6.1 KELOMPOK RENTAN
Kelompok rentan adalah kelompok penduduk yang mengalami diskriminasi, memiliki akses yang tidak setara terhadap hak, akses dan kontrol yang tidak setara atas sumber daya atau akses yang tidak setara terhadap peluang pembangunan. Akibatnya, mereka mungkin tidak terintegrasi dengan baik ke dalam ekonomi formal, mungkin menderita karena akses yang tidak memadai ke barang dan layanan publik dasar, dan mungkin dikecualikan dari pengambilan keputusan politik.
Akibatnya, mereka berisiko terkena dampak negatif dan risiko terkait proyek secara tidak proporsional. Kelompok-kelompok tersebut dapat mencakup etnis minoritas, agama, budaya, bahasa, kelompok adat, rumah tangga yang dikepalai perempuan, anak-anak dan remaja, lansia, penyandang disabilitas, dan warga miskin.
Dalam proyek ini, sesuai dengan Penilaian Sosial Awal, beberapa kelompok rentan yang teridentifikasi termasuk nelayan skala kecil/nelayan tradisional/nelayan subsisten, rumah tangga atau kelompok yang mengandalkan sumber daya pesisir dan/atau laut untuk bertahan hidup/sumber mata pencaharian dan/atau kegiatan usaha mikro, anak buah kapal/nelayan tanpa aset produktif, perempuan yang bekerja di sektor biru/perempuan nelayan, dan masyarakat adat di wilayah pesisir dan (pulau-pulau) kecil (terutama yang belum mendapat pengakuan formal dari negara).
Dalam kasus kelompok rentan, Proyek ini memastikan bahwa individu dan kelompok rentan dikonsultasikan dengan sepatutnya dan tepat waktu, memastikan bahwa kekhawatiran mereka didengar, dengan mempertimbangkan kekhususan individu dan masyarakat, dan disampaikan dalam bentuk, cara, dan bahasa yang sesuai. Hal ini dilakukan dalam bentuk diskusi kelompok terfokus, survei informan utama, penilaian gender serta memastikan materi disampaikan dalam bahasa setempat.
Kelompok rentan dalam hal pembatasan akses dan penggunaan sumber daya kelautan
Konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan oleh Masyarakat Adat, pemilik tanah perorangan, perusahaan, masyarakat sipil dan negara selalu membutuhkan penetapan dan penerapan aturan yang menentukan siapa yang memiliki hak sah untuk
25
mengakses dan menarik (yaitu, menggunakan) sumber daya tertentu, di suatu daerah tertentu, selama periode waktu tertentu. Tanpa aturan ini dan penegakannya yang efektif, sumber daya akan menjadi “akses terbuka” dan, jika berharga, orang akan bersaing untuk mendapatkannya (yaitu, jika saya tidak mengambilnya, orang lain akan mengambilnya), dan dengan cepat menghabiskan sumber daya tersebut.
Tetapi jika peraturan mengenai akses dan penggunaan sumber daya ingin adil, berkeadilan dan efektif, para pembuat keputusan baik aturan adat maupun formal harus mengakui bahwa setiap orang memiliki perlindungan yang sama di bawah hukum (yaitu, hukum berlaku untuk semua orang, dan penegakannya buta terhadap status sosial, ekonomi atau politik terdakwa), dan penerapan hukum tidak boleh mengakibatkan pengambilan hak tanpa persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan.
Ketika negara atau otoritas sah lainnya memutuskan untuk membatasi akses perorangan atau kelompok ke dan penggunaan sumber daya alam, mereka harus menentukan apakah peraturan yang diusulkan akan dianggap sebagai pengambilalihan hak (yaitu, membatasi kemampuan suatu kelompok untuk menjalankan kewenangan hukum atau adatnya untuk mengakses dan menggunakan sumber daya). Jika penerapan peraturan akan menghilangkan hak-hak kelompok, administrator peraturan ini harus memastikan persetujuan adanya persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan dari pemegang hak sebelum memberlakukan peraturan yang membatasi tersebut, atau merubah peraturan tersebut dengan berkonsultasi dengan para pemegang hak untuk mendapatkan persetujuan.
Jika kelompok yang terkena dampak bukan pemegang hak, karena mereka tidak memiliki yurisdiksi hukum atau adat atas sumber daya tertentu, maka setidaknya mereka yang berencana untuk menerapkan pembatasan akses dan penggunaan harus berusaha memastikan bahwa kelompok yang tidak memiliki hak ini tidak terjerumus ke dalam kemiskinan setelah mereka tidak dapat lagi menggunakan sumber daya. Ini mungkin memerlukan intervensi pemerintah untuk memastikan bahwa kelompok yang tidak memiliki hak memiliki akses ke bantuan keuangan dan teknis untuk beralih ke mata pencaharian alternatif.
Ketika para pemegang hak memutuskan untuk memberlakukan pembatasan akses dan penggunaan terhadap diri mereka sendiri, maka menurut definisi ini bukanlah pengambilan hak, karena para pemegang hak sendirilah yang memberlakukan pembatasan tersebut. Namun demikian, ini mengasumsikan bahwa pembatasan tersebut diterapkan secara setara kepada semua pemegang hak, dan bahwa semua pemegang hak atau perwakilan mereka setuju untuk menerapkan dan mematuhi pembatasan tersebut.
26
6.2 MASYARAKAT ADAT
Di bawah ini adalah uraian tentang Masyarakat Adat yang berpotensi terlibat dalam proyek ini.
Masyarakat Adat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia
Berdasarkan penapisan awal menggunakan data sekunder dari Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) di tingkat provinsi, dipeiksa-silang dengan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, kelompok adat terdapat di 4 kecamatan/desa lokasi indikatif LAUTRA (lokasi tingkat desa belum belum dikonfirmasi). Walaupun kondisinya berbeda-beda, pada umumnya masyarakat adat yang bertempat tinggal di wilayah pesisir dan/atau pulau-pulau kecil melakukan kegiatan pertanian dan perikanan skala kecil/rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada beberapa sub kelompok dan perorangan yang melakukan pekerjaan lain, seperti menjadi pegawai negeri, memberikan jasa (pariwisata), dan perdagangan skala kecil.
ESS 7 Bank Dunia telah menetapkan standar untuk melindungi hak-hak masyarakat adat, terlibat dan berkonsultasi secara bermakna, terlepas dari pengakuan formal mereka dari negara. Tidak ada kegiatan yang mensyaratkan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) yang akan dibiayai di bawah LAUTRA.
[sisipkan daftar masyarakat adat indikatif dan lokasinya]
Keterlibatan dengan masyarakat adat akan disesuaikan untuk memastikan cara konsultasi dan/atau pelibatan yang sesuai secara sosial dan budaya. Fasilitator lokal/ Ahli masyarakat adat atau juru bahasa akan dipekerjakan untuk memastikan bahwa sarana konsultasi efektif dan tepat.
Akan dibentuk Mekanisme Penanganan Keluhan yang khusus untuk masyarakat adat.
27