengkoordinir dan memberi arahan kepada penyelia (supervisor).

Menyusun rencana anggaran kebersihan.

 Memeriksa kebersihan secara rutin.

 Mengendalikan penggunaan bahan dan peralatan pembersih.

 Menyusun dan menyajikan laporan operasional sesuai dengan tata laksana baku (standard operation procedure).

4) Kepala Departemen Layanan Pelanggan (Chief Customer Care).

Mengkoordinir, mengarahkan dan mengawasi kegiatan kerja yang

berada di bawah koordinasinya.

 Menyusun rencana kerja dan anggaran operasional untuk periode tertentu.

Meneliti laporan dan usulan yang disampaikan oleh pelanggan

dan/atau pimpinan.

Membahas bersama Manajer Bangunan masalah internal dan

eksternal untuk mengatasi keluhan dan usulan pelanggan.

 Membina hubungan harmonis baik internal maupun eksternal.

 Merumuskan, mengevaluasi dan memberikan rekomendasi serta

mengawsai proses pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan administrasi gedung.

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 57

5) Kepala Departemen Administrasi & Keuangan (Chief Finance &

Administration).

 Mengkoordinir, mengarahkan dan mengawasi kegiatan kerja yang

berada di bawah koordinasinya, agar tercapai efektivitas dan efisiensi kerja.

Menyusun rencana kerja dan anggaran operasional manajemen

untuk periode tertentu.

 Meneliti laporan dan usulan permintaan alokasi dana.

 Membahas bersama Manajer Bangunan tentang penggunaan dana

taktis operasional.

Menyusun dan melaporkan penggunaan dana operasional.

Merumuskan, mengevaluasi dan memberikan rekomendasi serta

mengawasi proses pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan realisasi anggaran.

 Memeriksa pembelian, pengadaan barang/jasa serta pengeluaran

uang sesuai wewenang yang ditetapkan. 6) Penyelia Teknik (Engineering Supervisor).

Mengadakan pemeriksaan ke seluruh bagian bangunan untuk

melihat kondisi peralatan/perlengkapan bangunan, instalasi dan utilitas bangunan.

 Memeriksa dan memantau pengoperasian peralatan mekanikal dan

elektrikal secara rutin.

Memantau hasil pekerjaan penyedia jasa (kontraktor) mekanikal dan

elektrikal secara rutin.

Melakukan kegiatan khusus tertentu, misalnya sistem kelistrikan, proteksi kebakaran, dll.

 Menyusun dan menyampaikan laporan sesuai dengan bidangnya

7) Penyelia Tata Grha (House Keeping Supervisor).

Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kebersihan.

Mengatur dan memberikan arahan kepada pemimpin kelompok

58 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

Mengatur jadwal kerja harian, mingguan dan bulanan.

Menyusun dan menyampaikan laporan sesuai dengan bidangnya.

8) Pekerja plambing (Fitter).

 Memperbaiki katup yang bocor.

 Memperbaiki sistem plambing.

 Memperbaiki sambungan pipa yang bocor dan/atau rusak.

Memperbaiki saluran yang tersumbat.

9) Montir (Mechanic).

 Memperbaiki mesin-mesin yang rusak.

 Memberi minyak dan pelumas secara periodik.

 Memeriksa kondisi peralatan/perlengkapan mekanik secara periodik.

 Mengganti suku cadang yang rusak/tidak berfungsi

10) Pekerja elektrikal (Electrician).

Memperbaiki instalasi listrik yang rusak.

Memeriksa kondisi peralatan/perlengkapan elektrikal secara

periodik.

 Mengganti suku cadang yang rusak/tidak berfungsi.

F. Defect List

Defect List (atau Daftar Cacat) adalah daftar yang merekam bagian-bagian

pekerjaan yang sudah diselesaikan tetapi oleh pengawas dianggap mutunya perlu disempurnakan. Daftar ini dibuat pada saat Fisik Bangunan telah diselesaikan oleh Kontraktor/Pelaksana dan bangunan akan diserah terimakan untuk pertama kali (Hand Over I)

Kekurangan-kekurangan minor atau kekurang-sempurnaan yang ditemukan dalam hasil pekerjaan yang telah diselesaikan Kontraktor tidak dapat dianggap sebagai pekerjaan yang belum selesai. Tetapi dianggap sebagai hasil pekerjaan yang kurang sempurna atau cacat. Kekurangsempurnaan ini dicatat dalam Defect List (Daftar Cacat) yang menjadi kewajiban bagi Kontraktor untuk menyelesaikan penyempurnaannya dalam masa pemeliharaan, atau sesuai batasan waktu yang disepakati, di dalam masa pemeliharaan.

