• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil)

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

5.1 Disparitas Pendapatan antar Kabupaten/Kota di Wilayah Jawa Barat

5.1.1 Kelompok Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil)

Berdasarkan kelompok Bakorwil Provinsi Jawa Barat dibagi dalam 4 kelompok yaitu: Bakorwil Purwakarta (Pwt), Bakorwil Bogor (Bgr), Bakorwil Priangan (Png), dan Bakorwil Cirebon (Crb). Indeks Theil didekomposisi untuk mendapatkan nilai koefisien antar Bakorwil dan koefisien dalam Bakorwil yang kemudian ditransformasikan dalam persentase. Tabel 6 berikut menyajikan Koefisien Theil Kelompok Bakorwil Provinsi Jawa Barat Tahun 1995-2006. Terlihat bahwa persentase Koefisien Theil antar kelompok Bakorwil terhadap total disparitas di Jawa Barat dari Tahun 1995 hingga 2006 adalah tinggi yaitu berkisar antara 96,2% hingga 97,6% dengan rata-rata 97,1% dari total indeks Theil. Sedangkan sisanya sebesar 2,9% merupakan agregat disparitas dalam 4 kelompok Bakorwil. Hal ini menunjukan bahwa disparitas yang besar justru terjadi antar kelompok Bakorwil, bukan di dalam kelompok Bakorwil. Dari tahun ke tahun indeks kesenjangan antar Bakorwil menunjukan range antara 0,262- 0,336. Maknanya adalah bahwa terjadi peningkatan PDRB per kapita tiap tahunnya di masing-masing kabupaten/kota yang bila dikelompokan berdasarkan

41 kelompok Bakorwil perbedaan pencapaian PDRB per kapita tersebut relatif besar antar Bakorwil.

Tabel 6 Koefisien Theil Kelompok Bakorwil di Jawa Barat Tahun 1995-2006

Tahun Antar Bakorwil Dalam Bakorwil Total

Indeks % Pwk % Bgr % Pgn % Crb % Indeks % 1995 0,262 96,2 0,0004 0,14 0,007 2,41 0,0002 0,08 0,003 1,16 0,272 100 1996 0,280 97,6 0,0004 0,13 0,003 0,94 0,0003 0,12 0,003 1,17 0,287 100 1997 0,280 97,6 0,0003 0,12 0,003 0,92 0,0003 0,10 0,004 1,23 0,287 100 1998 0,280 97,4 0,0001 0,04 0,002 0,78 0,0001 0,04 0,005 1,71 0,288 100 1999 0,282 97,3 0,001 0,33 0,002 0,83 0,0002 0,08 0,005 1,64 0,290 100 2000 0,294 97,6 0,001 0,29 0,001 0,47 0,00002 0,01 0,005 1,62 0,301 100 2001 0,292 97,6 0,001 0,25 0,001 0,50 0,0001 0,04 0,005 1,60 0,299 100 2002 0,321 96,8 0,001 0,21 0,001 0,45 0,004 1,12 0,005 1,44 0,332 100 2003 0,336 96,6 0,001 0,19 0,002 0,45 0,005 1,41 0,005 1,38 0,348 100 2004 0,334 96,5 0,001 0,18 0,001 0,40 0,005 1,50 0,005 1,41 0,346 100 2005 0,332 96,7 0,001 0,16 0,001 0,38 0,005 1,49 0,004 1,23 0,344 100 2006 0,336 96,8 0,001 0,15 0,001 0,38 0,005 1,46 0,004 1,18 0,347 100 Rata- Rata 0,302 97,1 0,001 0,18 0,002 0,74 0,002 0,62 0,004 1,40 0,312 100

Analisis masing-masing kelompok menunjukan bahwa kelompok Bakorwil Cirebon mempunyai rata-rata Indeks Dalam Wilayah tertinggi dibanding tiga kelompok Bakorwil lainnya yaitu sebesar 1,4% dari total indeks Theil. Berikutnya adalah kelompok Bakorwil Bogor yang memberikan kontribusi rata-rata Indeks Dalam Wilayah sebesar 0,74% dari total indeks Theil, kelompok Bakorwil Priangan dengan rata-rata Indeks sebesar 0,62% total Indeks Theil, dan kontribusi Indeks Dalam Wilayah yang terkecil adalah kelompok Bakorwil Purwakarta, yaitu sebesar 0,18% dari total indeks Theil. Kontribusi indeks tersebut mengartikan bahwa bila di bandingkan dengan kelompok Bakorwil Provinsi Jawa Barat maka kesenjangan pendapatan antar kabupaten/kota di dalam kelompok Bakorwil Cirebon adalah paling tinggi dan yang terendah adalah kelompok Bakorwil Purwakarta.