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 59

G. Uji Coba Peralatan serta Perlengkapan Mekanikal dan Elektrikal BG

Kegiatan pemeriksaan akhir pekerjaan konstruksi bangunan dilakukan untuk melihat kesesuaian fisik bangunan dengan dokumen pelaksanaan.

Hasil akhir pekerjaan pelaksanaan konstruksi berwujud bangunan gedung yang laik fungsi termasuk prasarana dan sarananya yang dilengkapi dengan dokumen pelaksanaan konstruksi, gambar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan yang dilaksanakan (as built drawings), pedoman pengoperasian dan pemeliharaan bangunan gedung, peralatan serta perlengkapan mekanikal dan elektrikal bangunan gedung serta dokumen penyerahan hasil pekerjaan.

Pemeriksaan akhir pekerjaan konstruksi dilakukan untuk mengetahui pemenuhan ketaatan, kelengkapan, kebenaran, efisiensi dan ekonomis, meliputi:

1. Keteknikan

Pemeriksaan persyaratan keselamatan umum, konstruksi bangunan, mutu hasil pekerjaan, mutu bahan dan/atau komponen bangunan, dan mutu peralatan sesuai dengan standar atau norma yang berlaku.

Ruang lingkup pemeriksaan terdiri dari: a. Metode pelaksanaan

Pemeriksaan terhadap metode pelaksanaan dan metode kerja bila dinilai terjadi inefisiensi direkomendasikan untuk dilakukan value engineering. b. Personil

o Pemeriksaan terhadap pemenuhan kualitas dan kuantitas tenaga kerja. Tenaga kerja yang dipakai wajib memiliki Sertifikat Keahlian Kerja dan Sertifikat Keterampilan Kerja.

o Pemeriksaan terhadap perhitungan kebutuhan tenaga kerja. o Pemeriksaan terhadap penyusunan jadwal waktu penyediaan

tenaga kerja.

o Pemeriksaan terhadap efektivitas penyediaan tenaga kerja. c. Peralatan

o Pemeriksaan terhadap jenis, jumlah, kapasitas dan kondisi peralatan/umur ekonomis;

60 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

o Pemeriksaan terhadap perhitungan kebutuhan peralatan dan kesesuaian penggunaan peralatan dengan peruntukannya, bila perlu disarankan dilakukan value engineering;

o Pemeriksaan terhadap penyusunan jadwal waktu penyediaan peralatan;

o Pemeriksaan terhadap realisasi/perubahan pengerahan peralatan; o Pemeriksaan terhadap efektivitas penggunaan peralatan.

d. Mutu Bahan

o Pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan bahan baku dan bahan campuran;

o Pemeriksaan terhadap perhitungan kebutuhan bahan baku dan bahan campuran;

o Pemeriksaan terhadap penyusunan program pengadaan bahan baku;

o Pemeriksaan terhadap realisasi program pengadaan/penggunaan bahan baku;

o Pemeriksaan terhadap kemungkinan inovasi penggunaan bahan yang terkait dengan value engineering.

e. Mutu Produk

o Pemeriksaan pemenuhan persyaratan kualitas konstruksi dan komponennya dengan melakukan pengujian menggunakan standar keteknikan SNI atau standar dari Negara donor.

o Pemeriksaan terhadap kualitas:

o Hasil test kualitas produk dan standar yang digunakan; o Sistem uji kualitas produk dan pengambilan sampelnya; o Hasil evaluasi test poduk dan metodenya;

o Bahas metode pengujian dan pengambilan sampel. Apabila dalam pemeriksaan sistem sampling tidak dapat dilaksanakan, maka uji mutu dilaksanakan dengan uji petik pada bagian yang ditentukan oleh tim bersama pengguna jasa.

Berdasarkan hasil uji petik:

o Dalam batas toleransi disarankan untuk dilakukan koreksi pembayaran pada bagian yang ditentukan bersama, dan untuk

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 61

bagian lainnya disarankan kepada Atasan untuk dilakukan pengujian bersama antara pengguna dan penyedia jasa yang disaksikan oleh pihak Itjen;

o Di bawah batas toleransi, disarankan seluruh pekerjaan ditolak dan harus diperbaiki sesuai spesifikasi teknis atau disarankan kepada Atasan untuk dilakukan pengujian bersama antara pengguna dan penyedia jasa yang disaksikan oleh pihak Itjen;

o Hasil tindak lanjut disampaikan oleh Atasan yang bersangkutan kepada Menteri PU dengan tembusan Inspektur Jenderal Departemen Pekerjaan Umum.

Pemeriksaan terhadap Kuantitas :

o Pemeriksaan terhadap prosedur permohonan dan persetujuan untuk memulai pelaksanaan setiap tahap kegiatan:

o Permohonan dan persetujuan yang diberikan untuk tahapan pekerjaan dalam satu kegiatan. Persetujuan menjadi dasar pelaksanaan tahap berikutnya;

o Bila mekanisme prosedur tidak dipenuhi, periksa hasil test kualitas pekerjaan.

o Hasil pelaksanaan pekerjaan (uji produk) secara visual dan laboratorium :

o Pemeriksaan terhadap pengukuran hasil pelaksanaan untuk pembayaran;

o Cara mengukur kuantitas berdasar dokumen kontrak dan pelaksanaannya;

o Waktu pengukuran, hasil pengukuran dan back up datanya; o Buku Harian.

Pemeriksaan terhadap perintah perubahan:

o Pemeriksaan terhadap perubahan menambah, mengurangi, dan menghapus kuantitas:

o Legalitas surat perintah perubahan (CCO); o Dasar perintah perubahan;

62 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

o Apakah ada pengaruh terhadap perubahan harga satuan, waktu, dan kualitas.

Pemeriksaan terhadap perubahan sifat atau kualitas atau jenis pekerjaan :

o Legalitas surat perintah perubahan; o Dasar perintah perubahan;

o Kebenaran kualitas hasil perubahan;

o Apakah ada pengaruh terhadap perubahan harga satuan, waktu, dan biaya.

Pemeriksaan terhadap perubahan lokasi atau dimensi bagian-bagian pekerjaan :

o Legalitas surat perintah perubahan; o Dasar perintah perubahan;

o Dasar perhitungan perubahan konstruksi tersebut.

Pemeriksaan terhadap perubahan urutan atau waktu konstruksi bagian-bagian Pekerjaan:

o Legalitas surat perintah perubahan; o Dasar perintah perubahan;

o Pengaruh terhadap biaya dan waktu.

Pemeriksaan terhadap keamanan, keselamatan dan kesehatan tempat kerja.

Pemeriksaan terhadap pemenuhan kewajiban penyedia jasa meliputi: 1) Pelaksaan pedoman K3;

2) Sertifikat kompetensi K3 Petugas Penyedia Jasa (safety officer) dan lingkup tugasnya;

3) Tempat kerja, peralatan, lingkungan kerja dan tata cara kerja, termasuk pemasangan tanda K3 (tanda larangan, tanda petunjuk, tanda perhatian dan rambu-rambu lainnya);

4) Pemenuhan kewajiban dalam tanggung jawab terhadap kecelakaan dan gangguan para pekerja;

5) Penyelenggaraan mekanisme Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) berserta pelengkap penunjangnya:

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 63

o SOP PPPK;

o Kerjasama dengan Puskesmas setempat; o Tim PPPK proyek;

o Sistem pelaporan kecelakaan.

Pemeriksaan terhadap pemenuhan kewajiban pengguna jasa, meliputi:

o Pelaksanaan pedoman K3;

o Pelaksanaan pengawasan terhadap penyelenggara K3 (konstruksi) oleh penyedia jasa;

o Pelaksanaan penghentian pekerjaan apabila penyedia jasa dinilai tidak melaksanakan/menyimpang dari ketentuan;

o Pelaporan kepada Atasan langsung atas terjadinya kecelakaan kerja;

o Pelaksanaan tanggung jawab terhadap kecelakaan, apabila penyedia jasa tidak memenuhi kewajibannya.

Pemeriksaan terhadap organisasi panitia pembina keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja (safety committee), meliputi:

1) Organisasi kepanitiaan;

2) Unsur kepanitiaan, tugas dan tanggung jawabnya; 3) Jumlah petugas keselamatan kerja;

4) Hubungan kerja dengan Pengguna Jasa; 5) Jadwal kerja petugas keselamatan kerja;

6) Sertifikasi kompetensi petugas keselamatan kerja; 7) Pemeriksaan kesehatan kepada para pekerja; 8) Tenaga kerja di bawah umur 18 tahun;

9) Pembuatan rencana organisasi dan pertolongan pertama pada kecelakaan.