Faktor yang membuat kelompok Bakorwil Purwakarta mempunyai tingkat kesenjangan yang rendah adalah karena diuntungkan secara lokasi sebagai penopang Ibukota Jakarta yaitu Kabupaten Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, dan Kota Bekasi. Kebijakan sektor ekonomi pada kelompok ini meliputi hampir semua bidang usaha, antara lain: industri, pariwisata, pertanian, bangunan dan konstruksi, perdagangan, angkutan dan jasa-jasa lainnya. Jalur

42 transportasi utama menuju Jakarta melalui kabupaten/kota pada kelompok ini. Kegiatan ekonomi di wilayah ini cukup bervariasi sehingga peluang dan kesempatan kerja juga terbuka lebar. Pada kelompok ini terjadi pemusatan kegiatan ekonomi yang tidak hanya terdapat di suatu kabupaten atau kota saja tapi hampir semua kabupaten/kota dengan adanya aglomerasi industri. Sehingga pendapatan masing-masing kabupaten/kota di kelompok ini cukup tinggi dan relatif merata diantara kabupaten/kota sehingga tercipta kesenjangan pendapatan antar kabupaten/kota yang minim.

Kekuatan ekonomi pada kelompok Bakorwil Cirebon terletak di Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu, termasuk juga Kabupaten Cirebon namun dengan jumlah penduduk yang cukup besar maka dalam pendekatan per kapita kabupaten ini tidak menonjol. Mengingat dalam kajian ini tidak memasukan sektor minyak dan gas maka Kabupaten Indramayu juga tidak tampak sebagai Kabupaten yang menonjol. Pada Kelompok ini, kabupaten/kota yang mempunyai kesempatan mengembangkan kegiatan ekonomi adalah di Kabupaten/Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu, karena secara lokasi kabupaten/kota ini merupakan perlintasan Jalur Pantura pulau Jawa sehingga pemusatan kegiatan ekonomi terjadi disini, dibandingkan dengan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Terjadilah perolehan pendapatan yang relatif tidak merata diantara kabupaten/kota pada Bakorwil Cirebon. Hal ini menyebabkan tingginya kesenjangan di dalam kelompok ini dibandingkan dengan kelompok Bakorwil lainnya.

Hal serupa juga terjadi pada kelompok Bakorwil Bogor dan Priangan. Pada Bakorwil Bogor, kekuatan ekonomi dalam arti terjadinya pemusatan kegiatan ekonomi hanya pada Kabupaten dan Kota Bogor, serta Depok. Kegiatan ekonomi Kelompok Bakorwil Priangan tampak dominan di Kabupaten dan Kota Bandung serta Cimahi. Sementara Kabupaten/Kota yang lokasinya berada di selatan Provinsi Jawa Barat seperti: Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar belum dapat menarik dan mengembangkan potensi daerahnya yang secara lokasi memang relatif jauh dari DKI Jakarta dan jalur utama ekonomi pulau Jawa. Kebijakan pengembangan ekonomi pada daerah ini perlu diperluas dengan dukungan pembukaan akses ke daerah tersebut yang terhubung dengan kabupaten/kota pusat kegiatan perekonomian. Kesenjangan

43 pendapatan antar kabupaten/kota pada kabupaten/kota Bakorwil ini terjadi akibat distribusi pendapatan antar kabupaten/kota yang kurang merata.

Pada teori sebelumnya, disebutkan bahwa kesenjangan pendapatan antar kabupaten/kota lambat-laun akan memudar seiring dengan makin meningkatnya perekonomian terkait dengan proses konvergensi suatu daerah. Gambar 7 memperlihatkan tren kondisi kesenjangan pendapatan dalam kelompok antar kabupaten/kota yang terjadi di Jawa Barat berdasarkan kelompok Bakorwil.

Gambar 7 Tren Indeks Kesenjangan dalam Kelompok Berdasarkan Kelompok Bakorwil Provinsi Jawa Barat Tahun 1995–2006. Gambar menunjukan kecenderungan pola yang semakin menurun pada 3 kelompok Bakorwil, namun penurunan sempat terhenti ketika terjadi guncangan krisis ekonomi pada periode 1997-1999. Tren sebaliknya terjadi pada Kelompok Bakorwil Priangan. Hal ini menunjukan bahwa belum terjadinya proses konvergensi pada Kabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis; Kota Tasikmalaya, dan Banjar. Dengan pengertian lain adalah bahwa kabupaten/kota tersebut belum mengarah untuk mengejar ketertinggalannya dengan kabupaten/kota lain yang lebih maju, misalnya kabupaten/Kota Bandung atau Kota Cirebon.

Tingginya kondisi kesenjangan antar kelompok Bakorwil dipengaruhi oleh adanya proses industrialisasi yang mendorong pemusatan kegiatan ekonomi yang dipengaruhi oleh ketersediaan modal dan tenaga kerja yang tidak merata, faktor lain adalah adanya aglomerasi di dalam satu kelompok wilayah yang tidak

44 sama dengan kelompok wilayah lainnya. Bila aglomerasi dapat tumbuh di masing-masing kabupaten/kota dan kelompok maka akan banyak kabupaten/kota yang dapat berperan sebagai pusat pertumbuhan dan menarik kabupaten/kota di sekitarnya (daerah penyangga) menuju pertumbuhan yang lebih tinggi, sehingga mengurangi masalah kesenjangan pendapatan yang tajam antar kabupaten/kota dan antar kelompok.

Dokumen terkait