10) Pemeriksaan terhadap perlindungan sosial tenaga kerja.

Pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan perlindungan tenaga kerja oleh penyedia jasa dengan ketentuan bahwa:

o Penyedia Jasa harus mengasuransikan tenaga kerja konstruksi terhadap risiko kecelakaan dan harus dapat menunjukkan polis

64 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

asuransi kepada Penggunan Jasa beserta tanda terima pembayaran premi terbaru;

o Penyedia Jasa harus dapat menunjukkan bukti polis asuransi kepada Pengguna Jasa sebelum dimulai pekerjaan.

o Pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan tata lingkungan setempat dan pengelolaan lingkungan hidup.

o Pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL).

o Pemeriksaan terhadap Penilaian dan persetujuan dari AMDAL. Pemeriksaan apakah izin pembangunan sudah dilengkapi dengan rencana kelola pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).

Pemeriksaan terhadap administrasi keuangan

Pemeriksaan terhadap pelaksanaan tertib administrasi keuangan meliputi:

1) Pemeriksaan kebenaran semua perhitungan bersama atas prestasi pekerjaan dan back up datanya, mulai dari 0% sampai dengan 100% (bila sudah selesai);

2) Pemeriksaan terhadap Berita Acara Pemeriksaan Bersama (Mutual

Check) dan lampirannya antara lain gambar pelaksanaan,

pemenuhan spesifikasi teknik, metode pengukuran, rumusan perhitungan volume;

3) Pemeriksaan kebenaran nilai pembayaran antara lain: o Prestasi saat ini dan yang lalu;

o Harga Satuan Timpang;

o Porsi Sumber Dana (APBN dan Loan).

o Pemeriksaan terhadap penyesuaian harga kontrak (Eskalasi Harga) dengan memeriksa kebenaran pengambilan indeks, volume dan penerapan rumus;

o Pemeriksaan kebenaran pengenaan pajak, pengembalian uang muka, dan jaminan pemeliharaan (Retention Money);

o Pemeriksaan terhadap denda (bila ada); Pemeriksaan terhadap kompensasi

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 65

Kompensasi merupakan pembayaran kepada penyedia jasa atas cidera janji pengguna jasa meliputi:

o Dasar pemberian kompensasi;

o Data penunjang/bukti proses pemberian kompensasi; o Dokumen negosiasi pemberian kompensasi;

o Kewenangan pejabat yang menyetujui kompensasi.

Pemeriksaan terhadap aspek–aspek yang menyebabkan terjadinya kegagalan pekerjaan konstruksi:

o Ketentuan tentang kegagalan pekerjaan konstruksi di dalam kontrak dan kesesuaian dengan UU No:18 th 1999 tentang Pekerjaan konstruksi dan PP No. 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan konstruksi;

o Kejadian kegagalan pekerjaan konstruksi dan dokumen evaluasi penyelesaiannya;

o Pihak yang bertanggung jawab terhadap kegagalan pekerjaan konstruksi;

o Tindak lanjut atas kejadian kegagalan pekerjaan konstruksi; o Tindak lanjut atas kejadian kegagalan pekerjaan konstruksi yang

mengakibatkan kerugian dan/atau gangguan terhadap

keselamatan umum.

Pemeriksaan terhadap aspek–aspek yang menyebabkan terjadinya kegagalan bangunan

1) Ketentuan tentang kegagalan bangunan di dalam kontrak dan kesesuaian dengan UU No. 18 th 1999 tentang Jasa Konstruksi dan PP No. 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi; 2) Periksa dokumen perencanaan tentang umur konstruksi;

3) Periksa kejadian kegagalan bangunan dan dokumen evaluasi penyelesaiannya;

4) Periksa waktu pembentukan Tim Penilai Ahli yang ditunjuk untuk masalah kegagalan bangunan dan laporannya;

5) Periksa tindak lanjut atas kejadian kegagalan bangunan yang mengakibatkan kerugian dan/atau gangguan terhadap keselamatan umum;

66 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

6) Periksa mekanisme pertanggungan kegagalan bangunan.

Pemeriksaan terhadap program dan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan (OM).

o Periksa manual operasi dan pemeliharaan o Periksa penyerahan pekerjaan selesai

o Periksa siapa pengelola operasi dan pemeliharaan

H. Bangunan Gedung Laik Fungsi (Sarana dan Prasarana)

Pemeriksaan pada proses penerbitan SLF bangunan gedung untuk menilai pemenuhan persyaratan administratif meliputi:

1. Kesesuaian data aktual (terakhir) dengan data dalam dokumen status hak atas tanah;

2. Kesesuaian data aktual (terakhir) dengan data dalam IMB, dan/atau dokumen status kepemilikan bangunan gedung yang semula telah ada/dimiliki; dan Kepemilikan dokumen IMB.

Pemeriksaan dan pengujian pada proses penerbitan SLF bangunan gedung untuk menilai pemenuhan persyaratan teknis meliputi:

1) Kesesuaian data aktual (terakhir) dengan data dalam dokumen pelaksanaan konstruksi bangunan gedung termasuk as built drawings, pedoman pengoperasian dan pemeliharaan/perawatan bangunan gedung, peralatan serta perlengkapan mekanikal dan elektrikal bangunan gedung (manual), dan dokumen ikatan kerja;

2) Pengujian/test di lapangan (on site) dan/atau di laboratorium untuk aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan, pada struktur, peralatan, dan perlengkapan bangunan gedung, serta prasarana bangunan gedung pada komponen konstruksi atau peralatan yang memerlukan data teknis yang akurat; dan

3) Pengujian/test dilakukan sesuai dengan pedoman teknis dan tata cara pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung.

Pemeriksaan bangunan gedung laik fungsi meliputi pemenuhan persyaratan tata bangunan, dan persyaratan keandalan bangunan gedung. Tata cara pemeriksaan pemenuhan persyaratan tata bangunan, dan persyaratan keandalan bangunan gedung meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 67

Data hasil pemeriksaan dicatat dalam daftar simak, disimpulkan dalam surat pernyataan kelaikan fungsi bangunan gedung atau rekomendasi pada pemeriksaan pertama, pemeriksaan berkala dan laporan yang terakumulasi sesuai dengan jadwal pemeriksaan berkala yang disyaratkan untuk setiap sistem, atau komponen pada bangunan gedung.

I. Latihan

1. Sebutkan tujuan dari Pemeriksaan hasil akhir pekerjaan konstruksi? 2. Jelaskan mengapa As built drawing tidak perlu sedetail shop drawing! 3. Jelaskan Aspek Keteknikan dalam lingkup pemeriksaan hasil akhir

pekerjaan konstruksi!

J. Rangkuman

Untuk menjaga tercapainya tertib penyelenggaraan dan hasil pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan konstruksi yang meliputi aspek perencanaan dan manajemen pelaksanaan konstruksi, maka perlu dilakukan pemeriksaan hasil akhir pekerjaan dan uji coba peralatan oleh pemilik proyek/ pengawas/panitia penerima pekerjaan. Semua administrasi pelaksanaan konstruksi dan pengawasan yang diperiksa mengikuti ketentuan yang tercantum dalam Perpres 54 tahun 2010 dan petunjuk teknis pelaksanaannya.

Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung 69

BAB 7

PENGELOLAAN PENYERAHAN HASIL AKHIR

PEKERJAAN

70 Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung

Pengelolaan Penyerahan Hasil Akhir Pekerjaan

A. Indikator Keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu memahami dan melaksanakan pengelolaan penyerahan hasil akhir pekerjaan bangunan gedung.

B. Bangunan Gedung Laik Fungsi (prasarana dan sarana)

Pemerintah daerah menerbitkan sertifikat laik fungsi terhadap bangunan gedung yang telah selesai dibangun dan telah memenuhi persyaratan kelaikan fungsi berdasarkan hasil pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung untuk dapat dimanfaatkan.

Sertifikat laik fungsi bangunan gedung diberikan berdasarkan prinsip-prinsip pelayanan prima dan bebas biaya. Sertifikat laik fungsi ini memiliki masa berlaku selama 20 (dua puluh) tahun untuk rumah tinggal tunggal dan rumah tinggal deret, serta berlaku 5 (lima) tahun untuk bangunan gedung lainnya.

Sertifikat laik fungsi bangunan gedung diberikan atas dasar permintaan pemilik untuk seluruh atau sebagian bangunan gedung sesuai dengan hasil pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung.

C. Kelengkapan Dokumen Pelaksanaan Konstruksi

Dokumen pelaksanaan pembangunan terdiri dari: gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan (as built drawings), semua berkas perizinan yang diperoleh pada saat pelaksanaan konstruksi fisik, termasuk Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), kontrak pekerjaan pelaksanaan konstruksi fisik, pekerjaan pengawasan beserta segala perubahan/ addendumnya, laporan harian, mingguan, bulanan yang

Dokumen terkait